Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 14 Juni 2011

HargaTak Berpihak kepada Petani

Warga Kodi Bangedho, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, membawa beras hasil panen untuk dijual kepada pedagang Tionghoa di Weetabula. Beras yang sering disebut beras Kodi ini dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari beras di pasar karena lebih gurih, harum, dan tidak cepat membusuk setelah dimasak. Harga beras sekitar Rp 10.000-Rp 15.000 per kilogram.

Rimbunan pohon kelapa, jambu mete, kopi, pisang, dan kemiri yang memenuhi sebagian besar wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, tidak mewakili kehidupan warga setempat yang sejahtera. Harga hasil perkebunan jauh di bawah harapan petani. Mereka hanya tahu menjual hasil perkebunan kepada tengkulak dengan harga jauh di bawah harga pasar.

Sumba Barat Daya (SBD), yang luas wilayahnya mencapai 1.442,32 kilometer persegi itu hampir 65 persen dipenuhi tanaman perkebunan. Di sela-sela tanaman perkebunan terdapat jagung, padi, kacang, dan umbi-umbian. Sistem tumpang sari dipraktikkan di wilayah tersebut.

Jambu mete mendominasi hasil perkebunan di SBD dengan produksi tahun 2009 mencapai 17.500 ton. Komoditas unggulan berikutnya adalah kelapa dengan total produksi 15.600 ton, menyusul cokelat 10.230 ton, kemiri 8.230 ton, dan kopi 5.420 ton.

Dengan hasil perkebunan seperti itu semestinya tak ada lagi kasus gizi buruk dan kemiskinan di kabupaten pemekaran (2006) tersebut. Selain hasil perkebunan, hasil pertanian, seperti padi gogo, padi sawah, jagung, kacang, dan umbi-umbian, cukup tersedia. Produksi padi tahun 2009 sebanyak 39.336 ton, jagung 59.066 ton, ubi kayu (singkong) 58.450 ton, ubi jalar 5.821 ton, dan kacang-kacangan 2.329 ton.

Simeon Loghe (54), petani Desa Mali Iha, Kecamatan Wondo Kodi, mengatakan, petani tidak punya kemampuan untuk mendapatkan keuntungan dari hasil perkebunan mereka. Tidak ada pengusaha besar atau pedagang besar yang menampung hasil perkebunan petani.

”Hanya ada pengusaha Tionghoa yang punya toko atau kios di Weetabula. Jumlah pengusaha ini pun sekitar 5-10 orang dengan modal usaha yang terbatas. Petani terpaksa menjual hasil perkebunan kepada pengusaha itu. Mereka tidak memiliki akses untuk menjual hasil panen ke luar SBD,” ujar Loghe.

Harga kopra kering Rp 3.000 per kilogram (kg) dan kelapa basah Rp 2.000 per kg. Pada musim hujan seperti sekarang banyak petani menjual kelapa basah. ”Jika tidak dijual, kelapa bakal terbuang begitu saja. Itu lebih rugi lagi. Biar hanya Rp 2.000 per kg pun tetap dijual. Pemerintah daerah tahu itu. Kami selalu menyampaikan masalah ini, tetapi mereka rupanya tidak punya cara untuk membantu petani,” kata Loghe.

Harga kelapa di pasar tradisional Rp 2.000 per buah, tetapi jumlah peminat sangat terbatas. Mereka membeli kelapa hanya untuk mendapatkan santan atau bumbu masak. Itu pun terbatas di kalangan warga pendatang karena penduduk lokal rata-rata memiliki pohon kelapa sendiri.

Harga kacang mete saat ini Rp 7.000 per kg. Padahal, di Larantuka, Flores Timur, yang sudah dikelola secara profesional, kacang mete berharga sampai Rp 50.000 per kg. Sementara harga barang kebutuhan hidup terus naik dalam hitungan hari.

Tak bisa menabung

Ayah delapan putra ini menuturkan, terkadang ia bersama istri, Pando Loghe, membawa 10 karung kelapa kering berisi 50 kg. Namun, mereka hanya mampu membeli 10 kg beras, satu kilogram gula pasir, minyak goreng 1 botol (300 ml), sabun, dan gula-gula untuk anak-anak dari pasar.

Mereka tidak pernah bisa menabung dari uang hasil perkebunan. Padahal, panen seperti ini hanya bisa dilakukan satu kali dalam satu tahun. Ketika anak sakit, anak butuh uang jajan, uang sekolah, dan urusan lain, mereka sangat kesulitan.

Jumlah penduduk SBD sebanyak 278.955 orang (2009). Dari jumlah ini, terdapat 18.230 rumah tangga miskin atau sekitar 91.150 orang miskin.

Toni Tjoa (42), salah satu pembeli hasil komoditas perkebunan masyarakat SBD, mengatakan, kualitas hasil perkebunan yang dijual petani masih sangat rendah. Kelapa, misalnya, setelah biji kelapa dicincang, dijemur di atas tanah kosong sehingga kelapa tercampur tanah atau kotoran.

”Ketika hujan, kelapa itu dibiarkan begitu saja sehingga terendam air, selang beberapa hari muncul jamur. Kelapa pun kelihatan hitam, kekuningan, atau membusuk sehingga kami beli juga rugi. Tetapi, karena petani sudah bawa ke sini, kami terpaksa beli saja dengan risiko akan rugi,” kata Tjoa.

Proses panen dan penjemuran biji jambu mete sedikit mengalami perubahan setelah pembeli biji mete dari India datang langsung ke SBD. Pedagang India itu secara tegas menolak biji mete yang dipetik belum matang, dijemur di atas tanah kosong, serta berwarna kehitaman atau kekuningan.

Akan tetapi, Tjoa mengatakan, jika petani itu mendapat pendampingan atau pembinaan dari pemerintah daerah, tentu mereka juga menjaga kualitas hasil perkebunannya. Petani sangat labil dalam mengolah hasil perkebunan dan pertanian, serta tidak memahami kebutuhan pasar.

Kepala Bappeda SBD Dominggus Bulla di Weetabula, ibu kota SBD, mengatakan, persoalan pemasaran menjadi faktor penyebab rendahnya harga komoditas perkebunan dan pertanian. Para petani hanya bisa menjual hasil perkebunan kepada tengkulak, warga Tionghoa yang berdomisili di SBD.

”Persoalan harga komoditas pertanian ini cukup kompleks. Jika kita mau jual ke luar Sumba, petani harus menjaga kualitas hasil produksi, soal penjemuran, kadar air, kematangan buah atau biji, pengepakan, dan seterusnya. Umumnya kualitas komoditas pertanian dan perkebunan jauh di bawah standar pemasaran,” katanya.

Kebanyakan petani terdesak kebutuhan rumah tangga sehingga terpaksa menjual hasil pertanian mereka meski belum benar-benar matang. Andalan mereka adalah hasil perkebunan. Jika mereka bisa lebih sabar atau memahami permintaan pasar, tentu ada upaya menjaga kualitas produksi agar harga komoditas perkebunan mereka lebih menguntungkan.

(KORNELIS KEWA AMA)

Sumber: kompas.com/
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD