Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Kamis, 02 Juni 2011

AGAMA MARAPU

HAMPIR di setiap sudut pulau Sumba bisa dijumpai batu-batu besar bertiang dan batu-batu yang ditancapkan ke tanah. Semua ornamen masa lalu itu menjadi bagian erat dari kehidupan hampir 30 persen dari 611.422 jiwa penduduk Pulau Sumba yang menganut agama Marapu. Marapu adalah agama asli orang Sumba, yang mengkultuskan arwah nenek moyang sebagai perantara untuk memuja yang Maha Pencipta. Keyakinan para penganut agama asli Sumba pun tergerus dan sebagian besar lalu beralih keyakinan. Meskipun begitu, komunitas-komunitas Marapu, terutama kaum tua, masih tetap eksis dan menjalankan iman kepercayaan mereka hingga saat ini. Tim Evangelisasi Keuskupan (TEK) Weetabula bertugas merumuskan program khusus kunjungan ke orang-orang Marapu. TEK juga berkeliling memberi motivasi kepada Dewan Paroki untuk secara khusus memperhatikan orang-orang Marapu. Uskup Weetebula, Mgr Edmund Woga CSsR yang ditahbiskan Kamis, 16/7, adalah ahli Marapu. Ke depan, bagaimana prospek hubungan Katolik dan Marapu?

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Benteng Megalitik Marapu di Sumba
Pesona Sumba tidak hanya terletak pada seribu ekor kuda yang merumput di padang savanna, juga pada kekayaan tradisi Marapu dan hasil budaya megalitiknya. Ketika menapaki sebuah bukit, persis di tengah Kota Waikabubak, Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat, era modern terasa seolah lenyap…

Dari Stefanus Marapu ke Stefanus Katolik
SOSOK pemuda hitam manis ini mungkin aneh. Saat lahir di Desa Kaninubaru-Katikuluku-Sumba Timur pada 16 Juli 1985, orangtuanya langsung memberi nama Stefanus Kambaru Windi. Padahal, mamanya, Kongaatandewa dan bapanya, Lairia adalah penganut agama Marapu tulen….

Kedekatan Katolik dengan Marapu
Sejak dibentuk Tim Evangelisasi Keuskupan, Marapu ke Katolik tampak mengalir deras. KAPUARATU adalah stasi, 6 km dari pusat Paroki Sang Penebus Wara di Kota Waingapu, Sumba Timur. Saat ini, jumlah umat mencapai 169 orang (33 KK). Umat stasi yang terbentuk pada 2000 ini merupakan perpindahan dari penganut Marapu. Setiap tahun, sekitar 15 orang memeluk Katolik. Perkembangan yang sangat berarti ini terjadi setelah umat setempat membangun kapel yang diresmikan 26 Desember 2000…

Ya, Kita Terima
Penganut agama Marapu masih ada. Mereka hidup berdampingan dengan penganut agama lain yang dianggap resmi oleh Negara, yaitu Kristen, Katolik, Islam, dan Hindu. Gereja Katolik Keuskupan Weetebula yang melayani umat dan masyarakat di seluruh daratan Sumba merasa wajib mewartakan Injil kepada siapa saja, termasuk kepada penganut agama asli Sumba….

Selengkapnya bisa anda baca  disini


Sementara itu pada bulan juli 2009, situs Melayu Online pernah memuat artikel tentang Kepercayaan Marapu

Menelaah Marapu, Kepercayaan Masyarakat Adat Sumba
Diskusi Rutin Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
 
 

Tarik ulur tentang posisi agama versi pemerintah dengan kepercayaan yang dianut masyarakat adat, termasuk pengikut “agama” Marapu di Sumba, menjadi perdebatan menarik yang mengemuka dalam diskusi dengan tema “Agama Marapu: Telaah atas Konsep Ketuhanan dan Nenek Moyang Masyarakat Sumba”. Sebagai penulis makalah dalam presentasi itu adalah Lukman Solihin, S.Ant., peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) sekaligus redaktur MelayuOnline.com. Diskusi rutin bulanan diselenggarakan oleh BKPBM dan bertempat di kantor redaksi MelayuOnline.com di Jalan Gambiran No 85 A, Yogyakarta.

Dalam diskusi yang dihelat pada Sabtu (25/7/2009), hadir Pemangku BKPBM sekaligus Pemimpin Umum MelayuOnline.com, Mahyudin Al Mudra, SH., MM., Konsultan MelayuOnline.com sekaligus Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT-UGM), Dr. Arif Aris Mundayat, serta jajaran pemimpin redaksi dan redaktur portal-portal yang bernaung di bawah BKPBM, antara lain MelayuOnline.com, WisataMelayu.com, RajaAliHaji.com, dan CeritaRakyatNusantara.com.

Konsep dan Manifestasi Marapu
Dalam pemaparannya, Lukman Solihin menjelaskan panjang lebar mengenai konsep kepercayaan dan ketuhanan yang dianut masyarakat adat Sumba, yakni “agama” Marapu. Lukman mencoba memberikan telaah konsep-konsep yang terdapat di dalam “agama” Marapu beserta manifestasinya dalam pola pemukiman dan bentuk rumah, tempat-tempat pemujaan, serta ritus pengurbanan dan upacara kematian. “Konsep-konsep dalam agama Marapu merupakan pantulan dari angan-angan untuk membentuk relasi yang ideal antara manusia dan dunia roh,” ungkap Lukman. Konsep-konsep tersebut, lanjut Lukman, kemudian menjadi petunjuk (peta kognitif) bagi manusia untuk menjalani kehidupan sesuai dengan konsep-konsep tersebut.

“Agama Marapu dapat digolongkan sebagai salah satu dari agama-agama arkais. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ciri khas agama ini, seperti pengkultusan terhadap arwah leluhur, kepercayaan terhadap roh halus dan kekuatan gaib, serta fetisisme, yaitu pemujaan terhadap benda-benda keramat,” tutur Lukman. Redaktur MelayuOnline.com yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi WisataMelayu.com ini kemudian menambahkan, agama Marapu ini juga dapat dikelompokkan sebagai agama alam karena di dalam agama ini kuasa dan kekuatan alam sangat dihormati dan mengambil peran penting dalam konsep kepercayaannya. Lukman menuturkan, meski dapat dianggap sebagai agama lokal, bukan berarti Marapu tidak mengenal konsep ilah tertinggi. “Pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan benda-benda keramat merupakan media untuk memuja ilah tertinggi tersebut,” tegas Lukman.

Lebih lanjut Lukman menjelaskan bahwa kepercayaan dalam agama Marapu yang diteruskan secara turun-temurun telah melahirkan berbagai manifestasi dalam kehidupan sosial masyarakat Sumba. Konsep-konsep di dalam agama Marapu telah menjelma menjadi “peta kognitif” (model for reality) bagi masyarakat Sumba. Ia menyebutkan, berbagai manifestasi sosial tersebut antara lain dapat dilihat pada beberapa perwujudan, di antaranya formasi pemukiman penduduk dan bentuk rumah khas Sumba, tempat-tempat pemujaan, serta ritus-ritus pengurbanan dan upacara kematian.
 


Relasi “Agama Lokal” dan “Agama Pemerintah”

Dalam sesi diskusi, salah satu wacana yang menjadi perdebatan seru adalah soal pemakaian istilah “agama” dalam menyebut Marapu. Pemangku BKPBM Mahyudin Al Mudra mempertanyakan penggunaan istilah “agama” Marapu karena menurutnya, sejauh ini pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama serta aliran-aliran kepercayaan. Mahyudin mengkhawatirkan, pencatuman label “agama” dalam konteks Marapu akan menimbulkan kesalahpahaman bagi beberapa kalangan.

Untuk menjawab pertanyaan itu, Lukman mengajukan kerangka pemahaman yang dicetuskan Clifford Geertz, bahwa agama merupakan sistem simbol yang mempengaruhi motivasi hidup, menjadi konsep untuk memaknai tatanan umum eksistensi manusia, serta membungkus konsep-konsep itu ke dalam berbagai pancaran faktual hingga tampak realistis. Lukman menambahkan, pemakaian istilah “agama” Marapu sebaiknya dilihat dalam konteks sesuatu yang diyakini dan bukan terjebak dalam konstruksi pemahaman tentang agama yang diciptakan pemerintah secara politis.

Masih dalam pembahasan tentang agama, Dr. Aris Arif Mundayat cenderung sepakat bahwa agama dalam persoalan Marapu hendaknya ditinjau dari sisi pemaknaan atas hakikat agama itu sendiri. “Jika orang lokal mempercayai Marapu sebagai agama, mengapa tidak?” tandas Direktur PSSAT-UGM ini. Justru dengan mencantumkan embel-embel agama dalam konteks Marapu, lanjutnya, merupakan salah satu bentuk perjuangan untuk membuka perspektif supaya pemikiran manusia Indonesia tidak melulu sempit dan enggan untuk melintas-batas hegemoni politis yang ditanamkan penguasa.


Lukman Solihin, Mahyudin Al Mudra, Dr. Aris A. Mundayat dan Afthonul Afif

Wakil Pemimpin Redaksi MelayuOnline.com, Afthonul Afif, M.Psi., menelaah masalah ini dengan menawarkan perspektif agama serumpun yang cenderung memiliki beberapa kesamaan. Dalam tradisi agama-agama yang berasal dari rumpun Austronesia, kata Afthonul Afif, mempunyai beberapa ciri yang serupa. Beberapa kesamaan itu di antaranya, agama-agama tersebut biasanya memiliki ciri khas megalithik, yakni menyembah arwah nenek moyang dengan media batu-batu besar, kemudian nenek moyang diasumsikan sebagai sesuatu yang gaib yang turun dari langit, dan semacamnya. Hal-hal seperti inilah yang menurut Afthonul Afif merupakan bentuk ekspresi keberagaman agama dalam rumpun Austronesia.

Untuk menjembatani permasalahan krusial tentang agama yang selalu menjadi komoditas isu sensitif di Indonesia, Dr. Aris Arif Mundayat mengatakan, hal ini perlu ditindaklanjuti dengan memperjelas relasi antara agama-agama lokal dengan agama yang diakui pemerintah. “Indonesia adalah negara plural, tetapi persoalan agama masih menjadi sesuatu yang sangat problematis,” keluh Dr. Aris Arif Mundayat. Pemerintah pusat, harap Konsultan BKPBM ini, seharusnya mampu menjalin hubungan yang kooperatif untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat penganut agama-agama lokal yang masih banyak tersebar di seluruh pelosok Nusantara.

Sumber : melayuonline
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD