Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 27 Juli 2011

Kultur Sumba, Nyanyian Syair Pencipta

POS KUPANG/TONY KLEDEN
GEDUNG KEMBAR ? 
Gedung kembar prototipe rumah adat Sumba ini 
menjadi ikon rumah budaya yang 
akan diresmikan Oktober mendatang. 
Gambar diambil, Kamis (14/7/2011) petang.
BERMINAT pada khazanah budaya bukan hal yang luar biasa. Banyak sekali orang berminat dan mengagumi kekhasan budaya di banyak tempat. Tetapi setelah berminat, menaruh kekaguman lalu menjadi pelestari , itu tidak banyak orang. Hanya satu dua orang saja.

Salah seorang dari sedikit orang yang tergerak tangannya dan terpanggil hatinya melestarikan khazanah budaya berikut nilai-nilai yang terkandung di dalamnya itu adalah Pater Robert Ramone, CSsR.  Ketika  dikontak melalui sms untuk ngobrol-ngobrol, rohaniwan Katolik dari Kodi, Sumba Barat Daya ini langsung menelepon. Di sela-sela waktunya yang mepet dihimpit agenda kerja,   pastor yang baru dipermandikan saat sudah berumur 16 tahun ini, menerima Pos Kupang di Lembaga  Studi dan Pelestarian Budaya Sumba, Tambolaka - dia sering  menyebutnya ‘rumah  budaya’ —  Kamis (14/7/2011) rembang petang.

Rumah  budaya itu belum tuntas dibangun. Sejak Maret 2010 lalu, di atas lahan tiga hektar milik tarekat CSsR  (Conggregatio Sanctisimi Redemptoris)  itu, Pater Robert berpeluh  dan terlibat penuh di antara para tukang untuk membangun. Ada dua bangunan kembar yang menjadi gedung utama. Tentu saja mengambil prototipe rumah adat Sumba bergaya panggung. Yang satu untuk kantor,  yang satu lagi untuk galeri. Ruang antara di kedua gedung itu bakal jadi panggung manakala ada pentas. Banyak yang mengkritik karena menggunakan konstruksi beton. Rumah adat Sumba tidak menggunakan semen dan besi beton. “Tetapi semangat saya adalah promosi. Saya ingin promosi  ke seluruh dunia agar  Sumba dikenal. Itu obsesi utama saya. Sumba harus dikenal semua orang. Karena itu saya tidak bangun rumah adat Sumba, tetapi prototipe rumah adat,” katanya menjawab kritikan itu.

Rencananya tanggal 25 Oktober tahun ini, rumah  budaya itu diresmikan. “Sudah sekitar 50 orang dari  luar Sumba yang telah mendaftarkan diri untuk menghadiri acara peresmian nanti,” kata pria berkacamata minus kelahiran 29 Agustus 1962 dan ditahbiskan menjadi imam, 25 Agustus 1992 ini.

Tentang khazanah budaya dan kultur Sumba secara umum, Pater Robert paham sangat baik. Matanya berbinar-binar.  Suara baritonnya yakin, bersemangat. Kata-katanya kuat bermakna. Ceritanya runut dan lancar.  Budaya Sumba dengan semua  ornamentasinya diungkapnya secara plastis sekaligus eksemplaris.   Orang jadi paham, khazanah budaya Sumba memang padat dengan simbolisme.  Simbolisme itu mewujud dari seluruh rancang bangun rumah adat  dan  motif kain tenun ikatnya. “Budaya Sumba secara umum sama. Intinya marapu. Yang berbeda cuma spesifikasi-spesifikasinya,” kata Pater Robert.

Dia sengaja menegaskan hal itu seolah memberitahu seluruh masyarakat Sumba dari ujung barat hingga ujung timur, dari pesisir utara hingga pesisir selatan dan juga pemerintah di empat kabupaten saat ini bahwa rumah budaya yang dibangunnya bukan eksklusif Sumba Barat Daya, apalagi bernuansa agama Katolik. Dia utuh untuk seluruh Sumba. Inklusif. Terbuka untuk semua orang Sumba, dari agama apa saja. “Kebetulan dia ada di Sumba Barat Daya. Tetapi ini rumah  budaya  Sumba, bukan  Sumba Barat Daya,” tegasnya.

Ditanya tentang perhatian pemerintah di seluruh daratan Sumba, Pater Robert mengakui belum semua memberi  perhatian penuh. Padahal, dia sudah menjelaskan kepada semua bupati di Sumba. Pemerintah kabupaten  yang sudah menyumbang dana baru Pemkab Sumba Barat Daya dan Sumba Barat. Pemkab Sumba Barat Daya sudah menyumbang Rp 100 juta, Sumba Barat Rp 25 juta. Sumba Tengah dan Sumba Timur belum menyumbang.

Rumah budaya ini, jelas Pater Robert, dibangun sebagai sumbangan tarekat CSsR untuk Sumba.  Sumbangan itulah yang menjadi gagasan awalnya. Selama 19 tahun bekerja sebagai pastor di Sumba, Pater Robert menemukan sesuatu dalam refleksinya sekian lama, bahkan sejak tarekat CSsR lebih dari setengah abad berkarya di Sumba, yakni bahwa sentuhan budaya, kultur masih diabaikan. “Kita memang agak mengabaikan kultur dalam pewartaan kita. Karena itu, saya pikir rumah budaya ini bisa menjadi sumbangan tarekat untuk Sumba di bidang pewartaan. Bagi saya, kultur itu adalah syair indah dari Tuhan. Saya ingin menyanyikan syair itu dan berharap semua orang juga bisa menyanyikannya,” urainya.

Bagi Pater Robert, syair kultur itu mengatasi  agama, melintasi suku dan bangsa, menerobos etnis, bahkan mendobrak sekat ego pribadi. Itu sebabnya, dia mati-matian dan bekerja penuh semangat mewujudkan mimpinya membangun rumah  budaya itu. Dia ingin agar di rumah budaya itu, orang tidak cuma berdiri di pinggir dan mulai mengagumi budaya Sumba. Lebih jauh dari itu, dia ingin agar semua orang masuk ke rumah ini dan kemudian mengenal, mencintai dan terutama  memahami kultur Sumba. “Kalau sudah paham  kultur, segala soal akan jadi mudah diselesaikan,” katanya yakin.

Dalam keyakinannya, kata Pater Robert, kultur itu sebuah faktisitas yang lokal. Karena itu dia harus dihargai. Tidak bisa orang bilang kultur itu buruk, tidak baik dan karena itu tidak perlu dihargai.  Lokalitas Sumba itulah yang mendorongnya untuk terus berteriak dan berkampanye tentang Sumba. Teriakannya tidak mesti dari mimbar atau  altar gereja saja. Melalui usaha dan upayanya, Pater Robert sebetulnya juga ingin melihat pewartaan dari sisi lain, sisi kultur itu. Dia ingin keluar dari rumah  kencananya karena tak betah hidup tenang intra muros di antara tembok-tembok biara dan bahkan agamanya. Dia mau tampil sebagai seorang pengembara kelana, yang bisa berkelana ke mana-mana, berjumpa dengan budaya apa saja dan di mana pun. “Saya sudah keliling Indonesia. Irian, Nias, Kalimantan, Flores, Solor,” katanya.

Dalam pengembaraan itulah, dia mendokumentasikan khazanah budaya melalui jepretan tangannya menghasilkan foto-foto dengan sudut pandang  sangat kuat dan mampu mengalirkan kisah panjang dari lembaran foto itu. Di Tambolaka dan sekitarnya, foto-foto hasil karyanya terpampang di banyak rumah dan kantor.  Kartu pos dengan latar belakang budaya Sumba menyebar ke seluruh pelosok, bahkan menembus hingga ke benua tua, Eropa. Semua usaha ini, sekali lagi, untuk memperkenalkan Sumba ke seluruh dunia.

Atas perhatian, kepedulian, bakti dan pengorbanannya, orang Sumba mesti menyebut Pater Robert sebagai dokumentator budaya Sumba. Pater Robert  tidak ingin suatu hari kelak orang Sumba mesti terbang ke luar negeri hanya untuk mencari dan mempelajari budaya Sumba. “Saya ingin agar orang Sumba itu bangga dengan budayanya,” tegasnya.

Bangga dengan budaya sendiri, sebagaimana yang disuarakan Pater Robert, dalam arti tertentu adalah tahu sejarah. Sejarah adalah sebuah alamat, ke mana orang tahu jalan kembali setelah berkelana ke mana-mana. Orang yang tak kenal sejarahnya, tak kenal sumber identitasnya, akan lupa diri. Dan seorang yang mengabaikan tempat tumbuh dan berkembang, yaitu sejarahnya, tak tahu ilmu bumi  hidupnya dan mudah lupa daratan.  Tetapi sejarah itu juga tidak hanya diterima sebagai   kata benda, sebagai  Gabe (terberi) saja, tetapi juga Aufgabe (tugas yang diperankan).

Melalui usahanya membangun rumah adat itu, Pater Robert pada galibnya mengingatkan semua orang bahwa hidup tak akan ada nilainya tanpa tradisi. Suatu tradisi harus ada karena kesadaran dan kehidupan manusia tak bisa berangkat dari titik nol. Tradisi menjadi kesadaran kolektif, yaitu kesadaran manusia tentang dirinya.

Pusat dokumentasi Sumba itu, kalau boleh menyebut predikat lain untuk rumah  budaya itu, akan diresmikan 24 Oktober mendatang.   Rumah budaya itu telah menghabiskan banyak dana dari sumbangan para pihak yang peduli dan menaruh perhatian.  Tetapi sesungguhnya rumah  budaya itu dibangun tidak terutama dengan uang, tetapi dengan kekuatan fisik, kekuatan intelektual, dan juga kekuatan jiwa yang dimiliki seorang  pengembara kelana yang terus dan terus  mendulang kekayaan kultur bumi Sumba, merenda nilai-nilainya,  menenun khazanah budayanya  menjadi suatu kekuatan kultural  untuk masyarakat  Sumba hari ini dan kelak.

Sumber : Pos Kupang
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD