Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Sabtu, 18 Desember 2010

Oknum Polisi Catut Jaksa Minta Uang

TAMBOLAKA, Seorang oknum polisi anggota Polsek Loura, Sumba Barat Daya, diduga mencatut nama jaksa memeras warga yang berurusan dengan hukum. Modusnya, oknum polisi berinisial W itu mendatangi warga membawa pesan bahwa jaksa di Kejari Waikabubak meminta uang pulsa.

Dugaan pemerasan oleh oknum polisi ini dibeberkan Margareta Nani Bulu, warga Kampung Belakang, Kelurahan Weetabula, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (ABD),  di rumahnya Senin (29/11/2010) lalu.

Margaretha mengakui pada  hari Sabtu (27/11/2010), dia   didatangi oknum Polsek Loura berinisal W. Oknum polisi ini menyampaikan akan ke Kejari Waikabubak guna mengecek berita acara pemeriksaan (BAP) kasus perusakan pohon pisang miliknya oleh Yosep Tome yang terjadi bulan September 2010 yang sudah dilimpahkan penyidik Polsek Loura minggu sebelumnya.

Pada kesempatan itu oknum polisi ini juga menyampaikan pesan dari jaksa agar Margaretha memberikan uang pulsa guna mempermudah komunikasi terkait penanganan persoalannya. Mendengar itu, Margaretha minta oknum polisi itu memberikan nomor handphone dan menyebutkan nama jaksa  dimaksud agar mudah dihubungi. Namun polisi tidak memberikan nomor HP dan tidak menyebutkan nama jaksa, tapi berusaha mengalihkan pembicaraan lalu pamit ke kantor di Waikabubak, Ibu kota Kabupaten Sumba Barat.  Sementara uang pulsa pesanan jaksa belum diberikan.

"Saya bertanya-tanya apakah benar jaksa yang minta? Dan, kalau saya tidak kasih, apakah perkara saya tidak diproses sampai disidangkan di pengadilan? Kalau jaksa yang minta, kenapa ia tidak serahkan nomor HP? Bila benar pesanan jaksa, berapa yang saya harus serahkan? Karena itu, saya memutuskan menghubungi wartawan guna menyebarluaskan informasi ini agar masyarakat mengetahui sekaligus mengingatkan aparat penegak hukum agar tidak melakukan hal itu terhadap rakyat kecil," tutur Margaretha.

Kapolres Sumba Barat, AKBP Yayat Jatnika, yang hendak dikonfirmasi di kantornya, Selasa (30/11/2010), tidak berhasil karena sedang tugas ke Kupang. Kapolsek Loura, Iptu Martinus Netta, dikonfirmasi Pos Kupang ke handphone-nya, Rabu (1/12/2010), mengatakan, pihaknya akan mengecek kebenaran informasi itu kepada anggotanya.  "Informasi ini saya terima, dan nanti saya cek lagi," kata Netta.

Menurut Margareta, pembicaraan dengan oknum polisi itu berlangsung di halaman belakang rumahnya disaksikan kedua adiknya, Sabtu (27/11/2010) pukul 11.00 Wita. Dia mengaku pada hari Sabtu (27/11/2010) malam, oknum polisi itu datang dan menyampaikan jika BAP sudah dikembalikan untuk dilengkapi.  Hari Selasa (30/11/2010), penyidik polisi itu minta Margaretha ke polsek untuk melengkapi BAP-nya. Saat di ruang pemeriksaan, oknum polisi menanyakan mengapa Margaretha menyampaikan hal itu ke wartawan karena terkait  nama baik.
Margaretha menegaskan, keinginan mempublikasikan hal itu agar hal serupa tidak terjadi bagi warga pencari keadilan lain di masa mendatang.

"Biar citra penegak hukum baik di mata masyarakat. Saya juga ingin agar persoalan yang saya hadapi cepat selesai. Sebab persoalan tanah milik saya sudah terjadi ketiga kalinya. Dua kejadian sebelumnya sudah dilaporkan ke Polsek Loura, namun berakhir tanpa kejelasan," tegasnya.

Ia bertekad agar kejadian terakhir ini harus diproses tuntas sampai disidangkan di pengadilan agar aktivitas berkebun seperti menanam pisang, padi, jagung dan sebagainya berjalan aman dan damai tanpa gangguan pihak mana pun.

Tidak pesan
Kajari Waikabubak, Sopran Telaumbanua, S.H, membantah jika  anak buahnya (jaksa) menitip pesan melalui oknum polisi di Polsek Loura meminta pulsa kepada Margaretha Nani Bulu.

"Itu tidak benar, dan itu hanya pencatutan nama demi kepentingan pribadinya. Seandainya itu benar dan dilakukan  salah seorang oknum penegak hukum, maka perbuatan itu patut disesalkan dan perlu diganjar sesuai hukum yang berlaku," kata  Sopran Telaumbanua, S.H, ketika dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, Selasa (30/11/2010).

Didampingi Kasie Pidsus, Ihsan Asri, S.H, jaksa Ririn, S.H, jaksa Salman, S.H dan jaksa yang menangani perkara Margaretha Nani Bulu, Afrizal Hamid, S.H,  Kajari membantah anak buahnya memesan pulsa pada korban Margaretha Bulu. 

"Apa yang terjadi merupakan perbuatan oknum yang mencatut nama jaksa demi kepentingan pribadinya. Penanganan perkara selama ini berjalan baik sesuai prosedur kerja lingkup kejaksaan," tegasnya.

Mengantisipasi itu,  Sopran telah menyurati Bupati Sumba Barat, Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah agar memberitahukan warga masing-masing agar tidak mengamini permintaan oknum tertentu yang mengaku dari kejaksaan. (pet)



Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/55966/regionalntt/waitabula/2010/12/8/oknum-polisi-catut-jaksa-minta-uang
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD