Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Minggu, 28 Agustus 2011

Jaga Hutan di PLTM Lokomboro

Kawasan hutan di lokasi pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) Lokomboro, Desa Pada Eweta, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), perlu dijaga dan dirawat guna mengamankan sumber air yang ada. Jika penebangan kayu secara ilegal tidak dihentikan, dikhawatirkan pembangkit listrik air itu bisa macet.

Harapan itu dikemukakan Hadi, salah seorang staf PLN Ranting Sumba Barat Daya yang bertugas di PLN Lokomboro, Selasa (23/8/2011). Hadi menyampaikan harapannya itu kepada Ketua Komisi B DPRD NTT, Drs. John Umbu Deta, yang memantau proyek penambahan daya dan perluasan jaringan PLTM ini.

Proyek penambahan daya dan perluasan jaringan itu dikerjakan dengan dana APBN oleh PLN sendiri melalui unit jasa dan produksi. Sebagaimana disaksikan Pos Kupang di lokasi proyek ini, para pekerja sibuk mengerjakan tembok saluran dengan lebar sekitar tiga meter. Proyek ini dimulai awal Agustus lalu dan diperkirakan selesai Desember nanti.

Hadi mengatakan, kawasan hutan di lokasi PLTM Lokomboro ini harus dijaga dan dirawat. Warga mesti berpikir panjang bahwa pohon-pohon di kawasan ini tidak boleh ditebang, karena akan mengurangi debit air yang dibendung untuk mengangkat dan menggerakkan turbin pembangkit listrik.

Menurut Hadi, dua atau tiga bulan sebelumnya kawasan  hutan di sekitar PLTM ini menjadi lahan penebangan kayu secara ilegal.  Dalam seminggu, kata Hadi, bisa terangkut 40 sampai 50 kubik kayu. “Dulu banyak sekali kayu yang ditebang. Seminggu bisa empat puluh sampai lima puluh kubik yang dimuat di truk. Sekarang sudah berkurang,” kata Hadi.

Hadi mengatakan, jika hutan di kawasan ini tidak dipelihara dan penebangan kayu terus berlangsung, dikhawatirkan sumber air akan berkurang dan tidak bisa lagi membangkitkan turbin pembangkit listrik. “Kalau seperti itu, siapa yang rugi? Masyarakat sendiri yang rugi. Karena itu kita harapkan agar hutan di kawasan ini jangan dirusakkan, pohon-pohon jangan lagi ditebang,” kata Hadi.

Hadi bahkan meminta agar pemerintah menempatkan pos polisi kehutanan di kawasan itu. “Akan lebih bagus lagi kalau ada polisi kehutanan di sini. Kalau tidak kita khawatir penebangan pohon akan jalan terus,” kata Hadi.
Ketua Komisi B DPRD NTT, Drs. John Umbu Deta, merespons harapan Hadi. “Betul, kita dukung agar di sini pemerintah membangun pos polisi kehutanan, sehingga kawasan hutan di sini tetap terpelihara,” kata Umbu Deta.

Tarmo, petugas lapangan yang mengerjakan proyek ini menjelaskan, proyek penambahan daya dan perluasan jaringan PLTM Lokomboro terdiri dari dua proyek. Yang pertama menambah daya 2 x 500 kilowatt (KW) pada pembangkit yang telah ada, dan membangun pembangkit baru dengan daya 2 x 200 KW.


Penulis : TONY KLEDEN
Sumber : POS KUPANG

Sabtu, 27 Agustus 2011

Sirih Mati, Harganya Melonjak


 Banyak tanaman sirih di Kecamatan Wewewa Utara dan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) mati diserang penyakit. Belum diketahui apa penyakit mematikan itu. Akibatnya, harga buah sirih di pasaran melonjak tajam.
Penjual sirih di pasar dadakan Marokot, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Senin (21/8/2011).

Dua warga Desa Mata Loko, Kecamatan Wewewa Utara, Y Bili Ela dan Martinus Bili, kepada Pos Kupang di desa itu, Minggu (21/8/2011), mengakui, penyakit mematikan itu sudah menyerang tanaman sirih sejak tahun lalu. “Sudah dua tahun ini sirih mati. Kita belum tahu apa penyakit atau hamanya,” kata Bili Ela.

Bili Ela mengatakan, hama tanaman sirih itu menyerang hampir di semua wilayah di Kecamatan Wewewa Utara. Dia belum bisa memastikan apakah hama itu juga menyerang semua kecamatan di Wewewa. “Tetapi penyakit ini kan menyebar,” kata pensiunan guru itu.

Kondisi yang sama juga terjadi dengan nasib tanaman sirih di Marokot, Kecamatan Wewewa Barat. Di kawasan ini tanaman sirih banyak yang mati terserang penyakit. “Sudah dua tahun mati. Harganya mahal sekali dan susah dapat sekarang,” kata Martina Bora, salah seorang penjual sirih di Marokot.
Disaksikan Pos Kupang di Desa Mata Loko, Minggu, tananam menjalar ini banyak yang sudah mati dan mengering di pohon inangnya.
Ada sirih yang mati dari akar menuju ke daun. Ada yang sebaliknya dari daun menuju akar. Sebelumnya, hanya sirih yang mati. Tetapi sekarang ada juga pohon inangnya yang ikut mati.
Ditanya, apakah sudah ada petugas yang datang memonitor, Bili Ela mengatakan, sudah ada petugas pemerintah yang datang. “Tetapi apa penyakit atau hamanya, belum tahu,” katanya.
Harga Melonjak
Matinya tanaman yang buahnya menjadi konsumsi harian warga Sumba umumnya ini langsung berdampak pada harganya yang melonjak tajam di pasaran.
Bili Ela mengatakan, jika tidak terserang penyakit dan produksi buahnya normal, harga buah sirih mudah terjangkau.
“Biasanya satu kumpul seribu rupiah. Sekarang tiga kumpul sepuluh ribu rupiah. Mahal sekali harganya,” kata Bili Ela. Tragisnya, tambah Bili Ela, sudah mahal stoknya juga terbatas.

Sejumlah pedagang yang menjual sirih di Pasar Tambolaka membenarkan kalau sekarang buah sirih mulai berkurang stoknya. Mereka mengakui pasokan buah dari desa-desa di Wewewa berkurang. Kondisi itu sudah terjadi sejak tahun lalu. “Sekarang susah dapat sirih dari Wewewa. Katanya tidak ada buah lagi. Berbuah juga cuma sedikit, dan itu tidak dijual lagi karena makan sendiri,” kata Ama Lede, seorang penjual sirih di Pasar Tambolaka, Senin pagi.

Ama Lede mengatakan, dari informasi yang diperolehnya tanaman sirih di hampir semua kecamatan di daerah Wewewa terserang hama penyakit. “Katanya banyak yang mati karena penyakit. Kami tunggu saja kalau datang, ya kami beli dan jual lagi,” kata Ama Lede.
Penulis : TONY KLEDEN
Sumber : POS KUPANG

Jumat, 26 Agustus 2011

50 Ekor Kuda Ditahan di Waikelo



BERLABUH --PLM Jintan berlabuh
di Dermaga Feri Waikelo, Tambolaka, SBD,
Selasa (23/8/2011) petang.
Terlihat sejumlah kuda diikat di dek kapal.
Dicurigai melanggar aturan dan diangkut malam-malam, Syahbandar Pelabuhan Waikelo, Sumba Barat Daya (SBD), menahan Perahu Layar Motor (PLM) Jintan yang mengangkut 50 ekor kuda tujuan Jeneponto, Sulawesi Selatan. PLM itu ditahan karena 15 dari 50 ekor kuda itu adalah betina. Rabu (24/8/2011) pagi ini ternak-ternak itu akan dikir ulang lagi di Karantina Dermaga Waikelo.

Informasi tentang penahanan PLM Jintan ini dibenarkan Kepala Pos Polisi KP3 Laut Waikelo, Bripka Aris Munandar, dan Sekretaris Dinas Peternakan SBD, Drs. Agustinus Pandak. Menurut ketentuan, pengantarpulauan ternak kuda diatur dengan ratio 4:1. Artinya, dari lima ekor yang dikirim ke luar, empat ekor adalah kuda jantan dan satu ekor kuda betina.

Dengan merujuk pada aturan itu, maka untuk ternak kuda 50 ekor yang dikirim, 40 ekor di antaranya adalah kuda jantan dan sepuluh ekor kuda betina. “Tetapi yang mau dikirim ini 35 ekor kuda jantan dan 15 ekor kuda betina,” kata Kapospol KP3 Laut Waikelo, Bripka Aris Munandar, kepada Pos Kupang di Pospol KP3 Laut Waikelo, Selasa petang.

Aris menjelaskan, anak buahnya yang pertama menahan pengantarpulauan ternak kuda itu. Kronologinya, jelas Aris, Selasa dinihari sekitar pukul 04.00 Wita, dua anak buahnya yang piket mencurigai kendaraan yang mengangkut kuda yang hendak dibawa ke Jeneponto. “Kita tahan dan tanyakan, mengapa angkutnya malam-malam. Kita kemudian koordinasikan dengan syahbandar dan disepakati agar pas jalan (izin berlayar, Red) tidak dikeluarkan,” kata Aris.

Mestinya, PLM Jintan berlayar ke Jeneponto Selasa petang. Sebagaimana disaksikan Pos Kupang, Selasa petang, PLM Jintan yang berbobot sekitar 25 ton masih berlabuh di bagian timur Dermaga Feri Waikelo. Di atas dek dan palka kapal kecil ini terdapat ternak kuda yang diikat berjejer. Terlihat juga beberapa ekor kambing di atas kapal ini.
Kepala Karantina Hewan Waikelo, Vera Lobo, tidak mengangkat telepon ketika dihubungi kemarin petang. Dua kali dihubungi ke nomor handphonenya, Lobo tidak mengangkat. Begitu juga dengan Kepala Dinas Peternakan SBD, Ir. Thimotius Bulu.
Dua kali dihubungi ke handphonenya, terdengar nada sambung, tetapi tidak diangkat.
Sekretaris Dinas Peternakan SDB, Drs. Agustinus Pandak, ketika dihubungi melalui handphonenya menjelaskan, ternak itu ditahan karena melanggar ketentuan. “Dari kir oleh Dinas Peternakan ditemukan bahwa 15 ekor di antaranya adalah kuda betina. Umur kuda yang diantarpulaukan juga mesti di atas delapan tahun,” jelas Pandak.

Menurut keterangan yang dihimpun, ternak itu diantarpulaukan oleh UD Hijrah. Dalam surat kesepakatan bersama yang dikeluarkan tanggal 14 Januari 2010 diatur hal-hal mengenai prosedur pemasukan dan pengeluaran ternak. Untuk ternak kuda, diatur ketentuan bahwa ternak kuda jantan yang dikirim keluar berumur 5 tahun, sedangkan betina 8 tahun. Rationya 4:1 (4 jantan, 1 betina).

Pengusaha Ternak Antar Pulau, Abdollah H Ibrahim, yang juga pemilik UD Hijrah yang dipercayakan sebagai pihak yang mengatur dan mengelola pengiriman dan pemasukan ternak, membenarkan PLM Jintan ditahan oleh syahbandar. “Sudah selesai pak (urusannya),” kata Abdollah ketika dihubungi ke handphonenya, Selasa malam.

Ditanya apa maksudnya ‘selesai’, Abdollah mengatakan, dari hasil rapat bersama dengan instansi terkait kemarin siang, pemilik kapal diberikan surat peringatan pertama. “Kasihan mereka karena sudah rugi. Mereka tidak banyak tahu ketentuannya,” kata Abdollah.

Tentang pengangkutan yang dilakukan dinihari, Abdollah membenarkan. “Itu karena tergantung cuaca. Pagi hari dinaikkan ke kapal ketika dermaga dan badan kapal sudah sejajar. Kalau tidak susah sekali, apalagi angin juga kencang,” kata Abdollah.
Menurut rencana, Rabu petang hari ini kapal itu bisa berlayar. Rabu pagi ini, kata Abdollah, ternak itu akan dihitung ulang.
“Akan dihitung ulang oleh petugas dari peternakan dan karantina. Setelah itu rekomendasinya ditambah lagi karena di atas kapal ada beberapa ekor kambing yang dibeli awak kapal. Kasihan mereka, sudah jauh-jauh dan sudah keluarkan uang,” kata Abdollah.

Penulis : Tony Kleden
Sumber : Pos-Kupang.Com

Kamis, 25 Agustus 2011

CARITAS Oh CARITAS



Oleh Emanuel Dapa Loka


Nomen est omen, nama menunjukkan orangnya atau nama adalah tanda. Artinya, dalam sebuah nama termuat makna mendalam yang bisa menjelaskan siapa orang yang memakai sebuah nama itu. Atau, diharapkan roh yang terkandung dalam nama itu akan meresap ke dalam diri anak itu. Karena itu tidak ada orangtua yang menamai anaknya secara sembarangan. Kita tidak pernah menjumpai seseorang bernama “tikus” yang terlanjur menjadi simbol korupsi atau “babi” simbol kerakusan, dan sebagainya, bukan? Tidak ada! Yang diberikan biasanya adalah nama-nama indah seperti Emanuel, Sesilia, Benedictus, Virgo, Paulus, Sofia, Brigitta, Ignasius dan sebagainya. Itu karena orangtua tidak berharap anak mereka berperilaku seperti fauna-fauna tersebut. Bahwa kemudian ada anak yang berperilaku tak ubahnya binatang, itu hal lain. Ini wilayah garapan pendidikan nilai, sosiologi, agama (rohani), nurani dan sebagainya.

Selain tidak sembarangan memberi nama pada anak, orang juga selalu mencari nama terbaik atau terindah untuk dilekatkan pada toko, kios, warung, bus, sekolah atau kelompok. Misalnya ada toko bernama “Indah Permai”, “Makmur”, “Intan Permata”, “Caritas/Karitas” dan sebagainya.
Ada harapan yang menggelora di sana agar nama itu membawa berkat atau hoki. Dan karena itu, tidak jarang orang mengadakan pesta atau syukuran ketika melekatkan sebuah nama secara resmi pada anak atau tempat usaha dan sebagainya. 

Sangat pasti, pihak yang merasa senang dengan nama indah yang dipilih itu bukan hanya yang punya anak atau pemilik tempat usaha tapi juga orang-orang di sekitar dengan harapan hal-hal terbaiklah yang terjadi kemudian.

Mungkin salah satu nama indah yang baik disinggung di sini adalah “Caritas” atau Karitas. Nama ini acapkali terpampang sebagai nama rumah sakit, biara, sekolah, orang atau mungkin juga nama tempat foto kopi atau toko kelontong dan sebagainya. Di Sumba, NTT misalnya, mendengar kata “Caritas” atau “Karitas”, pikiran orang langsung mengembara menuju sebuah bangunan rumah sakit bernama Rumah Sakit Karitas yang terletak di jantung Kota Waitabula, Sumba Barat Daya. Rumah sakit ini diasuh oleh suster-suster ADM atau Amalkasih Darah Mulia.

Nama dan makna nama rumah sakit semulia nama lembaga hidup bakti pengasuh. Meski demikian, esai ini tidak dimaksudkan untuk mengupas Rumah Sakit Karitas yang “pasti” berjiwa kristiani atau Katolik itu. Sangat “kebetulan” nama rumah sakit tersebut sama dengan judul tulisan ini.

Makna Caritas sangat dalam. Namun keindahan makna kata itu tidak seindah kenyataannya. Kita tahu, berbicara tentang atau membicarakan kasih tidak ada habisnya. Lain halnya dengan bertindak kasih. Saking lebih enaknya hanya “berbicara” tentang kasih, kita lebih memilih berbicara saja. Kita lupa bahwa begitu keramatnya kata kasih atau caritas, ada ungkapan klasik yang berbunyi ubi caritas et amor, ubi caritas deus ibi est yang kalau diterjemahkan bisa berarti “di mana ada kasih dan cinta di situ Tuhan hadir”.

Ingatan kita pendek. Kita lupa telah berikrar untuk menjadi pelaku setia dari kata magis itu. Lantas, bagaimana kita menguji apakah kita telah memaknai sebuah nama dengan baik. Sekali lagi, ini soal nama Caritas. Caritas atau kasih menuntut aksi nyata. Acapkali kita merasa sudah memaknai kasih dengan baik secara konkret berdasarkan ukuran kita. Taruhlah seorang direktur atau ketua yayasan misalnya, merasa sudah menjadi pelaku setia dari caritas. Namun dia lupa bahwa ternyata dia hanya “merasa”. Apalagi yang ia “rasakan” itu hanya berdasarkan ukurannya sendiri. Dia tidak pernah tahu bagaimana “mendaratkan” kasih itu. Sebab dia tidak pernah datang dan masuk menyelami nasib dari orang-orang yang “rasa-rasanya” sudah dia layani, termasuk kehidupan para karyawannya. Dia menunggu laporan di balik meja. Akibatnya, ia mengalami kepuasan semu. Lalu  berbekal “kepuasan” itu, dari  balik tembok ruang doanya ia memuji-muji Tuhan sebagai yang memberi kekuatan untuk melakukan tindakan kasih itu.  Bahkan secara tidak sadar (mungkin juga sadar-sadar sedikit), ia juga memuji-muji diri sebagai seorang dermawan, berhati mulia, pelaksana mantra keramat gereja preferensial option for the poor.

Ya, nomen est omen, nama menunjukkan orangnya. Caritas berarti kasih. Sebuah makna yang menggetarkan! Kalau ternyata kita yang memahami arti caritas itu tidak bertindak atas dasar kasih, dari salibNya, Tuhan Yesus akan bergumam dengan tatapan  nanar, “Caritas oh Caritas….!” Sama halnya ketika Tuhan dengan sedih bergumam “Emanuel oh Emanuel….” tatkala karakter yang ditunjukkan oleh seseorang bernama Emanuel sama sekali tidak menunjukkan kehadiran Allah yang menyertai kehidupannya seperti makna yang terkandung dalam nama Emanuel yang berarti “Allah beserta kita”. 
(Penulis adalah kini bekerja sebagai wartawan di Jakarta, dari kampung Pero, Waimangura)

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD