Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Selasa, 05 Oktober 2010

Lumpuh Layu Serang Ternak di Sumba

Kupang, Pemerintah melarang pengiriman ternak antarpulau di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah ditemukan penyakit lumpuh layu (Trypanosomiasis) yang menyerang ternak di Pulau Sumba.
Larangan diberlakukan setelah sedikitnya 95 kerbau dan kuda di empat kabupaten di Sumba mati secara tidak bersamaan sejak dua bulan terakhir. Dari hasil pemeriksaan sampel darah ternak mati tersebut ditemukan parasit darah Trypanosoma evansi sebagai agen penyakit lumpuh layu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan NTT Ansgerius Takalapeta mengatakan itu di Kupang, Minggu (5/9).

Menurut Ansgerius, larangan itu juga berlaku untuk ternak yang berasal dari Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang merupakan daerah endemis lumpuh layu. Ternak kuda dari dua daerah itu sering dibawa ke Sumba untuk mengikuti pacuan maupun prosesi adat pasola. "Larangan diikuti pengawasan di seluruh pelabuhan untuk mencegah ternak masuk ke NTT," katanya.

Tim dokter hewan di empat kabupaten di Sumba masih bekerja memberikan vaksin kepada ternak yang sakit. Mereka juga mengisolasi setiap desa yang ditemukan ternak mati. Tujuannya penyakit tersebut tidak cepat menyebar ke wilayah lainnya. Meski begitu, pemilik ternak asal Sumba masih diperbolehkan membawa ternaknya ke daerah lain dengan perjanjian ternak tersebut tidak boleh kembali lagi ke Sumba.

"Kita khawatir ternak yang keluar itu kalau kembali lagi membawa penyakit," jelasnya.

Kondisi ini, menurut dia, membuat peternak khawatir karena masa inkubasi penyakit ini hanya berlangsung 5-60 hari, bersifat kronis dan sering tidak menunjukkan gejala klinis, sehingga hewan yang sembuh dari sakit pun masih berperan sebagai pembawa penyakit. Sampai akhir Agustus 2010, jumlah ternak di Sumba sebanyak 28.924 ekor.

Apalagi, Sumba dan Timor merupakan dua daerah penghasil ternak terbesar di NTT. Setiap tahun, puluhan ribu ternak asal dua daerah ini dikirim ke Pulau Jawa. Namun, Ansgerius menjamin ternak yang dikirim ke Jawa bebas penyakit karena telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan.

Sementara itu, tim dokter hewan masih melakukan pengobatan terhadap ternak yang sakit dan mengisolasi wilayah-wilayah yang ditemukan ternak mati. Tim ini telah bekerja sejak satu bulan terakhir dan telah mengobati sedikitnya 500 ternak yang sakit. Dari jumlah itu sekitar 200 ekor sudah sembuh.

Akan tetapi penyakit ini masih tetap menjadi ancaman karena penyebarannya terjadi melalui lalat kuda (Stomoxys sp) dan lalat rumah (Tabanus sp). Populasi dua jenis lalat ini terbanyak di Sumba. Lalat menularkan parasit secara mekanik melalui gigitan lalat pengisap darah. (PO/OL-3)


Sumber : www.mediaindonesia.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD