Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 26 Mei 2010

Mengapa Saya Harus Berpoligami ??!

 Tulisan : Joko Hendarto

Poligami sebuah kata yang tak usai mendatangkan perseteruan. Dalam islam ia dibolehkan sepanjang seorang laki-laki bisa bersikap adil. Ada yang mendukung dengan memberikan sejumlah alasan dan juga dalil. Namun kata adil bagi beberapa orang terkait “poligami” adalah sesuatu yang mustahil. Ia ditampik jauh-jauh. Bagi mereka poligami tak lebih dari sebuah praktek yang merendahkan perempuan. Mungkin seperti yang digambarkan dalam film Berbagi Suami yang menarik itu.
 
Nah di Sumba ada fenomena yang menarik perhatian saya tentang praktek poligami. Banyak laki-laki Sumba yang mempunyai istri lebih dari satu bahkan belasan. Walaupun masih lebih banyak yang beristri tetap satu.
Saat saya berkunjung ke sebuah dusun di daerah Kodi pedalaman Sumba Barat Daya, saya terpukau dengan seorang bapak kepala dusun. Dusun itu berupa cluster di pinggir laut, dikelilingi pepohonan kelapa dimana terdapat beberapa rumah didalamnya. Saya terhenyak ketika bapak dusun itu menunjukkan sebuah rumah dan berkata, “Ini rumah istri saya, dan di sebelahnya itu juga rumah istri saya”, sambil menunjuk sebuah rumah tradisional Sumba beratap ilalang. “Yang lain rumah anak-anak saya”. Gubrak!!. Pak dusun mempunyai dua orang istri. Padahal kalau melihat rupa beliau tak ada yang istimewa amat untuk digandrungi wanita. Rumah-rumahnya pun sangat sederhana. Tak nampak bahwa sang bapak adalah orang yang teramat kaya. Bahkan dalam perbincangan sebelum pulang ia berkata masih berencana mengambil satu istri lagi tahun ini. Matemi ja, logat Makassar saya keluar.

Di sebuah desa lain dalam perjalanan pulang dari dusun itu, supir yang kebetulan istrinya berasal dari wilayah itu menunjukkan rumah seorang kepala desa. Fantastis dia mempunyai 12 orang istri. Seorang bapak yang sudah berumur. Dan yang paling membuat saya geleng-geleng kepala saat tahu bahwa istri ke duabelasnya adalah seorang guru. Saya terperangah, seorang guru, terpelajar. Apa yang membuatnya mau menjadi istri seorang kakek tua. Menariknya rumah-rumah istri kepala desa itu berdekat-dekatan. Sudah lama ia menduduki jabatan kepala desa. Hampir seumur hidup kata supir saya. Bagaimana tidak wong seluruh penghuni kampung itu anak, menantu dan cucu-cunya. Pantasan saja ia selalu menang dalam pilkades.
Fenomena diatas menarik karena sebagian besar penduduk Sumba ini adalah penganut Kristen dan Katolik. Dan konsepsi perkawinan didalamnya yang saya tahu adalah monogami. Lalu saya pun bertanya kepada kawan Sumba saya kok ada orang yang banyak istri ya disini. Saya kira itu tidak boleh jika dia penganut Kristen atau Katolik. 

Sang kawan pun menjelaskan bahwa disini Adat masih sangat kuat ketimbang gereja. Seluruh soal kehidupan harus diselesaikan dulu secara adat sebelum dibawa ke gereja. Jika seorang suami mau menikah lagi ia tinggal memilih calonnya, membayar beilis seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya dan itu sudah dianggap sah. Makanya di Sumba banyak orang-orang kaya yang punya banyak ternak juga punya banyak istri. Mereka bisa membayar beilis untuk beristri. Dan itu dianggap lumrah. “Lalu bagaimana dengan gereja?” Ya, yang diakui oleh gereja tetap cuma satu, istri pertama.

Di kampung lain di wilayah Gaura, Sumba Barat. Saya berjumpa dengan satu lagi bapak yang luar biasa. Seorang tua pensiunan perawat puskesmas pada zaman Sukarno walaupun ia menjadi perawat hanya lewat pelatihan sangat singkat. Sosoknya masih tegap. Ia pun masih bersemangat menceritakan pengalamannya melintasi kampung-kampung di Sumba Barat pada masa mudanya untuk memberantas penyakit Frambusia. Sebuah penyakit yang belum pernah saya saksikan seumur hidup. Ia pun juga dengan bangganya bercerita bahwa ia punya istri tiga yang kebetulan tinggal di kampung lain tak jauh dari tempat yang kini ia tinggali dengan istri paling mudanya. 

Saya pun tak tahan untuk bertanya kok bapak bisa punya istri sebanyak itu. Lalu ia mengulang pertanyaan saya, “Mengapa saya punya tiga istri?” Katanya dulu pun saat ia berpoligami itu mengundang masalah karena ia pegawai negeri walaupun bekerja di kampung terpencil. Namun ia bersikukuh bahwa ia tak bisa punya cuma satu istri pada pimpinannya. “Kalau saya cuma punya satu istri, lalu siapa yang akan mengurus tanah saya yang luas itu”. Waduh, saya tiba-tiba seperti di timpuk. Alasan yang sangat fungsional. Hehehe.
Saya tidak menganjurkan pembaca untuk mengikuti tokoh-tokoh kita diatas walaupun mungkin banyak yang ingin. 

Salam dari Sumba.

Sumber Berita : http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/02/mengapa-saya-harus-berpoligami/
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD