Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Minggu, 20 Maret 2011

Sidang Korupsi Dana KUBE : Bora Wunga Pasrah Jalani Proses Hukum

Drs. Bora Wunga, terdakwa kasus dugaan korupsi dana pemberdayaan ekonomi kelompok (KUBE) tahun anggaran 2009 senilai Rp 172 juta lebih, mengaku pasrah menjalani proses hukum dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Waikabubak.

Hal itu disampaikan Bora Wunga ketika ditemui Pos Kupang sesaat sebelum menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri  Waikabubak, belum lama ini.

Dia mengaku awalnya terasa berat, namun berkat kepercayaan diri dan dukungan penuh keluarga, ia siap menjalani proses hukum di PN. Apa pun keputusan pengadilan dirinya siap menerimanya.

Bora Wunga didampingi kuasa hukumnya, John, mengatakan, saat ini ia tak memikirkan apa-apa lagi kecuali konsentrasi menghadapi persidangan ini.

"Saya tak memikirkan lagi soal jabatan di birokrasi pemerintahan Setda Sumba Barat Daya (SBD). Saya bekerja untuk kepentingan masyarakat Sumba Barat Daya lingkup pemerintahan yang berdaulat, tapi ketika timbul persoalan justru menjadi korban  sendiri. Padahal kebijakan itu demi rakyat SBD dan bukan untuk kepentingan pribadi Drs. Bora Wunga. Ini sebuah malapetaka akibat kebijakan demi rakyat SBD, tapi menjadi korban dan tanggung jawab secara pribadi.  Bila kejadian itu terus menimpa pejabat SBD, maka diyakini tak ada lagi yang mau menjadi pejabat di birokrasi pemerintahan SBD.

Sebab bila salah sedikit langsung dijebloskan ke proses hukum. Padahal ada lembaga dan kewenangan  secara internal untuk diselesaikan di tingkat pemerintahan SBD. Bila masalah itu tak kunjung selesai, baru direkomendasikan kepada penyidik hukum untuk diproses lebih lanjut," ujarnya.

Dia mengaku sudah habis-habisan menghadapi proses hukum kasus ini. Meski demikian, ia optimis siap menjalani proses hukum, dan berharap mendapat putusan yang adil pula. Terdakwa mengaku sejak awal menjalani proses hukum hingga disidangkan di PN Waikabubak tak mendapat bantuan sama sekali dari Pemda SBD, termasuk bantuan pendampingan hukum dan lainnya.

Walapun demikian, ia menghormati keputusan Pemda SBD itu karena mungkin persoalan yang dihadapi adalah persoalan pribadi, lepas dari pengelolaan birokrasi pemerintahan SBD. 

Sumber : Pos Kupang 

Senin, 14 Maret 2011

Kepala BPS Dituntut Satu Tahun Penjara

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumba Barat, Drs. David Koreh dituntut satu tahun  penjara oleh jaksa penuntut umum/JPU dalam sidang lanjutan di  Pengadilan Negeri (PN) Sumba Barat, Jumat (4/3/2011).  Menurut jaksa, terdakwa terbukti melakukan korupsi dana pembangunan gedung BPS.

Selain itu, terdakwa juga diwajibkan menyetor kembali ke kas negara sebesar Rp 50 juta. Tuntutan jaksa ini disampaikan dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Bambang Setiyanto, S.H, dengan hakim anggota, Herberth Uktolseja, S.H dan  Sugiri Griyandono, S.H,M.H,  JPU, Ihsan Asri, S.H, menyatakan menuntut satu tahun penjara karena  perbuatan terdawa melanggar UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara kuasa hukum terdakwa, Yohanis Mahemba, S.H, menyatakan siap memberikan pembelaan pada sidang mendatang.

Menurutnya, dalam kasus ini seharusnya JPU  menetapkan Direktur PT Putri Tunggal Gemilang, Jefri Subiyanto, selaku pelaksana proyek pembangunan gedung BPS tahun 2009 dengan nilai Rp1 miliar lebih, sebagai tersangka dan bukan hanya sebagai saksi. Sebab sangkaan memalsukan dokumen administrasi proyek bukan dilakukan kliennya tapi dilakukan Jefri Subiyanto untuk mencairkan dana 100 persen di KPN Waingapu, Sumba Timur Desember 2010 silam.

Apalagi seluruh dana proyek ditranfer langsung ke rekening kontraktor, dan bukan melalui rekening BPS Sumba Barat ataupun rekening pribadi klienya. Padahal saat itu pekerjaan proyek belum selesai.

Karena itu, unsur korupsi tidak terjadi dan karena itu klienya harus dibebaskan dari semua tuntutan demi keadilan hukum.

Kuasa hukum Yohanes Mahemba, S.H, mendesak JPU segera menetapkan Jefri Subiyanto, S.H sebagai tersangka guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Apalagi yang bersangkutan sudah membuat surat pernyataan kesanggupan menyelesaikan pekerjaan proyek sampai tanggal 3 Desember 2010, dan bila sampai batas waktu yang ditentukan belum selesai maka kontraktor siap bertanggungajawab secara hukum. Karena itu, tak ada alasan JPU menjadikannya sebagai saksi dalam persidangan kasus itu

Sumber : Pos Kupang

Sabtu, 12 Maret 2011

Pelaku Sodomi Diamankan

Aparat kepolisian mengamankan dua tersangka pelaku sodomi Yusron alias Tiara (25) dan Muhamad Rizal (27) alias Kelvin, guna menghindari amukan massa. Dua orang itu diamankan di Mapolres Sumba Barat, diantar oleh aparat Polsek Loura.

Polisi mengamankan keduanya untuk menghindari amukan massa, khususnya keluarga korban sodomi, LBG salah seorang pelajar SLTP di Tambolaka.
Kapolres Sumbar, Yayat Jatnika menyampaikan hal itu kepada wartawan di ruang kerjanya, belum lama ini.
Dikatakannya, pengalihan tempat penahanan dari Polsek Loura ke Mapolres Sumba Barat semata-mata demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Dua tersangka pelaku sodomi itu ditangkap aparat Polsek Loura yang menerima pengaduan dari korban, LBG. Kepada polisi, korban mengaku disodomi beberapa kali oleh tersangka dan dia menderita sakit usai perbuatan tidak senonoh itu.

Menurut korban, setiap kali berhubungan (sodomi), kedua tersangka selaku merekamnya dengan menggunakan handphone milik dua tersangka itu, meski setelah dilihat lalu dihapus.

Berdasarkan laporan itu, demikian Kapolres AKBP Yayat Jatnika, tim Polsek Loura langsung menuju rumah kedua tersangka dan menangkap keduanya. Penangkapan sempat membuat gempar warga sehingga warga berdatangan ke Mapolsek Loura untuk melihat wajah kedua tersangka.

Melihat perkembangan kerumunan massa seperti itu, katanya, polsek mengambil keputusan memindahkan kedua tersangka ke Mapolres Sumba Barat guna menghindari aksi amuk massa. Barang bukti yang diamankan adalah rekaman adegan sodomi.

Diduga kedua tersangka akan mengirim film tersebut kepada teman-teman mereka di Surabaya, Jawa Timur. Tidak menutup kemungkinan disebarluaskan melalui internet. Kondisi itu tentu akan  merugikan masyarakat Sumba yang terkenal santun dan taat adat istiadat setempat.

Kapolres AKBP Yayat Jatnika berjanji secepatnya memproses hukum kedua tersangka agar mendapat ganjaran hukuman setimpal sesuai perbuatannya. 

Sumber : Pos Kupang

Selasa, 08 Maret 2011

Gugatan terhadap Kapolres Sumbar Berakhir Damai

Hakim Pengadilan Negeri (PN) Waikabubak, Sumba Barat, Herberth Uktolseja, S.H bertindak sebagai mediator berhasil mendamaikan para pihak yang bersengketa terkait perkara gugatan ganti rugi sembilan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sumba Tengah terhadap Kapolres Sumba Barat, AKBP Yayat Jatnika.

Kapolres Sumbar  digugat  terkait tindakan anak buahnya yang menangkap/menahan sembilan anggota Pol PP Sumba Tengah yang sedang menjalankan tugas penertiban minuman keras (miras) di Prewatana, Sumba Tengah, sebesar Rp 100.

Acara perdamaian berlangsung di ruang sidang PN Sumba Barat, Rabu (2/3/2011), dengan penandatanganan berita acara perdamaian secara bersama diakhiri foto bersama.

Pada kesempatan itu, kedua belah pihak sepakat berdamai dan sama-sama mengakui kekeliruan dan kekhilafan yang telah terjadi dan berjanji  untuk memperbaikinya.

Hakim Herberth Uktolseja, S.H, dalam arahan singkatnya mengawali acara perdamaian, meminta kedua belah pihak menjadikan momen itu sebagai bahan introspeksi diri, dan lembaga masing-masing diminta agar ke depan menjadi lebih baik.

Di hadapan para penggugat, dalam hal ini sembilan anggota Satpol PP Sumba Tengah, bersama kuasa hukuma, Yacoba YS Siubelan, S.H, dan Polres Sumba Barat yang dihadiri Kaur Bin Ops. Reskrim Polres Sumbar, Ipda Thomas Kakang, dan anggota Lidik Reskrim, Briptu M Ndjurumana dan Edinus Leba, Hakim Herberth menyatakan, kedua belah pihak sepakat mengakhiri perselisihan dengan damai.

Kedua belah pihak mengakui segala kekeliruan dan kekhilafan yang telah terjadi yang menyebabkan terjadi perselisihan dan berjanji memperbaiki di masa mendatang.  Dengan demikian kesepakatan damai ini murni keinginan kedua belah pihak dan tidak berdasar keinginan atau desakan pihak lain.

Isi perdamaian tersebut dimana kedua belah pihak saling meminta maaf atas kekhilafan yang terjadi, berjanji tidak akan pernah melakukan perbuatan yang dapat merendahkan martabat pribadi maupun institusi masing-masing yang melahirkan salah paham, tidak ada lagi pembayaran ganti rugi, dan sepakat perdamaian dipublikasikan ke masyarakat.

Selanjutnya, kedua belah pihak sepakat jika dikemudian hari terjadi pengingkaran atas isi perjanjian ini maka jalan yang ditempuh adalah melalui musyawarah dan kekeluargaan. Bila menemui  jalan buntu maka diselesaikan melalui Pengadilan Negeri Sumba Barat.

Menjawab pertanyaan apakah perdamaian itu berlaku pula bagi kasus pidana atas tindakan penangkapan dan penahanan ke-9 anggota Satpol PP Sumteng yang terjadi tanggal 19 Desember 2010, Hakim Herberth Uktolseja, S.H mengatakan, perdamaian hanya berlaku terhadap perkara perdata gugatan ganti rugi 9 anggota Satpol PP ST terhadap Kapolres Sumba Barat, nomor 02/PDT.G/2011/PN.WKB.  Sedang perkara pidana tetap berjalan terus karena sedang ditangani Polres Sumba Barat.

Sementara Kapolres Sumba Barat, AKBP Yayat Jatnika  ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (2/3/2011) sesaat setelah penandatanganan perdamaian menyatakan mendukung langkah hakim mediator menyelesaikan perselisihan itu.

Sedang perkara pidana tetap diproses hingga tuntas baik terhadap 9 anggota Satpol PP maupun anggota Polres Sumba Barat yang diduga terlibat melakukan tindakan penganiayaan terhadap anggota Satpol PP Sumteng.

Sumber : Pos Kupang

Minggu, 06 Maret 2011

Dampak Sosial Ledakan Penduduk di Sumba

Peningkatan jumlah penduduk Sumba Barat Daya dari 195.000 pada tahun 2000 menjadi 287.666 jiwa pada tahun 2010 mengagetkan pemerintah daerah setempat. Faktor kawin usia muda sebagai salah satu penyebab, selain faktor lain.

Sayangnya, jumlah penduduk yang tinggi, tidak diimbangi peningkatan lapangan kerja, kualitas pendidikan yang rendah, dan hasil pertanian yang terus memburuk. Hal tersebut menimbulkan masalah sosial baru. Angka putus sekolah rata-rata setiap tahun 25.300 anak dari total siswa 78.936 siswa.

Kondisi ini membuat kualitas hidup warga Sumba Barat Daya (SBD) terus menurun. Angka kemiskinan di daerah ini mencapai 35.825 kepala keluarga (kk), atau sekitar 179.125 jiwa , dari total 287.666 jiwa. Pendapatan per kapita rata-rata Rp 197.150 per bulan, tingkat provinsi sebanyak Rp 167.920 per kapita per bulan.

Angka kriminalitas seperti pencurian pun terus meningkat dari tahun ke tahun, meski ada upaya mengatasi. Tahun 2008 angka kriminalitas yang berdasarkan data perkara di pengadilan Negeri Sumba Barat sebanyak 479 dan tahun 2010 menjadi 789 perkara. Dari jumlah ini 80 persen perkara pencurian.

Bupati Sumba Barat Daya, dr Kornelius Kodi Mete di Weetabula, Selasa (1/3/2011) lalu membenarkan kasus ini. Peningkatan jumlah penduduk di SBD paling tinggi di seluruh Nusa Tenggara Timur. Perkawinan usia muda, poligami serta semboyan banyak anak banyak rezeki sebagai pendorong.

Program keluarga berencana (KB) belum disosialisasikan secara maksimal di kalangan masyarakat bawa. Ada pemikiran negatif terhadap program ini sehingga sebagian pasangan usia subur menolak menggunakan alat-alat kontrasepsi seperti kondom, IUD, implant, dan lainnya.

Jumlah pasangan usia subur 37.927, ikut program KB hanya 11.699 pasangan, atau sekitar 26.228 pasangan tidak ikut KB.

Jahawalu (20) warga desa Kori Kecamatan Kodi Utara mengatakan, menikah pada usia 17 tahun (2008), sementara pasangannya saat it u berusia 15 tahun. Ia hanya mengenyam pendidikan sampai kelas dua SMP, sementara pasangannya kelas satu SMP. Kini mereka telah dianugerahi tiga orang putra.

Satu tahun kami lahirkan satu anak. Kami belum ikut program KB karena dilarang orangtua. Kata orangtua, anak banyak lebih baik. Sama dengan mereka memelihara ternak, makin banyak ternak di kandang status social makin tinggi, dan terpandang, kata Jahawalu sambil tertawa.

Jahawalu sendiri tidak pernah berniat mengikuti program KB. Pihak orangtua mengusulkan, kalau ia sudah memiliki 10 anak, orangtua akan mencarikan daun-daunan di hutan untuk mengatasi jarak kelahiran anak.

Kepala Urusan Pemerintahan Desa Matakapone Kecamatan Kodi Bangedo Robert Rihiwanda mengatakan, kelahiran tinggi karena sebagian besar keluarga menilai, banyak anak banyak rezeki. Mereka bahkan berlomba-lomba menciptakan anak.

"Kalau ada teman seusia yang sudah punya enam anak, dan tinggal bertetangga, dia juga berjuang supaya punyak anak lebih dari enam. Ini berlaku hampir di sel uruh warga Kodi. Mereka gengsi bila punya anak hanya 2-3 orang karena dianggap tidak jantan, dan secara social kurang dihargai," kata Rihiwanda.

Program KB dinilai secara negatif yakni upaya pemerintah menekan laju penduduk dari kelompok masyarakat tertentu. Program ini pun jarang diterima di kalangan pasangan usia subur. Pergaulan di kalangan remaja sangat bebas. Mereka tidak lagi memperhatikan nilai-nilai adat dan budaya setempat. Bahkan tatanan adat dinilai sebagai aturan yang sudah ketinggalan zaman.

Meski orangtua tidak mampu, tetapi para remaja ini memaksa memiliki telepon seluler. Telepon ini membuat kebanyakan remaja tidak lagi masuk sekolah dan menggunakan waktu belajar untuk jalan-jalan di pusat kota kabupaten.

"Mereka diajak teman menonton televisi, dan film porno sampai larut malam. Setelah puas di kota, mereka pulang ke rumah di kecamatan atau desa. Di sana, mereka tidak lagi mendengar perintah atau nasihat orangtua. Bahkan orangtua dianggap tidak tahu apa-apa soal perkembangan zaman sekarang," kata Rihiwanda.

Persoalan sumber daya orangtua yang rendah, buta huruf, tidak tahu tulis dan baca menjadi salah satu penyebab pergaulan bebas di kalangan remaja. Orangtua tidak mampu mengendalikan perilaku anak yang bejat karena selalu dibohongi anak-anak.

Anak-anak sekolah berangkat dari rumah dengan seragam sekolah, tetapi kemudian di jalan mereka diajak teman untuk pergi ke kota, atau menonton CD porno di rumah teman sambil meneguk minuman keras dan merokok.

Rihiwanda menjelaskan, orangtua justru senang bila anak-anak mulai memegang HP, bisa mengendarai sepeda motor, dan menceritakan sesuatu yang mencirikan kehidupan orang di kota. "Mereka bangga bila anak-anak berpenampilan moderen seperti kebanyakan remaja yang tampil di televisi. Mereka pun membiarkan anak berbuat apa saja, sesuai selera anak. Ini berdampak sangat buruk bagi kehidupan anak itu sendiri," kata Rihiwanda.


Sumber : Kompas.com

Rabu, 02 Maret 2011

DISCOVER SBD : TANJUNG KAROSO, ELOKNYA PANTAI DIUJUNG SAVANA

Setelah beberapa minggu rehat, selasa siang 15/02/2011 Team Discover SBD kembali berkumpul kali ini jumlahnya anggotanya semaikn banyak karna banyak yang ikut bergabung.  Moripanet Online kali ini diajak untuk mengunjungi pantai tanjung karoso.

Jam 10 pagi Indri Mayasari, Adi Bolo, Shinta Nawa Gah,  Paul leba, Ari Horo, Sandro Dandara, Grace Ati, Ela, Ningsih berangkat menuju Kodi setelah sebelumnya mengisi bensin di di SPBU Torara.
Pantai Tanjung karoso berada di wilayah Kecamatan Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Perjalanan ke Tanjung karoso jika menggunakan kendaraan roda dua kurang lebih 1 jam.

Banyaknya jalan yang berlubang mewarnai perjalanan kami menuju Kodi. Perjalanan kami juga sempat terganggu ketika kami melewati Bukambero karna ada beberapa anak muda yang menimbun lubang di aspal jalan dengan tanah dengan maksud agar pengendara lebih mudah melewati namun untuk usahanya itu mereka meminta upah dari semua pengguna kendaraan bermotor yang melewati jalan tersebut, biasanya pengendara memberikan Rp. 500 atau Rp. 1000. Aksi ini tidak seing dilakukan biasanya hanya pada hari minggu atau hari libur ketika banyak kendaraan yang lewat.

Karna beberapa dari kami bisa berbahasa daerah Kodi maka kami menyapa mereka dan membiarkan kami lewat, tapi beberapa teman kami harus membayar Rp. 1000 karena dihadang.

Setelah memasuki daerah Mangganipi kecamatan Kodi Utara kami mampir di salah satu teman kami Denny Holo, alasan kami mampir untuk mengajaknya ikut dalam perjalanan kami. selain karna Deny warga asli Kodi dan dikenal warga, tanjung karoso merupakan tempat baru buat kami sehingga kami perlu penunjuk jalan dan memastikan perjalanan kami aman.

setelah Denny siap kami melanjutkan perjalanan. Denny menyarankan kami melewati daerah Homba Rande, menurut Denny jalannya jauh lebih baik khususnya  bagi teman kami yang menggunakan motor matic. Untunglah kami membawa Denny yang cukup menghafal kawasan ini karna perjalanan kami selanjutnya dipenuhi dengan berbagai belokan..wah kalau disuruh kembali belum tetntu kami mampu menghafal jalurnya.

Akhirnya kami memasuki ruas jalan yang sekelilingnya hanya hamparan savana yang terlihat..indah sekali. setelah kurang lebih satu kilometer melewati hamparan savana, pantai karoso sudah mulai terihat dari kejauhan..Shinta, Maya dan beberpa teman bersorak diatas kendaraan melihat indahnya pantai tanjung karoso.

Kami pun tiba di pantai tanjung karoso, mengagumi pantai ini hal pertama yang kami lakukan...dan yang berbeda dari pantai tanjung karoso karna banyaknya pepohonan di pinggir pantai yang membuat kita tidak akan kepanasan berada di pantai ini. kami pun mencari posisi yang nyaman untuk berteduh.

Ternyata teman teman yang lain sudah tidak sabaran untuk mengabadikan moment ini. Paul, Shinta, Maya dan beberapa teman segera mencari view yang bagus untuk bidikan kamera tetunya dengan mereka didalamnya.

Denny, Grace dan teman lainnya lebih tertarik melihat beberapa nelayan yang baru pulang melaut dengan membawa ikan segar. Deny sejak awal sudah memberitahu kami kalau ikan disini murah harganya, dan benar 3 ikan segar dengan berbagai ukuran bisa kami dapat dengan hanya Rp.15.000

Kami pun mulai mempersiapkan perapian untuk memanggang ikan, teman lainnya sibuk membersihkan sisik ikan. sewaktu ikan mulai dipanggang teman lainnya memilih bersenda gurau. Sandro yang sejak tadi ingin berenang langsung menceburkan diri.

Pantai tanjung karoso cukup aman bagi siapa saja yang ingin berenang apalagi airnya yang sangat bersih seperti berada di kolam renang. sayangnya karna banyak pepohonan di pinggir pantai, daun daun kering menjadi pemandangan yang kurang nyaman di sepanjang pinggir pantai tapi kita tetap menikmati berada disini karna setidaknya tidak ada sampah plastik yang bertebaran.

Setelah ikan panggang siap kami pun berkumpul dan menikmati bersama. Semua teman juga mengeluarkan bekal masing masing dan kemudian menghabiskan waktu dengan berfoto sebelum kembali ke Waitabula. Sampai jumpa di perjalanan Tim Discover SBD Berikutnya. Salam hangat dari tanah Loda Weemaringgi Pada Weemalal. Cintai Negerimu Kenali Negerimu

Tips bagi yang ingin mengunjungi pantai Tanjung Karoso

1. Pastikan anda mengecek kendaraan anda sebelum berangkat (Bensin, Ban, Rem, dll)
2. Berkendaralah dengan hati - hati karna banyaknya lubang dijalan
3. Pastikan anda bersama dengan salah satu warga asli agar perjalanan anda lebih nyaman
4. Siapakan bumbu ikan bakar jika anda ingin membeli dan membakar ikan dipantai
5. Jika ingin berenang pantai ini cukup aman
6. Pastikan anda tidak membawa terlalu banyak sampah plastik dan ingat untuk membersihkan kembali sampah anda sebelum pulang.



 

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD