Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Selasa, 21 Juni 2011

BANGKAI KERBAU DIPINGGIR JALAN, TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Menutup hidung, itulah yang dilakukan para pengguna jalan yang melintasi kawasan watu kanggorok yang berjarak 5 kilometer dari Waitabula ibukota Sumba Barat Daya senin 20/06/2011.

Entah ulah siapa, bangkai seekor kerbau tergeletak di pingir jalan kemungkinan dibuang pada dini hari oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Jalan Watu kanggorok merupakan jalan utama yang selalu dilintasi semua kendaraan dari dan ke Waitabula

Roy Kerung warga Waitabula yang sempat melintas di kawasan Watu kanggorok menyesalkan ulah oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga mengganggu pengguna jalan. karna selain menngeluarkan aroma berbau busuk bisa juga berdampak pada kesehatan jika terus dibiarkan.

Menurut Roy, Memang Watu kanggorok sering dijadikan tempat pembuangan bangkai hewan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, namun biasanya dibuang di jurang bukan diletakkan dipinggir jalan.

Roy Berharap bangkai tersebut dapat segera dipindahkan karna sangat menggangggu, apalagi hari ini bertepatan dengan kegiatan tingkat Propinsi dari Departemen Agama Provinsi NTT yang di pusatkan di waitabula sehingga jalur ini akan ramai dilalui kendaraan.

Di Kawasan Watu Kanggorok  tidak ada pemukiman karna merupakan kawasan hutan lindung. kondisi geografisnya yang berjurang menjadikan tempat ini sering dijadikan tempat pembuangan bangkai hewan.

Pantauan MORIPANET ONLINE sampai dengan pukul 17.00 WITA, bangkai kerbau tersebut belum juga pindahkan. pertanyaannya, siapakah yang bertanggung jawab memindahkannya??? (snd)

Rabu, 15 Juni 2011

Nelayan Pero Dianiaya Warga Mambang

Empat nelayan asal Pero, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD),  Jumat (10/6/2011) pukul 10.00 Wita dianiaya warga Mambang, Desa Gaura, Kecamatan Lamboya Barat, Kabupaten Sumba Barat. Akibatnya, keempat nelayan ini harus  menjalani perawatan di pustu setempat dan baru sore hari diperbolehkan kembali ke Pero, SBD.

Sekretaris Daerah  SBD, Anton Umbu Zaza,  kepada Pos Kupang, di ruang kerjanya, Sabtu (11/6/2011) mengatakan, empat nelayan ini diamankan nelayan Mambang karena salah paham.

Anton Umbu Zaza menyampaikan hal itu menjawab pertanyaan soal informasi empat nelayan Pero disandera warga Mambang, Desa Gaura, Sumba Barat
Menurutnya, orang Mambang jika menangkap ikan menggunakan pukat  sebaiknya dilakukan di tengah laut, dan jangan di daerah pinggir pantai karena yang di pinggir pantai digunakan nelayan setempat untuk menangkap ikan dengan peralatan sederhana.

“Perbedaan paham inilah menyebabkan empat nelayan Pero dianiaya warga Gaura hingga dilarikan ke pustu setempat. Namun syukur empat ini kembali berkumpul dengan keluarganya di Pero dengan selamat.

Menurutnya, kasus itu bukan disandera tapi murni salah paham hingga terjadi penganiayaan terhadap empat nelayan itu. Bahkan empat nelayan itu terpaksa menjalani perawatan di pustu Gaura sebelum kembali ke kediamannya.

“Untuk kepastian kronologi kejadian masih menunggu laporan Kesbangpol Linmas SBD, Alex Saba Kodi yang saat itu (Jumat,10/6/2011) turun ke lokasi untuk mengumpulkan informasi sedetail mungkin. Namun salah paham antar nelayan itu telah diselesaikan secara damai oleh Kades Gaura.
Empat nelayan Pero mengaku perdamaian terpaksa diterima karena berada dalam tekanan. Mereka resmi telah melapor tindakan penganiayaan yang dialaminya ke Polres Sumba Barat. Mereka berharap aparat kepolisian menangkap oknum pelaku penganiayaan untuk diproses hukum,” jelasnya.


Sumber : Pos Kupang

PKK SBD Juara Lomba Menu 3B

Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) meraih juara pertama lomba cipta menu Beragam, Bergizi dan Berimbang (3B). PKK SBD menyisihkan 16 kontestan lainnya.
Tim Penggerak PKK SBD berhak mendapatkan piala bergilir, piagam penghargaan, uang Rp 2.500.000. Selain itu, PKK SBD diikutsertakan dalam perlombaan tingkat nasional yang akan dilaksanakan di Gorontalo, Propinsi Gorontalo.

PKK SBD juga meraih juara harapan III lomba stan, juara III untuk lomba kreasi menu kudapan berbahan dasar jagung serta juara harapan I lomba cipta kreasi makanan serba ikan.
Lomba cipta menu 3B diselenggarakan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Propinsi NTT bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Propinsi NTT. Kegiatan ini dibuka Jumat (10/6/2011) dan berakhir Minggu (12/6/2011).

Ketua Pokja III TP PKK Kabupaten SBD, Margaretha Pudji Harwanti, SH yang didampingi oleh anggotanya, Maria Salma mengatakan, bangga dengan prestasi yang dicapi.
“Kami bersyukur dan bangga sekali, karena perjuangan kami tidak sia-sia. Semua bahan baku yang kami pakai dalam panganan ini kami datangkan khusus dari Sumba. Bahkan kami sampai over bagasi di pesawat yang kami tumpangi,” ujar Harwanti.

Menurutnya, selain pemerintah, masyarakat SBD juga sangat mendukung PKK untuk mengikuti lomba pameran pangan lokal di Kupang. Sehingga masyarakat yang sangat antusias mencarikan bahan-bahan lokal yang diperlukan.
“Semua makanan yang kami sajikan berbahan dasar ubi hutan (kabusu), biji mente dan jewawut. Adapun beberapa menunya antara lain Rapakoda, Bebek fantasi, sambal toro ba’i, nasi keladi bentul kacang merah, sup gambas, sate nangka dan es lidah buaya,” ujar Harwanti.
Dikatakanya, TP PKK Kabupaten SBD memiliki program tahunan serupa dengan pameran yang diselenggarakan oleh BKPP Propinsi NTT. Programnya seperti lomba kudapan dan kegiatan gemari (gemar makan ikan).

Disinggung mengenai persiapan PKK mewakili NTT di Gorontalo pada Hari pangan sedunia tanggal 16 Oktober 2011 nanti, Harwanti mengaku akan membuat menu khas SBD yang akan dikombinasikan dengan menu daerah lain di NTT.
“Kami nanti akan mewakili propinsi, sehingga menu yang kami sajikan akan mencitrakan menu keseluruhan kabupaten/kota lain di NTT,” ujarnya.

Lomba cipta menu 3B hanya memperbolehkan menggunakan bahan pangan mentah seharga Rp 40.000 untuk satu jenis menu. Menu berupa makan pagi, siang, malam dan dua kali selingan untuk satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak.

Persyaratan lomba seperti inilah yang membuat peserta dari 17 TP PKK se-Kabupaten/Kota di NTT harus berpikir keras untuk mensiasati menu yang akan dilombakan dengan tetap memperhatikan keragaman bentuk dan gizi yang berimbang. Kegiatan ini dirangkaikan dengan pameran pangan lokal di pelataran Water Boom Flobamora Mall, Minggu (12/6/2011).

Menu yang disajikan cukup variatif dengan modifikasi dari berbagai bahan lokal yang non beras dan non tepung. Seperti menu dari Sumba Barat, peserta menyajikan mie sehat jagung, susu kedelai, nasi jewawut, jus rosela dan sambal kepiting. Sedangkan peserta dari Kabupaten Ngada menyajikan nasi uduk pisang, urap daun pakis dan jus wawo mudha yang terdiri dari campuran jus sirsak, mangga dan terong Belanda.
Lomba cipta menu 3B dinilai oleh tiga orang juri yang merupakan utusan dari Hotel Kristal, Hotel Sasando dan seorang ahli gizi dari Politani Kupang. Adapun kriteria penilaiannya ialah 70 persen kualitatif dan 30 persen kuantitatif.

Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan pada BKPP NTT, Yudit Palentek, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kualitatif ialah kreativitas, penampilan dan cara penyajian serta cita rasa makanan. Sedangkan kuantitatif ialah keragaman berdasarkan keseimbangan antar kelompok pangan dan nilai gizinya.


Sumber : Pos Kupang

PANGAN LOKAL KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA - NTT



PENDAHULUAN

Spesifik Lokal merupakan suatu produksi yang dihasilkan dan di kembangkan dalam suatu daerah sesuai dengan potensi dan sumber daya wilayah dan budaya daerah tersebut
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang tidak di olah yang diperuntukan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk sebagai bahan tambahan makanan.

Kabupaten Sumba Barat Daya mempunyai berbagai jenis komoditas pangan spesifik daerah yang dapat di konsumsi oleh masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsinya sesuai kaidah kecukupan gisi untuk dapat hidup sehat dan produktif

Bila dikaitkan dengan Kebijakan Pembangunan Wilayah/Daerah, yang telah dikemas dalam " Empat issu Program Strategis Kabupaten Sumba Barat Daya ", yaitu : Membangun Desa yang berkecukupan Pangan; Membangun Desa Berair; Membangun Desa Bercahaya dan membangun Desa yang Aman dan Tenteram, maka cara pandang tersebut diatas dapat diterjemahkan sebagai upaya pemberdayaan kepada masyarakat untuk meningkatkan kualitas meningkatkan produksi dan produktivitas usahataninya yang pada gilirannya dapat mewujudkan peningkatan kehidupan masyarakat. Dengan demikian secara spesifik Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya mencanangkan suatu gerakan sajian pangan lokal dalam setiap pertemuan dalam acara pemerintahan maupun dalam pertemuan di masyarakat dan setiap tahun melalui Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian di adakan lomba masak pangan lokal yang sesuai dengan komposisi Beragam, Bergisi dan Berimbang (3B) serta adanya usaha pangan lokal yang di kembangkan setiap kelompok. 

TUJUAN 

Tujuan kegiatan pengembangan pengolahan pangan lokal adalah :
1. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi petani pengolah pangan lokal.
2. Meningkatkan ketahanan pangan di bagi petani pengolah pangan lokal.
3. Meningkatkan ketrampilan bagi pengusaha/ pengolah pangan lokal dalam pengembangan usahanya,

PENGERTIAN

 Pangan Lokal adalah pangan yang berkembang secara khas di suatu daerah dan di produksi berbasis bahan lokal daerah tersebut.
 Pangan Olahan adalah makanan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu dengan atau tanpa bahan tambahan.
 Makanan Tradisional adalah makanan yang dikonsumsi masyarakat golongan etnik dan wilayah yang spesifik, diolah dari resep yang dikenali masyarakat, bahan - bahannya diperoleh dari sumber lokal dan memiliki rasa yang relative sesuai dengan selera masyarakat setempat.
 Konsumsi Pangan adalah sejumlah makanan dan minuman yang dimakan dan di minum seseorang dalam rangka memenuhi kebutuhan hayati.
.
JENIS USAHA YANG DI KEMBANGKAN

• Emping Jagung
• Jagung Titi
• Kue Rambut
• Kripik Pisang
• Kripik Ubi
• Kacang Bawang
• Kacang Telur
• Pengolahan Minyak Kelapa
• Aneka Pangan Lokal

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSUMSI PANGAN LOKAL
Kebijakan pengembangan konsumsi pangan :

• Pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan di arahkan untuk memperbaiki konsumsi pangan penduduk baik jumlah maupun mutu, termasuk keragaman dan keseimbangan gisinya.
• Pengembangan konsumsi pangan lokal baik nabati dan hewani di arahkan untuk meningkatkan mutu pangan lokal dan makanan tradisional dengan memperhatikan standar mutu dan keamanan pangan sehingga dapat di terima seluruh masyarakat. 

STRATEGI PENGEMBANGAN KONSUMSI PANGAN LOKAL
Strategi pengembangan konsumsi pangan diarahkan pada tiga hal yaitu produksi/ketersediaan, pengolahan dan pemasaran. Strategi pengembangannya adalah

• Pemberdayaan masyarakat. Dalam hal adalah berupa peningkatan peran masyarakat dalam pengembangan konsumsi pangan yang meliputi peningkatan pengetahuan/ kesadaran dan peningkatan pendapatan untuk mendukung kemampuan aspek pangan oleh setiap rumah tangga.
• Peningkatan Kemitraan, merupakan implementasi, sinkronisasi dan kerja sama antara semua stakeholders dalam pengembangan konsumsi pangan termasuk pengembangan produksi/pengembangan teknologi pengolahan pangan
• Sosialisasi. Memasyarakatkan dan meningkatkan apresiasi masyarakat dalam pengembangan konsumsi pangan melalui promosi,kampanye, penyebaran informasi melalui media massa (cetak dan elektronik) lomba cipta menu dan pemberian penghargaan

Kabupaten Sumba Barat Daya sejak tahun 2008 Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian telah bermitra dengan Tim Penggerak PKK melaksanakan promosi pangan lokal melalui lomba cipta menu beragam bergisi dan Seimbang (3B) yang diikuti oleh Tim Penggerak PKK seluruh Sumba Barat Daya.
Contoh kreasi pangan lokal adalah lapis singkong yang dicipta oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumba Barat Daya

Bahan:
 250 gram parutan ubi kayu
 200 grm parutan kelapa ½ matang
 200 gram susu kental manis
 100 gram gula pasir
 5 butir telur
 Pandan wangi secukupnya

Cara Membuat :
Satukan parutan ubi kayu, kelapa susu, gula pasir telur aduk sampai rata.
Pandan wangi di cuci di potong - potong dan di blender di tambahkan air secukupnya .
Satukan semua bahan aduk sampai rata.
Bahan yang telah tercampur dibagi dua, satu bagian di campur dengan pandan wangi yang telah di blender
Masukkan dalam pan bagian pertama lalu di kukus setelah masak masukkan lagi bagian kedua yang tdk tercampur dengan pandan wangi.
Biarkan sampai matang lalu di angkat
Siap di sajikan.

Selamat mencoba

Sumber : http://cybex.deptan.go.id

Selasa, 14 Juni 2011

HargaTak Berpihak kepada Petani

Warga Kodi Bangedho, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, membawa beras hasil panen untuk dijual kepada pedagang Tionghoa di Weetabula. Beras yang sering disebut beras Kodi ini dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari beras di pasar karena lebih gurih, harum, dan tidak cepat membusuk setelah dimasak. Harga beras sekitar Rp 10.000-Rp 15.000 per kilogram.

Rimbunan pohon kelapa, jambu mete, kopi, pisang, dan kemiri yang memenuhi sebagian besar wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, tidak mewakili kehidupan warga setempat yang sejahtera. Harga hasil perkebunan jauh di bawah harapan petani. Mereka hanya tahu menjual hasil perkebunan kepada tengkulak dengan harga jauh di bawah harga pasar.

Sumba Barat Daya (SBD), yang luas wilayahnya mencapai 1.442,32 kilometer persegi itu hampir 65 persen dipenuhi tanaman perkebunan. Di sela-sela tanaman perkebunan terdapat jagung, padi, kacang, dan umbi-umbian. Sistem tumpang sari dipraktikkan di wilayah tersebut.

Jambu mete mendominasi hasil perkebunan di SBD dengan produksi tahun 2009 mencapai 17.500 ton. Komoditas unggulan berikutnya adalah kelapa dengan total produksi 15.600 ton, menyusul cokelat 10.230 ton, kemiri 8.230 ton, dan kopi 5.420 ton.

Dengan hasil perkebunan seperti itu semestinya tak ada lagi kasus gizi buruk dan kemiskinan di kabupaten pemekaran (2006) tersebut. Selain hasil perkebunan, hasil pertanian, seperti padi gogo, padi sawah, jagung, kacang, dan umbi-umbian, cukup tersedia. Produksi padi tahun 2009 sebanyak 39.336 ton, jagung 59.066 ton, ubi kayu (singkong) 58.450 ton, ubi jalar 5.821 ton, dan kacang-kacangan 2.329 ton.

Simeon Loghe (54), petani Desa Mali Iha, Kecamatan Wondo Kodi, mengatakan, petani tidak punya kemampuan untuk mendapatkan keuntungan dari hasil perkebunan mereka. Tidak ada pengusaha besar atau pedagang besar yang menampung hasil perkebunan petani.

”Hanya ada pengusaha Tionghoa yang punya toko atau kios di Weetabula. Jumlah pengusaha ini pun sekitar 5-10 orang dengan modal usaha yang terbatas. Petani terpaksa menjual hasil perkebunan kepada pengusaha itu. Mereka tidak memiliki akses untuk menjual hasil panen ke luar SBD,” ujar Loghe.

Harga kopra kering Rp 3.000 per kilogram (kg) dan kelapa basah Rp 2.000 per kg. Pada musim hujan seperti sekarang banyak petani menjual kelapa basah. ”Jika tidak dijual, kelapa bakal terbuang begitu saja. Itu lebih rugi lagi. Biar hanya Rp 2.000 per kg pun tetap dijual. Pemerintah daerah tahu itu. Kami selalu menyampaikan masalah ini, tetapi mereka rupanya tidak punya cara untuk membantu petani,” kata Loghe.

Harga kelapa di pasar tradisional Rp 2.000 per buah, tetapi jumlah peminat sangat terbatas. Mereka membeli kelapa hanya untuk mendapatkan santan atau bumbu masak. Itu pun terbatas di kalangan warga pendatang karena penduduk lokal rata-rata memiliki pohon kelapa sendiri.

Harga kacang mete saat ini Rp 7.000 per kg. Padahal, di Larantuka, Flores Timur, yang sudah dikelola secara profesional, kacang mete berharga sampai Rp 50.000 per kg. Sementara harga barang kebutuhan hidup terus naik dalam hitungan hari.

Tak bisa menabung

Ayah delapan putra ini menuturkan, terkadang ia bersama istri, Pando Loghe, membawa 10 karung kelapa kering berisi 50 kg. Namun, mereka hanya mampu membeli 10 kg beras, satu kilogram gula pasir, minyak goreng 1 botol (300 ml), sabun, dan gula-gula untuk anak-anak dari pasar.

Mereka tidak pernah bisa menabung dari uang hasil perkebunan. Padahal, panen seperti ini hanya bisa dilakukan satu kali dalam satu tahun. Ketika anak sakit, anak butuh uang jajan, uang sekolah, dan urusan lain, mereka sangat kesulitan.

Jumlah penduduk SBD sebanyak 278.955 orang (2009). Dari jumlah ini, terdapat 18.230 rumah tangga miskin atau sekitar 91.150 orang miskin.

Toni Tjoa (42), salah satu pembeli hasil komoditas perkebunan masyarakat SBD, mengatakan, kualitas hasil perkebunan yang dijual petani masih sangat rendah. Kelapa, misalnya, setelah biji kelapa dicincang, dijemur di atas tanah kosong sehingga kelapa tercampur tanah atau kotoran.

”Ketika hujan, kelapa itu dibiarkan begitu saja sehingga terendam air, selang beberapa hari muncul jamur. Kelapa pun kelihatan hitam, kekuningan, atau membusuk sehingga kami beli juga rugi. Tetapi, karena petani sudah bawa ke sini, kami terpaksa beli saja dengan risiko akan rugi,” kata Tjoa.

Proses panen dan penjemuran biji jambu mete sedikit mengalami perubahan setelah pembeli biji mete dari India datang langsung ke SBD. Pedagang India itu secara tegas menolak biji mete yang dipetik belum matang, dijemur di atas tanah kosong, serta berwarna kehitaman atau kekuningan.

Akan tetapi, Tjoa mengatakan, jika petani itu mendapat pendampingan atau pembinaan dari pemerintah daerah, tentu mereka juga menjaga kualitas hasil perkebunannya. Petani sangat labil dalam mengolah hasil perkebunan dan pertanian, serta tidak memahami kebutuhan pasar.

Kepala Bappeda SBD Dominggus Bulla di Weetabula, ibu kota SBD, mengatakan, persoalan pemasaran menjadi faktor penyebab rendahnya harga komoditas perkebunan dan pertanian. Para petani hanya bisa menjual hasil perkebunan kepada tengkulak, warga Tionghoa yang berdomisili di SBD.

”Persoalan harga komoditas pertanian ini cukup kompleks. Jika kita mau jual ke luar Sumba, petani harus menjaga kualitas hasil produksi, soal penjemuran, kadar air, kematangan buah atau biji, pengepakan, dan seterusnya. Umumnya kualitas komoditas pertanian dan perkebunan jauh di bawah standar pemasaran,” katanya.

Kebanyakan petani terdesak kebutuhan rumah tangga sehingga terpaksa menjual hasil pertanian mereka meski belum benar-benar matang. Andalan mereka adalah hasil perkebunan. Jika mereka bisa lebih sabar atau memahami permintaan pasar, tentu ada upaya menjaga kualitas produksi agar harga komoditas perkebunan mereka lebih menguntungkan.

(KORNELIS KEWA AMA)

Sumber: kompas.com/

LPI NTT 2011 : Sumba Barat Daya Kalahkan Kota Kupang

Tim SMK Pancasila Tambolaka, Sumba Barat Daya (SBD) berhasil mengalahkan SMAN 2 Kota Kupang 2-0, dalam lanjutan pertandingan Liga Pendidikan Indonesia (LPI) 2011 tingkat Propinsi NTT di Stadion Oepoi, Kupang, Senin (13/6/2011) pagi.

Hasil ini membuat SMAN 2 Kota Kupang harus menang dalam pertandingan besok, Selasa (14/6/2011), melawan SMK Sadar Wisata, Manggarai. Ketiga tim ini tergabung di Grup B kategoti SLTA. Satu kemenangan akan memastikan tiket ke putaran kedua bagi ketiga timnya.

Di Grup A kategori SLTP, saat ini masih berlangsung antara SMP Matawoga, Sumba Tengah dan SMPN 1 Kupang Timur. Hingga babak pertama berakhir, SMP Matawoga sudah unggul 2-0.

Sumber : Pos Kupang

Senin, 13 Juni 2011

Kampung Adat Bukabhani di Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya, diyakini sebagai kampung adat tertua dan tempat tinggal para leluhur. Di sini, para tetua adat dari seluruh Kodi, Sumba Barat Daya, berunding untuk memastikan waktu digelarnya pasola dan kegiatan adat lainnya


Oleh: Kornelis Kewa Ama

Kampung adat di Sumba diyakini sebagai kampung para leluhur. Kampung ini memiliki kekuatan supernatural. Segala kegiatan yang melibatkan warga berawal dari rumah kepala kampung yang disebut rumah rato yang terletak di tengah kampung. Rumah adat itu ibarat ”jantung” kehidupan warga Sumba.

Di tengah dan pinggir kampung terdapat kubur batu megalitik. Batu-batu untuk penguburan leluhur ini diambil dari batu alam asli. Batu-batu itu berbentuk ceper tak beraturan, berlumut dan kehitaman. Di atas batu tersebut diletakkan sirih, kapur, dan pinang untuk leluhur. Batu-batu ini adalah kuburan leluhur yang meninggal ratusan tahun silam.

Tidak semua orang boleh menginjakkan kaki atau berada di atas batu-batu ceper yang berukuran sedang di tengah kampung ini. Para tamu pun tidak boleh sembarangan mengambil gambar di lokasi tersebut.

Setiap tamu wajib memberi upeti (uang) kepada rato. Uang diletakkan di dalam tempat khusus sirih pinang. Jumlah uang tergantung tamu. Setelah itu, tamu boleh berbicara dengan rato, didampingi istri rato dan sesepuh adat kampung.

Kepala Kampung juga ketua adat disebut Rato Nale (Nyale). Rato artinya raja (penguasa), nale (nyale) artinya cacing (ikan) laut. Rato Nale dari Kampung Bukabhani, Kecamatan Kodi, Sumba, bernama Nggeru Ndongu (78).

Rumah sakral

Ditemui di kampung adat Bukabhani, Senin (28/2/2011), Ndongu mengatakan, kampung adat adalah tempat tinggal para leluhur. Kehadiran mereka ditandai dengan batu ceper asli (alamiah) menyerupai meja, dengan penopang tiga tiang batu atau gundukan batu lain.

”Di dalam tanah, persis di bawah meja batu ini, terdapat tulang belulang berusia ratusan tahun. Tidak hanya itu, hampir seluruh bagian bawah tanah di kampung yang berukuran 100 meter x 200 meter ini terdapat tulang manusia. Tempat ini sangat keramat,” kata Ndongu.

Semua jenis tumbuhan dalam kampung diyakini memiliki kemampuan menyembuhkan. Jika ada warga kampung sakit, terluka saat upacara pasola di lapangan, digosok dengan serat batang tumbuhan atau daun itu.

Rumah rato disebut juga rumah nale. Rumah itu ibarat ”rumah sakit” warga kampung. Jika ada warga kampung yang sakit berat, ibu sulit melahirkan, warga kampung ingin bepergian jauh, pembahasan upacara pernikahan, dan perang antarkampung harus dilakukan di rumah rato itu.

Bibit padi, jagung, kacang, atau tanaman lain disimpan di bagian loteng, tempat tinggal para leluhur atau merapu. Bibit ini mendapat berkat dari leluhur agar menghasilkan buah yang berlimpah untuk kesejahteraan warga.

Kubur batu yang mengelilingi kampung adat sebagai lambang perlindungan leluhur. Sampai 1950-an selalu terjadi perang antarsuku (kampung). Perang itu melibatkan fisik, juga menyertakan kekuatan gaib antarleluhur kampung. Di sini, hubungan harmonis dan kedekatan dengan leluhur sangat menentukan.

Pelaksanaan pasola (perang tanding dua kelompok suku) selalu mendapat petunjuk leluhur. Itu diawali dengan munculnya nale. Kehadiran nale dipadukan dengan mimpi sang rato dan posisi bulan, tepat tegak di atas rumah adat rato itu.

Setiap bahan bangunan dari kampung adat diambil dari hutan. Tidak boleh menggunakan paku, seng, besi, atau semen. Tiap bahan bangunan yang diambil mendapat izin dari leluhur agar rumah itu tak mendatangkan bencana bagi penghuninya. Meski memiliki ketinggian sampai 30 meter, rumah-rumah itu tidak ambruk diterjang angin kencang.

Rumah rato memiliki tiga tiang utama yang disebut tiang payanu, simbol norma dan hukum (keadilan), ”mataku” simbol keadilan, matangu uhu wei manu, simbol kesejahteraan di bidang pertanian dan peternakan. Kepemimpinan rato harus mencerminkan norma hukum, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perlindungan, dan kesejahteraan warga.

Menara rumah disebut kawuku uma atau hindi marapu, tempat tinggal para arwah leluhur, anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Di puncak ini disimpan arca-arca leluhur, harta benda, dan benda purbakala yang memiliki nilai mitis magis.

Bukabhani merupakan kampung adat tertua di Sumba Barat Daya (SBD). Rato Nggeru Ndongu sebagai pemimpin semua rato dari sejumlah kampung adat. Ia memiliki kemampuan khusus, seperti meramal suatu peristiwa yang bakal terjadi, atau membaca tanda-tanda alam.

Berangsur sirna

Sampai 1970-an, kampung adat Bukabhani diyakini sebagai kampung terkeramat, dipercaya memiliki kekuatan supernatural. Bayangan para tamu dari luar tidak boleh menyentuh kubur batu yang berserakan di kampung adat itu. Sang rato harus membacakan doa (mantra) sebelum tamu-tamu masuk kampung. Jika tidak, sang tamu akan mendapat celaka setelah pulang.

”Perkembangan modern perlahan-lahan menggeser nilai-nilai mitis magis dari kampung ini. Sekarang, anak muda sulit diatur, terutama mereka yang sudah pergi ke kota besar atau menyebut diri sebagai pelajar atau mahasiswa. Mereka tidak peduli terhadap segala kepercayaan yang dianut orangtua di kampung,” kata Ndongu.

Kepala Urusan Pemerintahan Desa Atedalo, Kecamatan Kodi, SBD, Robert Ranggamone, mengatakan, dalam urusan adat, pemerintah desa selalu bergantung pada rato. Di Desa Atedalo terdapat dua kampung adat, yakni Bukabhani dan Tossi. Bukabhani merupakan kampung adat tertua di seluruh SBD, bahkan Sumba.

”Penyelenggaraan pasola baik di Sumba Barat maupun SBD selalu mendengar masukan dari Rato Bukabhani,” katanya.

Di Sumba Timur, tradisi pasola sudah lenyap puluhan tahun silam setelah agama Kristen masuk. Di Sumba Barat Daya dan Sumba Barat, budaya pasola masih hidup karena agama Katolik memberi kesempatan bagi budaya lokal untuk tumbuh dan berkembang.

Moses Wakar (23), warga kampung Bukabhani, menuturkan, kekuatan gaib yang diperlihatkan para leluhur makin sirna tahun demi tahun. Itu dikarenakan perkembangan zaman dan sikap generasi muda yang kurang perhatian terhadap adat.

”Upacara pasola, pemerintah sudah mengambil alih dengan alasan demi pariwisata. Sejumlah nilai budaya dan tradisi lokal diabaikan, seperti penentuan hari dan tanggal pelaksanaan pasola. Di Wanokaka, misalnya, pasola biasanya diselenggarakan bulan Maret, tetapi kini malah sudah diselenggarakan pada bulan Februari,” kata Wakar.

Sumber : Kompas

Marthin Robaka Anggota DPRD SBD Antarwaktu

Marthin Bili Robaka dilantik menjadi anggota DPRD Sumba Barat Daya (SBD) menggantikan almarhum Nikodemus Umbu Diara yang meninggal dunia beberapa waktu lalu. Pengambilan sumpah dan pelantikan dilakukan Wakil Ketua DPRD SBD, Gerson Tanggu Dendo, S.H, Senin (30/5/2011). Marthin Bili Robaka berasal dari Partai Gerindra Daerah Pemilihan IV Kecamatan Wewewa Timur.

Wakil Ketua DPRD  Sumba Barat Daya, Gerson Tanggu Dendo, S.H, ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Selasa (31/5/2011), menjelaskan, dengan pelantikan ini maka jumlah anggota DPRD SBD kembali genap menjadi 30 orang. Pergantian anggota Dewan antarwaktu ini, kata Gerson,  akan memudahkan DPRD SBD menjalankan tugas Dewan.

Gerson berharap anggota DPRD yang baru dilantik ini segera menyesuaikan diri dengan dunia kerjanya yang baru agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Hal ini dikarenakan aktivitas pelayanan aspirasi masyarakat semakin meningkat dan membutuhkan kinerja Dewan yang mumpuni pula.

Karena itu, diharapkan setiap anggota Dewan, terutama yang baru bergabung agar secepat mungkin menyesuaikan diri terhadap dinamika kelembagaan Dewan sehingga memudahkan memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya.

Ia juga menambahkan, akhir tahun 2011 DPRD SBD akan menempati gedung baru di kompleks perkantoran pemerintahan SBD di Kadul. Gedung ini sudah rampung dan tinggal ditempati untuk pelayanan bidang legislatif.


Sumber : Pos Kupang

Kamis, 09 Juni 2011

Pahlawan Lingkungan Soleman Ngongo





Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Istana Negara, Selasa (7/6) siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan kepada 101 insan, kota, dan lembaga yang memiliki kepedulian pada lingkungan sekitarnya. Penghargaan Kalpataru, Adipura, Adiwyata Mandiri, serta Penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) 2010 diberikan kepada mereka yang berjasa di bidang lingkungan hidup.

Salah satu penerima Kalpataru untuk kategori Pengabdi Lingkungan adalah Soleman Ngongo yang berasal dari Desa Tematana, Kecamatan Wawena Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia mengabdikan diri selama 40 tahun sebagai penjaga pintu air. Selain menjaga pintu air, di kawasan sumber mata air desanya, Soleman bersama kelompok tani juga menanam dua juta pohon untuk memperbaiki ekonomi produksi sawah seluas 2347 hektar.

Soleman Ngongo merasa senang karena apa yang telah ia lakukan untuk masyarakat NTT diapresiasi pemerintah. Ia juga menjelaskan bahwa tiga tahun kebelakang ini, NTT selalu diguyur hujan. “Jadi kalo tanam padi di sana dobel terus panennya. Lancar, pengairan juga lancar,” kata Soleman gembira.

Menurut Soleman, tugas keseharian yang ia jalankan lebih banyak senang dari pada sedihnya. “Lebih banyak suka sebenarnya, apalagi peraturannya sekarang sudah jelas, tetapi dengan catatan masih banyak yang suka mencuri dari pintu air,” ujar Soleman. Di sekitar sumber air, sekarang juga sudah banyak hewan yang berkeliaran dan itu menandakan ekosistem di NTT sudah mulai pulih.

Jika ada yang berusaha merusak hutan, Soleman tidak sungkan untuk menegur. "Semoga dengan penghargaan yang diterima ini, orang semakin sungkan untuk merusak lingkungan. Karena kalau kita menanam dan ada yang memotong ya percuma. Jadi sekarang stop penebangan hutan secara liar. Kalaupun ada kayu mati tetap tidak boleh dipotong,” Soleman menegaskan.

Sementara itu, dalam sambutannya pada penyerahan penghargaan lingkungan hidup, Presiden SBY mengucapkan selamat, terima kasih, dan penghargaan yang setingi-tingginya kepada semua pecinta, pejuang, dan penggiat lingkungan hidup. Kepada penerima penghargaan Kalpataru, Presiden menyampaikan rasa hormat, kebanggaan dan penghargaannya. “Penerima Kaplataru bukan hanya pahlawan lingkungan, tapi juga pahlawan kehidupan,” kata SBY



Sumber Video : Kompas.com
Sumber Berita : presidensby.info

Jaga Pintu Air 40 Tahun, Soleman Ngongo Raih Kalpataru

Ini hari berbahagia bagi Soleman Ngongo. Warga Desa Tematana, Kecamatan Wamena Timur, Kabupaten Sumba Barat Data, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini baru saja menerima penghargaan dari Presiden SBY di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/6/2011). Penghargaan yang diterima Soleman sangat bergengsi. Piala Kaplataru dalam kategori sebagai Pengabdi Lingkungan.


Kepada pers, Soleman mengaku pengabdiannya kepada lingkungan tak tanggung-tanggung. Yah, sekitar 40 tahun lebih usianya dihabiskan di daerahnya menjaga pintu air agar bisa mengairi lahan pertanian serta menjaga kelestarian hutan dari praktik ilegal logging.

"Dulu hutan-hutan tidak ada dan sebagian besar ditebang tebang masyarakat. Jadi kita usahakan berkumpul dengan masyarakat kita gotong royong menanam pohon. Sebelumnya kita tanam pakai anggaran sendiri 5 sampai 6 orang," ujarnya.

Menurut dia selama 40 tahun itu pula dia rajin berdoa kepada Tuhan agar lingkungan tempatnya selalu subur dan kelestarian alamnya terjaga.

"Kita berdoa jadi Bapa (Tuhan) kasih tanda istilahnya. Jadi bersyukur dan kita terima kasih kita," kata dia.

Selain kepada Soleman pada kesempatan itu, Presiden SBY juga menyerahkan penghargaan Kalpataru kepada beberapa orang lainnya. Diluar penghargaan Adipura.

Penghargaan yang diserahkan rutin setiap tahun itu terbagi atas empat kategori untuk Adipura yang diberikan kepada perorangan dan kelompok, serta empat kategori Adipura untuk kota metropolitan, kota besar, kota sedang, dan kota kecil.

Penghargaan juga diberikan kepada kepala daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk penyusun Status Lingkungan Hidup Daerah (LHSD) 2012 terbaik

Kalpataru kategori perintis lingkungan diberikan kepada Sugiarto dari Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Marmis Asid dari Nagari Sinurui, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, serta Lulut Sri Yuliani dari Kelurahan Baruk, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Kalpataru Pengabdi Lingkungan diberikan kepada Soleman Nugroho dari Desa Tematana, Kecamatan Wamena Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Surjadi SP dari Kelurahan Bebalang, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, serta Sudarli dari Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Yogyakarta.

Sumber :  Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hasanuddin Aco (TRIBUNNEWS.COM)

Ketika Sang Pengabdi Takut Kotori Lantai Istana

Soleman Ngongo layak diteladani, demi menjaga kebersihan lantai Istana Negara, penerima penghargaan Kalpataru kategori Pengadi Lingkungan Hidup ini tak mau memakai alas kaki.

Saat Presiden SBY memberikan penghargaan Kalpataru kepada Soleman Ngongo, Selasa (7/6/2011), Warga Desa Tematana, NTT yang keseharian jadi penjaga pintu air kawasan sumber mata air itu tak menggunakan alas kaki.

Soleman punya alasan khusus mengapa dia tak memakai alas kaki. Penjelasannya sederhana, Soleman tak mau mengotori Istana Negara. "Saya lepas sandal karena takut mengotori Istana," ujarnya.

Istana Negara, simbol kewibawaan pemerintah memang selayaknya dijaga agar tetap bersih dan tidak kotor. Bukan hanya lantainya atau bangunannya saja, melainkan juga kekuasaan yang bertahta harus tetap bersih berpihak kepada rakyat.

Soleman mengaku sudah 40 tahun mengabdikan diri sebagai penjaga pintu air. Di Desa Temtama, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT bersama dengan para petani binaannya dia merawat dengan telaten 240 pintu air primer, 140 pintu air sekunder dan 160 pintu air tersier.

Bahkan, untuk menjaga debit air, dia dan kelompok tani berinisiatif melakukan penanaman 2 juta pohon di tanah adat dan tanah milik. "Hutan-hutan tidak ada, sebagian besar ditebang tebang masyarakat. Jadi kita usahakan berkumpul dengan masyarakat kita gotong royong menanam pohon. Sebelumnya kita tanam pakai anggaran sendiri 5-6 orang," jelasnya.

Berkaca dari Soleman yang mengabdi tanpa pamrih, sudah selayaknya seluruh anak bangsa hendaknya ikut menjaga kebersihan lingkungan, termasuk 'kebersihan' Istana Negara.

Sumber : Inilah.com

Soleman Ngongo, Penerima Kalpataru yang Nyeker di Istana

Sederhana. Itulah kesan yang terpancar dari wajah Soleman Ngongo, warga Desa Tematana, Kecamatan Wewena Timur, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Bahkan kala berada di Istana untuk menerima penghargaan Kalpataru, Soleman tidak memakai alas kaki alias 'nyeker'. Alasannya, takut Istana kotor.

"Saya tadi pakai sandal, tapi ditinggalkan di luar. Takut kotor. Lagipula tidak apa-apa saya begini, sudah biasa," kata Soleman saat ditemui wartawan usai penyerahan penghargaan Piala Adipura dan Kalpataru di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (7/6/2011).

Soleman mengaku telah 40 tahun mengabdi sebagai penjaga dan perawat 240 pintu air primer, 140 sekunder, dan 160 pintu air tersier. "Selama 40 tahun. Karena pernah Tuhan kita berdoa jadi Bapa kasih tanda istilahnya. Jadi bersyukur dan kita terima kasih," cerita Soleman dengan logat Sumba yang kental.

Berapa penghasilan Soleman sebulan dengan menjadi seorang penunggu pintu air? Anda mungkin tak percaya, pria sederhana ini cuma mendapatkan uang sebesar Rp 500 saja.

"Dulu saya mulai bekerja sejak zaman Pak Harto tahun 1980-an. Awalnya tanpa dibayar, lalu setelah beberapa bulan, baru dibayar Rp 500 per bulan," kisah Soleman dengan semangat.

Menjadi penjaga pintu air selama 40 tahun, Soleman mengaku ikhlas menjalankan tugasnya. Penghasilan yang tidak seberapa itu tak lantas membuatnya meninggalkan kegiatan tersebut, sebab tujuan utamanya adalah menjaga kelestarian alam saja. Dia menuturkan, hutan kini banyak yang ditebangi. Sehingga bersama dengan masyarakat lain, dia bergotong-royong untuk menanam pohon.

"Perlindungan alam saja, yang artinya kita kan penjaga air, penjaga air dulu masih hutan toh. Masih belum, hutan-hutan tidak ada, sebagian besar ditebang tebang masyarakat. Jadi kita usahakan berkumpul dengan masyarakat, kita gotong-royong menanam pohon. Sebelumnya kita tanam pakai anggaran sendiri 5-6 orang," ungkap pria berkulit gelap ini.

Mendapatkan penghargaan Kalpataru dan bisa bertemu langsung dengan Presiden, bukan tujuan utama Soleman menekuni pekerjaannya. Namun kunjungannya ke Jakarta kali ini menjadi hari yang membahagiakan baginya, dan dia pun sangat bersyukur.

"Saya tidak pernah bekerja dengan tujuan untuk bertemu Presiden. Kalaupun dapat bertemu hari ini, saya syukuri sebagai anugerah dari Tuhan. Tapi masih banyak lagi yang harus dilakukan, mudah-mudahan bisa dilanjutkan juga oleh masyarakat dan penerus saya nanti," harap Soleman.

Selain Soleman, ada sekitar 10 orang lainnya yang juga mendapatkan Piala Kalpataru. Dalam kesempatan yang sama, Presiden SBY juga menyerahkan 63 Piala Adipura kepada kabupaten/ kota yang dianggap sebagai kota yang bersih dan ramah lingkungan.

Sumber :Detiknews.com

Kamis, 02 Juni 2011

AGAMA MARAPU

HAMPIR di setiap sudut pulau Sumba bisa dijumpai batu-batu besar bertiang dan batu-batu yang ditancapkan ke tanah. Semua ornamen masa lalu itu menjadi bagian erat dari kehidupan hampir 30 persen dari 611.422 jiwa penduduk Pulau Sumba yang menganut agama Marapu. Marapu adalah agama asli orang Sumba, yang mengkultuskan arwah nenek moyang sebagai perantara untuk memuja yang Maha Pencipta. Keyakinan para penganut agama asli Sumba pun tergerus dan sebagian besar lalu beralih keyakinan. Meskipun begitu, komunitas-komunitas Marapu, terutama kaum tua, masih tetap eksis dan menjalankan iman kepercayaan mereka hingga saat ini. Tim Evangelisasi Keuskupan (TEK) Weetabula bertugas merumuskan program khusus kunjungan ke orang-orang Marapu. TEK juga berkeliling memberi motivasi kepada Dewan Paroki untuk secara khusus memperhatikan orang-orang Marapu. Uskup Weetebula, Mgr Edmund Woga CSsR yang ditahbiskan Kamis, 16/7, adalah ahli Marapu. Ke depan, bagaimana prospek hubungan Katolik dan Marapu?

KUTIPAN LEAD SAJIAN UTAMA (SAJUT):

Benteng Megalitik Marapu di Sumba
Pesona Sumba tidak hanya terletak pada seribu ekor kuda yang merumput di padang savanna, juga pada kekayaan tradisi Marapu dan hasil budaya megalitiknya. Ketika menapaki sebuah bukit, persis di tengah Kota Waikabubak, Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat, era modern terasa seolah lenyap…

Dari Stefanus Marapu ke Stefanus Katolik
SOSOK pemuda hitam manis ini mungkin aneh. Saat lahir di Desa Kaninubaru-Katikuluku-Sumba Timur pada 16 Juli 1985, orangtuanya langsung memberi nama Stefanus Kambaru Windi. Padahal, mamanya, Kongaatandewa dan bapanya, Lairia adalah penganut agama Marapu tulen….

Kedekatan Katolik dengan Marapu
Sejak dibentuk Tim Evangelisasi Keuskupan, Marapu ke Katolik tampak mengalir deras. KAPUARATU adalah stasi, 6 km dari pusat Paroki Sang Penebus Wara di Kota Waingapu, Sumba Timur. Saat ini, jumlah umat mencapai 169 orang (33 KK). Umat stasi yang terbentuk pada 2000 ini merupakan perpindahan dari penganut Marapu. Setiap tahun, sekitar 15 orang memeluk Katolik. Perkembangan yang sangat berarti ini terjadi setelah umat setempat membangun kapel yang diresmikan 26 Desember 2000…

Ya, Kita Terima
Penganut agama Marapu masih ada. Mereka hidup berdampingan dengan penganut agama lain yang dianggap resmi oleh Negara, yaitu Kristen, Katolik, Islam, dan Hindu. Gereja Katolik Keuskupan Weetebula yang melayani umat dan masyarakat di seluruh daratan Sumba merasa wajib mewartakan Injil kepada siapa saja, termasuk kepada penganut agama asli Sumba….

Selengkapnya bisa anda baca  disini


Sementara itu pada bulan juli 2009, situs Melayu Online pernah memuat artikel tentang Kepercayaan Marapu

Menelaah Marapu, Kepercayaan Masyarakat Adat Sumba
Diskusi Rutin Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
 
 

Tarik ulur tentang posisi agama versi pemerintah dengan kepercayaan yang dianut masyarakat adat, termasuk pengikut “agama” Marapu di Sumba, menjadi perdebatan menarik yang mengemuka dalam diskusi dengan tema “Agama Marapu: Telaah atas Konsep Ketuhanan dan Nenek Moyang Masyarakat Sumba”. Sebagai penulis makalah dalam presentasi itu adalah Lukman Solihin, S.Ant., peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) sekaligus redaktur MelayuOnline.com. Diskusi rutin bulanan diselenggarakan oleh BKPBM dan bertempat di kantor redaksi MelayuOnline.com di Jalan Gambiran No 85 A, Yogyakarta.

Dalam diskusi yang dihelat pada Sabtu (25/7/2009), hadir Pemangku BKPBM sekaligus Pemimpin Umum MelayuOnline.com, Mahyudin Al Mudra, SH., MM., Konsultan MelayuOnline.com sekaligus Direktur Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT-UGM), Dr. Arif Aris Mundayat, serta jajaran pemimpin redaksi dan redaktur portal-portal yang bernaung di bawah BKPBM, antara lain MelayuOnline.com, WisataMelayu.com, RajaAliHaji.com, dan CeritaRakyatNusantara.com.

Konsep dan Manifestasi Marapu
Dalam pemaparannya, Lukman Solihin menjelaskan panjang lebar mengenai konsep kepercayaan dan ketuhanan yang dianut masyarakat adat Sumba, yakni “agama” Marapu. Lukman mencoba memberikan telaah konsep-konsep yang terdapat di dalam “agama” Marapu beserta manifestasinya dalam pola pemukiman dan bentuk rumah, tempat-tempat pemujaan, serta ritus pengurbanan dan upacara kematian. “Konsep-konsep dalam agama Marapu merupakan pantulan dari angan-angan untuk membentuk relasi yang ideal antara manusia dan dunia roh,” ungkap Lukman. Konsep-konsep tersebut, lanjut Lukman, kemudian menjadi petunjuk (peta kognitif) bagi manusia untuk menjalani kehidupan sesuai dengan konsep-konsep tersebut.

“Agama Marapu dapat digolongkan sebagai salah satu dari agama-agama arkais. Hal ini dapat dilihat dari beberapa ciri khas agama ini, seperti pengkultusan terhadap arwah leluhur, kepercayaan terhadap roh halus dan kekuatan gaib, serta fetisisme, yaitu pemujaan terhadap benda-benda keramat,” tutur Lukman. Redaktur MelayuOnline.com yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi WisataMelayu.com ini kemudian menambahkan, agama Marapu ini juga dapat dikelompokkan sebagai agama alam karena di dalam agama ini kuasa dan kekuatan alam sangat dihormati dan mengambil peran penting dalam konsep kepercayaannya. Lukman menuturkan, meski dapat dianggap sebagai agama lokal, bukan berarti Marapu tidak mengenal konsep ilah tertinggi. “Pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan benda-benda keramat merupakan media untuk memuja ilah tertinggi tersebut,” tegas Lukman.

Lebih lanjut Lukman menjelaskan bahwa kepercayaan dalam agama Marapu yang diteruskan secara turun-temurun telah melahirkan berbagai manifestasi dalam kehidupan sosial masyarakat Sumba. Konsep-konsep di dalam agama Marapu telah menjelma menjadi “peta kognitif” (model for reality) bagi masyarakat Sumba. Ia menyebutkan, berbagai manifestasi sosial tersebut antara lain dapat dilihat pada beberapa perwujudan, di antaranya formasi pemukiman penduduk dan bentuk rumah khas Sumba, tempat-tempat pemujaan, serta ritus-ritus pengurbanan dan upacara kematian.
 


Relasi “Agama Lokal” dan “Agama Pemerintah”

Dalam sesi diskusi, salah satu wacana yang menjadi perdebatan seru adalah soal pemakaian istilah “agama” dalam menyebut Marapu. Pemangku BKPBM Mahyudin Al Mudra mempertanyakan penggunaan istilah “agama” Marapu karena menurutnya, sejauh ini pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama serta aliran-aliran kepercayaan. Mahyudin mengkhawatirkan, pencatuman label “agama” dalam konteks Marapu akan menimbulkan kesalahpahaman bagi beberapa kalangan.

Untuk menjawab pertanyaan itu, Lukman mengajukan kerangka pemahaman yang dicetuskan Clifford Geertz, bahwa agama merupakan sistem simbol yang mempengaruhi motivasi hidup, menjadi konsep untuk memaknai tatanan umum eksistensi manusia, serta membungkus konsep-konsep itu ke dalam berbagai pancaran faktual hingga tampak realistis. Lukman menambahkan, pemakaian istilah “agama” Marapu sebaiknya dilihat dalam konteks sesuatu yang diyakini dan bukan terjebak dalam konstruksi pemahaman tentang agama yang diciptakan pemerintah secara politis.

Masih dalam pembahasan tentang agama, Dr. Aris Arif Mundayat cenderung sepakat bahwa agama dalam persoalan Marapu hendaknya ditinjau dari sisi pemaknaan atas hakikat agama itu sendiri. “Jika orang lokal mempercayai Marapu sebagai agama, mengapa tidak?” tandas Direktur PSSAT-UGM ini. Justru dengan mencantumkan embel-embel agama dalam konteks Marapu, lanjutnya, merupakan salah satu bentuk perjuangan untuk membuka perspektif supaya pemikiran manusia Indonesia tidak melulu sempit dan enggan untuk melintas-batas hegemoni politis yang ditanamkan penguasa.


Lukman Solihin, Mahyudin Al Mudra, Dr. Aris A. Mundayat dan Afthonul Afif

Wakil Pemimpin Redaksi MelayuOnline.com, Afthonul Afif, M.Psi., menelaah masalah ini dengan menawarkan perspektif agama serumpun yang cenderung memiliki beberapa kesamaan. Dalam tradisi agama-agama yang berasal dari rumpun Austronesia, kata Afthonul Afif, mempunyai beberapa ciri yang serupa. Beberapa kesamaan itu di antaranya, agama-agama tersebut biasanya memiliki ciri khas megalithik, yakni menyembah arwah nenek moyang dengan media batu-batu besar, kemudian nenek moyang diasumsikan sebagai sesuatu yang gaib yang turun dari langit, dan semacamnya. Hal-hal seperti inilah yang menurut Afthonul Afif merupakan bentuk ekspresi keberagaman agama dalam rumpun Austronesia.

Untuk menjembatani permasalahan krusial tentang agama yang selalu menjadi komoditas isu sensitif di Indonesia, Dr. Aris Arif Mundayat mengatakan, hal ini perlu ditindaklanjuti dengan memperjelas relasi antara agama-agama lokal dengan agama yang diakui pemerintah. “Indonesia adalah negara plural, tetapi persoalan agama masih menjadi sesuatu yang sangat problematis,” keluh Dr. Aris Arif Mundayat. Pemerintah pusat, harap Konsultan BKPBM ini, seharusnya mampu menjalin hubungan yang kooperatif untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat penganut agama-agama lokal yang masih banyak tersebar di seluruh pelosok Nusantara.

Sumber : melayuonline

Ring of Fire Adventure jelajahi Sumba


Setelah menjelajahi pulau Timor, Flores dan Alor, tim Ring of Fire Advanture akhirnya tiba di daratan Sumba Jumat, (25/05/2010) melalui dermaga feri Waikelo di Kabupaten Sumba Barat Daya -NTT. Tim ini selanjutnya langsung menuju Kabupaten Sumba Timur sebagai start awal petualangan mereka di pulau Sumba yang dijadwalkan selama tiga hari.


Ring of Fire Adventure adalah kegiatan tur keliling indonesia yang di dokumentasikan dan dikemas sedemikian rupa sehingga bukan hanya sekedar jalan – jalan biasa namun penuh dengan nilai - nilai kecintaan terhadap tanah air. Budaya, tradisi serta keunikan setiap daerah yang dikunjugi menjadi salah satu objek dokumentasi yang nantinya akan dibuat dalam bentuk film dokumenter untuk memperkenalkan Indonesia  pada dunia.

Perjalanan Ring Of Fire sendiri sudah dipersiapkan sejak satu tahun yang lalu dan sempat mengalami penundaan. Selain itu perjalanan ini di perlengkapi dengan teknologi canggih yang dapat menunjang kebutuhan tim di wilayah-wilayah pelosok

Dari informasi yang diperoleh melalui situs www.stephenlangitan.com Ring of Fire Adventure ini di sponsori oleh perusahaan – perusahaan besar yaitu Kawasaki Motor Indonesia, Toyota Motor Indonesia, Panasonic Indonesia, Departement of Tourism & Culture, Eiger Adventure, Ferry Indonesia ASDP, Indonusa IP Star Satelite, Motoritz GM, Gurkha R&D, Kick Andy TV Program, Kick Andy Foundation, World Vision Indonesia, Media Indonesia, Indline. Dengan dukungan dari sponsor-sponsor besar tersebut, tidak heran jika ekspedisi ini memakan biaya milyaran rupiah.

Tim Ring of Fire yang memasuki wilayah sumba berjumlah 10 orang termasuk 2 kru dari Metro TV dan Media Indonesia mereka adalah Youk, Alif, Andre, Yukri, Maman. 

Daniel Bonat, Tour Guide wilayah Sumba dari tim Ring of Fire menngatakan, tempat-tempat yang dikunjungi oleh tim ini antara lain kampung adat di Loli, Pantai Wanokaka dan juga sempat mengikuti ritual penguburan salah seorang warga loli di Kabupaten Sumba Barat. Sementara di Kabupaten Sumba Barat Daya tim Ring of Fire mengunjungi kampung adat dan pantai Tosi, kampung adat dan pantai Ratenggaro di Kecamatan Kodi.

Rabu, 01 Juni 2011

Kumpulan Puisi oleh Andreas Dunga

 
SEPAKAT
(utk SBD tercinta selamat ulang tahun)

Kemarin kita sepakat
Membangun kampung kita
Biar tak ada lagi busung lapar
Biar sekolah tak jauh lagi dari rumah kita

Kemarin kita sepakat
Tak ada lagi tanah lapang
Agar tak ada lagi kelaparan
Yang mendera warga kampung kita
Dan petani bisa tersenyum
Mengantar anaknya jadi sarjana

Kemarin kita sepakat
Berbagi derita dengan warga kita
Bersama bangunkan warga
Tuntaskan kerja mereka
Agar tidak kita tinggalkan
Derita untuk anak cucu kita

Kemarin kita sepakat
Bersama kita mufakat
Membuang kemiskinan
Agar sejahtera milik kita bersama

Dan..
kemarin kita sepakat
hidup rukun dan damai


 JEJAK TANAH MARAPU I
Hembus angin menyapu ilalang
Harum cendana terbawa pergi
Ringkik kuda gemuruh langit
Buat jiwa enggan berpaling

Bocah gembala berharap cemas
Pada lembayung di ujung mata
Pelangi hadir di kaki bukit
Padang sabana bercumbu harap
Bumipun enggan telanjang

Kuda berpacu arena alam
Tampa pelana semangat membara
Gegap gempita sorakan
Berharap asa pada sang jawara

Tanah memerah sirih dan pinang
Amarah memuncak tersapu senyum
Dari tangan gemulai kandingang dan woleka

Kombu kawuru bermotif ragam
membalut indah ditubuh
Dari jari-jari hitam para penenun

Bunyi gong bertabuh tambur
Kabokang,kataga menjemput
Pekik purba kakalak,payawau memecah alam
Junjung hormat padamu marapu


 JEJAK TANAH MARAPU 2

Bunyi gong memecah sunyi
Terjaga bumi dari tidurnya
Menanti harap pada rembulan
Dalam dekapan Tanya
Saat rembulan berlalu
Tersingkap kisah
Satu kehidupan telah pergi
Menghadap ilahi
Yang hidup bersiap diri
Atur sembah pada sang khalik


JEJAK TANAH MARAPU 3

Sebilah parang terhunus
Kokok jantan meregang nyawa

Darah mengucur membasah bumi
Merobek jantung takdir menggantung
Berharap restu dari maha melihat, maha mendengar

Bunyi gong pertanda awal
Seribu jiwa tersungging senyum
Seribu ternak siap meregang

Bara ditungku tak pernah padam
Gemulai tari tak jua berhenti
Menyambut tamu siap bertandang
Sirih dan pinang jadi jamuan

Saat jedah duduk bersila
Menunggu makan selingkar daging dipiring
Meski esok jadi misteri
Hari ini pesta berlanjut



KAMPUNGKU

Bunyi jantan berkokok
Di selingi kicauan burung

Merapat aku ke tungku dapur
Menghangatkan jemariku dekat tungku

Sesekali terdengar desiran angin
Yang menerpa pepohonan diluar sana
Menembus celah-celah dinding
Membuat aku gemetaran

Kugenggam segelas teh panas
Memberiku sedikit kehangatan

Dingin belum juga beranjak
Uap menyumbul dari mulutku

Terima kasih nenek
Untuk segelas teh dan ubi bakarnya




Andreas Timbu Dona Dunga atau yang lebih dikenal dengan  Andreas Dunga, lahir di Waingapu 24 Juli 1970. Pria berdarah Wewewa Timur Sumba Barat Daya ini adalah putra dari Bapak Agustinus Mali Dunga dan Ibu Veronika Beka Mayorga. Saat ini Andreas menetap di Kota Waingapu Sumba Timur tepatnya di daerah Matawai dan kesehariannya Andreas aktif dalam FPLH ( FORUM PEDULI LINGKUNGAN HIDUP) sebagai aktivis lingkungan.

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD