Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 25 Agustus 2011

CARITAS Oh CARITAS



Oleh Emanuel Dapa Loka


Nomen est omen, nama menunjukkan orangnya atau nama adalah tanda. Artinya, dalam sebuah nama termuat makna mendalam yang bisa menjelaskan siapa orang yang memakai sebuah nama itu. Atau, diharapkan roh yang terkandung dalam nama itu akan meresap ke dalam diri anak itu. Karena itu tidak ada orangtua yang menamai anaknya secara sembarangan. Kita tidak pernah menjumpai seseorang bernama “tikus” yang terlanjur menjadi simbol korupsi atau “babi” simbol kerakusan, dan sebagainya, bukan? Tidak ada! Yang diberikan biasanya adalah nama-nama indah seperti Emanuel, Sesilia, Benedictus, Virgo, Paulus, Sofia, Brigitta, Ignasius dan sebagainya. Itu karena orangtua tidak berharap anak mereka berperilaku seperti fauna-fauna tersebut. Bahwa kemudian ada anak yang berperilaku tak ubahnya binatang, itu hal lain. Ini wilayah garapan pendidikan nilai, sosiologi, agama (rohani), nurani dan sebagainya.

Selain tidak sembarangan memberi nama pada anak, orang juga selalu mencari nama terbaik atau terindah untuk dilekatkan pada toko, kios, warung, bus, sekolah atau kelompok. Misalnya ada toko bernama “Indah Permai”, “Makmur”, “Intan Permata”, “Caritas/Karitas” dan sebagainya.
Ada harapan yang menggelora di sana agar nama itu membawa berkat atau hoki. Dan karena itu, tidak jarang orang mengadakan pesta atau syukuran ketika melekatkan sebuah nama secara resmi pada anak atau tempat usaha dan sebagainya. 

Sangat pasti, pihak yang merasa senang dengan nama indah yang dipilih itu bukan hanya yang punya anak atau pemilik tempat usaha tapi juga orang-orang di sekitar dengan harapan hal-hal terbaiklah yang terjadi kemudian.

Mungkin salah satu nama indah yang baik disinggung di sini adalah “Caritas” atau Karitas. Nama ini acapkali terpampang sebagai nama rumah sakit, biara, sekolah, orang atau mungkin juga nama tempat foto kopi atau toko kelontong dan sebagainya. Di Sumba, NTT misalnya, mendengar kata “Caritas” atau “Karitas”, pikiran orang langsung mengembara menuju sebuah bangunan rumah sakit bernama Rumah Sakit Karitas yang terletak di jantung Kota Waitabula, Sumba Barat Daya. Rumah sakit ini diasuh oleh suster-suster ADM atau Amalkasih Darah Mulia.

Nama dan makna nama rumah sakit semulia nama lembaga hidup bakti pengasuh. Meski demikian, esai ini tidak dimaksudkan untuk mengupas Rumah Sakit Karitas yang “pasti” berjiwa kristiani atau Katolik itu. Sangat “kebetulan” nama rumah sakit tersebut sama dengan judul tulisan ini.

Makna Caritas sangat dalam. Namun keindahan makna kata itu tidak seindah kenyataannya. Kita tahu, berbicara tentang atau membicarakan kasih tidak ada habisnya. Lain halnya dengan bertindak kasih. Saking lebih enaknya hanya “berbicara” tentang kasih, kita lebih memilih berbicara saja. Kita lupa bahwa begitu keramatnya kata kasih atau caritas, ada ungkapan klasik yang berbunyi ubi caritas et amor, ubi caritas deus ibi est yang kalau diterjemahkan bisa berarti “di mana ada kasih dan cinta di situ Tuhan hadir”.

Ingatan kita pendek. Kita lupa telah berikrar untuk menjadi pelaku setia dari kata magis itu. Lantas, bagaimana kita menguji apakah kita telah memaknai sebuah nama dengan baik. Sekali lagi, ini soal nama Caritas. Caritas atau kasih menuntut aksi nyata. Acapkali kita merasa sudah memaknai kasih dengan baik secara konkret berdasarkan ukuran kita. Taruhlah seorang direktur atau ketua yayasan misalnya, merasa sudah menjadi pelaku setia dari caritas. Namun dia lupa bahwa ternyata dia hanya “merasa”. Apalagi yang ia “rasakan” itu hanya berdasarkan ukurannya sendiri. Dia tidak pernah tahu bagaimana “mendaratkan” kasih itu. Sebab dia tidak pernah datang dan masuk menyelami nasib dari orang-orang yang “rasa-rasanya” sudah dia layani, termasuk kehidupan para karyawannya. Dia menunggu laporan di balik meja. Akibatnya, ia mengalami kepuasan semu. Lalu  berbekal “kepuasan” itu, dari  balik tembok ruang doanya ia memuji-muji Tuhan sebagai yang memberi kekuatan untuk melakukan tindakan kasih itu.  Bahkan secara tidak sadar (mungkin juga sadar-sadar sedikit), ia juga memuji-muji diri sebagai seorang dermawan, berhati mulia, pelaksana mantra keramat gereja preferensial option for the poor.

Ya, nomen est omen, nama menunjukkan orangnya. Caritas berarti kasih. Sebuah makna yang menggetarkan! Kalau ternyata kita yang memahami arti caritas itu tidak bertindak atas dasar kasih, dari salibNya, Tuhan Yesus akan bergumam dengan tatapan  nanar, “Caritas oh Caritas….!” Sama halnya ketika Tuhan dengan sedih bergumam “Emanuel oh Emanuel….” tatkala karakter yang ditunjukkan oleh seseorang bernama Emanuel sama sekali tidak menunjukkan kehadiran Allah yang menyertai kehidupannya seperti makna yang terkandung dalam nama Emanuel yang berarti “Allah beserta kita”. 
(Penulis adalah kini bekerja sebagai wartawan di Jakarta, dari kampung Pero, Waimangura)

Comments
2 Comments

2 komentar:

Pankras Rehi mengatakan...

Profociat pak Eman. Ini tulisan berbobot tentang spiritualitas nama. Apakah saya bisa muat di Buletin Mingguan paroki kami di timor leste? Makasih sebelumnya.

Anonim mengatakan...

saya setuju skali untuk dimuat,tetapi maksud dari tulisan ini agak ambigu dan sulit untuk dipahami dengan haravia.kasian rakyat yg tdk paham.coba untuk specifikasi lagi.apakah tujuannya untuk RSK karitas atau benar tentang sebuah pemberian nama?
karena disana terdapat nama karitas dan artinya,beserta aplikasi dari nama tsb.kayaknya menyorot tentang aktifitas pelayanan RSK KARITAS WEETEBULA.
mohon maaf sbelumnya.tks

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD