Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Senin, 18 Juli 2011

Tekan Perampokan dan Pencurian : Perampok Jadi Satpol PP

"Banyak perampok dan pencuri didekati untuk diajak meninggalkan kebiasaan buruk itu." -- Pater Mikael Keraf --

Program Desa Aman dari Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete untuk menekan perampokan dan pencurian di SBD sebenarnya sudah baik. Salah satu langkahnya adalah merekrut para komandan perampok dan atau pencuri untuk menjadi anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Sebenarnya sudah sangat signifikan dan bermanfaat program bupati itu,” kata Direktur Yayasan Donders Waitabula, SBD, Pater Mikael Keraf, CssR kepada Pos Kupang di Tambolaka, Jumat (15/7/2011).

Yayasan Donders merupakan yayasan di bawah asuhan Tarekat CSsR (Congretio Sanctissimi Redemptoris). Yayasan ini bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa dengan program antara lain penyadaran para perampok dan pencuri.

Pater Keraf mengatakan hal itu ketika dimintai penilaiannya tentang kasus-kasus perampokan ternak di SBD. Aksi perampokan kerap menelan korban jiwa seperti yang terjadi di Kampung Wanokaka. Kecamatan Wewewa Timur, SBD, Kamis (14/7/2011). Dalam aksi perampokan itu, nyawa Philipus Pote Panda, pemilik ternak yang dicuri, tewas tertembus tombak para perampok.

Pater Mikael menilai, Program Desa Aman sebagai salah satu dari empat isu strategis Pemkab SBD sudah baik dan sangat strategis menekan aksi perampokan ternak dan pencurian yang kerap disertai tindak kekerasan. Banyak perampok dan pencuri didekati untuk diajak meninggalkan kebiasaan buruk itu. “Salah satunya adalah merekrut para komandan perampok dan pencuri itu menjadi Satpol PP,” kata Keraf.

Bupati Kodi Mete yang dihubungi melalui handphonenya, Jumat petang, mengakui baru mengetahui aksi perampokan berdarah itu dari wartawan Pos Kupang.
“Saya baru turun dari pesawat. Baru dengar nih,” ujarnya.
Kodi Mete mengatakan, Program Desa Aman ada dampaknya. “Tetapi kalau menghapus sama sekali perampok dan pencuri di Sumba, saya kira tidak bisalah. Butuh waktu sangat lama,” katanya.

Saat mencanangkan Program Desa Aman, pihaknya bersama aparat pemerintah sampai di tingkat paling bawah terus melakukan pendekatan dan mencari jalan untuk menekan aksi perampokan ternak itu. “Aparat desa itu selalu kita kumpulkan, kita bahas dan diskusikan apa penyebabnya dan bagaimana menyelesaikannya. Prinsipnya kita terus berupaya menyadarkan masyarakat agar tidak lagi terlibat dalam aksi perampokan dan pencurian,” paparnya.

Pengakuan Diri

Ditanyai pengalaman dan pengamatannya tentang motif para perampok, Pater Mikael Keraf mengatakan ada beragam motif. Dia menyebut pengakuan diri sebagai motif paling utama. “Merampok dan mencuri itu masih menjadi salah bentuk pengakuan diri. Siapa mencuri lebih banyak dan bisa masuk ke kampung yg dijaga ketat, dia dianggap jagoan dan bisa menjadi komandan,” kata rohaniwan Katolik asal Lamalera, Lembata ini.

Dari pengalamannya menyadarkan para perampok, Pater keraf mengetahui baik kalau para perampok itu sangat terlatih dan piawai. “Para komandannya itu sangat ahli dalam strategi. Kemampuan mereka mengorganisir para anggotanya juga luar biasa. Mereka itu punya peta jalan dan tahu gua-gua. Mereka tahu kalau curi di kampung ini mesti jalan ikut mana,” tuturnya.

Motif kedua, sebutnya, adalah mencoba ilmu gaib (black magic). Pater Keraf menyebut satu wilayah di SBD yang sangat terkenal dengann ilmu gaibnya. Para perampok itu membutuhkan ‘arena’ untuk menguji ilmunya. “Kalau sudah kebal, luka tombak atau tembak, langsung sembuh hanya dibasuh dengan air,” katanya.
Motif ketiga, desakan ekonomi. Para perampok dan pencuri umumnya miskin, tidak ada yang kaya. Sudah begitu, katanya, anak mereka juga banyak, bisa sampai sembilan orang.

“Tentu mereka harus makan. Kalau tidak ada makanan di rumah, ya, terpaksa curi. Para istri itu tahu bahwa barang-barang curian itu ‘panas’. Pelihara pasti terkena penyakit, tanam susah tumbuh. Tetapi karena tidak ada bahan makanan, ya, terpaksa terima saja barang-barang ‘panas’ itu,” katanya.

Motif keempat, aksi perampokan dan pencurian itu ditunjang oleh adanya penadah. “Jadi ada unsur bisnisnya. Hewan-hewan curian itu kemudian dijual kepada penadah, baik di Sumba maupun di luar Sumba,” katanya.

Sumber : Pos Kupang
Penulis : TONY KLEDEN
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD