Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 10 Juli 2011

Stuba dan Rencana Pengembangan Tebu di SBD

STUDI banding (stuba) yang dilakukan 75 warga Kecamatan Kodi Utara, Kodi dan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pendamping dari unsur pemerintah, ke lokasi perkebunan tebu serta pabrik gula milik PT Gunung Madu Plantations, di Desa Gunung Batin, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung, diharapkan membawa nilai tambah bagi upaya memacu peningkatan perekonomian masyarakat dan daerah setempat.
Awasan ini perlu dikemukakan di sini mengingat “demam” studi banding seakan sudah menjadi trend namun “pelajaran” yang diperoleh di tempat studi banding tidak pernah dipraktekkan untuk kemajuan daerah.

Studi banding oleh tim dari SBD itu dilaksanakan pada hari Kamis-Sabtu 16-18 Juni 2011,  dipimpin Wakil Bupati SBD, Jack Malo Bulu. Turut serta dalam rombongan, sejumlah elemen  masyarakat, di antaranya 46 orang kepala desa di wilayah Kodi, para camat dan sekretaris camat, juga tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan tim pendamping, termasuk unsur pers.

Kehadiran berbagai elemen dari Kabupaten SBD ini  diharapkan bisa  meniru apa yang mereka lihat di perkebunan tebu maupun pabrik gula.
Kabar yang kita peroleh dari sana adalah bahwa PT Anugerah Rezeki Nusantara  (ARN) membutuhkan lahan seluas 25.000 hektar, atau minimal 20.000 ha untuk menjadi lahan inti milik perusahaan guna pengembangan tebu di SBD.

Jika  pemerintah dan masyarakat SBD menyediakan lahan seluas yang dibutuhkan itu, maka ARN langsung mengembangkan tebu dan mendirikan pabrik gula.
Pertanyaannya adalah apakah lahan seluas itu mampu disediakan masyarakat dan pemerintah SBD? Inilah yang harus dikaji dan dimatangkan pemerintah SBD sebelum “mempersilahkan” perusahaan tersebut melakukan investasi skala besar di tanah SBD.

Investasi, sesuai pengalaman selama ini, begitu didambakan, bahkan “didewakan” sehingga kepentingan masyarakat luas dinomorduakan. Akibatnya pelaksanaan investasi tidak semulus yang diharapkan tetapi menuai kendala. Tidak sedikit investor yang hengkang dari daerah karena terjadi pro dan kontra di daerah terkait investasi yang membutuhkan lahan yang luas.

Pengalaman di beberapa daerah, investasi awalnya berjalan mulus, namun di tengah jalan menjadi tersendat-senda dan menuai masalah. Masyarakat memrotes lahannya yang “dicaplok”, menuntut ganti rugi, sampai menagih janji-janji yang belum ditepati investor maupun pemerintah daerah.

Pengalaman-pengalaman seperti ini hendaknya menjadi pelajaran bagi masyarakat dan pemerintah SBD untuk menimbang, mengkaji sebelum memutuskan penyediaan lahan sedemikian luas untuk pengembangan tebu dan pabrik gula.
Sebagai kabupaten yang masih baru, SBD tentu harus menata wilayahnya melalui tata ruang wilayah sesuai peruntukannya.

Misalnya, lahan untuk perkebunan, lahan untuk peternakan, pertanian, kehutanan, wilayah tangkapan air dan lain-lain kebutuhan, termasuk lahan untuk “cadangan” bagi pemukiman warga di saat penduduk semakin bertambah.
Saat ini, penduduk di SBD belum padat. Masih banyak “ruang kosong” yang perlu diberdayakan, dioptimalkan demi kemajuan daerah.

Akan tetapi perkembangan ke depan, lima tahun, 10 tahun, 20 tahun dan seterusnya harus masuk dalam hitungan, di saat ada tawaran investasi yang membutuhkan lahan yang luas. Karena itu patokannya adalah RTRW (rencana tata ruang wilayah) daerah. Dengan begitu, penetapan RTRW menjadi sangat strategis dan penting. Sebab dia akan menjadi acuan utama pemanfaatan lahan-lahan di suatu daerah, terlebih untuk investasi jangka panjang.

Kecuali itu, studi banding yang dilakukan pemerintah SBD ini boleh dibilang agak “kreatif” karena melibatkan para kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat dalam jumlah relatif banyak. Harapan kita, tudi banding ini benar-benar dimanfaatkan untuk studi, yaitu belajar kelebihan di daerah lain untuk diterapkan di daerah sendiri. Semoga saja studi banding tak sekadar mengajak para warga dan kades jalan-jalan untuk  mendapat uang jalan.

Sumber : Pos Kupang
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD