Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Kamis, 30 Desember 2010

Nasdem Berkibar di Sumba Barat Daya dan Sumba Timur

Nasional Demokrat terus melebarkan sayap organisasinya ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk di tingkat kabupaten dan kota. Secara berturut-turut deklarasi Nasdem berlangsung di Sumba Barat Daya dan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Deklarasi dan pelantikan Nasdem Sumba Barat Daya di Stadion Tambolaka, baru-baru ini, dihadiri sejumlah pengurus pusat Nasdem, seperti Ketua PP Nasdem Viktor Laiskodat yang juga Koordinator Wilayah NTT, NTB dan Bali. Hadir pula Wakil Bupati Sumba Barat Daya Yacob Mallo Bulu.

Markus Dairo Talo terpilih sebagai Ketua Pengurus Daerah Nasdem Sumba Barat Daya.

Deklarasi dan pelantikan pengurus Nasdem Sumba Barat Daya berlangsung meriah. Acara diisi oleh tari-tarian dan penampilan drum band. Sumba Barat menjadi kabupaten kedua tempat deklarasi Nasdem di Pulau Sumba, NTT.

Deklarasi dan pelantikan kemudian dilanjutkan ke wilayah Sumba Timur. Deklarasi berlangsung di aula Hotel Elvin, Waingapu, Sumba Timur, NTT. Rudolf Sinatra terpilih sebagai Ketua Pengurus Daerah Nasdem Sumba Timur.(DSY)


Kamis, 23 Desember 2010

PENGUMUMAN CPNSD 2010 DITUNDA

Peserta tes membaca pengumuman di kantor Kecamatan Loura
 Sejak Kamis (23/12/2010) Pagi, Kantor Kecamatan Loura, Waitabula , Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menjadi tempat tujuan banyak CPNSD SBD 2010, hal ini dikarenakan berdasarkan informasi pasca Test CPNSD bahwa direncanakan tanggal 23 Desember 2010 mereka sudah bisa mendengarkan pengumuman hasil tes CPNSD SBD 2010.


Sampai siang hari banyak yang belum mendapatkan kejelasan, bahkan ada CPNSD yang mengecek kepastian ke kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di Kawasan PUSPEM Kadula.


Akhirnya Kegelisahan CPNSD SBD terjawab sudah setelah dua lembar kertas ditempelkan petugas. dalam kertas tersebut menyebutkan bahwa pengumuman hasil CPNSD SBD 2010 ditunda pelaksanaannya ke tanggal 28 Desember 2010.

Berdasarkan surat yang ditandatangi Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya bernomor : UP.013.1/1/478/PP/2010 tersebut menyebutkan penundaan pengumuman hasil tes CPNSD ini karena berdasarkan pantauan dan evaluasi terhadap hasil LJK oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA) masih adanya kendala administrasi dan teknis yang perlu diklarifikasi dengan UNESA.


Dalam surat tersebut juga meminta perhatian walikota Kupang dan para Bupati untuk segera mengkoordinasikan dan mengklarifikasi terhadap hasil pengolahan LJK CPNSD di UNESA.


Melanjutkan surat Gubernur NTT maka di SBD di keluarkan surat NO.BKD.800/1113/SBD/XII/2010 dan ditandatangani Bupati SBD, Dr Konelis Kodi Mete. Surat tersebut berisi informasi pengunduran jadwal  pengumuman hasil testing CPNSD T.A. 2010 untuk Kabupaten Sumba barat daya ke tanggal 28 Desember 2010.


Marselino salah seorang peserta testing CPNSD mengaku kecewa degan penundaan ini namun dirinya mendukung jika ini untuk proses koordinasi dan klarifikasi dengan pihak UNESA agar tidak ada kendala  saat pengumumantanggal 28 desember mendatang. (snd)







Minggu, 19 Desember 2010

PATER ROBERT RAMONE RAIH NTT ACADEMIA AWARD 2010

Pater Robert Ramone CSsR saat menerima NTT AA 2010 di Gedung Taman Budaya Kupang
NTT Academia Award 2010 sebagai salah satu bentuk penghargaan untuk orang orang terbaik NTT yang telah mendedikasikan dirinya dalam bidangnya masing-masing, kembali digelar Forum Academia NTT (FAN) Sabtu (18/12/2010) malam.

Acara  berlangsung meriah ini selalu diselenggarakan FAN setiap tahun menjelang hari ulang tahun NTT yang jatuh tanggal 20 Desember, dan tahun 2010 acara dipusatkan di gedung taman budaya Kupang.


Salah satu pemenang untuk kategori Kategori III bidang Humaniora, Sastra dan Inovasi Sosial Budaya adalah Pater Robert Ramone, CSsR melalui Karyanya:  Melestarikan dan Menduniakan Kekayaan Alam dan Budaya Sumba. Karya Pater Robert ini berhasil mengharumkan nama Sumba Barat Daya (SBD)

Sebagai Nominator dari Kabupaten SBD Pater Robert berhasil menyisihkan nominator dari kabupaten lainnya. Tahun 2010  ini ada 22 Nominator yang masuk dalam penjurian NTT AA 2010.

"Saya orang Sumba dan saya mencintai alam dan budaya Sumba yang demikian indah. Saya abadikan keindahan itu lewat fotografi agar dunia mengenal Sumba. Enambelas tahun saya menekuni pekerjaan ini," kata Pater Robert Romone.


Selain Pater Robert dua kategori lainnya yang berhasil diraih yaitu bidang  Sains dan Inovasi Keteknikan oleh Geng Motor iMuT (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak) - Kupang. Karya: Inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas sedangkan bidang Inovasi Pembangunan diraih Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Karya: Motivator Pelestarian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air di Desa Apui, Kabupaten Alor (snd).

Pater Robert Ramone CSsR : Bermimpi Sumba yang Bermoral


Pengantar Redaksi
Rohaniwan Redemptoris ini prihatin. Masih ada koruptor yang berjalan dengan kepala tegak. Tidak malu. Orang tak takut hukum karma, hukum agama dan neraka. Nilai moral dan budaya bergeser dan permisif. Menerapkan gaya hidup bebas. Keprihatinan ini mendorong Pater Robert Ramone, C.Ss.R, menggagas mendirikan Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan di Weetebula, Sumba Barat Daya. "Ini mimpi besar saya dan Redemptoris. Mudah-mudahan tangan saya tidak cepat kaku sebelum mimpi ini menjadi kenyataan," kata Pater Robert ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, di Rumah Retret Santo Alfonsus-Weetebula, Sabtu (30/8/2008). Berikut petikannya.


Redemptoris berkeinginan membentuk Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan. Apa dasar kajiannya!
 Kita hidup di abad 21 yang ditandai dengan kenyataan dunia yang serba maju dalam pelbagai aspek. Kemajuan dan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Arus globalisasi semakin deras, khususnya arus informasi dan komunikasi yang amat sangat cepat dapat menjangkau semua orang di seluruh pelosok dunia mana pun. Kemajuan-kemajuan tersebut belum kita perkirakan atau bayangkan pada 20 atau 30 tahun lalu. Berdasarkan kemajuan yang ada sekarang, kita dapat memperkirakan dalam waktu 20 atau 30 tahun mendatang akan ada kemajuan yang lebih dahsyat lagi. Kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia dalam pelbagai aspek, baik aspek sosial maupun aspek budaya. Aspek sosial; orang cenderung individualistis dan mengabaikan hidup komunal atau kebersamaan sebagai suku atau kampung besar. Aspek budaya; kecenderungan hidup dalam budaya instan atau cepat jadi dan mengabaikan suatu proses yang harus dilalui dengan perjuangan dan kerja keras.

Dalam budaya seperti ini banyak nilai moral bergeser dan permisif. Sebagai contoh, dulu orang takut karma, hukum agama dan neraka. Sekarang orang masuk penjara karena curi dan sebagainya tetap saja jalan dengan kepala tegak tanpa ada rasa malu. Kemajuan zaman dan arus globalisasi adalah sebuah fakta, entah suka atau tidak suka; ia nyata ada dan memberi dampak pada hidup kita, baik positif maupun negatif. Berhadapan dengan kenyataan ini diperlukan sikap kritis. Kita tidak bisa berpangku tangan saja atau bersikap masa bodoh. Kita tidak mau ketinggalan zaman dan juga tidak mau menjadi korban kemajuan zaman. Oleh karena itu, kita mesti menghadapinya dengan arif dan bijaksana.


Apakah di Sumba sudah ada tanda-tanda degradasi nilai!
Sudah ada sinyal. Pada tahun 2007 lalu, Kongregasi Redemptoris genap berusia 50 tahun hadir di Indonesia, khususnya di Pulau Sumba. Selama kurun waktu 50 tahun, kongregasi ini telah berperan aktif membangun gereja lokal melalui pewartaan Injil dan kesaksian hidup setiap Redemptoris. Selama kurun waktu itu pula para Redemptoris telah mencatat banyak hal yang terjadi di masyarakat. Catatan itu ada yang menggembirakan dan ada pula yang mencemaskan. Menggembirakan karena tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, seperti dibangunnya jalan desa. Pembangunan tersebut telah membuka kantong-kantong isolasi dan memungkinkan setiap orang berkomunikasi satu sama lain. Kemajuan lain yang patut dicatat adalah semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan (sekolah).

Banyak orangtua mengirimkan anaknya untuk mengenyam pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar Sumba. Kita boleh berharap bahwa semakin banyak orang, khususnya kaum muda merasa terpanggil untuk membangun daerahnya. Keprihatinan; adanya tanda-tanda degradasi nilai budaya yang mulai kendur dan luntur, seperti gaya hidup bebas. Di sini ada sinyal bahaya bahwa orang tercabut dari akar budayanya dan menggantinya dengan kebudayaan baru yang tidak sepenuhnya cocok atau diterima oleh masyarakat umum.

Hadirnya Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan ini untuk menyikapi keprihatinan dimaksud!
Betul. Berangkat dari situasi konkrit, khususnya keprihatinan yang telah digambarkan tadi, kami berkeinginan membentuk sebuah Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan.


Kegiatan utamanya?
Mengadakan studi dan penelitian, pengkajian dan sintesa yang berkaitan dengan budaya asli Sumba. Dan, pada gilirannya nilai-nilai budaya tersebut dijaga dan dilestarikan dan pada akhirnya memberi dampak positif bagi masyarakat luas.

Bisa disebutkan simbol-simbol nilai budaya Sumba yang sudah hampir punah atau tidak dilestarikan lagi!
Katoda atau totem. Pada setiap perkampungan adat, katoda/totem dipajang di tengah kampung. Dia bak jantung sebuah kampung, sebagai sarana kewibawaan sebuah kampung. Simbol budaya ini sudah hidup beratus-ratus tahun di tengah-tengah masyarakat Sumba. Pada katoda atau totem tadi, masyarakat mempersembahkan hasil-hasil pertanian yang dipanen sebelum dimakan. Kalau dilanggar akan terjadi malapetaka atau produksi hasil pertanian kurang memuaskan karena para leluhur marah. Jadi, kita tidak mengatakan hal ini sebagai tahyul. Tetapi yang mau diajarkan adalah kebijaksanaan untuk mensyukuri apa yang kita peroleh. Generasi muda sekarang menganggap katoda atau totem tidak bermakna. Dengan adanya lembaga studi dan pengkajian kebudayaan asli Sumba, nilai-nilai budaya seperti ini yang harus dikaji lagi untuk menggali pesannya untuk masyarakat modern saat ini. Intinya, supaya kita tidak lupa asal usul. Menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang sudah mati.


Pekerjaan pengkajian ini sangat berat karena menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang sudah mati. Bisa dijelaskan mekanisme atau metode kerjanya!
Membentuk network (rekan kerja) di beberapa daerah/suku yang dipandang mempunyai situs sejarah atau kebudayaan. Dalam pemilihan personalia akan dipilih orang yang berkompeten dalam bidang bahasa setempat dan mempunyai daya nalar yang bagus. Dan, di atas semuanya, rekan kerja tersebut haruslah seorang pencinta kebudayaan dan mau bekerja sama dengan rekan kerja lain, bukan single fighter.


Apa tugas dari setiap personalia yang dipilih?
Pertama, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki situs sejarah dan mendokumentasikannya dalam bentuk foto/video. Kedua, merekam cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan tempat, suku/daerah tertentu dalam bentuk tulisan. Ketiga, memotivasi masyarakat/suku atau daerah untuk menghidupkan kembali karya seni seperti mengukir tiang rumah adat, ikat dan celup kain dan sebagainya. Di bidang atraksi atau kesenian daerah, misalnya, menghidupkan kembali beberapa jenis tarian ritual/adat di beberapa daerah. Keempat, mengadakan pertemuan berkala dari setiap perwakilan (rekan kerja) untuk mengadakan sharing, membuat sintesa dan evaluasi. Kelima, menyelenggarakan workshop berkala dengan mengundang narasumber yang dianggap kompeten di bidang kebudayaan. Keenam, mempublikasikan hasil sintesa kepada masyarakat luas dengan menerbitkan buletin Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan.


Dari penjelasan pater, Redemptoris terlihat sangat serius untuk mendirikan lembaga studi budaya ini!
Saya dan Redemptoris sangat serius. Saya sudah mengusulkannya dalam sidang kapitel komunitas. Dan, Provinsial Redemptoris Indonesia sangat mendukungnya. Demikian juga pemerintah dan DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya. Kita mau menjadikan lembaga ini sebagai centrum kebudayaan atau karya pastoral Redemptoris dalam pewartaan Injil melalui kultur atau adat istiadat. Kita tidak menghendaki ada sebutan generasi muda yang bingung, khususnya kepada kaum muda Sumba. Melalui lembaga ini, mereka harus tahu adat istiadat Sumba yang sebenarnya. Itu misi kita agar tidak muncul agama baru atau kultur baru.



Sarana dan prasarana yang diperlukan?
Dalam sidang kapitel, saya mengusulkan perangkat berupa alat bantu yang mendukung terselenggaranya lembaga ini. Misalnya, sebuah gedung berukuran 10 x 12 m2 dan perabot sebagai alamat tetap dari lembaga ini. Gedung akan dibangun di Kalembu Nga'banga sebagai kantor, perpustakaan dan ruangan untuk rapat. Perangkat lainnya yang diusulkan berupa satu unit komputer, dilengkapi laser compact disk (LCD) untuk mendokumentasikan/mengarsipkan semua data dan kegiatan lapangan kemudian mempresentasikannya dalam bentuk clip show. Satu buah kamera digital, kamera SLR dan handycam untuk merekam/mendokumentasikan semua obyek/situs sejarah atau peristiwa yang mempunyai nilai budaya yang ditemukan di lapangan. Dan, sebuah sepeda motor untuk memudahkan mobilitas atau urusan yang diperlukan segera. Sudah ada seorang mitra dari Belanda yang bersedia bekerja sama dengan Redemptoris untuk mengembangkan lembaga ini. Kami juga membutuhkan bantuan dari donatur lainnya, khususnya mereka yang peduli terhadap pelestarian nilai-nilai budaya Sumba. Mudah-mudahan mimpi besar ini segera terwujud. Kalau bisa tahun depan, sebab masih dalam aroma syukuran 50 tahun karya Redemptoris di Sumba. *



Fotografer Kultur


DI TERAS depan rumah makan kecil di Konventu St. Alfonsus Weetebula, pastor asal Kodi, Sumba Barat Daya, ini berujar, "Mudah-mudahan tangan saya ini tidak cepat kaku, keram." Saya terkesima mendengarnya. Sebelumnya, Pater Robert menceritakan tentang obsesinya untuk mendirikan lembaga kajian dan pelestarian budaya asli Sumba di Weetebula.

Tangan dan lembaga budaya. Apa hubungannya? "Sudah sejak lama saya menekuni pekerjaan ini. Fotografer. Tapi jepretan-jempretan saya lebih banyak bernuansa kultur, budaya. Jadi, saya sebenarnya fotografer kultur. Kalau tangan ini cepat kaku dan keram, saya tidak menjepret lagi untuk mengoleksi foto-foto budaya. Ini pekerjaan berat menuju ke sana (lembaga kajian budaya)," kata Pater Robert.

Ya, tangan Pater Robert telah menghasilkan ribuan foto-foto budaya untuk 'menghidupkan' banyak orang. Dibuatnya kartu pos dan mengirimnya ke mancanegara, antara lain Belanda dan Jerman untuk mempromosikan pariwisata budaya Sumba. Kartu-kartu pos itu bergambar obyek wisata Sumba, baik budaya, alam maupun bahari.

"Dalam pariwisata tak ada birokrasi. Masyarakat langsung menikmati hasilnya. Ada turis, masyarakat siapkan produk dan mereka dapat uang. Ini alasan utama mengapa obyek wisata di Sumba ini harus gencar dipromosikan," ujar Pater Robert.

Selain itu, kata Pater Robert, dirinya sebagai putra Sumba terpanggil untuk memperkenalkan Sumba ke dunia luar. "Terus terang, promosi yang dilakukan Redemptoris dan saya ini tanpa dukungan dari siapa-siapa, termasuk dari pemerintah daerah. Semuanya modal sendiri. Secara materil saya dan Redemptoris rugi, tetapi secara moril saya untung," tuturnya. (eni)



BIODATA
---------------
- Nama: Pater Robert Ramone, S.Ss.R
- Tempat/tanggal lahir: Kodi, Sumba Barat Daya, 29 Agustus 1962.
- Tahun 1985: Bergabung dengan Kongregasi Redemptoris.
- Tahun 1985-1992: Studi Filsafat dan Teologi pada Fakultas Teologi Wedhabakti- Yogyakarta.
- Tahun 1992: Ditahbiskan menjadi imam. Setelah ditahbiskan, bekerja sebagai pastor kapelan di Paroki Santa Maria Homba Karipit.
- Tahun 1993-1994: Bekerja di Paroki Roh Kudus Weetebula.
- Tahun 1994-1996: Socius Student Wisma Sang Penebus dan merangkap sebagai pastor di Stasi Santo Alfonsus Nandan-Yogyakarta.
- Tahun 1996-2001: Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak.
- Kini bekerja di Rumah Retret Santo Alfonsus Weetebula.



Sumber : http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2008/10/pater-robert-ramone-cssr.html

FAN Serahkan NTT Academia Award 2010




KUPANG,-- Tanam pohon, jagalah setiap tetes air karena air adalah sumber kehidupan. Cintai budaya sendiri agar dengan demikian kita dapat mencintai budaya orang lain. Dan, tapaleuk (jalan-jalan, Red) ke kampung mengurus ternak dengan dana sendiri bukan pekerjaan sia-sia.

Menenun masa depan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang lebih baik dimulai dari langkah-langkah kecil yang konkret semacam itu. Demikian sejumput benang merah pesan inspiratif dari tiga pemenang NTT Academia Award 2010 persembahan Forum Academia NTT (FAN) yang berlangsung di Taman Budaya NTT, Sabtu (18/12/2010) malam.

Ketiga pemenang pada masing-masing kategori yaitu kategori I bidang  Sains dan Inovasi Keteknikan diraih Geng Motor iMuT (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak) - Kupang. Karya: Inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas.

Pemenang Kategori II bidang Inovasi Pembangunan diraih Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Pendeta GMIT ini merupakan Motivator Pelestarian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air di Desa Apui, Kabupaten Alor.

Untuk Kategori III bidang Humaniora, Sastra dan Inovasi Sosial Budaya, pemenangnya adalah Pater Robert Ramone, CSsR dari Sumba Barat Daya. Pecinta fotografi ini merupakan pejuang yang gigih selama 16 tahun untuk melestarikan dan menduniakan kekayaan alam dan  budaya Sumba melalui foto- foto. Ketiga pemenang mendapatkan tropi, piagam penghargaan serta hadiah uang masing-masing Rp 5 juta dari FAN.

"Penghargaan ini melecut semangat kami untuk bekerja lebih baik. Masih banyak mimpi yang ingin kami wujudkan lewat inovasi baru di masa mendatang," kata Noverius Ngili yang mewaliki kawan-kawannya dari Geng Motor iMuT-Kupang. Komunitas anak muda ini ingin mengembalikan NTT sebagai ikon gudang ternak nasional.

Karya inovatif Geng Motor iMuT  di bidang teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas sudah dimanfaatkan warga di sejumlah kelurahan di Kota Kupang, antara lain Kelurahan Bakunase.

"Saya ajak seluruh masyarakat tidak hanya di Alor untuk selalu menanam pohon agar Flobamora tetap hijau dengan sumber air yang melimpah. Air adalah sumber kehidupan kita," kata Pdt. Sefnat Sailana yang mendapat penghargaan atas kontribusinya  di bidang lingkungan hidup terutama melestarikan sumber air dengan membuat sumur resapan dan jebakan air.


"Saya orang Sumba dan saya mencintai alam dan budaya Sumba yang demikian indah. Saya abadikan keindahan itu lewat fotografi agar dunia mengenal Sumba. Enambelas tahun saya menekuni pekerjaan ini," kata Pater Robert Romone.

Menurut Pater Robert, masyarakat NTT hendaknya mencintai budayanya sendiri yang sangat kaya. Dengan mencintai budaya sendiri niscaya kita akan mencintai budaya orang lain. "Ada yang bilang kenapa saya sebagai pastor suka menenteng kamera ke mana-mana. Saya katakan bahwa saya hanya merekam sedikit saja keindahan dan keagungan Tuhan lewat lensa kamera yang kecil," kata Pater Robert yang akan membangun Rumah Pusat Studi Budaya Sumba tahun 2011.

Dikemas Apik
Berbeda dengan tahun sebelumnya, penyerahan NTT Academia Award IV tahun 2010 berlangsung lebih meriah dan dikemas apik dalam alunan musik dan lagu yang menghibur sekitar 150 undangan yang memenuhi gedung  Taman Budaya NTT.

Mengusung tema Inovasi Bagi Dunia,  rangkaian acara yang dikreasi anggota FAN, Winston Rondo dkk, diawali dengan penampilan memukau Paduan Suara Angelorum dari Oesapa Kupang, tarian ja'i kreasi baru yang diperankan para pemuda dari Sanggar UPTD Taman Budaya Propinsi NTT, puisi berjudul Flobamora Bisa yang dibawakan Sischa Solokana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana dan lagu Bo Lelebo yang dikemas dalam alunan Rap yang dibawakan para raper dari Kota Kupang.


Malam penganugerahan NTT Academia Award juga menghadirkan dua orang ibu penenun dari Desa Oefafi, Kecamatan Kupang Timur. Mereka bersanding di sudut kanan panggung, suatu simbol sekaligus pesan inspiratif dari FAN tentang menenun masa depan Flobamora yang lebih baik. Ada banyak mutiara di daerah ini.  Sebagaimana para penenun, mereka menenun kehidupan dengan semangat dan kerja keras.

Hadir pada acara ini, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Jonas Salean, S.H, M.Si, Kepala UPTD Taman Budaya, Dra. Yohana Lingo Lango, Ketua Komisi B DPRD NTT, John Umbu Detta, Ketua Forum Parlemen NTT yang juga anggota DPRD NTT, Kristo Blasin, Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho, anggota FAN   Hyron Fernandez, Farry Francis, Sr. Dr. Susi Susilawati, Ermi Ndoen, Candra Dethan, Dion DB Putra, Herman Seran, Mario Viera, Pius Rengka, Isidorus Lilijawa, Jemris Fointuna, Tony Kleden, Silvya Fanggidae dan anggota FAN lainnya yang datang dari Jakarta dan kota lain di Indonesia. Hadir pula akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Kota Kupang, pegiat LSM dan mahasiswa.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bidang Ekonomi, Jonas Salean, memberi apresiasi terhadap FAN atas konsitensinya memberi award bagi putra-putri terbaik NTT sejak tahun 2007. "Pemerintah berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Forum Academia NTT," kata gubernur.

Moderator FAN, Jonatan Lassa, mengucapkan selamat kepada ketiga pemenang. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada panitia NTT Academia Award 2010 yang dipimpin Rikardus Wawo dan Bintang Intan Oematan atas kerja keras mereka menyukseskan acara semalam. "Terima kasih juga buat teman- teman anggota FAN di seluruh dunia yang telah menyumbang dana demi suksesnya kegiatan malam ini," kata Jonatan.

Sementara Jemris Fointuna yang mewakili tim juri mengatakan, bukan hal gampang bagi mereka lima anggota tim juri saat memilih yang terbaik. Sebab 22 nominee tahun ini merupakan orang-orang terbaik di bidangnya masing-masing.

 "Para nominee bekerja dengan hati yang tulus.  Mereka merupakan intan dan berlian yang harus diangkat ke permukaan dan jangan terus disembunyikan di kampung-kampung," kata Jemris. (nia)

Pemenang NTT Academia Award 2010


Kategori I bidang  Sains dan Inovasi Keteknikan: Geng Motor iMuT (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak) - Kupang. Karya: Inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas.

Kategori II bidang Inovasi Pembangunan:
Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Karya: Motivator Pelestarian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air di Desa Apui, Kabupaten Alor.

Kategori III bidang Humaniora, Sastra dan Inovasi Sosial Budaya:
P. Robert Ramone, CSsR. Karya:  Melestarikan dan Menduniakan Kekayaan Alam dan Budaya Sumba.


Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/56364/fan-serahkan-ntt-academia-award-2010

Sabtu, 18 Desember 2010

Oknum Polisi Catut Jaksa Minta Uang

TAMBOLAKA, Seorang oknum polisi anggota Polsek Loura, Sumba Barat Daya, diduga mencatut nama jaksa memeras warga yang berurusan dengan hukum. Modusnya, oknum polisi berinisial W itu mendatangi warga membawa pesan bahwa jaksa di Kejari Waikabubak meminta uang pulsa.

Dugaan pemerasan oleh oknum polisi ini dibeberkan Margareta Nani Bulu, warga Kampung Belakang, Kelurahan Weetabula, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (ABD),  di rumahnya Senin (29/11/2010) lalu.

Margaretha mengakui pada  hari Sabtu (27/11/2010), dia   didatangi oknum Polsek Loura berinisal W. Oknum polisi ini menyampaikan akan ke Kejari Waikabubak guna mengecek berita acara pemeriksaan (BAP) kasus perusakan pohon pisang miliknya oleh Yosep Tome yang terjadi bulan September 2010 yang sudah dilimpahkan penyidik Polsek Loura minggu sebelumnya.

Pada kesempatan itu oknum polisi ini juga menyampaikan pesan dari jaksa agar Margaretha memberikan uang pulsa guna mempermudah komunikasi terkait penanganan persoalannya. Mendengar itu, Margaretha minta oknum polisi itu memberikan nomor handphone dan menyebutkan nama jaksa  dimaksud agar mudah dihubungi. Namun polisi tidak memberikan nomor HP dan tidak menyebutkan nama jaksa, tapi berusaha mengalihkan pembicaraan lalu pamit ke kantor di Waikabubak, Ibu kota Kabupaten Sumba Barat.  Sementara uang pulsa pesanan jaksa belum diberikan.

"Saya bertanya-tanya apakah benar jaksa yang minta? Dan, kalau saya tidak kasih, apakah perkara saya tidak diproses sampai disidangkan di pengadilan? Kalau jaksa yang minta, kenapa ia tidak serahkan nomor HP? Bila benar pesanan jaksa, berapa yang saya harus serahkan? Karena itu, saya memutuskan menghubungi wartawan guna menyebarluaskan informasi ini agar masyarakat mengetahui sekaligus mengingatkan aparat penegak hukum agar tidak melakukan hal itu terhadap rakyat kecil," tutur Margaretha.

Kapolres Sumba Barat, AKBP Yayat Jatnika, yang hendak dikonfirmasi di kantornya, Selasa (30/11/2010), tidak berhasil karena sedang tugas ke Kupang. Kapolsek Loura, Iptu Martinus Netta, dikonfirmasi Pos Kupang ke handphone-nya, Rabu (1/12/2010), mengatakan, pihaknya akan mengecek kebenaran informasi itu kepada anggotanya.  "Informasi ini saya terima, dan nanti saya cek lagi," kata Netta.

Menurut Margareta, pembicaraan dengan oknum polisi itu berlangsung di halaman belakang rumahnya disaksikan kedua adiknya, Sabtu (27/11/2010) pukul 11.00 Wita. Dia mengaku pada hari Sabtu (27/11/2010) malam, oknum polisi itu datang dan menyampaikan jika BAP sudah dikembalikan untuk dilengkapi.  Hari Selasa (30/11/2010), penyidik polisi itu minta Margaretha ke polsek untuk melengkapi BAP-nya. Saat di ruang pemeriksaan, oknum polisi menanyakan mengapa Margaretha menyampaikan hal itu ke wartawan karena terkait  nama baik.
Margaretha menegaskan, keinginan mempublikasikan hal itu agar hal serupa tidak terjadi bagi warga pencari keadilan lain di masa mendatang.

"Biar citra penegak hukum baik di mata masyarakat. Saya juga ingin agar persoalan yang saya hadapi cepat selesai. Sebab persoalan tanah milik saya sudah terjadi ketiga kalinya. Dua kejadian sebelumnya sudah dilaporkan ke Polsek Loura, namun berakhir tanpa kejelasan," tegasnya.

Ia bertekad agar kejadian terakhir ini harus diproses tuntas sampai disidangkan di pengadilan agar aktivitas berkebun seperti menanam pisang, padi, jagung dan sebagainya berjalan aman dan damai tanpa gangguan pihak mana pun.

Tidak pesan
Kajari Waikabubak, Sopran Telaumbanua, S.H, membantah jika  anak buahnya (jaksa) menitip pesan melalui oknum polisi di Polsek Loura meminta pulsa kepada Margaretha Nani Bulu.

"Itu tidak benar, dan itu hanya pencatutan nama demi kepentingan pribadinya. Seandainya itu benar dan dilakukan  salah seorang oknum penegak hukum, maka perbuatan itu patut disesalkan dan perlu diganjar sesuai hukum yang berlaku," kata  Sopran Telaumbanua, S.H, ketika dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, Selasa (30/11/2010).

Didampingi Kasie Pidsus, Ihsan Asri, S.H, jaksa Ririn, S.H, jaksa Salman, S.H dan jaksa yang menangani perkara Margaretha Nani Bulu, Afrizal Hamid, S.H,  Kajari membantah anak buahnya memesan pulsa pada korban Margaretha Bulu. 

"Apa yang terjadi merupakan perbuatan oknum yang mencatut nama jaksa demi kepentingan pribadinya. Penanganan perkara selama ini berjalan baik sesuai prosedur kerja lingkup kejaksaan," tegasnya.

Mengantisipasi itu,  Sopran telah menyurati Bupati Sumba Barat, Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah agar memberitahukan warga masing-masing agar tidak mengamini permintaan oknum tertentu yang mengaku dari kejaksaan. (pet)



Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/55966/regionalntt/waitabula/2010/12/8/oknum-polisi-catut-jaksa-minta-uang

Jumat, 17 Desember 2010

Stok BBM Menipis di Sumbar

WAIKABUBAK,  Persediaan bahan bakar minyak (BBM) seperti bensin dan solar di Sumba Barat menipis selama sebulan terakhir. Akibatnya, antrean sepeda motor dan mobil terus menumpuk di dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Km 2 dan Km 3, Kota Waikabubak.

Kondisi ini sulit diprediksi kapan akan berakhir. Warga mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap pengecer BBM yang membanjiri ruas jalan di wilayah Kota Waikabubak.

Pemerintah juga harus menertibkan truk milik pengusaha yang diduga ikut mengisi BBM subsidi itu. Sebab kendaraan milik pengusaha dilarang mengambil BBM di SPBU.

Hal ini disampaikan beberapa warga, di antaranya Sari dan Edi Lodja, suami istri warga Anakalang yang sering mengisi BBM di Waikabubak karena wilayah ini belum ada SPBU, serta empat warga Waikabubak, Mawu, Yance, Ngongo Lede dan Christina Yane, saat ditemui Pos Kupang di Waikabubak, Kamis (2/12/2010).

Mereka minta polisi pamong praja (Pol.PP) bertindak tegas menertibkan pembelian dengan jerigen serta kendaraan yang berkali-kali mengisi BBM serta truk milik pengusaha. Tanpa ketegasan petugas, maka kondisi seperti ini akan terus berlangsung tanpa akhir.

Menurut Edi dan Sari, tindakan tegas tidak hanya berlaku bagi masyarakat, tapi juga terhadap operator SPBU. Sebab, dikhawatirkan kondisi itu `diperankan'  petugas SPBU, mengakibatkan kelangkaan BBM sebagaimana terjadi belakangan ini.

"SPBU di Weetabula-Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, pekan lalu, nyaris terbakar. Salah seorang warga pemilik tangki berukuran 500 liter terbakar saat hendak mengisi BBM di SPBU. Pengisian BBM digunakan untuk kepentingan pribadi, seperti menjual eceran," kata Christina.

Menurut warga ini, para pelaku  sudah berkali-kali mengisi BBM di SPBU kerja sama dengan operator SPBU. Karena itu, warga mendesak polisi segera menangkap pemilik tangki dan operator SPBU yang diduga bermain menyebabkan kelangkaan BBM.
Lede dan Christina minta aparat bertindak lebih tegas lagi seperti menyita semua jerigen, tidak hanya di dalam SPBU, tapi juga di sepanjang jalan dekat SPBU. Juga  menangkap pengusaha yang membiarkan truk miliknya mengisi BBM dan menangkap warga yang menjual bensin eceran dengan harga tak wajar sampai Rp 10.000/botol.

Kepala Bagian Ekonomi Setda Sumba Barat, Jeffri Dapamerang,  dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (2/12/2010), mengatakan,  pihaknya terus beroperasi menertibkannya, namun kondisi itu hanya berlangsung sesaat saja.

"Begitu petugas kembali, maka antrean kembali terjadi. Dalam waktu dekat, kita akan undang pemilik SPBU, operator dan petugas keamanan SPBU untuk mengadakan pertemuan bersama membahas masalah ini. Dalam waktu dekat akan ada rahasia untuk menangkap oknum yang diduga menimbun BBM," tegasnya. (pet)

Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/55929/regionalntt/waikabubak/2010/12/7/stok-bbm-menipis-di-sumbar

Senin, 06 Desember 2010

SEMBILAN PEJABAT ESELON II DILANTIK

Bupati Sumba Barat Daya Dr Kornelis Kodi Mete, Senin, (06/12/2010)  secara resmi melantik dan mengangkat sumpah Sembilan pejabat eselon II di lingkup Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya.

Acara Pelantikan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut mengambil tempat di aula kantor Bupati Sumba Barat Daya, PUSPEM Kadula. 

Dalam pelantikan ini, beberapa pejabat menduduki posisi baru karna menggantikan pejabat lama yang telah pensiun, Ada juga pejabat yang masih dipercaya untuk menempati posisi lamanya.

Pelantikan sembilan pejabat eselon II ini di hadiri Kepala Dinas/Badan dan bagian, lingkup pemerintah daerah Sumba Barat Daya

Selengkapnya nama sembilan Pejabat eselon II yang dilantik,

1. Dr. Soleman D. Poety
Jabatan Lama : Kadis Kesehatan (Cuti karna menjadi calon bupati)
Jabatan Baru : Kadis Kesehatan

2. Imanuel Horo,SH
Jabatan Lama : Kepala Bappeda
Jabatan Baru : Asisten I

3. Drs. David Tamo Ama
Jabatan Lama : Sekretaris Dewan
Jabatan Baru : Kadis Pendukcapil

4. Yakobus Bulu
Jabatan Lama : Kaban Ketahanan Pangan
Jabatan Baru  : Kadis Pertanian

5. Drs. Dominggus Bula
Jabatan Lama : Kadis Sosialnakertrans
Jabatan Baru  : Kepala Bappeda

6. Drs. Bora Wunga
Jabatan Lama : Kadis Koperasi dan UKM
Jabatan Baru  : Staf Ahli Bidang Pembangunan

7. Paulus Dara Gallu, SH
Jabatan Lama : Camat Kodi
Jabatan Baru  : Sekretaris Dewan

8. Bernadus Bulu, SH
Jabatan Lama : Kabag Organisasi
Jabatan Baru  : Kadis Sosialnakertrans

9. Ir. Yohanes Lori Riti
Jabatan Lama : Kadis Pertanian
Jabatan Baru : Kepala Badan Pertahanan Pangan

Rabu, 01 Desember 2010

PLIK DI SBD JADI PILIHAN WARGA

Suasana di PLIK kecamatan Loura
Meskipun Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) belum diresmikan sejak diinstalasi juli lalu di NTT khususnya di Sumba Barat Daya (SBD) namun peminatnya sudah banyak.

Sejak Oktober lalu Lintas Artha sudah memberikan kebijakan dengan memberikan subsidi voucer kepada setiap PLIK khususnya di wilayah 7 yang masih menantikan rampungnya intalasi PLIK Papua dan Kalimantan untuk diresmikan serentak.

Hal Tersebut menjadi kabar baik bagi para pengelola PLIK khususnya di SBD dan sejak adanya kebijakan tersebut PLIK di SBD mulai beroperasi dan menerima pelanggan. Derry Laka pengelola PLIK di K ecamatan wewewa Barat mengatakan "ini kabar menggembirakan buat saya dan teman-teman pengelola PLIK di SBD karna kami sudah menunggu terlalu lama".

Menurut Derry sejak dioperasikan peminat PLIK di SBD semakin banyak apalagi harga yang ditawakan jauh lebih murah dibandingkan harga warnet di Waitabula maupun di Waikabubak - Sumba Barat.

Derry Menambahkan awalnya pelanggan sedikit kesulitan karna sistim operasi PLIK menggunakan LINUX namun kini pelanggan semakin terbiasa, bahkan PLIK di kecamatan Loura kehabisan Voucer karna banyaknya pelanggan.

Derry berharap antusiame warga ini bisa diikuti dengan pelayanan yang lebih baik dari Lintas artha khususnya bisa segera mengganti perangkat yang rusak dan menyediakan teknisi untuk regular maintenance.

PLIK di Sumba Barat daya hadir di 8 Kecamatan yaitu Kecamatan Wewewa Timur di PLIK kanelu tepatnya dekat jalan masuk SMP Manulangga, Kecamatan Wewewa Barat di PLIK waimangura depan pasar waimangura, Kecamatan Wewewa Utara di PLIK Palla dekat Puskesmas Palla, Kecamatan Loura di PLIK Tambolaka Depan gang masuk SVD, Kecamatan Kodi Utara di PLIK Mangganipi dekat Gereja Katolik Mangganipi, Kecamatan Wewewa Selatan di PLIK Tena Teke dekat Kantor Camat Tena Teke, Kecamatan Kodi & Kodi Bangedo di kantor PLIK berada di Kantor Camat. (snd)


Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD