Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 26 Mei 2010

Sumba Barat Daya, Sebuah Harapan Baru

Tulisan : Yohanes Tende, SH 
PNS pada Setda Kabupaten Kupang
TULISAN ini merupakan sebuah catatan refleksi dari suatu proses berpikir positif (positive thinking) terhadap revitalisasi pembangunan di Kabupaten Sumba Barat Daya sebagai daerah otonom pemekaran baru.

Dalam ungkapan bijak dikatakan, suatu hal yang tidak mungkin terjadi adalah bahwa masyarakat dapat berfungsi tanpa kekuasaan dan tanpa adanya struktur kekuasaan. Artinya, kekuasaan benar-benar memiliki kekuatan untuk memerintah. Secara esensial, tidak dapat dibantah bahwa pelaksanaan kekuasaan dan kepatuhan sementara warga masyarakat pada kemauan pemerintah atau penguasa yang tidak bisa dihindari dalam sebuah masyarakat moderen saat ini.

Diyakini, ketiadaan atau kekurangan adanya kepercayaan terhadap akses sumber- sumber kekuasaan dari suatu golongan masyarakat akan secara sistematik mengakibatkan kekurangan bagian dari kesejahteraan sosial yang diterimanya, termasuk hasil usahanya sendiri.

Berpijak pada argumentasi pemikiran tersebut, penulis ingin mengetengahkan tentang segala upaya dan strategi kebijakan yang ditempuh oleh duet pimpinan daerah yakni, dr. Kornelius Kodi Mete (Bupati Sumba Barat Daya) bersama Jeck Malo Bulu, Bsc (Wakil Bupati Sumba Barat Daya) dalam meretas kinerja pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan melalui sukses program desa berair, desa bercahaya, desa yang cukup pangan dan tidak lapar, dan desa yang aman dan tentram.

Keempat pilar program dimaksud merupakan wujud kepedulian tugas pelayanan melalui akselerasi kegiatan pembangunan menuju masyarakat Sumba Barat Daya yang sejahtera, maju, mandiri, bermartabat yang dilandasi nuansa kehidupan berkeadilan. Selanjutnya, pendekatan program strategis tersebut sangat tepat diterapkan sesuai skala prioritas kebutuhan daerah.

Untuk itu, ada banyak keinginan, cita-cita warga masyarakat dari 227.285 jiwa yang bermukim di 8 kecamatan dan 94 desa menaruh harapan dapat menangani dan menyelesaikan berbagai penderitaan, kesulitan, kecemasan yang masih menggerogoti kehidupan masyarakat dalam tempo waktu bertahun-tahun lamanya belum sempat mendapat pelayanan secara baik dan tuntas.

Sebut saja, kesulitan memperoleh air bersih, perumahan masyarakat yang belum layak sehat, listrik masuk kampung yang belum dinikmati, hak masyarakat mendapatkan pelayanan pengobatan oleh petugas medis di tiap perkampungan setiap desa belum terpikirkan secara maksimal, dan aksi pencurian hewan yang belum tertangani secara kontinyu, serta keberadaan peserta didik diusia bangku sekolah yang berhenti lantaran keburu kawin juga belum ada penanganan serius.

Ini hanyalah beberapa contoh persoalan yang diangkat ke permukaan yang diamati penulis sebagai bidikan dalam mencari solusi penanganan oleh para stakeholder, sehingga stagnasi yang dirasakan selama ini bisa terpikirkan, terprogramkan secara baik dan ditangani secara berkelanjutan.

Sederetan upaya memacu kreativitas yang dimunculkan adalah sebuah gerakan moral dalam mencairkan suasana kebekuan dalam bentuk konkritisasi program nyata yang terkonsepkan secara aktual untuk menjawab persoalan pembangunan di daerah. Tentunya, strategi menyikapi problematika pembangunan perlu didukung oleh tiem kerja kolektif yang solid, saling mendukung, saling melengkapi, saling bahu membahu membangun daerah sesuai peran dan tugas yang diemban.

Untuk itu, penanganannya memerlukan upaya secara menyeluruh, terpadu dengan penerapan rincian program prioritas sektoral dan regional yang terseleksi yang merupakan akumulasi dari hasil kajian dan usulan masyarakat saat musyawarah pembangunan di tingkat dusun, desa, kecamatan dan pemberian plafon anggaran di tingkat kabupaten yang berimbang. Dengan demikian harapan sinkronisasi pemuatan program berbasis anggaran untuk rakyat benar-benar dapat diselaraskan sesuai penerapan fhilosofi Anggur Merah oleh Pemda NTT berupa penyediaan alokasi anggaran untuk rakyat bisa diwujudkan secara nyata dan tepat sasaran oleh jajaran eksekutif di kabupaten pemekaran Sumba Barat Daya.

Sejalan dengan pendapat mantan Menteri Perhubungan dan Keuangan RI, Drs. Frans Seda, saat membawakan makalah di Kabupaten Sumba Barat tahun 2001 dengan judul : Problematika dan Prospek Pembangunan Kawasan Timur Indonesia(KTI) khususnya di NTT mengatakan, pelaksanaan pembangunan harus didasari pada prinsip partisipasi penuh dari masyarakat setempat melalui peningkatan efisiensi pendapatan mereka. Hal ini penting, karena merupakan modal dan jaminan bagi pembangunan berkelanjutan.

Sementara kegiatan pembangunan meliputi tiga tingkatan, yaitu tingkat mikro, kawasan dan tingkat makro. Tingkat mikro terdiri dari pemenuhan kebutuhan mendesak dari tiap daerah terutama dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia menjadi lebih produktif serta penentuan sektor-sektor pembangunan prioritas dan penguat, pemantap serta melakukan penganekaragaman basis ekonomi wilayah dengan potensi ekspor.

Sedangkan strategi pembangunan tingkat kawasan sejak dini harus lebih mempertimbangkan faktor efisiensi makro ekonomi dan distribusi spesial kegiatan serta manfaat pembangunan.

Drs. Frans Seda menegaskan bahwa kepala daerah dituntut mampu menentukan kawasan-kawasan prioritas pengembangan yang merupakan kesatuan wilayah ekonomi secara mantap dan menentukan kota-kota prioritas sebagai pusat ekonomi perkotaan, di samping adanya kawasan prioritas pengembangan sebagai suatu kesatuan struktur wilayah.

Sumba Barat Daya sebagai daerah pemekaran baru, yang baru mulai bertumbuh sudah barang tentu ada banyak kesulitan, kekurangan, hambatan dihadapi.

Namun melalui gebrakan Desa Berair, harapan masyarakat akan terpenuhinya air bersih baik di perkotaan dan pedesaan bisa teratasi. Kenyataan membuktikan bahwa sampai saat ini masih begitu sulitnya masyarakat memperoleh air bersih seperti yang dirasakan masyarakat di Kecamatan Loura, Kodi Bangedo, Kodi, Kodi Utara dan sebagaian wilayah lainnya.

Untuk itu, dibutuhkan adanya penelitian untuk mengetahui secara pasti penyebabnya dan bisa mengetahui sumber- sumber mata air secara tepat guna pengelolaan lebih lanjut. Selanjutnya, dalam upaya mengatasi kesulitan air dapat melakukan penulusuran air bawah tanah melalui pemboran air tanah, membuat penampungan air hujan, memperbanyak pembuatan dan pengadaan bak- bak tampungan air dititik sentral pemadatan pemukiman penduduk, dan pengadaan truk-truk tangki oleh pemda dalam distribusi air kepada masyarakat.

Terobosan Desa Bercahaya juga relevan dengan kondisi faktual yang dihadapi masyarakat saat ini. Perhatian pemda setempat akan lebih mencairkan kesulitan yang dirasakan, sehingga dambaan masyarakat untuk menikmati penerangan listrik bisa terjawab. Apalagi di perkampungan- perkampungan pedesaan yang masih mengandalkan lampu pelita (istilah setempat) yang dibuat dari sumbu kain untuk dijadikan penerangan listrik pada malam hari. Lalu begitu sulitnya sebagian masyarakat pedesaan untuk mengetahui perkembangan dunia luar melalui layar kaca televisi lantaran belum menikmati sentuhan listrik, kecuali hanyalah sekelompok warga yang memiliki pendapatan yang cukup membeli generator.

Berbagai cara bisa ditempuh dalam mengatasi lilitan keterbatasan yang dihadapi, yakni menggalang dan membangun komunikasi dengan pemerintah pusat melalui usulan kepada menteri pertambangan tentang bantuan listrik masuk desa, bantuan listrik tenaga surya yang tidak menggunakan tenaga disel atau solar yang bisa diterapkan dalam bentuk produk energi dari kotoran binatang. Atau membangun jaringan kerja sama dengan pihak swasta yang memiliki kepedulian sosial, maupun secara bertahap mengalokasikan anggaran sesuai kemampuan daerah tentang listrik masuk desa dan upaya lain yang dapat lebih mempercepat penuntasan desa bercahaya.

Demikian halnya dalam mengatasi masalah kesenjangan, mengatasi kemiskinan, keterisolasian dan keterbelakangan melalui akses Desa Yang Cukup Pangan. Strategi ini diyakini dapat memobilisasi semua potensi masyarakat dalam bentuk gerakan masuk kebun secara terpola sehingga tersedianya lumbung pangan keluarga yang cukup.

Akselerasi ini bisa terwujud pada peningkatan kapasitas usaha warga masyarakat di setiap desa dalam bekerja dan berusaha membangun dan mengembangkan dirinya. Kegiatan ini sangat bermakna sehingga bisa dituangkan dalam Perda tentang wajib gerakan masuk kebun (Germasbun).

Harapan akan Desa Yang Cukup Pangan juga merupakan salah satu strategi pemda dalam memprakarsai masyarakat untuk bekerja keras. Tindak lanjutnya adalah penyediaan bibit, anakan dan bantuan sarana dan prasarana pendukung lewat kelompok-kelompok tani sangat dibutuhkan.

Dalam memaknai Desa Yang Cukup Pangan adalah bagaimana pemda berupaya menciptakan lapangan-lapangan kerja baru yang bersifat produktif menyentuh kebutuhan masyarakat banyak melalui pembukaan lapangan kerja baru dalam bentuk pekerjaan fisik kegiatan yang sumber dananya diambil dari revisi kegiatan-kegiatan pembangunan yang bisa ditunda pelaksanaannya atau belum perlu dilaksanakan dalam waktu dekat, sehingga perhatiannya diarahkan pada pemberdayaan masyarakat.

Prinsip dimaksud apabila dilaksanakan secara benar akan berhasil membangun landasan ekonomi yang kokoh dan dapat mempercepat dinamika perekonomian masyarakat lapisan bawah serta dapat meningkatkan daya beli masyarakat secara menyeluruh.

Harapan tersebut akan lebih memperkuat kemampuan permodalan, pengembangan usaha, memacu SDM yang lebih terarah, penguatan kelembagaan petani yang lebih terorganisir di tingkat kelompok desa, terciptanya peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, pelayanan kesehatan masyarakat lebih terjangkau dan lebih terjamin.

Apabila tersedianya kebutuhan pangan yang cukup sudah tentu pola hidup sehat masyarakat selalu tercipta. Peningkatan akan ketahanan pangan merupakan kebutuhan paling dasar bagi kehidupan seorang anak bangsa, karena pangan sangat berperan membentuk ekonomi daerah.

Oleh karena itu, kewajiban pemda di bawah kendali dr. Nelis adalah berusaha meningkatkan ketersediaan komoditas pangan pokok karbohidrat dalam jumlah yang cukup dengan tingkat distribusi dan harga terjangkau oleh masyarakat melalui peningkatan produksi, produktivitas, kualitas serta pengembangan produk olahan dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat yang lebih baik.

Dalam menopang berbagai aktivitas pembangunan dibutuhkan stabilitas kamtibmas yang terkendali. Hal ini penting dan mendasar guna menunjang dan memulihkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha yang ingin melakukan investasi dalam berbagai kegiatan usahanya, sehingga kehadiran sebuah Desa Yang Aman, sebuah Kota Yang Aman sungguh menjadi harapan masyarakat.

Namun tidak bisa dipungkiri kenyataan lapangan yang masih membutuhkan penanganan serius dalam menghadapi aksi oknum pencurian ternak, lebih khusus hewan kerbau dengan mempertontonkan modus operandi baru, yakni menyembunyikan hewan curian dipadang belukar yang tidak terdeteksi.

Praktisnya, walaupun terbilang tradisional dan gaya kampungan, tapi aksi oknum pencuri sudah merupakan sindikat yang perlu ditelusuri keberadaannya. Sungguh beralasan, karena hewan yang hilang bisa diperoleh kembali hanya dengan berpura-pura menyuruh rekanan pencuri atau sahabat pencuri untuk menawarkan jasa kepada pemilik hewan guna memperoleh imbalan jasa. Demikian pula besarnya uang tebusan sangat bervariasi, yang nilai rupiahnya ditentukan berdasarkan besaran postur hewan kerbau curian.

Kenyataannya, delik dimaksud masih sulit diketahui mata rantainya, sehingga masih membutuhkan penulusuran secara serius dan penanganan terpadu. Konkritnya, perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut tentang sistem keamanan lingkungan swakarsa dengan melibatkan seluruh anggota masyarakat yang diatur secara sistimatik dan penjadwalannya diatur secara terorganisir dan berkesinambungan bersama aparat terkait lainnya.

Optimalisasi peran pemerintah desa sangat dibutuhkan. Perannya adalah menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai administrator, stabilisator, dinamisator, fasilitator dan advokasi di bidang pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan, serta membangun dan mewujudkan kemitraan secara berjenjang dengan elemen masyarakat yang benar-benar terorganisir dan dipantau pelaksanaannya. Apa pun wujudnya, Desa Yang Aman adalah harapan masyarakat dan wujud nyata konkritisasi perhatian pemerintah daerah.*
Comments
1 Comments

1 komentar:

Anonim mengatakan...

terimakasi untuk infonya bang....!!!!!!!!!!!!!!!

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD