Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Senin, 30 Agustus 2010

UPACARA 17 AGUSTUS DI SBD On Pitcure


                                                                                                                                                                                              

Kamis, 26 Agustus 2010

Warga Kadi Pada Tewas

Domi Dappa (50), warga Kampung Kalaki Kambe, Desa Kadipada, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) dari kubu Yohanis Dappa Cs, Minggu (15/8/2010) pukul 16.15 wita, tewas terkena lemparan batu yang diduga dilakukan Frans Ngongo Bani dari kubu Petrus Bulu Lede Cs yang berasal dari kampung dan desa  yang sama.

Korban terkena lemparan batu saat kedua kubu bentrok akibat salah paham dalam urusan penyelesaian utang-piutang sebesar Rp 12.500.000  di Kampung Kalaki Kambe, Desa Kadipada, Kecamatan Wewewa Barat.

Sedangkan korban lain dari kubu Petrus Bulu Lede adalah Yohanis Bulu Lede (49) dalam kondisi kritis akibat terkena delapan luka tebasan parang pada tanggal 16 Agustus 2010 pagi.
Saat ini korban sedang menjalani perawatan intensif di RSUD Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat.

Selain itu, empat rumah ikut dibakar, yakni rumah milik Petrus  Bulu Lede, Bili Ngongo dan Mateus Malo Nono dan Frans Ngongo Bani.

Demikian penjelasan Sekretaris Badan Kesbangpol Linmas Kabupaten Sumba Barat Daya, Drs.Yohanis Nongo, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (19/8/2010). Dia ditemui saat sedang menyusun laporan mengenai kejadian itu untuk disampaikan kepada Bupati  Sumba Barat Daya, dr. Kornelius Kodi Mete.
Menurutnya, sesaat setelah kejadian tanggal 15 Agustus 2010 sekitar pukul 18.30 wita, dirinya bersama Kepala Kesbangpol Linmas SBD, Alex Samba Kodi, dan sejumlah staf turun ke lokasi kejadian.

"Suasana malam itu cukup panas, namun berkat kesigapan aparat Brimob dan anggota  Polsek Wewewa Barat serta anggota Satpol PP, maka suasana dapat dikendalikan," jelasnya.
Ia menceritakan, persoalan awal murni terkait utang-piutang antara Yohanis Dappa dan Petrus Bulu Lede. Semula Yohanis Dappa meminjamkan uang Rp 1 juta kepada Petrus Bulu Lede dengan bunga 2,5 persen, dan jaminan sebidang tanah ukuran 20 meter x 30 meter.

Selama beberapa tahun Petrus Bulu Lede tidak pernah membayar atau mencicil utang berikut bunganya hingga total utang mencapai Rp 12.500.000.

Beberapa kali Yohanis Dappa mendatangi Petrus Bulu Lede agar membayar utang ataupun mencicil sebagiannya. Sayangnya hal itu tak digubris. Akibatnya, Yohanis Dappa memagari tanah yang menjadi jaminan utang tersebut.

Selanjutnya, Petrus Bulu Lede melaporkan hal itu ke Polsek Wewewa Barat. Namun pihak Polsek tidak bisa menangani karena persoalan itu adalah persoalan perdata sehingga mengalihkan perkara tersebut kepada pihak Kecamatan Wewewa Barat.

Camat Wewewa Barat, Petrus Ngongo Lede, juga menemui jalan buntu dan berencana melimpahkan persoalan itu ke Pengadilan Negeri (PN) Waikabubak agar diproses sesuai hukum  yang berlaku. Namun kedua belah pihak meminta agar masalah itu diselesaikan secara kekeluargaan. Camat sebagai fasilitator.

Permintaan tersebut diterima camat dan disepakati bersama penyelesaian secara damai di Kampung Kalaki Kambe, Desa Kadi Pada, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten SBD, tanggal 15 Agustus 2010 pukul 15.00 wita.

Namun dalam pembicaraan tersebut, demikian Yohanis Ngongo, tidak secara teknis dibahas persiapan material yang harus dibawa dua belah pihak pada saat urusan perdamaian.
Di sinilah awal mula kejadiannya. Pasalnya, saat itu Petrus Bulu Lede merasa tersinggung karena Yohanis Dappa datang hanya membawa seekor ayam. Sedangkan dia sudah membawa seekor babi besar. Hadir dalam kesempatan itu, Camat Wewewa Barat, Petrus Ngongo Lede, Kapolsek Wewewa Barat dan staf  serta beberapa staf Satpol PP SBD dan tokoh masyarakat, Bili Ngongo.

Melihat persiapan seperti itu, Bili Ngongo selaku tokoh masyarakat marah terhadap Yohanis Dappa karena datang hanya membawa seekor ayam.

Sikap Bili Ngongo justru tidak diterima Yohanis Dappa yang berujung terjadinya keributan. Untuk menghindari bentrokan fisik, camat, kapolsek dan sejumlah pihak melerai perkelahian itu.

Namun di sela-sela upaya itu, tiba-tiba Domi Dappa yang adalah adik dari Yohanis Dappa terkapar terkena lemparan batu yang diduga dilakukan Frans Ngongo Bani, anak dari Ngongo Bili dari kubu Petrus Bulu Lede. Keluarga berusaha melarikan korban ke rumah sakit, namun dalam perjalanan korban meninggal dunia.
Akibatnya sekitar pukul 18.30 wita, kubu Yohanis Dappa cs melakukan penyerangan dan membakar tiga unit rumah, yakni milik Petrus Bulu Lede, Ngongo Bili dan Mateus Mali Nono. Tidak ada korban jiwa karena penghuni lari menyelamatkan diri. Selanjutnya tanggal 16 Agustus 2010 pagi, kubu Yohanis Dappa kembali menyerang yang mengakibatkan Yohanis Bulu Lede alias Ama Dawa kritis setelah mendapat delapan luka tebasan parang dan membakar rumah milik Frans Ngongo Bani.
Untuk mengamankan situasi di TKP, Pemda SBD membangun posko penanganan konflik dengan menempatkan Satpol PP di lokasi kejadian.

Sementara anggota polsek dan Brimob sudah ditarik karena kondisi berangsur kondusif. Meski demikian, pihaknya berharap  aparat polsek segera menangkap para pelaku agar diproses sesuai hukum yang berlaku sekaligus bisa meredam gejolak lebih luas.

Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/51810

Jumat, 06 Agustus 2010

Pemda SBD Berjuang Tambah Lintasan Feri

TAMBOLAKA, Pemerintah  Daerah (Pemda) Sumba Barat Daya (SBD) melalui Dinas Perhubungan SBD terus  membangun koordinasi dengan PT Fery Bima, Nusa Tenggara Barat, agar bisa menambah frekuensi pelayaran kapal feri ke  Weekelo, Kabupaten SBD.

Kepala Dinas (Kadis) Perhubungan SBD,  John Ngongo Ngindi, menyampaikan hal ini di Tambolaka, Selasa (27/7/2010).
Menurut John,  pihaknya juga akan membangun komunikasi dengan PT Fery Cabang Kupang untuk membuka lintasan penyebarangan l feri ke Pelabuhan Weekelo agar lalu lintas barang dan manusia dari dan menuju SBD semakin lancar.

Pasalnya, selama ini masyarakat selalu mengeluh kesulitan membawa barang komoditi ke luar SBD karena frekuensi kunjungan kapal feri terbatas. Misalnya, lintasan feri rute Bima-Weekelo hanya dua kali  seminggu, yakni setiap hari Selasa dan Sabtu. Pihaknya akan memperjuangkan menjadi tiga kali seminggu.

Sedangkan lintasan kapal feri Kupang-Weekelo yang selama ini belum dibuka akan diusahakan agar PT Fery mau membuka rute penyeberangan menuju Pelabuhan Weekelo. "Apalagi Kabupaten SBD sudah memiliki pelabuhan feri sendiri," tambahnya.

Menurut John, selain mengupayakan penambahan penyeberangan lintasan kapal feri menyinggahi Pelabuhan Weekelo,  pihaknya sedang berusaha memperbaiki Pelabuhan Weekelo agar dapat disinggahi kapal milik PT Pelni.
Dikatakannya, selama ini masyarakat SBD yang hendak ke luar Pulau Sumba harus menempuh perjalanan darat kurang lebih 5 jam menuju Kota Waingapu, Ibu Kota Kabupaten Sumba Timur, agar bisa menumpang kapal milik PT Pelni maupun kapal feri. Karena itu, ke depan pemerintah berkomitmen menghadirkan kapal feri dan kapal milik PT Pelni menyinggahi Pelabuhan Weekelo agar masyarakat lebih mudah menjangkau dan lebih efisien.

Untuk mewujudkan semua itu, kata John, pemerintah butuh dukungan penuh masyarakat SBD, termasuk dukungan  pemerintah mengalokasikan anggaran untuk membenahi Pelabuhan Weekelo agar bisa disinggahi semua jenis kapal. (pet)

Laporan Petrus Piter

Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/50961/regionalntt/waitabula/2010/7/28/

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD