Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Rabu, 26 Januari 2011

Pemda Sumba BARAT Sepakati Pernyataan PT Merpati Airlines

Rabu (26/01/2011) siang, di ruangan Bupati Sumba Barat berlangsung rapat antara pihak Pemda Sumba Barat dengan Pihak PT Merpati Nusantara Airlines. Rapat tersebut diselenggarakan pasca dicekalnya penerbangan Merpati Nusantara Airlines di bandara Tambolaka Sumba Barat Daya oleh pemda Sumba Barat dengan penarikan mobil pemadam kebakaran khusus untuk penerbangan Merpati.

Sumber Moripanet Online di Pemda Sumba Barat menyebutkan, Rapat yang dimulai pukul 13.00 itu dihadiri oleh Bupati Sumba Barat Jubilate Pandango, SPd, M.Si dan Wakil Bupati Sumba Barat Reko Deta, SI.Pem, hadir juga Perwakilan Ketua DPRD Sumba Barat, Muspida Sumba Barat, Ketua Pengadilan Negeri Waikabubak, Sekda, Asisten 2, dan sejumlah SKPD Kabupatan Sumba Barat, dari pihak PT Merpati Nusantara Airlines hadir Supervisor PT Merpati AIrlines I Gede Wayan Dharmayasa, dan Direktur GSA Tambolaka, Charles Samapati. Hadir juga perwakilan dari Penas Air, Avia Sta dan Wings Air.

Rapat yang berlangsung kurang lebih 1 jam 30 menit itu menghasilkan kesepakatan yang berisi pernyataan dari pihak PT Merpati Airlines sebanyak 6 point yang ditandatangani Supervisor PT Merpati AIrlines I Gede Wayan Dharmayasa. 

Isi pernyataan pihak PT Merpati Airlines sebagai berikut :
  1. Pemberitahuan tentang penundaan dan pembatalan penerbangan akan disampaikan kepada pelanggan  pada kesesempatan pertama 3 jam sebelum jam keberangkatan agar pelanggan dapat menentukan alternatif lain
  2. PT Merpati Nusantara Airlines akan memperhatikan dengan cermat kondisi pesawat yang akan melayani rute dari dan ke tambolaka baik dari aspek kelayakan dan kenyamanan terbang sehingga diupayakan agar dapat dilayani dengan Boeing 737.
  3. PT Merpati Nusantara Airlines melakukan pengawasan dan evaluasi intensif terhadap pelayanan GSA Merpati Tambolaka
  4. PT Merpati Nusantara Airlines akan memerintahkan GSA Merpati Tambolaka agar memberikan pelayanan kepada Pemda Sumba Barat, DPRD Sumba Barat dan masyarakat Sumba Barat terutama menyangkut pembelian tiket
  5. PT Merpati Nusantara Airlines menjamin keamanan barang (bagasi,kargo penumpang)
  6. Menerapkan proses pengembalian biaya tiket (refund) maupun presentasi pengembalian sesuai aturan yang berlaku.
Dengan disepaktinya pernyataan tersebut oleh pihak Pemda Sumba Barat dan Pihak PT Merpati Nusantara Airlines, maka mulai kamis 27 Januari 2011 penerbangan pesawat Merpati Airlines di Bandara Tambolaka kembali normal. (snd)

DISCOVER SBD : RATENGGARO, EKSOTIKA ALAM DAN BUDAYA

Minggu (23/01/20011) siang kembali group discover SBD kembali berkumpul, Moripanet Online kali ini diajak menujuo Ratenggaro.

Jam 10.00 WITA Enam anggota group berkumpul mereka adalah Doni Wungo, Yusdi Yudi, Indri, Sandro Dandara, Adi Bolo dan Melky. Seperti biasa semua sudah bersiap dengan kendaraan roda duanya. Sayangnya kali ini Group Discover SBD tidak bisa berangkat tepat waktu karna hujan mengguyur kota Waitabula sehingga terpaksa Group Discover SBD harus menunggu hingga hujan reda.
Dua jam lamanya menunggu akhirnya hujan pun reda dan group ini pun bertolak menuju Ratenggaro yang berada di kecamatan Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya. Jarak menuju Ratenggaro kurang lebih 1 jam 30 menit.

Menuju ke Ratenggaro kita harus melewati Kecamatan Kodi Utara, Salah satu yang menarik di kodi utara, sebelum memasuki desa mangganipi kita akan melewati jejeran hutan jati sepanjang kurang lebih 2 kilo meter.
Memasuki Kecamatan Kodi kita mampir sebentar di salah satu warung kecil di dekat Puskesmas Kodi untuk membeli Minuman dan Snack, di tempat ini lumayan ramai karna ada merupakan jalur pertigaan yang salah satu jalurnya menuju ke pantai Pero dan Tossi tempat diadakannya pasola Kodi setiap tahunnya.
Kami pun melanjutkan perjalanan. Salah satu yang menarik di perjalanan Group Discover SBD kali ini karna kami harus berhenti beberapa kali untuk bertanya arah menuju Ratenggaro. Bagi yang baru akan mengunjungi Ratenggaro, arahnya memang sedikit membingungkan karna banyaknya belokan yang harus kami lalui.

Akhirnya kami memasuki Ratenggaro, kesan yang pertama muncul adalah suasana etnik yang masih kental karna harus melewati beberapa perkampungan adat yang masih dipertahankan keahliannya salah satunya atap dari alang dan kubur batu khas sumba yang berjejer di perkampungan.
Menariknya Di Ratenggaro anda tidak hanya akan berwisata di pantai karna sekaligus anda juga bisa berwisata budaya. Kami memilih menuju ke pantai Ratenggaro terlebih dahulu.
Setalah memasuki Pantai Ratenggaro kami kagum dengan keindahan panorama pantai ini, bagaimana tidak kombinasi antara budaya dan alam kita temukan disini. Kubur Batu yang masih asli berada di pinggir pantai, salah satu kubur adat ini tingginya sekitar 3 meter. Selain itu pantai ratenggaro merupakan muara pertemuan dengan sungai Weha. Dan dari pantai ini jejeran perkampungan terlihat jelas menjadi salah satu pemandangan menarik,
Pantai Ratenggaro memiliki ombak yang cukup tinggi sehingga cocok sekali bagi pencinta surfing, tapi anda harus benar-banar lihai berenang karna di pantai Ratenggaro terdapat palung laut dan ombaknya cukup keras. Ketika kami tiba air sedang pasang sehingga kami memilih untuk mengabadikan bidikan kami di karang pinggir pantai dan salah satu sisi pantai yang berpasir.
Ketika masih berada di pantai, hujan mengguyur kami. Kami memilih berteduh di bawah kubur adat yang berada di pinggir pantai. Ketika hujan reda kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung adat Ratenggaro.
Tiba di kampung adat Ratenggaro ada kaan menemukan rumah adat Sumba yang masih dipertahankan keaslian arsitekurnya, sayang...bangunan rumah ini didominasi bangunan rumah adat yang baru dibuat karna beberapa waktu lalu kampung ini sempat terbakar dan dibangun kembali.
Yang menarik di perkampungan adat ini yaitu anda bisa melihat lebih jelas muara sungai dan pantai Ratenggaro juga kampung wainyapu yang berada diseberang Kampung Adat Kotenggaro yang dipisahkan muara sungai. Doni yang tertarik dengan berbagai cerita/kisah seputar kepercayan adat bertanya pada salah satu warga kampung, Ia pun menjelaskan kepada kami beberapa kepercayaan adat yang ada di rotenggaro salah satunya tidak boleh sembrangan ketika menyebrangi muara sungai menuju kampung Wainyapu, misalnya tidak boleh bersiuk bernyanyi dll. Ia juga menunjukan salah satu batu pipih yang cukup lebar yang sring digunakan warga kampung untuk meletakan sirih dan pinang apabila hendak menahan hujan (tidak ingin hujan turun) apabila ada upacara adat. Percaya atau tidak, cara mereka cukup ampuh dan selalu terbukti.
Setelah mengabadikan beberapa jempretan kamera milik Adi kami memutuskan untuk kembali ke Waitabula karna hari sudah mulai sore sehingga kami tidak kemalaman ketika sampai di waitabula.
Sampai disini kisah perjalanan Group Discover Sumba Minggu Ini. Sampai jumpa diperjalanan kami berikutnya. (snd)


Tips bagi anda yang ingin ke Ratenggaro
  • Siapkan bekal yang cukup karna kios/warung cukup jauh
  • Pastikan anda bertanya dahulu pada warga sekitar apa saja yang tidak boleh dilakukan baik selama berada  di pantai atau di kampung.
  • Jika anda tidak benar-benar ahli dalam berenang sebaiknya urungkan niat anda untuk berenang di pantai Ratenggaro
  • Ketika berfoto di pinggir karang pastikan anda berada di posisi yang cukup aman sehinga tidak mendapat hempasan ombak
  • Ingat jagalah kebersihan pantai dan perkampungan selama berada di Ratengaro. Jangan buang sampah  sembarangan.


Minggu, 23 Januari 2011

NATARA Minggu ini : Jangan Tunggu Semua jadi Pencuri

Oleh Emanuel Dapa Loka

Tulisan ini tentang Sumba. Seperti sudah menjadi siklus yang mustahil diubah atau dibelokkan, Sumba selalu saja dilanda oleh “musim pencurian” setiap tahun. Kalau musim ini tiba, pekerjaan baru yang harus diakoni setiap keluarga adalah “mengamankan” diri masing-masing. Dan dalam upaya mengamankan diri ini, mereka harus bersiap-siap beradu nyali dengan pencuri bahkan siap-siap kehilangan nyawa. Sebab sang pencuri atau perampok datang dengan penuh kenekatan dan membawa serta prinsip “lebih baik mengambil daripada darinya diambil sesuatu atau lebih baik membunuh daripada dibunuh”. Setuju atau tidak, malu atau tidak, inilah realitas hari ini. Dan aneh, sepertinya sama sekali tidak ada yang mampu menghentikan sang pencuri. Semua pihak tampaknya tiarap dengan alasan masing-masing.

Saat ini, aksi pencurian sedang marak di Sumba. “Kami sudah capek dan hampir putus asa. Setiap malam kami tidak tidur karena harus berjaga, siang hari kami harus bekerja. Dari mana energi kami?” demikian Nardus, seorang penduduk di desa Kalembuweri, Kecamatan Waijewa. Karena itu, acapkali Nardus dan kawan-kawan pasrah saja. “Kalau pencuri datang mau bilang apa? Kalau dia kedapatan dan saya bisa melawan, ya saya melawan. Sekarang saya memilih tidur saja waktu malam,” ungkap pemuda berbadan kurus ini. “Saya sudah bekerja habis-habisan pada siang hari, masa pada malamnya saya harus ‘buka mata lebar-lebar’. Saya bisa mati bodoh-bodoh karena kehabisan darah. Mau hidup aman saja kok mahal sekali?” tanyanya retoris menambahkan.

Dengan alasan kekurangan personil, Kapolres Sumba Barat AKBP Yayat Yatnika mengaku tidak bisa berbuat banyak. Dan mungkin karena telepati masyarakat mampu meneropong “keterbatasan” kepolisian, jika menjadi korban pencurian, mereka enggan melapor ke polisi. Mereka lebih memilih menempuh “jalan sendiri”, yakni meminta “bantuan” pihak-pihak tertentu yang bisa “menolong” mengembalikan harta milik mereka. Dan asal tahu saja, biaya pilihan ini sangat mahal. Kalau kerbau yang hilang seharga Rp15 juta, maka sang pemilik harus bersiap-siap membayar Rp10 juta atau lebih kalau menginginkan kerbaunya kembali.

Ya, masyarakat pasrah sambil mengurut dada dan menangis. Dan tangisan semacam ini bisa meruntuhkan seluruh energi untuk berjuang lagi. Sebab untuk apa berjuang habis-habisan kalau hasil perjuangan mereka hanya dinikmati oleh orang lain? Dan kalau sudah begini, tamatlah riwayat kehidupan dengan segala pernak-perniknya. Bukan tidak mungkin, orang yang tadinya memilih jalur bekerja keras untuk hidup kemudian mematok prinsip baru “lebih baik jadi pencuri juga”.
Mengapa pencurian terjadi dan seakan telah menjadi “tradisi”? Apakah karena para pencuri itu telah ditakdirkan menjadi pencuri sehingga mustahil dihentikan? Mengutip kata intelektual terkemuka Sumba, Dr. Kebamoto dalam bukunya berjudul Kita Bukan Suba Kabanga (INSIDE, 2009), “tidak ada seorang manusia pun yang begitu lahir, di dahi atau testanya telah tertulis ‘pencuri’”.
Mencuri bukan adat Sumba yang diajarkan turun temurun. Bahkan, masyarakat adat melarang dan mengharamkan kegiatan mencuri. Dulu, aksi mencuri memang ada namun itu dilakukan oleh orang-orang tertentu hanya untuk mengetes “pegangan” seperti ilmu kebal, ilmu menghilang dan lain-lain. Ada juga yang mencuri karena gengsi terhadap kelompok lain. Mereka ingin menunjukkan kehebatan atau kejantanan. Karena alasan itu, pencurian yang terjadi adalah pencurian dalam skala besar seperti mencuri kerbau atau sapi satu kandang atau kuda tunggang dalam kandang yang berlapis-lapis. Ini menunjukkan adanya pertaruhan “harga diri” dan gengsi yang menyimpang.
Pencurian dewasa ini sangat marak dengan semangat yang samasekali berbeda. Sebagian besar dari aktivitas pencurian ini bermotif ekonomi, kecemburuan, ketimpangan dan akibat malas bekerja atau mental mau enak saja.

Bangun Sumba dari Dalam
 
Sumba adalah tanah air yang indah permai (“pada eweta manda elu”—bahasa Loli) dan “tana paripiaku loku waikalala”—bahasa Lamboya, berarti tanah yang berlimpah padinya dengan bulir dan butir yang panjang dan berisi. Semua sungai dan anak sungai dialiri bukan air melainkan “waikalala” yaitu santan kelapa.
Luar biasa! Sejak dulu dalam kekurangan dan kelebihannya Sumba telah menjadi alam yang menyediakan diri untuk kehidupan penghuninya. Alam Sumba, meski tidak sangat memanjakan kita karena sebagian terdiri atas padang sabana dengan curah hujan yang kurang, namun tidak kurang memenuhi kebutuhan kita. Bahwa kadang-kadang terasa kurang dan sulit, ini menuntut kreativitas dan kerja keras saja. Telah terbukti dengan kerja keras nenek moyang kita bisa menepuk dada sebagai manusia bermartabat.

Perbincangan dengan Kebamoto mengembalikan memori penulis pada pengalaman masa kecil. Saat itu kalau seseorang kedatangan tamu dan ternyata tamu itu tiba bersamaan dengan tuan rumah sedang makan, tuan rumah tidak akan serta-merta menyuguhi tamunya makanan yang sudah jadi. Sang tuan rumah akan bergegas memasak lagi dan menyembelih ayam atau babi untuk sang tamu. Di satu sisi hal ini sebagai simbol penghargaan terhadap tamu dan di sisi lain menunjukkan bahwa sang tua rumah juga memiliki harga diri. Dan hebatnya, ayam atau babi yang disembelih merupakan milik sendiri. Kini hal semacam ini nyaris tidak pernah ada lagi. Selain karena alasan penghematan dan pragmatis, juga dan terutama karena orang tidak memiliki hewan piaraan lagi, kalau pun ada, sudah dialokasikan untuk kebutuhan tertentu.

Seperti banyak suku lain, orang Sumba adalah orang memiliki gengsi atau harga diri. Hanya saja, acapkali gengsi tersebut diarahkan pada hal-hal yang kurang produktif. Seseorang misalnya, karena digerakkan oleh gengsi, dia rela soka teba (bawa kerbau ke pesta) dengan kerbau hasil hutang. Ketika berangkat ke pesta, sepanjang perjalanan ia menari-nari, menepuk dada dan menendang tanah sambil melambungkan lagu-lagu yang menggambarkan alasan dia meringankan langkahnya ke pesta. Ketika masuk ke kampung tujuan, tuan pesta menyambutnya dengan gegap gempita. Ketika pesta usai, dia pulang membawa daging dalam jumlah besar. Tapi apa yang terjadi saat sampai di rumah? Ternyata tidak ada beras dan tagihan hutang akan segera datang. Ini ironi atau bahkan tragika!

Kalau saja gengsi yang setinggi langit itu dikelola dengan baik, hasilnya akan berbeda. Dengan roh gengsi itu seseorang memasang patok janji akan menjadi orang berhasil dan karena itu dia harus bekerja keras. Sikap bangga itu perlu! Dan pesta itu sangat baik. Hanya saja harus diingat bahwa kebanggaan yang logis adalah kebanggaan atas hasil yang capai berkat kerja keras dan pesta yang digelar harus atas dasar keberhasilan yang otentik bukan keberhasilan “seolah-olah”. Misalnya berpesta karena keberhasilan anak dalam sekolah atau karena panen berlimpah.

Tidak mustahil menumbuhkan kembali sikap semacam ini. Pada zaman pemerintahan (kalau tidak salah Bupati Julius Pandango) ada pembelajaran yang baik, yakni kewajiban masyarakat untuk memiliki kebun dan bedeng-bedeng sayur. Menariknya, yang terkena kewajiban itu bukan hanya para petani tapi juga para pegawai yang memiliki bidang-bidang tanah. Hasilnya, orang hidup dari kebun sendiri tanpa bergantung pada momen hari Sabtu/ pasar. Yang tidak memiliki kebun akan mendapat sanksi. Sayangnya, semangat itu segera hilang karena kita lemah dalam konsistensi alias hanya panas-panas tai ayam.

Pemerintah saat ini harus mengembalikan lagi nilai luhur yang pernah dimiliki orang Sumba itu. Pemerintah juga harus bisa menjadi motivator bagi masyarakat. Tentu saja untuk ini Pemerintah harus menunjukkan contoh. Tidak seperti perda yang pernah kita tahu tentang pembatasan jumlah hewan yang disembelih untuk pesta. Rakyat dilarang menyembelih melebihi jumlah yang telah ditentukan. Tapi para pejabat dengan dada membusung melanggar secara tahu dan mau.

Pemerintah harus mampu mengelola “gengsi liar” yang tumbuh subur di antara masyarakat menjadi jinak dan tertata. Sebab tidak ada cara lain, Sumba harus dibangun dengan kekuatan dari dalam. Masyarakat Sumba yang kebanyakan petani harus bisa hidup dari tanah hitam secara cerdas. Dengan pendampingan dan bimbingan yang cerdas dari Pemerintah yang cerdas, masyarakat bisa produktif. Yakinlah! Masyarakat memiliki dasar kemampuan dan kemauan untuk maju. Ajak mereka secara sungguh-sungguh melihat kembali potensi yang mereka miliki dan yakinkan bahwa dengan itu mereka bisa maju dan bangkit dari kemiskinan. Masyarakat harus diajak untuk sibuk terlibat dalam aksi-aksi atau kerja-kerja yang produktif. Dengan begitu, tenaga dan pikiran mereka terserap secara terarah. Kalau sudah begitu, mana ada kesempatan merancang strategi untuk mencuri? Lebih dari itu tidak ada lagi yang harus dicuri sebab mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Kalau sudah begini, tugas Pemerintah menjadi ringan.

Menurut hemat penulis, keberhasilan keempat bupati (Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Tengah) sangat ditentukan oleh kemampuan mereka menekan angka pencurian dan membangkitkan jiwa kreatif dan kerja keras masyarakat. Pemerintah harus memberikan kenyamanan berusaha dan bekerja tanpa khawatir hasil jeri payah mereka sirna oleh kelakuan oknum-oknum tertentu yang “hanya mau enak” saja.
Sebab kalau situasi yang real hari ini telanjang dibiarkan berlarut-larut, akan tiba saatnya orang menjadi fatalis lalu beralih ramai-ramai menjadi pencuri. Bahkan bisa jadi nanti para bupati, camat, kapolres, para agamawan dan seterusnya akan ramai-ramai menjadi pencuri. Mungkin ini terasa ekstrim. Apa itu yang kita mau? Pasti tidak! Karena itu, mari berbenah!
 

Sabtu, 22 Januari 2011

TANGGAL PELAKSANAAN PASOLA KODI 2011 DITETAPKAN RATO

Pelaksanaan Pasola Kodi merupakan saat yang ditunggu banyak pihak pasalnya tradisi Pasola Kodi merupakan salah satu keunikan yang masih dipertahankan masyarakat Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur hingga saat ini.

Salah satu hal yang unik karna penentuan waktu pelaksanaan pasola kodi tidak mudah karna para Rato adat di Kodi harus melihat posisi bulan dan cuaca. proses ini cukup memakan waktu dan tidak bisa dijadwalkan reguler tanggal pelaksanaannya.

Akhirnya setelah para rato adat berunding kemudian melakukan pertemuan dengan Kepala Desa,Camat, Danramil dan Kapolsek setempat serta Pokdarwis Sabtu (22/01/2011) pelaksanaan Pasola tahun 2011  pun ditetapkan. Sumber Moripanet Online di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan SBD mengatakan Untuk tahun 2011 pelaksananaan akan berlansung di 5 tempat. Untuk bulan Februari 2011 di Homba Kalayo, Bondo Kawango dan Rara Winyo, sedangkan bulan Maret di Waiha dan Wainyapu.

Pelaksanaan seperti biasa akan di dimulai dengan pencarian Nyale (sejenis cacing laut) pada malam sebelum pelaksanaan Pasola. Banyaknya Nyale yang dikumpulkan dipercaya sebagai pertanda panenberhasil. Sebaliknya, kalau hanya sedikit cacing tertangkap maka panen gagal. Ada tanda-tanda tertentu sehingga tujuh ekor nyale saja yang harus diambil, tanda-tanda nyale di tujuh ekor ini berarti itu berlain-lainan, kalo dia belang bisa juga panen separuh bisa juga tidak namun bisa juga tetap jadi atau bisa juga ada yang tidak ada isi semua petak itu dll. Pelaksanaan Nyale merupakan saat penting yang menentukan nasib panen mereka satu tauhn kedepan. 

Pasola sendiri adalah “perang-perangan” yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda. Setiap kelompok terdiri lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak tumpul yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira1,5 cm. Lembing demi lembing dilempar supaya terkucur darah lawan, demi kemakmuran tanah. Tanpa dendam. Diiringi pekikan kuda dan sorakan penonton, kegembiraan menggema saat lembing mengenai sasaran.

Jauh sebelum Pelaksanaan Pasola, berbagai ritual adat sudah dijalankan, seperti sabtu siang (22/01/2011) dilaksanakan Kawoking yaitu sejenis tinju atau gulat lokal yang berlangsung di pantai Bokubani dan Tossi.  Bupati Sumba Barat Daya, Dr Kornelis K Mete menghimbau seluruh Pegawai Negeri Sipil dan warga SBD yang ingin menyaksikan Pasola Kodi agar datang menggunakan pakaian motif daerah SBD. (snd)

Berikut jadwal lengkap pelaksanaan pasola KODI

 Tanggal                         Tempat Pelaksanaan
24 Februari 2011               Homba kalayo
27 Februari 2011               Bondo kawango.
28 Februari 2011               Rara Winyo.
25 Maret 2011                   Waiha.
26 Maret 2011                   Wainyapu


Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan SBD

AKTIFITAS BANDARA TAMBOLAKA KEMBALI NORMAL


Aktifitas Bandara Tambolaka , Sumba Barat Daya yang sejak Jumat (21/01/2011) sempat lumpuh karena mobil pemadam kebakaran yang ditarik kembali Pemerintah Daerah (Pemda) Sumba Barat, hari ini (22/01/2011) kembali normal.

Sumber Moripanet Online di bandara Tambolaka mengatakan hari ini aktifitias di bandara Tambolaka sudah kembali  normal karna mobil pemadam kebakaran sudah dikirim Pemda Sumba Barat ke bandara. 
Sementara itu sumber Moripanet Online di Pemda SBD mengatakan normalnya kembali bandara merupakan hasil lobi dari Bupati Sumba Barat Daya, Dr Kornelis K. Mete ke Bupati Sumba Barat Jubilate Pandango, SPd, M.Si.

Jam 11.25 siang tadi mobil pemadam kebakaran memasuki areal bandara Tambolaka, dengan masuknya mobil pemadam kebakaran berarti Aviastar, Wings Air dan Penas Air sudah bisa melakukan penerbangan dan pendaratan di bandara tambolaka karena mobil pemadam kebakaran menjadi salah satu syarat untuk bisa melakukan aktifitas penerbangan di Bandara. Namun Bupati Pandango tidak mengizinkan Merpati Airlines untuk menggunakan fasilitas mobil pemadam kebakaran sehingga Merpati Airlines kemungkinan tidak akan mendarat di Tambolaka dan penerbangannya masih dialihkan di bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu.

Bupati Sumba Barat Daya  Dr Kornelis K. Mete yang sebelumnya akan turun di bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu, siang ini akan langsung turun di bandara Tambolaka dari Denpasar menggunakan pesawat Aviastar. Bupati Sumba Barat  Jubilate Pandango, juga rencananya selasa (24/01/2011) akan turun di Tambolaka menggunakan pesawat Aviastar.

Seperti diberitakan sebelumnya Bupati Sumba Barat Yubi Pandango yang kecewa karna pesawatnya Merpati Airlines yang akan ditumpanginya di cancel Kamis (20/01/2011). Cancelnya pesawat ini diduga menjadi pemicu kekecewaann Pandango, Pasalnya dirinya sudah melakukan chek in sejak pukul 16.00 WITA dan menunggu lama di ruang tunggu VIP bandara hingga pukul 18.30 WITA namun ternyata pesawat Merpati Airlines di cancel karna ada kerusakan teknis. Pandango kemudian memerintahkan untuk menarik kembali mobil pemadam kebakaran di bandara Tambolaka. penarikan mobil pemadam kebakaran tersebut menyebabkan seluruh maskapai yang beroperasi di Tambolaka tidak dapat melakukan aktifitasnya dan bandara sempat ditutup.(snd)

BANDARA TAMBOLAKA DITUTUP

Sejak jumat kemarin (21/01/01) bandar udara atau bandara tambolaka Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur ditutup. seluruh penerbangan dari dan ke Tambolaka tidak beroperasi, satu penerbangan Penutupan bandara ini tidak disebabkan cuaca buruk karna cuaca Jumat kemarin di Tambolaka sangat cerah.

Berdasarkan infomasi yang diperoleh Moripanet Online dari sumber terpercaya, Penutupan ini dikarenakan Bupati Sumba Barat Jubilate Pandango, SPd, M.Si menarik kembali mobil pemadam kabakaran. Selama ini mobil pemadam kebakaran yang beroperasi yang beroperasi di bandara Tambolaka adalah milik Pemerintah Daerah (Pemda) Sumba Barat.

Penarikan mobil pemadam kebakaran ini berawal ketika Bupati Sumba Barat Yubi Pandango akan melakukan penerbangan ke Jakarta melalui bandara Tambolaka menggunakan pesawat merpati airlines  Kamis (20/11/2011) namun karena ada kendala teknis pada pesawat merpati airlines yang akan ditumpanginya, penerbangan kemudian di cancel.

Cancelnya pesawat ini diduga menjadi pemicu kekecewan Pandango, karna dirinya sudah melakukan chek in  pukul 16.00 WITA dan menunggu lama di ruang tunggu VIP bandara hingga Pukul 18.30 WITA namun ternyata pesawat Merpati Airlines di cancel karna ada kerusakan teknis. Pandango kemudian memerintahkan untuk menarik kembali mobil pemadam kebakaran di bandara Tambolaka. penarikan mobil pemadam kebakaran tersebut menyebabkan seluruh maskapai yang beroperasi di Tambolaka yaitu, Merpati Airlines, Aviastar Wings Air dan Penas Air tidak bisa melakukan penerbangan dan pendaratan di bandara tambolaka dan aktifitas penerbangan lumpuh total, karena mobil pemadam kebakaran menjadi salah satu syarat untuk bisa melakukan aktifitas penerbangan di Bandara.

Andi salah satu penumpang yang akan berangkat jumat kemarin mengatakan kecewa dengan sikap Bupati sumba barat karena banyak penumpang yang diterlantarkan akibat penarikan mobil pemadam kebakaran tersebut. Sampai berita ini diturunkan bandara masih ditutup untuk umum. (snd)

Minggu, 16 Januari 2011

DISCOVER SBD : PABETI LAKERA KEINDAHAN YANG TERSEMBUNYI DIBAWAH BUKIT


Minggu siang (16/01/2011) sekelompok anak muda yang menamakan dirinya “Group Discover SBD (Sumba Barat Daya), bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Mereka adalah anak muda yang ingin menemukan Sumba Barat Daya (SBD) dari sudut pesona wisatanya baik alam, pantai maupun budayanya.

Kali ini Moripanet Online diajak untuk mengunjungi air terjun Pabeti Lakera, bersama 5 orang anggota groupnya, Doni Wungo, Yusdi Yudi, Indri, Dedik dan Sandro Dandara.

Air terjun Pabeti Lakera berada di Desa Delo, Tena Teke Kecamatan Wewewa Selatan Kabupaten SBD, jaraknya kurang lebih 35 kilometer dari Waitabula, Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya.

Tepat pukul 10.00 Wita, group discover SBD berangkat dari Waitabula menggunakan kendaraan roda dua. Setelah kurang lebih 20 menit perjalanan kami berhenti di salah satu toko di Waimangura Kecamatan Wewewa Barat untuk membeli air mineral dan beberapa snack untuk persiapan di air terjun nanti.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan, namun sayangnya karena cuaca kurang mendukung, ketika sampai di Desa Kabali Dana Wewewa Barat kami diguyur hujan lebat, kami pun berhenti untuk berteduh di salah satu rumah warga. Kurang lebih 15 menit kami menunggu hingga hujan reda, akhirnya kami bisa kembali melanjutkan perjalanan.

Di sepanjang perjalanan kami melewati Desa Kabali Dana, jejeran pohon kopi menjadi salah satu pemandangan menarik, berkebun kopi memang menjadi salah satu sumber pendapatan masayarakat di Desa Kabali Dana.

Memasuki Tenateke Kecamatan Wewewa Selatan, kami mejumpai hamparan sawah dengan padi yang hijau. Indri yang berada mengedarai kendaraan di urutan terdepan menoleh ke arah kami dan dengan sedikit berteriak mengatakan “Indah Ya…”, kami pun mengangguk tanda setuju karna dari suasananya kami merasa seperti berada di tanah lot Bali. Sayangnya jalan disini sudah rusak, banyak jalan berlubang hamper di sepanjang jalan yang kami lewati.

Setelah memasuki Desa Delo dan melewati PUSTU Delo kami tiba di persimpangan. Kami pun berbelok ke kanan yang menuju Air terjun Pabeti Lakera. Jalannya masih pengerasan dengan tanah putih, sepanjang jalan kami harus hati-hati karena banyak kerikil lepas di sepanjang jalan dan juga karena jalannya yang menurun.

Kami Akhirnya tiba di ujung jalan pengerasan dan tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan dengan motor yang kami gunakan. Kami akhirnya memilih memarkir motor dan melanjutkan dengan jalan kaki tapi karena indahnya pemandangan dari tempat kami memarkir motor, kami memilih untuk mengabadikan moment itu dalam beberapa bidikan kamera.

Perjalan selanjutnya kami tempuh dengan jalan kaki. Kami menyusuri jalan dan menuruni beberapa anak tangga alami yang dibuat masyarakat sekitar. Kami harus berhati-hati karena hujan baru saja reda sehingga kondisi tanahnya licin.


Sampai juga kami di terjun pertama dari air terjun Paberi Lakera, ini karena Air Terjun Pabeti Lakera memiliki 4 terjun. Di terjun pertama ini tinggi terjunnya sekitar 6 meter, karena belum banyak dikunjungi tempat ini masih sangat alami. Kami kembali mengabadikan moment itu dengan beberapa bidikian lagi, dedik tidak menunggu lama ia pun segera membasahi kepalanya hingga seluruh tubuhnya basah kuyub. Dengan antusias ia meminta untuk difoto persis dibawah air terjun.

Hampir 15 menit kami menikmati terjun pertama, kami pun memutuskan untuk menuju ke terjun ke dua. Ternyata kami harus kembali menuruni puluhan anak tangga alami untuk bias sampai di terjun ke dua. Karena rasa penasaran kami pun menuruni semua anak tangga itu dan sampai di terjun kedua.


Doni yang sejak tadi belum basah langsung berenang begitu tiba di terjun kedua, ini karena tempatnya strategis untuk bisa berenang. Tinggi terjun di terjun ke dua ini kurang lebih 23 meter. Dari terjun ke dua ini kita sudah bisa langsung melihat terjun yang ketiga dan empat yang berada dibawahnya.

Di terjun ke dua kami memilih untuk tinggal lebih lama karna Doni, Sandro dan dedik memilih untuk berenang. Sedangkan Yudi dan indri memilih untuk berfoto di pinggiran terjun.

Setelah puas menikmati keindahan air terjun Pabeti Lakera kami pun memilih kembali ke Waitabula. Sebelum pulang kami kemudian memungut beberapa sampah plastik berharap semoga kebersihan di air terjun Pabeti Lakera ini bisa terus dijaga.

That’s our story for this week. Sampai jumpa minggu depan di tempat indah lainnya di SBD. (snd)

Tips bagi yang ingin mengunjungi Air Terjun Pabeti Lakera

1.Sebelum berangkat cek kendaraan anda utamanya rem dan ban dan ketersediaan bensin
2. Gunakanlah sandal/sepatu yang bisa melewati jalan yang licin
3. siapkan bekal yang cukup karna untuk membeli sangat jauh sekali
4. Parkirlah motor di rumah warga terdekat, karna motor harus ditinggal
5. Jika tidak bisa berenang sebaiknya cukup di pinggiran saja karna ada beberapa bagian yang cukup dalam.
6. Jagalah Kebersihan! Jangan membuang sampah dan kumpulkan kembali sampah plastik anda ketika akan pulang.

Jumat, 14 Januari 2011

DBD SERANG SBD


Jika selama ini kita lebih banyak mendengar tentang penyakit malaria di Sumba Barat Daya (SBD) maka warga SBD sudah harus mulai waspada dengan penyakit lain yang masuk ke SBD, karna baru baru ini ditemukan 10 pasien suspect Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) di Rumah Sakit Karitas Weetabula .

Hal tersebut dibenarkan Direktris Rumah Sakit Karitas Weetabula, Suster Sili Bouka, ADM yang ditemui MORIPANET ONLINE diruang kerjanya kamis (13/01/2001). 

Sr. Sili mengatakan, sebelumnya tidak pernah ada kasus DBD di Sumba Barat Daya, namun beberapa waktu terakhir banyak pasien khususnya anak-anak yang datang dengan demam serta suhu badan panas yang merupakan gejala klinis demam berdarah. diantaranya bintik merah,  demam bahkan tanpa bintik, panas tinggi bisa naik/bisa turun atau tidak turun sama sekali,  menggigil dan terasa ngilu tulang, dll. Kemudian setelah dilakukan tes laboratorium beberapa diantaranya positif DB yang dibuktikan dengan trombosit yang rendah

Sr. Sili Menambahkan, untuk menegakkan diagnosa, pihaknya belum bisa memastikan apakah turunnya trombosit disebabkan demam berdarah atau faktor penyakit lain. Karna hampir semua pasien tersebut datang dengan penyakit penyerta lain seperti malaria, animea dll.

Namun menurut Sr. Sili, jika berdasarkan hasil pemeriksaan khusus demam berdarah di laboratorium maka ada 10 pasien yang suspect demam berdarah, 2 diantaranya yang masih anak-anak meninggal dunia.

Sr. Sili melanjutkan, untuk mencegah dan mengantisipasi kejadian luar biasa (KLB) DBD pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumba Barat Daya, dan pihak Dinkes  SBD sudah melakukan investigasi kasus.

Sr. Sili menjelaskan, koordinasi dengan Dinkes SBD khususnya diawal ini untuk menegakan diagnosa dan membuat report. Salah satunya dengan melakukan pengambilan sample darah dari anak-anak yang serumah dengan pasien suspect DBD yang sudah meninggal dunia dan darah tersebut sudah dikirm ke Kupang untuk diperiksa.

Ditanya tentang bagaimana penyakit DBD bisa masuk ke SBD, Sr. Sili menduga melalui perpindahan atau transportasi manusia yang tidak sakit DBD tetapi dalam darahnya terdapat virus dengue karna mungkin berasal dari daerah epidemi DBD kemudian datang ke SBD.

Sr. Sili berharap untuk mengatasi berjangkitnya penyakit DBD, karna penyebabnya hampir sama dengan malaria yaitu nyamuk maka masyarakat Sumba Barat Daya diminta tetap melakukan 3M seperti yang selalu disosialisasikan yaitu menguras, menutup, dan mengubur. Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang melekat pada dinding bak mandi. Menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk bertelur. Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan dan dijadikan tempat nyamuk bertelur. (snd)


      Data Pasien Suspect Demam Berdarah (November 2010 – Januari 2011) 
Nama Kecamatan Jumlah Pasien Suspect DBD Kategori usia
Loura         7 Anak-anak dan dewasa (2 anak-anak meninggal dunia)
Kodi Utara        1 Dewasa
Kodi        1 Balita
Wewewa Selatan        1 Dewasa
   Sumber : R.S Karitas Weetabula

Kamis, 13 Januari 2011

Manusia Raksasa Sumba, Mungkinkah Pernah Hidup?

Ilustrasi
Dari tiga puluh cerita rakyat Sumba Timur yang berhasil penulis himpun belum lama ini, sebagian besar bercerita tentang mulimongga (manusia raksasa), tentang meurumba (singa dan harimau). Di Sumba Barat ada cerita tentang gajah.

Dalam image orang Sumba diyakini, bahwa manusia raksasa itu memiliki tinggi badan 4 meter, dan sekali melangkah bisa mencapai beberapa ratus meter. Ini sebuah hiperbolisme tentunya, mengingat Homo Neanderthal yang ditemukan di Dusseldorf Jerman Barat pada 1856 mempunyai tinggi badan hanya 210 cm, berat badan 150 kg, serta volume otak 2000cc (orang Eropa modern 1480-1550 cc).

Manusia raksasa Sumba Barat disebut maghurumba atau meurumba, sedangkan di Sumba Timur disebut mulimongga dengan ciri-ciri bulu panjang, gigi sebesar kapak, sekali melangkah beberapa ratus meter, karena itu suku Kambera menyebutnya “punggu pala” yang artinya potong kompas.

Sifat-sifat manusia raksasa Sumba, bodoh, takut anjing, takut mendengar suara tokek, kanibalistis. Hal ini mengingatkan kita pada Homo Soloensis yang hidup 429.000 – 236.000 tahun yang lalu, yang menurut Dr. Frans Dahler dalam bukunya Asal dan Tujuan Manusia juga kanibalis. Kecuali itu tutur kata manusia raksasa Sumba dikatakan belum sempurna sama seperti anak-anak yang beru belajar berbicara, mengingatkan kita pada Homo Neanderthal yang hidup 250.000 tahun yang lalu juga halnya sama.

Beberapa cerita burung Sumba Timur menyebutkan, sekitar tahun 1927 masih ditemukan satu mulimongga di Desa Komba Pari Kecamatan Lewa, kemudian juga di Kecamatan Mangili, bahkan ada marga Mangili menyebutkan bahwa mereka turunan mulimongga. Sekitar 25 tahun yang lalu di Desa Watumbelar, kecamatan Lewa dikhabarkan ditemukan rangka manusia yang tinggi badannya 4 meter.

Di Kecamatan Kodi Sumba Barat Daya, dekat tanjung Keroso ada nama tempat Maghurumba. Diyakini di sinilah kuburan manusia raksasa yang angker, kerena itu kalau liwat ke situ tidak boleh menyebut-nyebut namanya agar tidak mendapat bencana. Di Sumab Timur ada juga tempat yang disebut Meurumba, namun secara etimologis/etiologis nama itu mengandung arti kucing hutan raksasa yang merupakan gambaran singa dan harimau , sehingga besar kemungkinan di Sumba pernah hidup singa, harimau dan gajah. (Baca: Belum Saatnyakah Teori Wallace Itu Ditinjau Kembali?/Frans W. Hebi, Dian no.5 Th XI, 10-8-1984).

Ada jenis raksasa lain dalam cerita Kodi yang disebut lengga ghughu (kuku panjang dan lengkung) yang ada kesamaannya dengan raksasa Jawa 600.000 tahun yang lalu. Lengga Ghughu sudah bisa bertutur kata secara sempurna tetapi masih bodoh sehingga diperdaya oleh dua anak kecil yang ibunya dibunuh raksasa itu. Lengga Ghughu membakar ubi di bawah pahon, sementara dua anak malang berada di atas pohon. Semua ubi yang kecil dimakan lebih dahulu oleh raksasa tadi, yang besar ditaruh di belakang. Anak-anak menjolok semua ubi yang di belakang. Ketika raksasa berpaling ke belakang untuk mengambil ubi-ubi yang besar, ternyata tidak ada satupun yang tersisa.

Raksasa yang bodoh mencurigai semua anggota tubuhnya kalau-kalau mereka yang berbuat curang. Ditanyainya satu per satu kemudian dijawab sendiri olehnya. Misalnya, “belakang, kaukah yang mencuri ubi saya?”. “Tidak, saya malaham berkorban ditimpa matahari ketika kau menggali ubi”, sendiri menjawab. Setelah semua anggota tubuh ditanyai, kecuali pantat, Lengga Ghughu berkesimpulan bahwa pantatlah yang berbuat curang, dan karenanya tidak perlu ditanyai lagi. Dia meruncing batang tamiang yang ujungnya dimasukkan ke pantat seraya menusuk-nusukkannya hingga tewas.

Masih banyak cerita raksasa Sumba. Darimana makhluk-makhluk itu? Sebenarnya bukan hanya Sumba yang memiliki mitos tentang manusia raksasa. Hampir di seluruh dunia. Di India namanya Yeti, di Cina Meh-The, Kaptar dari Rusia, Alma dari Mongolia, dan Bigfoot dari Amerika Utara.

Menurut para ahli purbakala, empat kali bumi mengalami pencairan es. Jaman es pertama dimulai 600.000 hingga 500.000 tahun yang lalu. Jaman es kedua, 480.000 hingga 420.000. Jaman es ketiga dan keempat (terakhir) berlangsung antara 230.000 – 180.000, dan 180.000 – 10.000 tahun yang lalu. Dalam keadaan es manusia purba cenderung mencari daerah yang lebih panas antara lain ke Indonesia yang kerika itu masih sedaratan dengan benua asia. Dapat dimengerti mengapa begitu banyak fosil manusia purba di Indonesia, khususnya di Jawa seperti Manusia Solo (Homo Soloensis), Manusia Trinil, Manusia Sangiran, dan Manusia Majokerto.

Kiranya menusia-manusia inilah yang dimitoskan dan dijelmakan dalam dongeng-dongeng orang Sumba. Raksasa Jawa misalnya, ditafsirkan hidup antara 600.000 – 543.000 tahun yang lalu (jaman es pertama), ternyata seumur dengan Manusia Australopithecus Boisei di Tanzania Afrika Selatan hasil temuan Dr. Leaky.
Contoh lain, gajah yang disebut-sebut dalam dongeng Sumba, ternyata bukan sekadar dongeng. Pada 26-8-1978 tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkheologi Nasional Jakarta yang terdiri dari Dr.R.P.Soejono Rokhus Due Awe, Agung Sukardjo, Suroso, serta Dr. Sartono dari Departemen Geologi Institut Teknologi Bandung, menemukan mandibula (rahang) gajah. Stegedon ini ditemukan di Watumbaka 14 km dari Waingapu. Oleh Sartono dalam artikelnya, “Penemuan Fosil Stegedon di Pulau Sumba (NTT)” dinamakannya Stegedon Sumbaensis. Itu merupakan rentetan penemuan stegedon Sompoensis Sulawasi (1964), Stegedon Timorensis dari Timor (1969), Stegedon Trigonocephalus Florensis dari Flores (1975), dan Stegedon Mindanensis dari Mindanau Filipina. (Amerta Berkala Arkheologi Nasional Jakarta 1981, hl. 54)

Mendahului penemuan di Watumbaka, pada tahun 1977 di kecamatan Lewa, ketika Kornelis Ng. Bani menggali sumur, dia menemukan fosil gajah pada kedalaman 4,64 meter. Begitu pula ketika menggali sumur yang dekat sumur lama pada tahun1981 dan 1982 lagi-lagi dia menemukan fosil yang sama dengan gadingnya dalam bentuk mini. Fosil-fosil ini dikirim ke Jakarta untuk diteliti. Kornelis menyimpan satu gigi geraham dengan ukuran 75 mm, tinggi 80 mm dan lebar 30 mm.

Dari Jakara lewat Kepala Bagian Kebudayaan Kab. Sumba Timur, Panji Manu, diperoleh berita bahwa fosil di Lewa menunjukkan jenis gajah kerdil yang hidup 45.000 tahun yang lalu, dan di tempat penemuan itu dulunya rawa-rawa. Hasil temuan fosil gajah baik di Watumbaka maupun di Lewa, termasuk Stegedon- Stegedon di Indonesia Timur lainnya, sebenarnya membuktikan bahwa teori Wallace yang dikenal dengan garis khayalnya yang membagi dunia fauna Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur tidak berlaku lagi.

Jika temuan rangka purba di Kecamatan Rindi Kab. Sumab Timur tahun 2005 lalu membawa hasil, berarti Homo Sumbaensis akan menambah khazana perfosilan di Indonesia. Selain itu apa yang menjadi mitos selama ini akan menjadi kenyataan seperti halnya dengan dongeng tentang gajah. Tapi, hingga saat ini belum ada berita balik, baik dari Bandung maupun dari Jakarta tentang hasil penelitian tersebut.

SUMBER : http://www.waingapu.com/manusia-raksasa-sumba-mungkinkah-pernah-hidup.html

Rabu, 12 Januari 2011

SMP KRISTEN WAIMANGURA, KEKURANGAN RUANG KELAS

Anderias L Bole 




Menciptakan suasana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang efektif tentunya di dukung oleh berbagai faktor salah satunya jumlah siswa yang mengikuti KBM per kelasnya.  Namun tidak demikian yang terlihat di SMP Kristen Waimangura, siswa yang mengikuti KBM melebihi 45 siswa per kelasnya.

Kepala Sekolah SMP Kristen Waimangura, Anderias L. Bole yang ditemui MORIPANET ONLINE senin (11/01/2011) mengatakan, Efektifitas KBM terkendala karena kekurangan ruang kelas.

Anderias menjelaskan, jumlah siswa saat ini 390 orang sedangkan kelas yang tersedia hanya 8 kelas dengan ukuran 6m x 8m dan 7m x 9m . dari 8 ruangan yang ada, 3 kelas untuk kelas 1, 2 kelas untuk kelas 2 dan 3 kelas untuk kelas 3 sedangkan 1 ruangan lainnya dijadikan ruang guru sekaligus ruang kepala sekolah dan ruang tata usaha karna keetrbatasan ruangan.

Anderis menyebutkan, untuk kelas 1 terdapat 56 siswa yang mengikuti KBM per kelasnya sedangkan kelas 2 terdapat 47 Siswa per kelasnya sementara kelas 3 kelas A, 47 siswa, kelas B, 39 siswa dan kelas C, 38 Siswa.

"dengan jumlah siswa diatas 45 per kelasnya bagaimana siswa bisa konsentrasi dan guru bisa efektif mengajar, padahal standar nasional agar KBM bisa efektif itu hanya 38 siswa" Ujar Anderias

Anderias mmenambahkan, pihaknya sudah mengusulkan soal kekurangan ruang kelas lewat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Sumba Barat Daya. Saat itu pihaknya mengusulkan 2 Ruang Kelas Baru (RKB), 1 perputakaan dan 1 laboratorium IPA, yang terealisasi di anggaran 2010 hanya gedung perpustakaan.

"anggaran tahun 2010 ini hanya perpustakaan yang terealisasi, sedangkan untuk 2 RKB yang sangat dibutuhkan belum. semoga bisa terelasisasi di anggaran tahun 2011 ini" ungkap anderias

Anderias melanjutkan, sebenarnya SMP Kristen waimangura hanya akan menerima 80 siswa pada tahun anggaran 2010/2011 karna menyadari keterbatasan ruang kelas dan itupun sudah diseleksi melalui tes, namun melihat realitas tingginya antusias siswa yang lulus dari 10 SD di Waimangura dan sekitarnya karna program sekolah gratis dan  menyadari adanya wajib pendidikan dasar 9 tahun maka pihaknya menerima 176 siswa.

"Di Waimangura hanya ada SMP Kristen dan SMPN 1 Wewewa Barat sedangkan ada 10 Sekolah Dasar yang rata rata kelulusannya 100 persen. kalau kita batasi penerimaan, yang lain mau sekolah dimana?" lanjut Anderias

Anderias berharap persoalan kurangnya ruang kelas ini bisa menjadi perhatian pemerintah karena efektifitas KBM sangat mempengaruhi kelulusan siswa, apalagi tahun ini tingkat kelulusan SMP Kristen hanya 60 persen. Anderias juga khawatir lulusan Sekolah Dasar tahun ajaran 2010/2011 tidak bisa tertampung lagi di SMP Kristen Waimangura karna kurangnya ruang kelas. (snd)

Selasa, 11 Januari 2011

Pasola, Tragedi Asmara di Padang Savana

Membedah pulau Sumba terbesit pesan Sumba adalah pulaunya para arwah. Di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi. Nama Sumba atau Humba berasal dari nama ibu model Rambu Humba, istri kekasih hati Umbu Mandoku, salah satu peletak landasan suku-suku atas kabisu-kabisu Sumba. Dua pertiga penduduknya adalah pemeluk yang khusuk berbakti kepada arwah para leluhurnya, khususnya kepada bapak besar bersama, sang pengasal semua suku. 

Marapu menurut petunjuk dan perhitungan para Rato, Pemimpin Suku dan Imam agung para Merapu. Altar megalithic dan batu kuburan keramat yang menghias setiap jantung kampung dan dusun (paraingu) adalah bukti pasti akan kepercayaan animisme itu.

Sumba, pulau padang savana yang dipergagah kuda-kuda liar yang kuat yang tak kenal lelah menjelajah lorong, lembah dan pulau berbatu warisan leluhur. Binatang unggulan tingkatan mondial itu semakin merambah maraknya perang akbar pasola, perang melempar lembing kayu sambil memacu kuda, untuk menyambut putri nyale, si putri cantik yang menjelma diri dalam ujud cacing laut yang nikmat gurih. 

Pasola berasal dari kata `sola’ atau `hola’, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. 

Pasola diselenggarakan setahun sekali pada bulan Februari di Kodi, Sumba Barat Daya dan Lamboya, Sumba Barat . Sedangkan bulan Maret di Wanokaka, Sumba Barat. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum.  Sedangkan peserta permainan adalah pria pilih tanding dari kedua Kabisu yang harus menguasai dua keterampilan sekaligus yakni memacu kuda dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka pesta nyale. 

KISAH TIMBULNYA PASOLA
Menelurusi asal-usulnya, pasola berasal dari skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba sebagaimana dikisahkan dalam hikayat orang Waiwuang. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi. Setelah dinanti sekian lama dan dicari kian ke mari tidak membuahkan hasil, warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan belasungkawa atas kepergian kematian para pemimpin mereka. 


Dalam kedukaan mahadahsyat itu, janda cantik jelita `almarhum’ Umbu Dulla, Rabu Kaba mendapat lapangan hati Teda Gaiparona, si gatot kaca asal Kampung Kodi. Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih. 

Namun keluarga tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. Janda cantik jelita Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya. Sementara ketiga pemimpin warga Waiwuang kembali dan Warga Waiwuang menyambutnya dengan penuh sukacita. Namun mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. “Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,” jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang mabuk kepayang itu. Keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.

Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona dan tidak ingin kembali. Ia meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.

Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga Waiwuang, Kodi dan Wanokaka Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola.

Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur.

Pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu. Hal ini sangat jelas pada pelaksanaan pasola, pasola diawali dengan doa semadhi dan Lakutapa (puasa) para Rato, foturolog dan pemimpin religius dari setiap kabisu terutama yang terlibat dalam pasola. 

Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma baik yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.

Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan terutama Umbu Dulla yang punya istri.

Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona. Keluarga Kodi sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena ditinggalkan Rabu Kaba.

Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Permainan jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana yang ampuh. Apalagi bagi kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.

Selama pasola berlangsung semua peserta, kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat menjalin persahabatan dan persaudaraan.

Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau. Olehnya pemerintah turut mendukung dengan menjadikan pasola sebagai salah satu `mayor event.

Senin, 10 Januari 2011

STKIP WEETABULA RAYAKAN NATAL BERSAMA

Tambolaka, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Weetabula sabtu 8/01/2011 sore merayakan Natal bersama yang dipusatkan di aula SMU Santo Alfonsus Weetabula.

Ibadah Natal bersama yang mengambil tema 'Lalui Natal Bersama Kita Mewujudkan Cinta dan Damai Sejati' ini dipimpin oleh Romo Stef Tamo Ama, Pr dan Ibu Pendeta Irene Takandjanji, S.Th 

Acara Natal bersama STKIP Weetabula dimeriahkan dengan paduan suara ,  tarian daerah, fragmen dan vocal group yang semuanya di bawakan mahasiswa STKIP Weetabula.

Walaupun selama perayaan Natal bersama Listrik sempat padam tiga kali  karna hujan lebat namun perayaan Natal bersama STKIP Weetabula tetap berlangsung dengan hikmat.


Hadir dalam perayaan Natal bersama STKIP Weetabula, Bupati Sumba Barat Daya (SDB), Dr Kornelis Kodi Mete dan SEKDA Sumba Barat Daya, Drs Antonius Umbu Zasa, Rektor STKIP Weetabula, Ir Norbert Ama Ngongu, MP dan undangan dari berbagai sekolah. (snd)

CERITA RAKYAT SBD : LONA KAKA DAN LONA RARA

Lona Kaka dan Lona Rara adalah dua orang kakak-beradik yang tinggal di Desa Bukambero, Kodi, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur , Indonesia. Di mana pun pergi, kedua kakak-beradik tersebut senantiasa selalu bersama dan saling membantu. 

Pada suatu hari, sang Adik, Lona Rara, sangat marah kepada kakaknya, sehingga berniat untuk menghilangkan nyawanya. Mengapa Lona Rara sangat marah kepada kakaknya? Berhasilkah ia menghabisi nyawa kakaknya. Ikuti kisahnya dalam cerita  Lona Kaka dan Lona Rara  berikut ini


Alkisah, di Desa Bukambero, Kodi, Sumba Barat, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anak gadisnya. Yang sulung bernama Lona Kaka, sedangkan si bungsu bernama Lona Rara. Kedua kakak-beradik tersebut senantiasa mendapat perlakuan yang sama dari orang tua mereka. Namun, Lona Kaka selalu iri hati jika Lona Rara meraih sebuah keberhasilan. Ia pun selalu berusaha untuk mencelakai adiknya itu jika memperoleh keberhasilan.
Pada suatu hari, ketika Lona Rara mendapat hadiah dendeng istimewa dari orang tua mereka karena berhasil memenangkan lomba menumbuk padi, Lona Kaka bermaksud untuk merampas dendeng itu dari tangan adiknya. Untuk itu, ia membujuk adiknya agar mau menemaninya mengambil air di sungai. Ia pun menyuruh adiknya untuk berjalan di depannya. Dengan begitu, ia akan lebih mudah mengambil dendeng itu tanpa sepengetahuan adiknya.
"Adikku! Maukah kamu menemani Kakak mengambil air di sungai?" bujuk Lona Kaka.
"Baiklah, Kak!" jawab Lona Rara menuruti bujukan kakaknya. 

Keduanya pun berjalan menuju ke sungai sambil memikul dua buah wadah air yang terbuat dari bambu. Lona Rara berjalan di depan, sedangkan Lona Kakak mengikutinya dari belakang. Tanpa curiga sedikit pun, Lona Rara menyimpan dendengnya di wadah airnya yang belakang. Beberapa kali Lona Kaka berusaha untuk mengambil dendeng itu, namun tidak berhasil karena selalu ketahuan Lona Rara. Meski begitu, Lona Kaka tidak kehabisan akal. Setibanya di sungai, ia segera turun ke sungai mendahului adiknya untuk mengambil air. Setelah mengisi wadah airnya hingga penuh, ia kembali naik ke darat dan menyandarkan wadah airnya pada sebuah batang pohon.
"Adikku, Kakak sudah selesai. Kini giliranmu untuk mengisi wadah airmu. Sini Kakak bantu membawakan dendengmu agar kamu dapat mengambil air dengan leluasa!" ujar Lona Kaka.
Lona Rara pun menyambut baik tawaran kakaknya. Setelah menitipkan dendeng miliknya kepada Lona Kaka, ia segera turun ke sungai untuk mengambil air. Namun, baru mengisi setengah wadah airnya, tiba-tiba ia mendengar kakaknya berteriak.
"Rara...! Rara..! Dendengmu dicuri dan dibawa lari anjing!" teriak Lona Kaka seraya mengejar anjing itu. 

Rupanya, Lona Kaka sengaja memberikan dendeng milik adiknya ke anjing itu, lalu berpura-pura mengejarnya. Lona Rara yang mendengar teriakan kakaknya segera naik ke darat dan membiarkan tempat airnya tergeletak di pinggir sungai. Melihat kakaknya mengejar anjing itu, ia pun turut mengejar hingga ke tengah hutan. Tanpa disadarinya, ternyata kakaknya telah pergi meninggalkannya. Sementara ia terus menyusuri hutan lebat itu hingga hari menjelang malam, namun ia tidak menemukan anjing yang membawa dendengnya.
Saat akan kembali ke rumahnya, ia tersesat. Ia berjalan menyusuri hutan itu mengikuti ke mana arah kakinya melangkah hingga akhirnya menemukan sebuah sungai dan memutuskan untuk beristirahat. Ia duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai sambil bernyanyi mengungkapkan kekesalannya terhadap tindakan kakaknya.

Ou kaagu pamanawaragu
Pa balimu lolokingga neghe
Mu gaiga zauwa kako kanua
Ou Gela wuamaroto padua pogawa atenggu
Gaika ku bali waina


Ou kakakku yang kucinta 
Mengapa kau membuat aku begini 
Membiarkan aku jalan sendiri 
Ou Gela Wuamaroto berilah aku kedamaian 
Tuntunlah aku kembali ke rumah 

Usai bernyanyi, Lona Rara membuka pakaiannya yang sudah kotor lalu mencucinya dan mandi. Saat sedang asyik mandi, tiba-tiba ia melihat sebatang pohon jeruk yang berbuah lebat tumbuh di tepi sungai. Setelah melihat di sekelilingnya dan tidak melihat adanya orang lain di sekitar itu, ia segera memetik satu buah jeruk untuk dijadikan pewangi tubuh. Betapa terkejutnya ia ketika membelah buah jeruk itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan dan gagah di hadapannya. Ia pun langsung menjerit karena ia masih dalam keadaan tanpa busana. Ia sangat malu, karena pemuda itu telah melihat bagian tubuhnya yang selama ini ditutupinya. Menyadari hal itu, dengan kesaktiannya, pemuda tampan itu segera memberikan sebuah kain tenun Sumba yang indah kepada Lona Rara. Lona Rara pun segera memakai kain tenun itu untuk menutupi tubuhnya.
"Hai, pemuda tampan! Kenapa engkau tiba-tiba muncul dari dalam buah jeruk itu?" tanya Lona Rara dengan malu-malu.
"Maaf, Putri! Bukankah Putri sendiri yang meminta bantuan kepadaku?" jawab pemuda itu sambil menunduk untuk memberi hormat di hadapan Lona Rara.
"Siapa sebenarnya engkau ini?" Lona Rara kembali bertanya.
"Saya adalah Gela Wuamaroto seperti yang Putri dendangkan dalam lagu itu. Saya datang untuk mengantar Putri pulang ke rumah dan memberikan ketenteraman kepada Putri," ujar pemuda tampan yang mengaku bernama Gela Wuamaroto. 

Hati Lona Rara menjadi senang bercampur heran, karena tidak menyangka nyanyiannya telah menjadi kenyataan. Hari pun sudah mulai gelap. Gela Wuamaroto mengajak Lona Rara mencari tempat beristirahat. Setelah menemukan sebuah gua yang cukup luas, Gela Wuamaroto segera membuat api unggun dan menangkap seekor ayam hutan untuk makan malam. Usai makan, mereka pun langsung tertidur pulas. Keesokan harinya, Lona Rara sangat terkejut, karena didekatnya telah tersedia ayam panggang.
"Hai, kenapa masih ada ayam panggang di sini? Bukankah ayam panggang yang tadi malam sudah habis?" gumam Lona Rara.
Melihat Lona Rara terbangun, Gela Wuamaroto yang sedang berdiri di depan pintu gua segera menghampirinya.
"Maaf Putri! Saya yang menyediakan ayam panggang itu untuk sarapan kita berdua," ujar Gela Wuamaroto sambil tersenyum. 

Lona Rara dan Gela Wuamaroto pun segera menyantap ayam panggang itu. Setelah itu, mereka saling berkenalan, saling jatuh cinta, dan akhirnya mereka pun menikah. Karena asyik dimabuk cinta, Lona Rara menjadi lupa untuk kembali ke rumahnya. Demikian pula, Gela Wuamaroto, ia lupa untuk mengantar pulang Lona Rara. Sepasang pengantin baru itu keasyikan menikmati hari-hari yang indah bersama di tengah hutan tersebut, sehingga tak terasa sudah satu bulan mereka hidup bersama.
Suatu hari, Lona Rara tiba-tiba teringat kepada keluarganya. Ada kerinduan di hatinya ingin segera pulang dan bertemu dengan mereka.
"Kanda! Kapan Kanda akan mengantar Dinda menemui keluarga Dinda?" tanya Lona Rara. 
"Besok, Dinda," jawab Gela Wuamaroto. 

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Lona Rara dan suaminya bersiap-siap pulang ke rumahnya. Sebelum berangkat, Gela Wuamaroto memberikan pakaian tenun Sumba yang sangat indah kepada Lona Rara untuk dihadiahkan kepada keluarganya. Setelah menempuh perjalanan selama setengah hari, sampailah mereka di Desa Bukambaro. Saat Lona Rara memasuki desa, seluruh warga terheran-heran melihat kedatangannya. Apalagi ia datang bersama dengan seorang pemuda yang gagah dan tampan. Sambil tersenyum-senyum, Lona Rara berjalan di samping suaminya menuju ke rumahnya. Saat tiba di halaman rumah, ia melihat rumahnya tampak sepi dan pintu rumahnya tertutup rapat.
"Ayah...Ibu...! Rara pulang!" teriak Lona Rara dengan perasaan gembira. 

Berkali-kali Lona Rara berteriak, namun tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, barulah pintu rumahnya terbuka pelan-pelan. Saat pintu terbuka, tampaklah kakaknya, Lona Kaka, sedang membuka pintu dan berdiri di depan pintu dengan wajah memerah. Ia seakan tidak percaya bahwa adiknya masih hidup. Ia pun langsung memeluk Lona Rara.
"Maafkan aku, Adikku! Kakak telah meninggalkanmu seorang diri di tengah hutan," ucap Lona Kaka.

"Sudahlah, Kak! Yang penting Adik selamat dan bisa kembali berkumpul bersama kalian," bujuk Lona Rara.

"O iya, Kak! Ayah, Ibu ke mana? Kenapa mereka tidak kelihatan?" tanya Lona Rara heran. 

Mendengar pertanyaan itu, Lona Kaka kembali memeluk adiknya dengan erat sambil meneteskan air mata.

"Adikku! Ayah dan Ibu sudah tiada. Mereka telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya," jawab Lona Kaka dengan sedih.
"Apa yang terjadi dengan Ayah dan Ibu, Kak?" desak Lona Rara. 

Lona Kaka pun menceritakan musibah yang telah menimpa kedua orang tua mereka.
"Sebulan yang lalu, Ayah dan Ibu mendapat celaka saat mencari Adik di tengah hutan. Seorang warga menemukan mereka di tengah hutan dalam keadaan terluka parah dan tidak bernyawa lagi akibat digigit binatang buas," jelas Lona Kaka. 

Mendengar keterangan itu, Lona Rara pun tidak sanggup menahan air mata. Ia menangis tersedu-sedu meratapi kepergian Ayah dan Ibu yang sangat dicintainya. Sejenak, suasana di depan rumah yang sederhana itu pun tiba-tiba menjadi hening. Beberapa saat kemudian, Lona Rara meminta kepada kakaknya agar mengantarnya ke tempat pemakaman kedua orang tua mereka. Sesampainya di depan kuburan kedua orang yang dicintainya itu, Lona Rara kembali menangis tersedu-sedu menyesali semua peristiwa yang telah terjadi.

"Sudahlah, Dinda! Semuanya sudah diatur oleh Yang Mahakuasa. Ayo kita kembali ke rumah!" bujuk Gela Wuamaroto. 

Lona Rara bersama suami dan kakaknya pun kembali ke rumah. Beberapa hari kemudian, setelah kesedihannya hilang, Lona Rara menceritakan semua peristiwa yang dialaminya ketika tersesat di hutan kepada kakaknya. Mendengar cerita itu, timbullah keinginan Lona Kaka untuk pergi ke tempat di mana adiknya bertemu dengan Gela Wuamarota, dengan harapan dirinya pun akan bernasib sama seperti adiknya. 

Keesokan harinya, secara diam-diam, Lona Kaka pergi sendirian ke tempat itu. Sebelum mandi, ia memetik satu buah jeruk yang sudah menguning. Begitu ia membelah jeruk itu, bukannya pemuda tampan yang muncul, melainkan seorang lelaki tua berjenggot putih. Ia pun langsung menjerit ketakutan dan berlari meninggalkan tempat itu. Dalam hatinya tersimpan rasa penyesalan yang begitu mendalam karena tidak memetik buah jeruk yang masih muda. 

Sesampainya di rumah, Lona Kaka langsung duduk termenung di samping rumahnya. Dalam ketermenungannya, tiba-tiba muncul dalam pikirannya ingin merebut suami adiknya. Ia tinggal menunggu waktu yang paling tepat untuk menjalankan niat busuknya itu. Pada suatu malam, Gela Wuamaroto meminta izin kepada Lona Rara untuk pergi berdagang bersama beberapa warga desa lainnya ke negeri seberang. "Dinda! Kanda ingin berdagang ke negeri seberang. Barangkali Kanda harus pergi dalam waktu yang cukup lama. Apakah Dinda bersedia mengizinkan Kanda?" bujuk Gela Wuamaroto. 

 "Baiklah, Kanda! Dinda mengizinkan. Tapi jangan lupa mampir ke rumah paman untuk memberinya oleh-oleh ketika kembali nanti," ujar Lona Rara tersenyum.
"Baiklah, Dinda!" jawab Gela Wuamaroto sambil menatap wajah istrinya dengan penuh cinta. 

Keesokan harinya, berangkatlah Gela Wuamaroto ke negeri seberang bersama beberapa warga desa lainnya. Seminggu setelah kepergian Gela Wuamaroto, Lona Kaka pun mulai menyusun siasat untuk menghilangkan nyawa Lona Rara agar dapat merebut suaminya. Pada suatu hari, ia mengajak adiknya itu mencari kayu bakar di hutan. Setelah berjalan cukup jauh ke tengah hutan, sampailah mereka pada sebuah jurang yang cukup dalam.
"Adikku! Kita beristirahat di sini dulu. Kakak capek berjalan jauh," ujar Lona Kaka. 

Lona Kaka dan adiknya pun beristirahat di dekat jurang itu. Setelah rasa lelah mereka hilang, Lona Kaka memanjat sebuah pohon yang rantingnya telah kering di tepi jurang yang terjal. Saat berada di atas pohon, ia meminta kepada adiknya untuk membawakannya parang yang sengaja ditinggalkan di dekat adiknya.
"Aduh, Adikku! Kakak lupa membawa parang. Tolong ambilkan parang yang ada di dekatmu itu!" seru Lana Kaka dari atas pohon. 

Tanpa curiga sedikit pun, Lona Rara ikut memanjat pohon untuk memberikan parang itu kepada kakaknya. Sesampainya di atas pohon, ia menyerahkan parang itu kepada kakaknya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya berpegangan pada sebuah ranting yang kering. Begitu mengambil parang itu dari tangan kiri adiknya, pada saat yang bersamaan, Lona Kaka juga menginjak ranting tempat Lona Rara berpegangan hingga patah. Tak ayal lagi, Lona Rara pun terjatuh dari atas pohon dan terguling-guling hingga ke dasar jurang. Melihat kejadian itu, Lona Kaka bukannya menolong adiknya, melainkan tersenyum sinis. 

"Rasakanlah itu, Rara! Gela Wuamaroto akan menjadi milikku!" seru Lona Kaka. 

Dengan perasaan puas dan gembira, Lona Kaka turun dari pohon itu dan kemudian pulang ke rumahnya. Sesampainya di desa, ia berpura-pura sedih meratapi nasib adiknya. Seluruh warga pun turut berduka cita mendengar berita duka tersebut. Namun, Lona Kaka tidak mengira jika ternyata adiknya masih hidup. Rupanya, ketika Lona Rara terjatuh ke jurang itu, tubuhnya tersangkut pada tanaman yang menjalar di tebing. Berkat usahanya memanjat tebing yang curam itu, ia berhasil sampai ke puncak tebing dan selamat. 
Sesampainya di atas, Lona Rara pun berteriak-teriak memanggil kakaknya. 

"Kakak! Kamu di mana?" teriaknya. 

Beberapa kali Lona Rara berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari kakaknya. Ia pun menyadari bahwa ternyata kakaknya telah berniat jahat kepadanya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk langsung ke rumah pamannya. 

Setelah dua hari menempuh perjalanan, sampailah ia di rumah pamannya. Ia pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya dan rencana jahat sang Kakak kepada pamannya. Beberapa hari kemudian, Gela Wuamaroto pun kembali dari rantauannya untuk membawakan oleh-oleh kepada pamannya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat istrinya berada di tempat itu.

"Hai, Dinda! Kenapa Dinda ada di sini?" tanya Gela Wuamaroto dengan heran. 

Melihat suaminya datang, Lona Rara pun langsung memeluknya dengan erat. Kemudian ia menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya hingga ia bisa berada di rumah pamannya. Mendengar cerita istrinya, Gela Wuamaroto pun bercerita bahwa selama ini Lona Kaka selalu merayunya. 

"Ketahuilah, Dinda! Andai kata iman Kanda lemah, tentu Kanda telah jatuh dipelukan kakak Dinda. Selama ini dia sering merayu Kanda saat Dinda tidak berada di rumah. Itulah sebabnya, Kanda memutuskan untuk pergi merantau agar Kanda terhindar dari rayuan manisnya," ungkap Gela Wuamaroto. 

Mendengar pengakuan suaminya, Lona Rara pun naik pitam. Ia sangat marah terhadap sikap dan perbuatan kakaknya. 

"Huh, Dinda harus membalas perbuatan Kak Lona Kaka!" seru Lona Rara dengan geramnya. 

Gela Wuamaroto pun sejenak. Ia mencoba untuk memahami perasaan istrinya. Setelah itu, ia mencoba untuk membujuknya agar mengurungkan niatnya membalas dendam. 

"Maaf, Dinda! Kanda tidak bisa berkata apa-apa. Lona Kaka adalah kakak Dinda satu-satunya. Perbuatannya memang jahat, tapi apakah kita juga harus meniru perbuatan jahatnya itu?" bujuk Gela Wuamaroto. 

"Tidak, Kanda! Sejak dulu Kak Lona Kaka selalu iri dan dengki terhadap Dinda. Dia sudah berkali-kali berusaha ingin mencelakai Dinda. Jika hal ini dibiarkan terus, suatu saat dia akan membunuh Dinda," ujar Lona Rara. 

Mendengar keteguhan tekad istrinya, Gela Wuamaroto pun tak sanggup berbuat apa-apa. Akhirnya, pada malam harinya, Lona Rara dan suaminya segera menyusun siasat untuk membalaskan dendamnya kepada Lona Kaka. Mereka memesan dua buah peti yang berukir sangat indah. Peti yang satu akan mereka isi dengan perhiasan emas dan berlian, sedangkan untuk peti yang satunya Lona Rara akan masuk ke dalamnya sambil membawa sebuah pisau yang runcing dan tajam. 

Keesokan harinya, berangkatlah Gela Wuamaroto ke kampung untuk menemui Lona Kaka. Ia berangkat dengan menunggang kuda dan membawa serta seekor kuda beban yang mengangkut kedua peti yang berisi perhiasan dan berisi Lona Rara tersebut. Sesampainya di kampung halaman istrinya, Gela Wuamaroto segera menuju ke rumah istrinya. Lona Kaka yang sedang asyik menenun segera bangkit untuk menyambut kedatangan Gela Wuamaroto. 

"Maafkan aku, Gela Wuamaroto! Aku tidak dapat menjaga Adik Lona Rara," kata Lona Kakak sambil berpura-pura menangis. 

"Apa yang terjadi dengannya, Kakak Ipar?" Gela Wuamaroto pun berpura-pura bertanya. 

"Lona Rara meninggal dunia, karena dimakan buaya saat kami sedang mandi di sungai," jawab Lona Kaka dengan muka sedih. 

Mendengar keterangan itu, Gela Wuamaroto berpura-pura terkejut dan terlihat murung. Ia kemudian turun dari kudanya dan menambatkan kedua kudanya pada batang pohon di depan rumah. Ketika ia menurunkan kedua peti itu dari kudanya, Lona Kaka menghampirinya. 

"Apa isi peti itu, Gela?" tanya Lona Kaka ingin tahu. 

Dengan wajah murung, Gela Wuamaroto menyuruh Lona Kaka untuk membuka salah satu dari kedua peti itu. Ketika Lona Kaka membuka peti itu, matanya langsung terbelalat melihat isi peti yang terdiri dari berbagai macam perhiasan emas dan berlian. Setelah Lona Kaka melihat isi peti itu, Gela Wuamaroto menyuruhnya untuk membuka peti yang satunya. 

"Kakak Ipar! Buka dan ambillah semua isi peti yang satu itu! Aku hadiahkan untukmu," ujar Gela Wuamaroto. 

Dengan perasaan senang dan gembira, Lona Kaka pun segera membuka peti yang masih tertutup rapat itu. Begitu peti itu terbuka, tiba-tiba Lona Rara meloncat keluar dan menikamkan pisaunya berkali-kali ke arah dada kakaknya. 

"Terimalah pembalasanku ini, Kak!" teriak Lona Rara. 
Tak ayal lagi, Lona Kaka pun tewas seketika dengan bersimbah darah. 

Melihat kakaknya terkapar di tanah dalam keadaan tidak bernyawa, Lona Rara pun berteriak histeris. Ia sangat menyesal atas apa yang baru saja dilakukannya. Namun, apalah guna menyesal kemudian. Nasi sudah menjadi bubur. Nyawa kakaknya tidak dapat ditolong lagi. 

** * ** 

Demikian cerita  Lona Kaka dan Lona Rara  dari Sumba barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik, yaitu: akibat buruk dari sifat suka iri hati dan pendendam. Sifat iri hati ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Lona Kaka, sedangkan sifat pendendam terlihat pada perilaku Lona Rara. kedua sifat tersebut harus dijauhi karena dapat mengakibatkan terjadinya perselisihan, perpecahan, dan bahkan pembunuhan antarsesama saudara 

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD