Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 23 Januari 2011

NATARA Minggu ini : Jangan Tunggu Semua jadi Pencuri

Oleh Emanuel Dapa Loka

Tulisan ini tentang Sumba. Seperti sudah menjadi siklus yang mustahil diubah atau dibelokkan, Sumba selalu saja dilanda oleh “musim pencurian” setiap tahun. Kalau musim ini tiba, pekerjaan baru yang harus diakoni setiap keluarga adalah “mengamankan” diri masing-masing. Dan dalam upaya mengamankan diri ini, mereka harus bersiap-siap beradu nyali dengan pencuri bahkan siap-siap kehilangan nyawa. Sebab sang pencuri atau perampok datang dengan penuh kenekatan dan membawa serta prinsip “lebih baik mengambil daripada darinya diambil sesuatu atau lebih baik membunuh daripada dibunuh”. Setuju atau tidak, malu atau tidak, inilah realitas hari ini. Dan aneh, sepertinya sama sekali tidak ada yang mampu menghentikan sang pencuri. Semua pihak tampaknya tiarap dengan alasan masing-masing.

Saat ini, aksi pencurian sedang marak di Sumba. “Kami sudah capek dan hampir putus asa. Setiap malam kami tidak tidur karena harus berjaga, siang hari kami harus bekerja. Dari mana energi kami?” demikian Nardus, seorang penduduk di desa Kalembuweri, Kecamatan Waijewa. Karena itu, acapkali Nardus dan kawan-kawan pasrah saja. “Kalau pencuri datang mau bilang apa? Kalau dia kedapatan dan saya bisa melawan, ya saya melawan. Sekarang saya memilih tidur saja waktu malam,” ungkap pemuda berbadan kurus ini. “Saya sudah bekerja habis-habisan pada siang hari, masa pada malamnya saya harus ‘buka mata lebar-lebar’. Saya bisa mati bodoh-bodoh karena kehabisan darah. Mau hidup aman saja kok mahal sekali?” tanyanya retoris menambahkan.

Dengan alasan kekurangan personil, Kapolres Sumba Barat AKBP Yayat Yatnika mengaku tidak bisa berbuat banyak. Dan mungkin karena telepati masyarakat mampu meneropong “keterbatasan” kepolisian, jika menjadi korban pencurian, mereka enggan melapor ke polisi. Mereka lebih memilih menempuh “jalan sendiri”, yakni meminta “bantuan” pihak-pihak tertentu yang bisa “menolong” mengembalikan harta milik mereka. Dan asal tahu saja, biaya pilihan ini sangat mahal. Kalau kerbau yang hilang seharga Rp15 juta, maka sang pemilik harus bersiap-siap membayar Rp10 juta atau lebih kalau menginginkan kerbaunya kembali.

Ya, masyarakat pasrah sambil mengurut dada dan menangis. Dan tangisan semacam ini bisa meruntuhkan seluruh energi untuk berjuang lagi. Sebab untuk apa berjuang habis-habisan kalau hasil perjuangan mereka hanya dinikmati oleh orang lain? Dan kalau sudah begini, tamatlah riwayat kehidupan dengan segala pernak-perniknya. Bukan tidak mungkin, orang yang tadinya memilih jalur bekerja keras untuk hidup kemudian mematok prinsip baru “lebih baik jadi pencuri juga”.
Mengapa pencurian terjadi dan seakan telah menjadi “tradisi”? Apakah karena para pencuri itu telah ditakdirkan menjadi pencuri sehingga mustahil dihentikan? Mengutip kata intelektual terkemuka Sumba, Dr. Kebamoto dalam bukunya berjudul Kita Bukan Suba Kabanga (INSIDE, 2009), “tidak ada seorang manusia pun yang begitu lahir, di dahi atau testanya telah tertulis ‘pencuri’”.
Mencuri bukan adat Sumba yang diajarkan turun temurun. Bahkan, masyarakat adat melarang dan mengharamkan kegiatan mencuri. Dulu, aksi mencuri memang ada namun itu dilakukan oleh orang-orang tertentu hanya untuk mengetes “pegangan” seperti ilmu kebal, ilmu menghilang dan lain-lain. Ada juga yang mencuri karena gengsi terhadap kelompok lain. Mereka ingin menunjukkan kehebatan atau kejantanan. Karena alasan itu, pencurian yang terjadi adalah pencurian dalam skala besar seperti mencuri kerbau atau sapi satu kandang atau kuda tunggang dalam kandang yang berlapis-lapis. Ini menunjukkan adanya pertaruhan “harga diri” dan gengsi yang menyimpang.
Pencurian dewasa ini sangat marak dengan semangat yang samasekali berbeda. Sebagian besar dari aktivitas pencurian ini bermotif ekonomi, kecemburuan, ketimpangan dan akibat malas bekerja atau mental mau enak saja.

Bangun Sumba dari Dalam
 
Sumba adalah tanah air yang indah permai (“pada eweta manda elu”—bahasa Loli) dan “tana paripiaku loku waikalala”—bahasa Lamboya, berarti tanah yang berlimpah padinya dengan bulir dan butir yang panjang dan berisi. Semua sungai dan anak sungai dialiri bukan air melainkan “waikalala” yaitu santan kelapa.
Luar biasa! Sejak dulu dalam kekurangan dan kelebihannya Sumba telah menjadi alam yang menyediakan diri untuk kehidupan penghuninya. Alam Sumba, meski tidak sangat memanjakan kita karena sebagian terdiri atas padang sabana dengan curah hujan yang kurang, namun tidak kurang memenuhi kebutuhan kita. Bahwa kadang-kadang terasa kurang dan sulit, ini menuntut kreativitas dan kerja keras saja. Telah terbukti dengan kerja keras nenek moyang kita bisa menepuk dada sebagai manusia bermartabat.

Perbincangan dengan Kebamoto mengembalikan memori penulis pada pengalaman masa kecil. Saat itu kalau seseorang kedatangan tamu dan ternyata tamu itu tiba bersamaan dengan tuan rumah sedang makan, tuan rumah tidak akan serta-merta menyuguhi tamunya makanan yang sudah jadi. Sang tuan rumah akan bergegas memasak lagi dan menyembelih ayam atau babi untuk sang tamu. Di satu sisi hal ini sebagai simbol penghargaan terhadap tamu dan di sisi lain menunjukkan bahwa sang tua rumah juga memiliki harga diri. Dan hebatnya, ayam atau babi yang disembelih merupakan milik sendiri. Kini hal semacam ini nyaris tidak pernah ada lagi. Selain karena alasan penghematan dan pragmatis, juga dan terutama karena orang tidak memiliki hewan piaraan lagi, kalau pun ada, sudah dialokasikan untuk kebutuhan tertentu.

Seperti banyak suku lain, orang Sumba adalah orang memiliki gengsi atau harga diri. Hanya saja, acapkali gengsi tersebut diarahkan pada hal-hal yang kurang produktif. Seseorang misalnya, karena digerakkan oleh gengsi, dia rela soka teba (bawa kerbau ke pesta) dengan kerbau hasil hutang. Ketika berangkat ke pesta, sepanjang perjalanan ia menari-nari, menepuk dada dan menendang tanah sambil melambungkan lagu-lagu yang menggambarkan alasan dia meringankan langkahnya ke pesta. Ketika masuk ke kampung tujuan, tuan pesta menyambutnya dengan gegap gempita. Ketika pesta usai, dia pulang membawa daging dalam jumlah besar. Tapi apa yang terjadi saat sampai di rumah? Ternyata tidak ada beras dan tagihan hutang akan segera datang. Ini ironi atau bahkan tragika!

Kalau saja gengsi yang setinggi langit itu dikelola dengan baik, hasilnya akan berbeda. Dengan roh gengsi itu seseorang memasang patok janji akan menjadi orang berhasil dan karena itu dia harus bekerja keras. Sikap bangga itu perlu! Dan pesta itu sangat baik. Hanya saja harus diingat bahwa kebanggaan yang logis adalah kebanggaan atas hasil yang capai berkat kerja keras dan pesta yang digelar harus atas dasar keberhasilan yang otentik bukan keberhasilan “seolah-olah”. Misalnya berpesta karena keberhasilan anak dalam sekolah atau karena panen berlimpah.

Tidak mustahil menumbuhkan kembali sikap semacam ini. Pada zaman pemerintahan (kalau tidak salah Bupati Julius Pandango) ada pembelajaran yang baik, yakni kewajiban masyarakat untuk memiliki kebun dan bedeng-bedeng sayur. Menariknya, yang terkena kewajiban itu bukan hanya para petani tapi juga para pegawai yang memiliki bidang-bidang tanah. Hasilnya, orang hidup dari kebun sendiri tanpa bergantung pada momen hari Sabtu/ pasar. Yang tidak memiliki kebun akan mendapat sanksi. Sayangnya, semangat itu segera hilang karena kita lemah dalam konsistensi alias hanya panas-panas tai ayam.

Pemerintah saat ini harus mengembalikan lagi nilai luhur yang pernah dimiliki orang Sumba itu. Pemerintah juga harus bisa menjadi motivator bagi masyarakat. Tentu saja untuk ini Pemerintah harus menunjukkan contoh. Tidak seperti perda yang pernah kita tahu tentang pembatasan jumlah hewan yang disembelih untuk pesta. Rakyat dilarang menyembelih melebihi jumlah yang telah ditentukan. Tapi para pejabat dengan dada membusung melanggar secara tahu dan mau.

Pemerintah harus mampu mengelola “gengsi liar” yang tumbuh subur di antara masyarakat menjadi jinak dan tertata. Sebab tidak ada cara lain, Sumba harus dibangun dengan kekuatan dari dalam. Masyarakat Sumba yang kebanyakan petani harus bisa hidup dari tanah hitam secara cerdas. Dengan pendampingan dan bimbingan yang cerdas dari Pemerintah yang cerdas, masyarakat bisa produktif. Yakinlah! Masyarakat memiliki dasar kemampuan dan kemauan untuk maju. Ajak mereka secara sungguh-sungguh melihat kembali potensi yang mereka miliki dan yakinkan bahwa dengan itu mereka bisa maju dan bangkit dari kemiskinan. Masyarakat harus diajak untuk sibuk terlibat dalam aksi-aksi atau kerja-kerja yang produktif. Dengan begitu, tenaga dan pikiran mereka terserap secara terarah. Kalau sudah begitu, mana ada kesempatan merancang strategi untuk mencuri? Lebih dari itu tidak ada lagi yang harus dicuri sebab mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kalau sudah begini, tugas Pemerintah menjadi ringan.

Menurut hemat penulis, keberhasilan keempat bupati (Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Tengah) sangat ditentukan oleh kemampuan mereka menekan angka pencurian dan membangkitkan jiwa kreatif dan kerja keras masyarakat. Pemerintah harus memberikan kenyamanan berusaha dan bekerja tanpa khawatir hasil jeri payah mereka sirna oleh kelakuan oknum-oknum tertentu yang “hanya mau enak” saja.
Sebab kalau situasi yang real hari ini telanjang dibiarkan berlarut-larut, akan tiba saatnya orang menjadi fatalis lalu beralih ramai-ramai menjadi pencuri. Bahkan bisa jadi nanti para bupati, camat, kapolres, para agamawan dan seterusnya akan ramai-ramai menjadi pencuri. Mungkin ini terasa ekstrim. Apa itu yang kita mau? Pasti tidak! Karena itu, mari berbenah!
 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD