Blogger Themes

Please Click This Button Below To Read This Website In To Your Own Language

Rabu, 26 Mei 2010

“Bebaskan Kami dari Malaria!!”

Tulisan : Joko Hendarto

Bangsal dengan dipan besi bercat putih. Wajah-wajah pucat seperti tak berdarah dengan selang-selang infus di lengannya. Setiap lewat di depan ruang rawat inap ini saya selalu tersergap perasaan muram. Malaria.
Ya, penyakit ini menjadi momok penduduk Sumba. Mendominasi diagnosis sebagian besar pasien baik rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit seperti RS Charitas Weetabula, Sumba Barat Daya ini. Saya pun pernah antri dengan mereka, berobat dan alhasil malaria pun tak mau ketinggalan menyapa saya sebagai penghuni baru pulau ini.

Malaria mungkin bukan penyakit yang menarik untuk zaman ini. Bagi beberapa orang terasa masih lucu ketika mendengar malaria. “Masih ada toh!”. Mereka menganggap malaria adalah penyakit masa lalu. Penyakit yang dalam buku sejarah katanya ada di Boeven Digul sana, tempat Sukarno diasingkan dulu. Mungkin Belanda berharap agar dia cepat-cepat tewas karena malaria. Atau mengira penyakit ini cuma ada saat Daendels membuka hutan, membuat jalan dari Anyer sampai Panarukan. Saat itu begitu banyak yang mati karenanya selain karena kelaparan yang menyerang para pekerja rodi itu dengan ganas. Tapi sekarang setelah lebih setengah abad merdeka, dan masih ada malaria di republik ini, betapa lucunya.

Apa yang di ketahui orang tentang malaria? Kulit kina. Demam dan menggigil. Gigitan nyamuk anopheles. Tidak banyak berubah. Padahal seandainya mereka sesekali saja berkunjung ke sebuah tempat semacam Papua, Sumba atau pulau-pulau di Maluku, maka mereka akan tahu bahwa disini malaria tidak hanya demam dan menggigil. Malaria bisa berubah jadi malaikat maut. Penyakit yang bersarang di sel-sel darah merah itu juga bisa membunuh. Membunuh begitu banyak anak juga ibu hamil serta orang dewasa lainnya. Jika pun tidak membunuh, banyak lagi yang telah gila atau menderita cacat neurologis setelah terserang penyakit ini.
Dan kini kita tak lagi menggunakan kulit kayu kina. Banyak obat-obat modern yang digunakan namun sayangnya sebagian besar dari mereka tak lagi ampuh atau terancam keampuhannya. Parasit malaria itu seperti “Rambo”, kebal dan lihai berkelit. Resistensi adalah problem mengerikan lainnya dari penyakit ini.
Ada penjelasan yang saya tidak suka tentang mengapa malaria masih banyak di tempat-tempat semacam ini. Transisi Epidemiologi. Katanya perkembangan penyakit sangat berkaitan dengan perkembangan status sosial dan ekonomi sebuah tempat. Semakin makmur sebuah tempat maka semakin akan berkurang penyakit-penyakit menular semacam malaria, TBC, atau diare dan lainnya. Sebaliknya penyakit-penyakit yang dipengaruhi oleh gaya hidup semacam penyakit kardiovaskular, endokrin metabolik semacam diabetes, tumor hingga trauma justeru akan meningkat.

Artinya malaria masih banyak di beberapa wilayah Indonesia karena wilayah ini masih tertinggal secara sosial dan ekonomi. Dengan kata lain masih miskin. Makmur belum dijumpai ditempat-tempat semacam itu dan memang faktanya demikian. Kemiskinan dan ketertinggalan berperan sangat besar atas bertahannya penyakit-penyakit infeksi tropik semacam malaria tetap ada di sini. Meskipun transisi ini di Indonesia tidaklah sempurna, tidak meratanya kesejahteraan menyebabkan penyakit menular semacam malaria dan TBC tetap tinggi namun juga penyakit jenis baru diatas menunjukkan trend yang terus meningkat.

Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membasmi malaria ini, dan memang tak akan mudah. Parasitnya semakin lama semakin kuat terhadap obat yang digunakan. Nyamuk yang membawanya pun semakin kebal terhadap insektisida yang dipakai. Belum lagi kemiskinan bukannya semakin berkurang namun malah semakin bertambah. Baik karena kurangnya perhatian pemerintah mendorong kesejahteraan rakyatnya maupun juga karena masih maraknya korupsi, membuat uang rakyat yang bisa digunakan meningkatkan kesejahteraan dan juga memberantas malaria itu, lenyap ditilap oleh segelintir orang. Namun setidaknya malaria bisa selalu menjadi penanda masih ada bagian dari republik ini yang terus berharap agar dimajukan sama dengan wilayah Indonesia lainnya.

Sumber Berita : http://kesehatan.kompasiana.com/2010/04/03/bebaskan-kami-dari-malaria/
Comments
0 Comments

0 komentar:

Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD