Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 26 Mei 2010

Sumba dan Malaria…..

Tulisan : Joko Hendarto

Di pedalaman sumba barat dan sumba barat daya saya ditahbiskan oleh penyakit ini. Penyakit yang sudah hampir setua peradaban manusia. Membunuh begitu banyak orang, meninggalkan cacat neurologis bagi beberapa yang lainnya. Dan parasit-parasit malaria, betapa eksotiknya mereka. Hidup di dua dunia, nyamuk dan manusia. Perubahan bentuk mereka dari satu stage ke stage lainnya begitu menawan. Walaupun itu berarti ia akan meninggalkan jejak sakit yang teramat bagi penderitanya. Juga meninggalkan sebuah tantangan besar untuk para ilmuwan untuk mencegah bahkan memberantasnya.

Malaria bagi orang-orang sumba mungkin sudah seperti flu saja. Setiap kali mereka merasa demam maka yang disimpulkan adalah malaria. Dan mereka akan dengan sangat enteng menjawab, “ah biasa malaria”. Dan mengapa malaria masih bertahan di tempat ini? Mungkin juga di papua sana, maluku, juga yang  mamuju, Sulawesi Barat. Yang saya saksikan di sumba adalah gabungan antara alam yang menyediakan begitu banyak tempat yang nyaman untuk perindukan nyamuk anopheles. Nyamuk utama pembawa parasit malaria. Muara sungai, lagoon, groundpool bahkan sawah hingga air yang tertampung di kulit-kulit kelapa, begitu mudah menemukan jentik nyamuk ini.

Budaya masyarakat setempat pun, dengan rumah-rumah yang sangat sederhana. Beratapkan alang-alang. Berbahan potongan bambu untuk lantai dan dinding. Ya bambu bulat. Berbentuk panggung. Di kolong rumah mereka simpan binatang  ternak. Kuda, babi, kambing atau kerbau tidur nyaman  disana. Tak ada jendela, pintu, kamar karena semua terbuka. Orang pun tidur di bagian rumah yang dibuat seperti balai-balai. Artinya nyamuk bisa datang dari mana saja. Bisa datang menggigit, menyebarkan malaria dari satu rumah kerumah lainnya yang biasa terkumpul membentuk cluster.

Ketertinggalan dan kemiskinan. Mungkin dua faktor terakhir yang turut memberi andil. Angka putus sekolah yang masih tinggi, penghasilan yang tak menentu ditambah program keluarga berencana yang nampaknya tak berhasil. Orang-orang sedemikian bangga menceritakan jumlah anak mereka yang banyak, berderet-deret. Ada seorang bapak yang baru sepuluh tahun menikah sudah punya 7 anak. Kita bisa bayangkan bagaimana anak-anak itu dibesarkan dalam suasana yang begitu terbatas. Pendidikannya? Status gizinya? Dan itu semua bisa berarti malaria akan dengan mudah berjangkit sepanjang musim.

Dan mengapa malaria semakin menakutkan. Ya, salah satunya karena resistensi. Resistensi parasit malaria terhadap obat-obatan yang digunakan. Bahkan golongan artemisine, regimen pamungkas yang kita gunakan jika yang lain resisten telah dilaporkan mulai resisten di kamboja, entahlah di Indonesia? Dan resistensi kedua adalah resistensi vektor malaria terhadap insektisida. Nyamuk pun mulai kebal terhadap insektisida yang digunakan untuk mengontrol mereka. Padahal pemberantasan malaria selain mengobati yang sakit, kita juga harus punya cara yang tepat untuk mengontrol vektor. Memang perjalanan untuk memerangi malaria masih panjang.  Dan harapan itu tetap akan hidup. Jangan sampai kita terkalahkan oleh penyakit ini

Sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/2010/02/21/sumba-dan-malaria/
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD