Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Sabtu, 08 Januari 2011

ELAN Wukak Viktor, B.A : Menanam Pohon Mulai Dari Sekolah

ELAN Wukak Viktor, B.A pertama kali menginjakan kaki di Pulau Sumba tahun 1966, tepatnya, di Waingapu Kabupaten Sumba Timur. Saat pelabuhan, Elan hanya melihat padang ilalang bahkan tidak nampak sedikitpun hutan. Disaat yang sama timbul keinginan bagimana membuat Pulau Sumba menjadi hijau. Keinginan itu tertanam dalam semenjak awal bersama Mgr.Legelaud merintis dan mengasuh SMP Padadita Waingapu. Keduanya biasa bercerita tentang upaya menanam pohon agar Sumba menjadi hijau.

Ide menanam pohon belum terealisir karena lahan lokasi sekolah yang terbatas dan berkarya dalam misi karya pendidikan katolik penuh aturan ketat. Padahal kesempatan mengabdi di sekolah tersebut merupakan peluang besar mengapresiasikan keinginan menanam pohon dengan satu tekat kuat menghijauhkan Sumba.
Dalam benaknya muncul pikiran menanaim pohon harus dimulai dari sekolah karena para pelajar mudah diatur.

Sayangnya, Elan di Waingapu tidak berlangsung lama karena ia harus pinda ke Weetabula, Kabupaten Sumba Barat, kini Kabupaten Sumba Barat Daya tahun 1973 untuk menjadi salah satu satu guru mata pelajaran bahasa Inggris di SPG St.Alfonsus Weetabula. Maklum, Elan Wukak Viktor, B.A, adalah lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Sanata Dharma Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris tahun 1971. Disinilah, awal mula menggagas menanam pohon hingga mengantarnya menerima penghargaan piagam kalpataru tingkat nasional tahun 2007 yang diserahkan langsung Presiden RI , Susilo Bambang Yudhoyono.

Elan Wukak Viktor adalah seorang putra asal Lembata yang menghabiskan waktu selama 43 tahun membangun Sumba . Bagaimana bisa merubah agar masyarakat memiliki ekonomi yang baik, bisa membaca dan keluarga yang sehat? Berikut wawancara Pos Kupang dengan Elan Wukak Viktor, B.A, tentang kiatnya menghijaukan Sumba dari program teras sering hingga mente dan jati mas.


Bagaimana perjalanan anda hingga terdampar di Pulau Sumba?

Saya pertama kali datang ke Sumba tahun 1966 setelah menyelesaikan pendidikan SMP/SMA Seminari San Dominggo Hokeng-Flores Timur tahun 1965. Selanjutnya bersama Mgr.G.Legelaud merintis dan mengasuh SMP Padadita Waingapu. Beberapa tahun kemudian, mendapat kepercayaan melanjutkan studi ke IKIP Sanata Dharma jurusan Bahasa dan Sastra Inggris di Yogyakarta tamat tahun 1971. Lalu kembali ke Waingapu, Sumba Timur, sebagai guru Bahasa Inggris di SMA Andaluri. Setahun mengabdi, mendapat tawaran guru Bahasa Inggris di SPG St.Alfonsus Weetabula di Kabupaten Sumba Barat (sekarang Kabupaten Sumba Barat Daya). Disamping itu juga mengajar pula di SPMK St.Aloysius. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Bahkan Ia mendapat kepercayaan menjadi Kepala Sekolah SMPK St.Aloysius tahun 1974-1986. Melihat lokasi sekolah yang sangat sempit maka pada tahun 1981 merintis dan membangun gedung sekolah baru di Bukit Sunyi Weetabula. Lokasi baru tersebut sangat tandus.


Nampak hanya rumput kemerah-merahan. Apalagi di musim panas, bila tersulut api sedikit rawan terjadi kebakaran. Kesempatan ini, pas untuk mewujudkan cita-citanya. Konsep awal adalah membangun sekolah berwawasan lingkungan. Terinspirasi dengan kesuksesan program lamtoronisasi di Maumere, Kabupaten Sikka, maka saya bersama guru dan seluruh murid SMPK St.Aloysius Wetabula menanam pohon lamtoro dengan system teras sering. Setahun berjalan, Bukit Sunyi mulai nampak kehijauan. Alhasil dalam beberapa tahun kemudian, seluruh wilayah Bukit Sunyi penuh pohon lamtoro. Setelah 26 tahun berlalu, Suster Mariana Sogen, ADM, menebang pohon lamtoro di kompleks sekolah SMPK St. Aloysius Wetabula dan mengganti dengan tanaman lain seperti anakan pohon jati, mahoni, nimba, mangga, dan mente. Saya merasa bersyukur program yang digalang tidak hilang tetapi berkelanjutan meski ditanam pohon lain. Justru secara ekonomi menjanjikan karena memiliki nilai ekonomis tinggi.


Apa yang mendorong anda hingga kembali ke Sumba setelah menyelesaikan pendidikan di IKIP Sanata Dharma. Mengapa tidak ke Flores ?

Saya memutuskan kembali Sumba karena terpendam hasrat mau menghijaukan Sumba . Cita-citaku belum tercapai. Saya belum memulai sama sekali. Baru sebatas khayalan. Saya ingin wujudnyatakan dengan menanam berbagai pohon pada hamparan padang savana agar berubah menjadi padang nan hijau. Saya sudah jatuh cinta dengan alam Sumba saat pertama kali menginjakan kaki di Pulau Sandel Wood ini tahun 1966. Saat itu tergerak hati, bagaimana berbuat sesuatu agar padang berubah menjadi daerah hijau. Saya sadar benar, untuk menggapai cita-cita, saya harus datang ke Sumba, hidup dan berkarya bersama masyarakat Sumba demi mewujudkan cita-cita. Meski tantangan hidup sangat berat apalagi tidak ada keluarga dekat. Saya hanya seorang perantau bercita-cita membangun daerah ini agar kelak menjadi dambaan seluruh umat manusia. Saban hari menghabiskan waktu mengajar di beberapa sekolah diantaranya SMPK St.Aloysisus Wetabula, SPG Wetabula, SMA St.Thomas Aquinas, SMA Manda Elu, dan guru bahasa latin dan bahasa inggris SMP/SMA Seminari Sinar Buana Wetabula. Bila ada waktu luang, saya gunakan merawat tanaman di kompleks SMPK St.Aloysius Wetabula.


Setelah anda berhenti sebagai Kepala SMPK St.Aloysius Wetabula, apa yang anda lakukan?

Pekerjaan mengajar tetap jalan seperti biasa. Namun, ada hal yang terasa kurang dalam diri saya, belum tercapai cita-cita menanam pohon sesungguhnya. Maksudnya, cita-cita membangun sekolah berbasis lingkungan belum tercapai sementara disisi lain sudah non job sebagai kepala sekolah. Saya menyadari sebagai bawahan tentu sulit menggolkan ide-ide membangun sekolah dan menanam pohon. Inilah tantangan sekaligus motivasi yang mendorong hingga membangun sebuah SMPK Kasimo di Kererobo, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat (sekarang Kab.SBD) tahun 1987. Untuk menggolkan ide membangun sekolah berwawasan lingkungan, ia harus mengusahakan lahan luas. Bermodalkan nekad dan dana pas-pasan, ia memulai melakukan negosiasi dengan tuan tanah menyampaikan keinginan membangun sebuah SMP agar anak-anak usia sekolah sekitar mendapatkan pendidikan. Maklum, saat itu banyak anak usia sekolah tetapi tidak mendapatkan pendidikan karena letak sekolah cukup jauh dan umumnya berasal dari orang tua tidak mampu. Perlahan tapi pasti, tuan tanah mengamini permintaan saya dengan menyerahkan lahan seluas 6 hektar are melalui masyarakat untuk pembangunan sekolah dibawa asuhan Yayasan Kasimo. Bermodalkan tanah seluas 6 ha, saya membangun sebuah bangunan beratapkan seng, berdindingkan gedek dan berlantai tanah. Untuk mewujudkan cita-cita maka semenjak awal, ia memperkenalkan misi pembangunan sekolah berbasis lingkungan terutama kepada staf guru. Langkah tersebut untuk mendapatkan dukungan para guru. Tentu dukungan itu semakin memperlancar usaha menghijaukan sekolah. Tahun pertama, ia bersama beberapa guru dan siswa dan siswi mengusahakan pembibitan seperti mente, jati, mahoni, mangga, nangka, nimba dan gamalina. Selanjutnya, di musim kemarau menggali lubang mempersiapkan lebih awal menanam anakan saat musim hujan tiba. Hal itu dilakukan secara terus menerus setiap tahun. Tak terasa 5 tahun berjalan seluruh tanah penuh tanaman. Lokasi sekolah mulai teduh dan terasa sejuk karena pohon-pohon mulai tumbuh besar. Usaha saya mebuat nyaris tidak ada tanah yang kosong, karena setiap jengkal, saya tanam dengan tanaman pohon ini. Saat ini, hanya menyisahkan lahan untuk lapangan olahraga.


Apa motivasi anda menanam pohon dan menghijauhkan Sumba?

Saya ingin ke depan Sumba terkenal bukan karena padangnya tetapi menjadi salah satu daerah hijauh dan penghasil kayu. Hal mana Sumba adalah daerah gersang dan penuh rumput ilalang. Kita wajib menghijauhkannya. Karena itu, tidak ada cara lain kecuali tanam dengan berbagai pohon.


Selain mengajarkan anak-anak sekolah menanam pohon. Bagaimana anda menerapkan konsep menanam pohon kepada masyarakat?

Masyarakat Sumba umumnya tani dan peternak. Tingkat pendidikan juga rendah. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap tingkat pemahaman dan penerapan sebuah ide baru. Apalagi pengaruh feodalisme masih sangat kental. Karena itu langkah pertama saya mulai dari sekolah dengan mensosialisasikan konsep menanam pohon melalui sekolah dengan harapan para siswa dan guru dapat menelorkan ke orang tua dan masyarakat umum mau menanam pohon. Selanjutnya, saya mencoba berbuat dulu dengan membeli tanah lima ha di Karuni, tiga ha di Radamata dan tiga ha di Ranggaroro. Semuanya saya tanam pohon. Selanjutnya, saya mengajak masyarakat sekitar ikut menanam. Saya membagikan anakan gratis. Syukur hampir semua masyarakat Loura menanamnya. Awalnya terasa sulit karena masyarakat acuh tak acuh karena memandang menanam pohon tidak cepat mendatangkan hasil. Namun, berkat usaha keras akhirnya masyarakat ikut menanam dan sekarang tinggal menikmati hasilnya. Hanya saja sekarang masyarakat terkadang mengalami kendala menebang pohon karena harus dilengkapi dokumen kelengkapan penebangan, pengangkutan, pergudangan bahkan penjualan. Hal itu hanya beralasan guna mencegah terjadinya illegal logging. Kondisi ini menjadi keluhann warga karena kayu tersebut milik masyarakat dan bukan berada di daerah kawasan. Karena itu, dia meminta agar aparat dinas terkait mempermudah urusan ijin penebangan sehingga tidak menyurutkan niat warga menanam pohon.


Apa tujuan Anda mengajak masyarakat menanam pohon?

Tujuan saya adalah pertama agar Sumba tidak lagi gersang di masa mendatang dan masyarakat memiliki harapan perubahan peningkatan ekonomi dari hasil kayu. Kedua Sumba yang dahulu tumbuh rumput ilalang menjadi daerah hijauh dan tumbuh pohon produktif. Menurutnya, bila tidak memberikan sebuah konsep perubahan bagi masyarakat maka tidak akan terjadi perubahan kehidupan masyarakat di daerah ini. Warga perlu diberi pemahaman menanam pohon secara dini karena secara ekonomis memiliki nilai jual tinggi. Apalagi Sumba bukan daerah produksi kayu. Disamping itu, menanam pohon juga merupakan upaya n mencegah terjadi perambahan hutan di Pulau Sumba ini.


Anda menanam pohon tentu membutuhkan air, apa ada kesulitan dengan air ini? Apalagi lokasi anda berada di daerah pesisir pantai yang sangat panas.

Semenjak awal gagasan menanam pohon, saya sudah berpikir harus membangun bak air guna menampung air saat musim hujan tiba. Hal itu karena daerah Loura tidak memiliki sumber mata air besar apalagi di Kererobo, tempat berusaha. Dengan demikian, begitu memasuki musim kemarau ada stok air untuk menyiram tanaman. Karena itu begitu menanam anakan secara bertahap pula membangun bak penampung air tadah hujan sebagai sumber pengairan untuk penyiraman tanaman. Jenis tanaman selain tanaman umur panjang juga tanaman umur pendek seperti kacang, jagung, padi dan tahunan seperti pepaya, pisang. Sedang tanaman umur panjang adalah mangga, jati putih, mahoni, jati local, nimba, jambu mente dan kelapa.


Selain sebagai seorang pengajar dan pencinta tanaman. Apakah ada kegiatan lain?

Ya, saya juga aktif di lembaga swadya masyarakat (LSM) Yayasan Kasimo. Sebagai aktifis lingkungan, saya aktif pula memperjuangkan pelestarian lingkungan dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat. Beberapa program yang dikerjakan adalah pendampingan pemberdayaan masyarakat, pengembangan kelompok tani sebagai kader lingkungan, advokasi lingkungan, memberi beasiswa anak kurang mampu untuk disekolahkan di Flores dan Jawa, penangkaran dan distribusi pohon, mengembangkan program magang di Bali dan Jawa. Untuk mewujudkan program tersebut, saya membangun kerjasama dengan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh politik dan stakeholders lainnya. Cara ini cukup jitu. Masyarakat beranggapan kalau hanya menanam pohon tidak cukup untuk mengisi perut, masyarakat akan bekerja rajin menanam pohon bila perut tidak lapar. Karena iu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, saya membentuk bentuk usaha ekonomi lain guna menunjang perekonomian masyarakat, diantaranya, usaha kutulak, pembagian bibit ternak seperti ayam, babi, kambing dan sapi. Misalnya, untuk usaha kutulak, warga diminta menanam kesambi yang tentu dapat mencegah terjadinya kebakaran. Saya juga bekersama dengan beberapa lembaga dono luar negeri seperti dengan Christian Children Fund (CCF) dan Usaid. Dari hasil kerjasama tersebut, berhasil menghijauhkan 12 hektar pekarangan sekolah, ribuan hektar milian masyarakat, membentuk dan membina 23 kelompok kader lingkungan, melakukan pendampingan dan advokasi terhadap 23 kelompok binaan, menangkar 400.000 pohon.


Selain kerjasama dengan kedua lembaga tersebut, apakah masih ada kerjasama dengan lembaga lainnya?

Selama 30 tahun lebih berkarya di Sumba, cukup banyak menggalang kerjasama dengan pihak luar selain dengan CCF dan Usaid juga bekerjasama dengan beberapa lembaga lainnya baik bidang lingkungan hidup, juga dibidang pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Namun, tidak dapat disebutkan satu persatu. Misalnya, bekerjasama dengan kedutaan Australia membantu pukat cincin bagi nelayan Wekelo, membangun kerjasama dengan kedutaan Selandia Baru dengan memberikan bantuan 1500 ekor itik untuk dibagikan kepada 6 kelompok ibu di Wetabula, bekerjasama dengan Yayasan persahabatan Indonesia-Canada untuk membantu air minum masyarakat Desa Kalembu Kaha di Kecamatan Kodi, kerjasama dengan Pakta Jakarta dan yayasan local Sumba bermitra dengan Ausaid membantu sapi betina sebanyak 35 ekor dan air minum bagi masyarakat Kapaka Tollu, Desa Bukembero, Kecamatan Kodi. Dan sekarang masih bekerjasama dengan CCF Indonesia melayani beberapa desa di Loura yakni Ramadana, karuni, wepangali dan langgalero dan Desa Waimangura di Kecamatan Wewewa Bara dan Kodi baik dibidang ekonomi, pendidikan maupun kesehatan serta lingkungan hidup.

Menagih Janji Menteri Negara Lingkungan Hidup RI

GERAKAN menanam pohon sebagaimana digalakan Elan Wukak Viktor mengingatkan kita kepada para pemimpin NTT yang memproklamirkan NTT hijauh semisal mantan Gubernur NTT, El Tari, dengan program terkenalnya, tanam sekali lagi tanam. Gubernur Ben Mboy dengan program operasi nusa makmur (ONH) dan di Kabupaten Sumba Barat mantan Bupati Rudolof Malo, program mente dan pisang seperti di Loli, Lamboya dan Wanokaka, Tanah Righu, Wewewa, Loura dan Kodi yang terkenal penghasil pisang dan mente dewasa ini.


Usaha menanam pohon membutuhkan pengorbanan baik tenaga, pikiran, waktu dan materi lainnya. Kendala yang dialami cukup beragama mulai sarana transportasi, tenaga, mendan yang sulit dan perilaku manusia itu sendiri. Semuanya dilalui dengan penuh ketabahan. Motto hidup saya, "ekerjalah dengan kasih" Dengan demikkian, apapun rintangan yang dihadapi dilalui penuh senyum. Menurut Elan Wukak Viktor, dirinya merasa bangga dan bahagia saat dinobatkan sebagai salah satu penerima mpiagam penghargaan Kalpataru tingkat nasional. Perasaan bahagia bercampur haruh itu muncul seketika pada saat menerima penghargaan piagam Kalpataru yang diserahkan langsung Presiden RI , Susilo Bambang Yudhoyono, di istana Negara di Jakarta tanggal 6 Juni 2007.


Kebanggaanku semakin bertambah manakalah dalam pertemuan dengan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Ir. Rachmat Witoelar, mengatakan, akan memberi bantuan sebuah mobil pick up guna membantu memperlancar pendropingan anakan pohon ke kampung-kampung. Sayangnya, sudah dua tahun menunggu, mobil tersebut tak kunjung datang. Saya sudah berkoordinasi dengan Bupati Sumba Barat, Drs.Julianus Pote Leba, M.Si, terkait rencana pembuatan proporsal permohonan ke Menteri Lingkungan Hidup, Ir. Rachmat Witoelar, namun sampai sekarang belum juga terealisir.


Sekarang, mengingat daerah usaha penghijauan berada di Kabupaten Sumba Barat Daya, maka dirinya beberapa waktu lalu menemui Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) SBD dan Bupati SBD, dr.Kornelius Kodi Mete, menyampaikan rencana pembuatan proporsal permohonan ke Menteri Lingkungan Hidup untuk mendapatkan bantuan mobil tersebut. Saya sangat berharap pak menteri dapat merealisaikan janjinya. Saya sungguh sadar mobil itu sangat penting bagi kelancaran pendropingan anakan pohon ke kampung-kampung. (pet)

Data Diri
Nama Elan Wukak Viktor, B.A
Istri : Theresia Wini
Anak-anak : Aquinata M.Eylanor
Antonius Miku Wukak

SUMBER : http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2009/02/elan-wukak-viktor-ba.html
Comments
2 Comments

2 komentar:

D4MY mengatakan...

Sukses buat BPK Viktor kami sangat mendukung niat baik bapak untuk menghijaukan SBD tercinta,,,GBU

charles lanang ona mengatakan...

sebagai murid pak Viktor, saya tidak merasa heran akan pencapaiannya sampai saat ini...beliau dari dulu terkenenal seperti "diktator" dalam mendidik putra/putri SBD..tapi percayalah, hatinya penuh kasih seorang bapak..terimakasih pak viktor. GBU

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD