Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Sabtu, 30 April 2011

Epidemiologi Molekular Salmonella typhi, penyebab demam tioid asal wilayah endemik Kabupaten Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur

Oleh : Charis Amarantini


Abstraksi     

Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan daerah endemik tifoid dengan angka kesakitan diperkirakan mencapai 725/100.000 penduduk pertahun. Angka kesakitan tersebut melebihi angka kesakitan untuk rata-rata kejadian demam tifoid di daerah pedesaan Indonesia (358/100.000 penduduk), bahkan mendekati angka kesakitan untuk penduduk perkotaan (810/100.000). Selain angka kesakitan yang tinggi, informasi terkait dengan epidemiologi molekular penyakit ini belum diketahui. Dalam hubungannya dengan epidemiologi molekular, ketersediaan data yang akurat dan memiliki kemampuan diskriminatif tinggi sangat penting. Untuk itu perlu dilakukan kajian diversitas strain anggota S. typhi dengan pendekatan sistematik polifasik. Pendekatan ini sangat bermanfaat untuk mengetahui persebaran strain berdasarkan tipe dan hubungan antar strain sehingga dapat diketahui strategi pencegahan demam tifoid yang tepat.

Penelitian ini bertujuan untuk (1). Mengungkap diversitas strain anggota S. typhi yang berasal dari Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT menggunakan pendekatan sistematik polifasik, (2). Mengetahui peta penyebaran S. typhi berdasarkan variasi dan hubungan antar strain hasil isolasi dari penderita demam tifoid di wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, dan (3). Mengetahui hubungan antara diversitas dan sebaran strain-strain anggota S. typhi di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Pendekatan sistematik polifasik untuk mengkaji diversitas strain anggota S. typhi ditentukan berdasarkan analisis data fenotipik dan genotipik. Sifat fenotipik yang diteliti meliputi karakter biokimiawi sel menggunakan perangkat API20E- dan API 50CHB/E dan analisis profil protein menggunakan SDS-PAGE sedangkan data genotipik diperoleh dari sekuen gen 16S rRNA. Peta sebaran strain S. typhi berdasarkan hubungan similaritas dan hubungan kekerabatan antar strain anggota S. typhi dilacak melalui pemetaan lokasi tempat tinggal penderita dengan menggunakan alat bantu sistem navigasi satelit (Global Positioning System/ GPS).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversitas strain anggota spesies S. typhi dan persebarannya melalui pendekatan sistematik polifasik secara jelas mampu menggambarkan pola distribusi ragam strain yang berada di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Strain S. typhi Biotipe I (D-xilosa +, L-arabinosa -) dominan terdapat di semua area sedangkan strain S. typhi Biotipe III (D-xilosa +, L-arabinosa +) hanya terdapat di Kecamatan Wewewa Timur.

Hasil analisis sistematik numerik fenetik memiliki tingkat resolusi diskriminatif sampai level strain dan dapat digunakan untuk klasifikasi strain anggota S. typhi. Empat klaster beranggotakan 17 strain terbentuk berdasarkan kemiripan karakter biokimiawi, 12 strain di antaranya dengan nilai indeks similaritas 94,9% mengelompok di klaster I, 4 strain dengan nilai indeks similaritas 94,5% mengelompok di klaster II, dan 2 strain sisanya terpisah sebagai anggota klaster III pada nilai indeks similaritas 92,8% dan IV pada nilai indeks similaritas 86,3%.

Seluruh strain membentuk pusat diversitas baru dalam spesies S. typhi berdasarkan profil protein dan memiliki kemiripan tipologis dengan karakter biokimiawi. Demikian pula untuk analisis filogenetik, seluruh strain membentuk suatu pusat keanekaragaman yang terpisah dengan strain acuan S. typhi ATCC 19430T. Empat clade terbentuk pada pohon filogeni dan beranggotakan strain dari berbagai wilayah geografis di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Hasil analisis filogenetik sangat mendukung hasil identifikasi menggunakan pendekatan sistematik numerik fenetik. Dengan demikian, terbukti bahwa identitas strain yang diteliti berkerabat dengan S. typhi ATCC 19430T. Pemetaan berdasarkan posisi koordinat tempat tinggal penderita menggunakan GPS membuktikan tingginya diversitas strain di Kecamatan Wewewa Timur baik berdasarkan hubungan fenetik (similaritas) maupun hubungan filogenetik (kekerabatan). Dari wilayah ini diduga kuat terjadi penyebaran dengan pola seperti lima jari tangan menuju wilayah Wewewa Utara, Kota Waikabubak, Wewewa Selatan, Wewewa Barat, Kodi Bangedo, Kodi, Kodi Utara, dan Laura.


Nama                 :     Charis Amarantini
Judul disertasi     :     Epidemiologi Molekular Salmonella typhi, penyebab demam tioid asal wilayah endemik Kabupaten Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur
Tanggal dan Waktu Promosi     :     29 November 2010


Sumber Berita : http://pasca.ugm.ac.id/id/promotion_view.php?dc_id=83









Senin, 25 April 2011

Sumba Barat Daya Cocok Kembangkan Ternak Kecil

Wilayah Sumba Barat Daya (SBD)   sangat cocok untuk pengembangan ternak kecil seperti babi, kambing, ayam dan sejenisnya karena luas lahan di wilayah ini sangat terbatas. Sementara pengembangan ternak besar seperti sapi, kuda, kerbau dan lainnya membutuhkan lahan yang luas seperti padang pengembalaan.


Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, menyampaikan hal itu ketika ditemui di Tambolaka, Sabtu (23/4/2011). Kodi Mete menjelaskan, sebagai wujud keseriusan pemerintah mengembangbiakan ternak, maka telah dialokasikan anggaran pengadaan bibit ternak kecil bagi masyarakat dalam tahun 2011. “Secara teknis pengadaan dilaksanakan pemerintah dan selanjutnya dibagikan kepada kelompok tani untuk dikembangkan. Mudah-mudahan bantuan itu dapat dipergunakan dengan baik untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” tegasnya Menurut Kodi Mete, pemerintah melalui dinas teknis akan terus memantau dan mengawasi secara ketat bantuan yang diberikan agar warga tak salah mempergunakannya.

Perilaku warga yang salah memanfaatkan bantuan bibit ternak seperti menjual, memotong untuk mengonsumsi dan membawanya untuk  urusan adat menyebabkan usaha macet. Alasan yang biasa diterima hewan mati karena menderita penyakit.

Kodi Mete menegaskan, pemerintah akan memerintahkan petugas di lapangan untuk sungguh-sungguh menjalankan tugas dan selalu berada di lapangan

Jumat, 22 April 2011

FILM PERJALANAN HIDUP YESUS DENGAN BAHASA WEWEWA

Film tentang kisah Tuhan Yesus dari saat kelahiranNya hingga di salibkan dan bangkit pasti sudah sering kita saksikan penayangannya, baik lewat stasiun TV atau dengan menggunakan media DVD player . Tetapi Film tentang kisah Tuhan Yesus yang satu ini sedikit berbeda dan sangat menarik bagi saya, karna film ini menggunakan dubber (Pengisi Suara) menggunakan bahasa Wewewa yaitu salah satu bahasa yang di pergunakan oleh suku Wewewa kabupaten Sumba Barat Daya.
Film ini berjudul Jesus yang di dasarkan pada Inji Lukas, distribusi oleh oleh Warner Bros pada tahun 1979 dan bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris namun rupanya film ini juga telah di terjemahkan dalam 1000 bahasa di dunia. Informasi lebih lanjut tentang produksi film Jesus klik disini.

Sebagai contoh lain dari penggunaan bahasa daerah yang membuat hubungan masyarakat asli Suku Sumba dan Gereja semakin mengakar adalah dengan diterbitkannya Alkitab terjemahan bahasa bahasa kambera (Sumba Timur) pada tahun 1961 dan bahasa wewewa (Sumba Barat pada saat itu) pada tahun 1970 oleh Lembaga Alkitab Indonesia.

Gereja memiliki kecenderungan untuk melakukan inkulturasi dengan budaya dari masyarakat asli di setiap tempat mereka berada selama itu masih sesuai dengan ajaran dan aturan gereja. Film tentang kisah Tuhan Yesus berbahasa Wewewa merupakan bagian dari inkulturasi Gereja dengan penduduk asli di Sumba, yang menurut saya akan sangat berdampak positif bagi perkembangan Gereja di tanah Sumba karna dengan demikian masyarakat Sumba merasa bahwa gereja adalah benar-benar bagian dari mereka.

Perjalanan untuk melestarikan budaya dan tradisi di pulau Sumba tercinta kita masih panjang , dan akan terus bergesekan dengan budaya asing yang masuk dengan gencar melalui berbagai macam media di era gadged dewasa ini. Karna itu peran generasi muda sangat dibutuhkan untuk dapat memfilter segala bentuk penggusuran budaya asli Sumba. Kemajuan peradaban tidak harus dengan menggeser budaya lokal namun bisa saling mengisi dan melengkapi sehingga identitas dan kepribadian daerah tidak pudar melainkan menjadi kekuatan bagi setiap daerah.

Dua Pembunuh di SBD Dibekuk

Aparat Polsek Loura, Sumba Barat Daya (SBD) membekuk Londe dan Stefanus Bulu, dua dari tiga pelaku pembunuhan Kepala Desa (Kades) Letekonda, Yohanis Ama Koni, Kamis (31/3/2011). Kedua pelaku dibekuk di rumahnya masing-masing pukul 18.30 Wita.

Sedangkan salah seorang pelaku, Umbu Lede, masih buron. Aparat kepolisian setempat telah mengimbau pelaku maupun keluarganya agar segera menyerahkan diri untuk menjalani proses hukum.

Kapolres Sumba Barat, AKBP Yayat Jatnika, melalui Kapolsek Loura, AKP Slamet Teguh Eko Prasetio, S.I.K, menjelaskan hal ini kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (1/4/2011). Dikatakan Prasetio, penangkapan kedua tersangka itu berawal dari informasi keluarga kedua tersangka yang meminta agar aparat menjemputnya. Permintaan itu dilakukan untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan.

Berdasarkan informasi pihak keluarga, aparat Polsek Loura mendatangi kediaman kedua tersangka dan membawanya ke Polsek Loura guna menjalani proses hukum. Penyidik Polsek Loura secara marathon bekerja keras memeriksa saksi korban maupun para tersangka yang telah berhasil ditangkap.

Meski demikian, Prasetio belum dapat memberikan penjelasan tentang motif pembunuhan terhadap Kades Letekonda itu karena masih memeriksa kedua tersangka.
Kepala Kesbangpol Linmas Kabupaten Sumba Barat Daya, Alex S Kodi, yang ditemui Pos Kupang di kantornya, Jumat (1/4/2011), mengatakan, secara umum suasana di rumah duka cukup kondusif. Keluarga pasrah menerima kejadian yang merenggut nyawa sang kade. Kematian itu dinilai sebagai jalan hidup yang telah digariskan Yang Maha Kuasa.

Meski demikian, keluarga korban meminta agar aparat kepolisian segera menangkap pelaku dan menghukumnya sesuai perbuatannya. Keluarga juga meminta agar proses pemakaman korban dilakukan secara pemerintahan karena beliau masih aktif sebagai Kades Letekonda. Permintaan keluarga itu telah disampaikan kepada Bupati Sumba Barat Daya, dr. Kornelius Kodi Mete, dan bupati menyetujui prosesi pemakaman secara pemerintahan.

Sebelumnya diberitakan (Pos Kupang, 1/4/2011), Kades Letekonda, Kecamataan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Yohanes Ama Koni (60), Kamis (31/3/2011) sekitar pukul 04.00 pagi hari, tewas dibunuh 3 oknum pelaku. Sedangkan seorang anaknya, Denga (30), luput dari aksi kejahatan ketiga oknum pelaku itu meskipun menderita luka tebasan parang di telapak tangan kirinya.

Ketiga oknum pelaku yang datang tiba-tiba itu langsung menyerang korban menggunakan parang. Korban ketika itu tidur di bale-bale (tempat tidur dari bambu--Red) dapur yang terletak di bagian belakang rumah besar. Akibat banyaknya luka tebasan parang, korban tewas di tempat. Belum diketahui motif pembunuhan. (pet)

Sumber : Pos  Kupang

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD