Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Minggu, 19 Desember 2010

Pater Robert Ramone CSsR : Bermimpi Sumba yang Bermoral


Pengantar Redaksi
Rohaniwan Redemptoris ini prihatin. Masih ada koruptor yang berjalan dengan kepala tegak. Tidak malu. Orang tak takut hukum karma, hukum agama dan neraka. Nilai moral dan budaya bergeser dan permisif. Menerapkan gaya hidup bebas. Keprihatinan ini mendorong Pater Robert Ramone, C.Ss.R, menggagas mendirikan Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan di Weetebula, Sumba Barat Daya. "Ini mimpi besar saya dan Redemptoris. Mudah-mudahan tangan saya tidak cepat kaku sebelum mimpi ini menjadi kenyataan," kata Pater Robert ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, di Rumah Retret Santo Alfonsus-Weetebula, Sabtu (30/8/2008). Berikut petikannya.


Redemptoris berkeinginan membentuk Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan. Apa dasar kajiannya!
 Kita hidup di abad 21 yang ditandai dengan kenyataan dunia yang serba maju dalam pelbagai aspek. Kemajuan dan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Arus globalisasi semakin deras, khususnya arus informasi dan komunikasi yang amat sangat cepat dapat menjangkau semua orang di seluruh pelosok dunia mana pun. Kemajuan-kemajuan tersebut belum kita perkirakan atau bayangkan pada 20 atau 30 tahun lalu. Berdasarkan kemajuan yang ada sekarang, kita dapat memperkirakan dalam waktu 20 atau 30 tahun mendatang akan ada kemajuan yang lebih dahsyat lagi. Kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia dalam pelbagai aspek, baik aspek sosial maupun aspek budaya. Aspek sosial; orang cenderung individualistis dan mengabaikan hidup komunal atau kebersamaan sebagai suku atau kampung besar. Aspek budaya; kecenderungan hidup dalam budaya instan atau cepat jadi dan mengabaikan suatu proses yang harus dilalui dengan perjuangan dan kerja keras.

Dalam budaya seperti ini banyak nilai moral bergeser dan permisif. Sebagai contoh, dulu orang takut karma, hukum agama dan neraka. Sekarang orang masuk penjara karena curi dan sebagainya tetap saja jalan dengan kepala tegak tanpa ada rasa malu. Kemajuan zaman dan arus globalisasi adalah sebuah fakta, entah suka atau tidak suka; ia nyata ada dan memberi dampak pada hidup kita, baik positif maupun negatif. Berhadapan dengan kenyataan ini diperlukan sikap kritis. Kita tidak bisa berpangku tangan saja atau bersikap masa bodoh. Kita tidak mau ketinggalan zaman dan juga tidak mau menjadi korban kemajuan zaman. Oleh karena itu, kita mesti menghadapinya dengan arif dan bijaksana.


Apakah di Sumba sudah ada tanda-tanda degradasi nilai!
Sudah ada sinyal. Pada tahun 2007 lalu, Kongregasi Redemptoris genap berusia 50 tahun hadir di Indonesia, khususnya di Pulau Sumba. Selama kurun waktu 50 tahun, kongregasi ini telah berperan aktif membangun gereja lokal melalui pewartaan Injil dan kesaksian hidup setiap Redemptoris. Selama kurun waktu itu pula para Redemptoris telah mencatat banyak hal yang terjadi di masyarakat. Catatan itu ada yang menggembirakan dan ada pula yang mencemaskan. Menggembirakan karena tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, seperti dibangunnya jalan desa. Pembangunan tersebut telah membuka kantong-kantong isolasi dan memungkinkan setiap orang berkomunikasi satu sama lain. Kemajuan lain yang patut dicatat adalah semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan (sekolah).

Banyak orangtua mengirimkan anaknya untuk mengenyam pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar Sumba. Kita boleh berharap bahwa semakin banyak orang, khususnya kaum muda merasa terpanggil untuk membangun daerahnya. Keprihatinan; adanya tanda-tanda degradasi nilai budaya yang mulai kendur dan luntur, seperti gaya hidup bebas. Di sini ada sinyal bahaya bahwa orang tercabut dari akar budayanya dan menggantinya dengan kebudayaan baru yang tidak sepenuhnya cocok atau diterima oleh masyarakat umum.

Hadirnya Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan ini untuk menyikapi keprihatinan dimaksud!
Betul. Berangkat dari situasi konkrit, khususnya keprihatinan yang telah digambarkan tadi, kami berkeinginan membentuk sebuah Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan.


Kegiatan utamanya?
Mengadakan studi dan penelitian, pengkajian dan sintesa yang berkaitan dengan budaya asli Sumba. Dan, pada gilirannya nilai-nilai budaya tersebut dijaga dan dilestarikan dan pada akhirnya memberi dampak positif bagi masyarakat luas.

Bisa disebutkan simbol-simbol nilai budaya Sumba yang sudah hampir punah atau tidak dilestarikan lagi!
Katoda atau totem. Pada setiap perkampungan adat, katoda/totem dipajang di tengah kampung. Dia bak jantung sebuah kampung, sebagai sarana kewibawaan sebuah kampung. Simbol budaya ini sudah hidup beratus-ratus tahun di tengah-tengah masyarakat Sumba. Pada katoda atau totem tadi, masyarakat mempersembahkan hasil-hasil pertanian yang dipanen sebelum dimakan. Kalau dilanggar akan terjadi malapetaka atau produksi hasil pertanian kurang memuaskan karena para leluhur marah. Jadi, kita tidak mengatakan hal ini sebagai tahyul. Tetapi yang mau diajarkan adalah kebijaksanaan untuk mensyukuri apa yang kita peroleh. Generasi muda sekarang menganggap katoda atau totem tidak bermakna. Dengan adanya lembaga studi dan pengkajian kebudayaan asli Sumba, nilai-nilai budaya seperti ini yang harus dikaji lagi untuk menggali pesannya untuk masyarakat modern saat ini. Intinya, supaya kita tidak lupa asal usul. Menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang sudah mati.


Pekerjaan pengkajian ini sangat berat karena menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang sudah mati. Bisa dijelaskan mekanisme atau metode kerjanya!
Membentuk network (rekan kerja) di beberapa daerah/suku yang dipandang mempunyai situs sejarah atau kebudayaan. Dalam pemilihan personalia akan dipilih orang yang berkompeten dalam bidang bahasa setempat dan mempunyai daya nalar yang bagus. Dan, di atas semuanya, rekan kerja tersebut haruslah seorang pencinta kebudayaan dan mau bekerja sama dengan rekan kerja lain, bukan single fighter.


Apa tugas dari setiap personalia yang dipilih?
Pertama, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki situs sejarah dan mendokumentasikannya dalam bentuk foto/video. Kedua, merekam cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan tempat, suku/daerah tertentu dalam bentuk tulisan. Ketiga, memotivasi masyarakat/suku atau daerah untuk menghidupkan kembali karya seni seperti mengukir tiang rumah adat, ikat dan celup kain dan sebagainya. Di bidang atraksi atau kesenian daerah, misalnya, menghidupkan kembali beberapa jenis tarian ritual/adat di beberapa daerah. Keempat, mengadakan pertemuan berkala dari setiap perwakilan (rekan kerja) untuk mengadakan sharing, membuat sintesa dan evaluasi. Kelima, menyelenggarakan workshop berkala dengan mengundang narasumber yang dianggap kompeten di bidang kebudayaan. Keenam, mempublikasikan hasil sintesa kepada masyarakat luas dengan menerbitkan buletin Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan.


Dari penjelasan pater, Redemptoris terlihat sangat serius untuk mendirikan lembaga studi budaya ini!
Saya dan Redemptoris sangat serius. Saya sudah mengusulkannya dalam sidang kapitel komunitas. Dan, Provinsial Redemptoris Indonesia sangat mendukungnya. Demikian juga pemerintah dan DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya. Kita mau menjadikan lembaga ini sebagai centrum kebudayaan atau karya pastoral Redemptoris dalam pewartaan Injil melalui kultur atau adat istiadat. Kita tidak menghendaki ada sebutan generasi muda yang bingung, khususnya kepada kaum muda Sumba. Melalui lembaga ini, mereka harus tahu adat istiadat Sumba yang sebenarnya. Itu misi kita agar tidak muncul agama baru atau kultur baru.



Sarana dan prasarana yang diperlukan?
Dalam sidang kapitel, saya mengusulkan perangkat berupa alat bantu yang mendukung terselenggaranya lembaga ini. Misalnya, sebuah gedung berukuran 10 x 12 m2 dan perabot sebagai alamat tetap dari lembaga ini. Gedung akan dibangun di Kalembu Nga'banga sebagai kantor, perpustakaan dan ruangan untuk rapat. Perangkat lainnya yang diusulkan berupa satu unit komputer, dilengkapi laser compact disk (LCD) untuk mendokumentasikan/mengarsipkan semua data dan kegiatan lapangan kemudian mempresentasikannya dalam bentuk clip show. Satu buah kamera digital, kamera SLR dan handycam untuk merekam/mendokumentasikan semua obyek/situs sejarah atau peristiwa yang mempunyai nilai budaya yang ditemukan di lapangan. Dan, sebuah sepeda motor untuk memudahkan mobilitas atau urusan yang diperlukan segera. Sudah ada seorang mitra dari Belanda yang bersedia bekerja sama dengan Redemptoris untuk mengembangkan lembaga ini. Kami juga membutuhkan bantuan dari donatur lainnya, khususnya mereka yang peduli terhadap pelestarian nilai-nilai budaya Sumba. Mudah-mudahan mimpi besar ini segera terwujud. Kalau bisa tahun depan, sebab masih dalam aroma syukuran 50 tahun karya Redemptoris di Sumba. *



Fotografer Kultur


DI TERAS depan rumah makan kecil di Konventu St. Alfonsus Weetebula, pastor asal Kodi, Sumba Barat Daya, ini berujar, "Mudah-mudahan tangan saya ini tidak cepat kaku, keram." Saya terkesima mendengarnya. Sebelumnya, Pater Robert menceritakan tentang obsesinya untuk mendirikan lembaga kajian dan pelestarian budaya asli Sumba di Weetebula.

Tangan dan lembaga budaya. Apa hubungannya? "Sudah sejak lama saya menekuni pekerjaan ini. Fotografer. Tapi jepretan-jempretan saya lebih banyak bernuansa kultur, budaya. Jadi, saya sebenarnya fotografer kultur. Kalau tangan ini cepat kaku dan keram, saya tidak menjepret lagi untuk mengoleksi foto-foto budaya. Ini pekerjaan berat menuju ke sana (lembaga kajian budaya)," kata Pater Robert.

Ya, tangan Pater Robert telah menghasilkan ribuan foto-foto budaya untuk 'menghidupkan' banyak orang. Dibuatnya kartu pos dan mengirimnya ke mancanegara, antara lain Belanda dan Jerman untuk mempromosikan pariwisata budaya Sumba. Kartu-kartu pos itu bergambar obyek wisata Sumba, baik budaya, alam maupun bahari.

"Dalam pariwisata tak ada birokrasi. Masyarakat langsung menikmati hasilnya. Ada turis, masyarakat siapkan produk dan mereka dapat uang. Ini alasan utama mengapa obyek wisata di Sumba ini harus gencar dipromosikan," ujar Pater Robert.

Selain itu, kata Pater Robert, dirinya sebagai putra Sumba terpanggil untuk memperkenalkan Sumba ke dunia luar. "Terus terang, promosi yang dilakukan Redemptoris dan saya ini tanpa dukungan dari siapa-siapa, termasuk dari pemerintah daerah. Semuanya modal sendiri. Secara materil saya dan Redemptoris rugi, tetapi secara moril saya untung," tuturnya. (eni)



BIODATA
---------------
- Nama: Pater Robert Ramone, S.Ss.R
- Tempat/tanggal lahir: Kodi, Sumba Barat Daya, 29 Agustus 1962.
- Tahun 1985: Bergabung dengan Kongregasi Redemptoris.
- Tahun 1985-1992: Studi Filsafat dan Teologi pada Fakultas Teologi Wedhabakti- Yogyakarta.
- Tahun 1992: Ditahbiskan menjadi imam. Setelah ditahbiskan, bekerja sebagai pastor kapelan di Paroki Santa Maria Homba Karipit.
- Tahun 1993-1994: Bekerja di Paroki Roh Kudus Weetebula.
- Tahun 1994-1996: Socius Student Wisma Sang Penebus dan merangkap sebagai pastor di Stasi Santo Alfonsus Nandan-Yogyakarta.
- Tahun 1996-2001: Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak.
- Kini bekerja di Rumah Retret Santo Alfonsus Weetebula.



Sumber : http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2008/10/pater-robert-ramone-cssr.html
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD