Member Of

Member Of

Like Untuk Bergabung

Kamis, 30 Desember 2010

Nasdem Berkibar di Sumba Barat Daya dan Sumba Timur

Nasional Demokrat terus melebarkan sayap organisasinya ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk di tingkat kabupaten dan kota. Secara berturut-turut deklarasi Nasdem berlangsung di Sumba Barat Daya dan Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Deklarasi dan pelantikan Nasdem Sumba Barat Daya di Stadion Tambolaka, baru-baru ini, dihadiri sejumlah pengurus pusat Nasdem, seperti Ketua PP Nasdem Viktor Laiskodat yang juga Koordinator Wilayah NTT, NTB dan Bali. Hadir pula Wakil Bupati Sumba Barat Daya Yacob Mallo Bulu.

Markus Dairo Talo terpilih sebagai Ketua Pengurus Daerah Nasdem Sumba Barat Daya.

Deklarasi dan pelantikan pengurus Nasdem Sumba Barat Daya berlangsung meriah. Acara diisi oleh tari-tarian dan penampilan drum band. Sumba Barat menjadi kabupaten kedua tempat deklarasi Nasdem di Pulau Sumba, NTT.

Deklarasi dan pelantikan kemudian dilanjutkan ke wilayah Sumba Timur. Deklarasi berlangsung di aula Hotel Elvin, Waingapu, Sumba Timur, NTT. Rudolf Sinatra terpilih sebagai Ketua Pengurus Daerah Nasdem Sumba Timur.(DSY)


Kamis, 23 Desember 2010

PENGUMUMAN CPNSD 2010 DITUNDA

Peserta tes membaca pengumuman di kantor Kecamatan Loura
 Sejak Kamis (23/12/2010) Pagi, Kantor Kecamatan Loura, Waitabula , Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menjadi tempat tujuan banyak CPNSD SBD 2010, hal ini dikarenakan berdasarkan informasi pasca Test CPNSD bahwa direncanakan tanggal 23 Desember 2010 mereka sudah bisa mendengarkan pengumuman hasil tes CPNSD SBD 2010.


Sampai siang hari banyak yang belum mendapatkan kejelasan, bahkan ada CPNSD yang mengecek kepastian ke kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di Kawasan PUSPEM Kadula.


Akhirnya Kegelisahan CPNSD SBD terjawab sudah setelah dua lembar kertas ditempelkan petugas. dalam kertas tersebut menyebutkan bahwa pengumuman hasil CPNSD SBD 2010 ditunda pelaksanaannya ke tanggal 28 Desember 2010.

Berdasarkan surat yang ditandatangi Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya bernomor : UP.013.1/1/478/PP/2010 tersebut menyebutkan penundaan pengumuman hasil tes CPNSD ini karena berdasarkan pantauan dan evaluasi terhadap hasil LJK oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA) masih adanya kendala administrasi dan teknis yang perlu diklarifikasi dengan UNESA.


Dalam surat tersebut juga meminta perhatian walikota Kupang dan para Bupati untuk segera mengkoordinasikan dan mengklarifikasi terhadap hasil pengolahan LJK CPNSD di UNESA.


Melanjutkan surat Gubernur NTT maka di SBD di keluarkan surat NO.BKD.800/1113/SBD/XII/2010 dan ditandatangani Bupati SBD, Dr Konelis Kodi Mete. Surat tersebut berisi informasi pengunduran jadwal  pengumuman hasil testing CPNSD T.A. 2010 untuk Kabupaten Sumba barat daya ke tanggal 28 Desember 2010.


Marselino salah seorang peserta testing CPNSD mengaku kecewa degan penundaan ini namun dirinya mendukung jika ini untuk proses koordinasi dan klarifikasi dengan pihak UNESA agar tidak ada kendala  saat pengumumantanggal 28 desember mendatang. (snd)







Minggu, 19 Desember 2010

PATER ROBERT RAMONE RAIH NTT ACADEMIA AWARD 2010

Pater Robert Ramone CSsR saat menerima NTT AA 2010 di Gedung Taman Budaya Kupang
NTT Academia Award 2010 sebagai salah satu bentuk penghargaan untuk orang orang terbaik NTT yang telah mendedikasikan dirinya dalam bidangnya masing-masing, kembali digelar Forum Academia NTT (FAN) Sabtu (18/12/2010) malam.

Acara  berlangsung meriah ini selalu diselenggarakan FAN setiap tahun menjelang hari ulang tahun NTT yang jatuh tanggal 20 Desember, dan tahun 2010 acara dipusatkan di gedung taman budaya Kupang.


Salah satu pemenang untuk kategori Kategori III bidang Humaniora, Sastra dan Inovasi Sosial Budaya adalah Pater Robert Ramone, CSsR melalui Karyanya:  Melestarikan dan Menduniakan Kekayaan Alam dan Budaya Sumba. Karya Pater Robert ini berhasil mengharumkan nama Sumba Barat Daya (SBD)

Sebagai Nominator dari Kabupaten SBD Pater Robert berhasil menyisihkan nominator dari kabupaten lainnya. Tahun 2010  ini ada 22 Nominator yang masuk dalam penjurian NTT AA 2010.

"Saya orang Sumba dan saya mencintai alam dan budaya Sumba yang demikian indah. Saya abadikan keindahan itu lewat fotografi agar dunia mengenal Sumba. Enambelas tahun saya menekuni pekerjaan ini," kata Pater Robert Romone.


Selain Pater Robert dua kategori lainnya yang berhasil diraih yaitu bidang  Sains dan Inovasi Keteknikan oleh Geng Motor iMuT (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak) - Kupang. Karya: Inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas sedangkan bidang Inovasi Pembangunan diraih Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Karya: Motivator Pelestarian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air di Desa Apui, Kabupaten Alor (snd).

Pater Robert Ramone CSsR : Bermimpi Sumba yang Bermoral


Pengantar Redaksi
Rohaniwan Redemptoris ini prihatin. Masih ada koruptor yang berjalan dengan kepala tegak. Tidak malu. Orang tak takut hukum karma, hukum agama dan neraka. Nilai moral dan budaya bergeser dan permisif. Menerapkan gaya hidup bebas. Keprihatinan ini mendorong Pater Robert Ramone, C.Ss.R, menggagas mendirikan Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan di Weetebula, Sumba Barat Daya. "Ini mimpi besar saya dan Redemptoris. Mudah-mudahan tangan saya tidak cepat kaku sebelum mimpi ini menjadi kenyataan," kata Pater Robert ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang, Benny Dasman, di Rumah Retret Santo Alfonsus-Weetebula, Sabtu (30/8/2008). Berikut petikannya.


Redemptoris berkeinginan membentuk Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan. Apa dasar kajiannya!
 Kita hidup di abad 21 yang ditandai dengan kenyataan dunia yang serba maju dalam pelbagai aspek. Kemajuan dan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Arus globalisasi semakin deras, khususnya arus informasi dan komunikasi yang amat sangat cepat dapat menjangkau semua orang di seluruh pelosok dunia mana pun. Kemajuan-kemajuan tersebut belum kita perkirakan atau bayangkan pada 20 atau 30 tahun lalu. Berdasarkan kemajuan yang ada sekarang, kita dapat memperkirakan dalam waktu 20 atau 30 tahun mendatang akan ada kemajuan yang lebih dahsyat lagi. Kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia dalam pelbagai aspek, baik aspek sosial maupun aspek budaya. Aspek sosial; orang cenderung individualistis dan mengabaikan hidup komunal atau kebersamaan sebagai suku atau kampung besar. Aspek budaya; kecenderungan hidup dalam budaya instan atau cepat jadi dan mengabaikan suatu proses yang harus dilalui dengan perjuangan dan kerja keras.

Dalam budaya seperti ini banyak nilai moral bergeser dan permisif. Sebagai contoh, dulu orang takut karma, hukum agama dan neraka. Sekarang orang masuk penjara karena curi dan sebagainya tetap saja jalan dengan kepala tegak tanpa ada rasa malu. Kemajuan zaman dan arus globalisasi adalah sebuah fakta, entah suka atau tidak suka; ia nyata ada dan memberi dampak pada hidup kita, baik positif maupun negatif. Berhadapan dengan kenyataan ini diperlukan sikap kritis. Kita tidak bisa berpangku tangan saja atau bersikap masa bodoh. Kita tidak mau ketinggalan zaman dan juga tidak mau menjadi korban kemajuan zaman. Oleh karena itu, kita mesti menghadapinya dengan arif dan bijaksana.


Apakah di Sumba sudah ada tanda-tanda degradasi nilai!
Sudah ada sinyal. Pada tahun 2007 lalu, Kongregasi Redemptoris genap berusia 50 tahun hadir di Indonesia, khususnya di Pulau Sumba. Selama kurun waktu 50 tahun, kongregasi ini telah berperan aktif membangun gereja lokal melalui pewartaan Injil dan kesaksian hidup setiap Redemptoris. Selama kurun waktu itu pula para Redemptoris telah mencatat banyak hal yang terjadi di masyarakat. Catatan itu ada yang menggembirakan dan ada pula yang mencemaskan. Menggembirakan karena tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, seperti dibangunnya jalan desa. Pembangunan tersebut telah membuka kantong-kantong isolasi dan memungkinkan setiap orang berkomunikasi satu sama lain. Kemajuan lain yang patut dicatat adalah semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan (sekolah).

Banyak orangtua mengirimkan anaknya untuk mengenyam pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar Sumba. Kita boleh berharap bahwa semakin banyak orang, khususnya kaum muda merasa terpanggil untuk membangun daerahnya. Keprihatinan; adanya tanda-tanda degradasi nilai budaya yang mulai kendur dan luntur, seperti gaya hidup bebas. Di sini ada sinyal bahaya bahwa orang tercabut dari akar budayanya dan menggantinya dengan kebudayaan baru yang tidak sepenuhnya cocok atau diterima oleh masyarakat umum.

Hadirnya Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan ini untuk menyikapi keprihatinan dimaksud!
Betul. Berangkat dari situasi konkrit, khususnya keprihatinan yang telah digambarkan tadi, kami berkeinginan membentuk sebuah Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan.


Kegiatan utamanya?
Mengadakan studi dan penelitian, pengkajian dan sintesa yang berkaitan dengan budaya asli Sumba. Dan, pada gilirannya nilai-nilai budaya tersebut dijaga dan dilestarikan dan pada akhirnya memberi dampak positif bagi masyarakat luas.

Bisa disebutkan simbol-simbol nilai budaya Sumba yang sudah hampir punah atau tidak dilestarikan lagi!
Katoda atau totem. Pada setiap perkampungan adat, katoda/totem dipajang di tengah kampung. Dia bak jantung sebuah kampung, sebagai sarana kewibawaan sebuah kampung. Simbol budaya ini sudah hidup beratus-ratus tahun di tengah-tengah masyarakat Sumba. Pada katoda atau totem tadi, masyarakat mempersembahkan hasil-hasil pertanian yang dipanen sebelum dimakan. Kalau dilanggar akan terjadi malapetaka atau produksi hasil pertanian kurang memuaskan karena para leluhur marah. Jadi, kita tidak mengatakan hal ini sebagai tahyul. Tetapi yang mau diajarkan adalah kebijaksanaan untuk mensyukuri apa yang kita peroleh. Generasi muda sekarang menganggap katoda atau totem tidak bermakna. Dengan adanya lembaga studi dan pengkajian kebudayaan asli Sumba, nilai-nilai budaya seperti ini yang harus dikaji lagi untuk menggali pesannya untuk masyarakat modern saat ini. Intinya, supaya kita tidak lupa asal usul. Menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang sudah mati.


Pekerjaan pengkajian ini sangat berat karena menghidupkan lagi tradisi-tradisi yang sudah mati. Bisa dijelaskan mekanisme atau metode kerjanya!
Membentuk network (rekan kerja) di beberapa daerah/suku yang dipandang mempunyai situs sejarah atau kebudayaan. Dalam pemilihan personalia akan dipilih orang yang berkompeten dalam bidang bahasa setempat dan mempunyai daya nalar yang bagus. Dan, di atas semuanya, rekan kerja tersebut haruslah seorang pencinta kebudayaan dan mau bekerja sama dengan rekan kerja lain, bukan single fighter.


Apa tugas dari setiap personalia yang dipilih?
Pertama, mengunjungi tempat-tempat yang memiliki situs sejarah dan mendokumentasikannya dalam bentuk foto/video. Kedua, merekam cerita-cerita rakyat yang berkaitan dengan tempat, suku/daerah tertentu dalam bentuk tulisan. Ketiga, memotivasi masyarakat/suku atau daerah untuk menghidupkan kembali karya seni seperti mengukir tiang rumah adat, ikat dan celup kain dan sebagainya. Di bidang atraksi atau kesenian daerah, misalnya, menghidupkan kembali beberapa jenis tarian ritual/adat di beberapa daerah. Keempat, mengadakan pertemuan berkala dari setiap perwakilan (rekan kerja) untuk mengadakan sharing, membuat sintesa dan evaluasi. Kelima, menyelenggarakan workshop berkala dengan mengundang narasumber yang dianggap kompeten di bidang kebudayaan. Keenam, mempublikasikan hasil sintesa kepada masyarakat luas dengan menerbitkan buletin Lembaga Studi dan Pelestarian Kebudayaan.


Dari penjelasan pater, Redemptoris terlihat sangat serius untuk mendirikan lembaga studi budaya ini!
Saya dan Redemptoris sangat serius. Saya sudah mengusulkannya dalam sidang kapitel komunitas. Dan, Provinsial Redemptoris Indonesia sangat mendukungnya. Demikian juga pemerintah dan DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya. Kita mau menjadikan lembaga ini sebagai centrum kebudayaan atau karya pastoral Redemptoris dalam pewartaan Injil melalui kultur atau adat istiadat. Kita tidak menghendaki ada sebutan generasi muda yang bingung, khususnya kepada kaum muda Sumba. Melalui lembaga ini, mereka harus tahu adat istiadat Sumba yang sebenarnya. Itu misi kita agar tidak muncul agama baru atau kultur baru.



Sarana dan prasarana yang diperlukan?
Dalam sidang kapitel, saya mengusulkan perangkat berupa alat bantu yang mendukung terselenggaranya lembaga ini. Misalnya, sebuah gedung berukuran 10 x 12 m2 dan perabot sebagai alamat tetap dari lembaga ini. Gedung akan dibangun di Kalembu Nga'banga sebagai kantor, perpustakaan dan ruangan untuk rapat. Perangkat lainnya yang diusulkan berupa satu unit komputer, dilengkapi laser compact disk (LCD) untuk mendokumentasikan/mengarsipkan semua data dan kegiatan lapangan kemudian mempresentasikannya dalam bentuk clip show. Satu buah kamera digital, kamera SLR dan handycam untuk merekam/mendokumentasikan semua obyek/situs sejarah atau peristiwa yang mempunyai nilai budaya yang ditemukan di lapangan. Dan, sebuah sepeda motor untuk memudahkan mobilitas atau urusan yang diperlukan segera. Sudah ada seorang mitra dari Belanda yang bersedia bekerja sama dengan Redemptoris untuk mengembangkan lembaga ini. Kami juga membutuhkan bantuan dari donatur lainnya, khususnya mereka yang peduli terhadap pelestarian nilai-nilai budaya Sumba. Mudah-mudahan mimpi besar ini segera terwujud. Kalau bisa tahun depan, sebab masih dalam aroma syukuran 50 tahun karya Redemptoris di Sumba. *



Fotografer Kultur


DI TERAS depan rumah makan kecil di Konventu St. Alfonsus Weetebula, pastor asal Kodi, Sumba Barat Daya, ini berujar, "Mudah-mudahan tangan saya ini tidak cepat kaku, keram." Saya terkesima mendengarnya. Sebelumnya, Pater Robert menceritakan tentang obsesinya untuk mendirikan lembaga kajian dan pelestarian budaya asli Sumba di Weetebula.

Tangan dan lembaga budaya. Apa hubungannya? "Sudah sejak lama saya menekuni pekerjaan ini. Fotografer. Tapi jepretan-jempretan saya lebih banyak bernuansa kultur, budaya. Jadi, saya sebenarnya fotografer kultur. Kalau tangan ini cepat kaku dan keram, saya tidak menjepret lagi untuk mengoleksi foto-foto budaya. Ini pekerjaan berat menuju ke sana (lembaga kajian budaya)," kata Pater Robert.

Ya, tangan Pater Robert telah menghasilkan ribuan foto-foto budaya untuk 'menghidupkan' banyak orang. Dibuatnya kartu pos dan mengirimnya ke mancanegara, antara lain Belanda dan Jerman untuk mempromosikan pariwisata budaya Sumba. Kartu-kartu pos itu bergambar obyek wisata Sumba, baik budaya, alam maupun bahari.

"Dalam pariwisata tak ada birokrasi. Masyarakat langsung menikmati hasilnya. Ada turis, masyarakat siapkan produk dan mereka dapat uang. Ini alasan utama mengapa obyek wisata di Sumba ini harus gencar dipromosikan," ujar Pater Robert.

Selain itu, kata Pater Robert, dirinya sebagai putra Sumba terpanggil untuk memperkenalkan Sumba ke dunia luar. "Terus terang, promosi yang dilakukan Redemptoris dan saya ini tanpa dukungan dari siapa-siapa, termasuk dari pemerintah daerah. Semuanya modal sendiri. Secara materil saya dan Redemptoris rugi, tetapi secara moril saya untung," tuturnya. (eni)



BIODATA
---------------
- Nama: Pater Robert Ramone, S.Ss.R
- Tempat/tanggal lahir: Kodi, Sumba Barat Daya, 29 Agustus 1962.
- Tahun 1985: Bergabung dengan Kongregasi Redemptoris.
- Tahun 1985-1992: Studi Filsafat dan Teologi pada Fakultas Teologi Wedhabakti- Yogyakarta.
- Tahun 1992: Ditahbiskan menjadi imam. Setelah ditahbiskan, bekerja sebagai pastor kapelan di Paroki Santa Maria Homba Karipit.
- Tahun 1993-1994: Bekerja di Paroki Roh Kudus Weetebula.
- Tahun 1994-1996: Socius Student Wisma Sang Penebus dan merangkap sebagai pastor di Stasi Santo Alfonsus Nandan-Yogyakarta.
- Tahun 1996-2001: Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak.
- Kini bekerja di Rumah Retret Santo Alfonsus Weetebula.



Sumber : http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2008/10/pater-robert-ramone-cssr.html

FAN Serahkan NTT Academia Award 2010




KUPANG,-- Tanam pohon, jagalah setiap tetes air karena air adalah sumber kehidupan. Cintai budaya sendiri agar dengan demikian kita dapat mencintai budaya orang lain. Dan, tapaleuk (jalan-jalan, Red) ke kampung mengurus ternak dengan dana sendiri bukan pekerjaan sia-sia.

Menenun masa depan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang lebih baik dimulai dari langkah-langkah kecil yang konkret semacam itu. Demikian sejumput benang merah pesan inspiratif dari tiga pemenang NTT Academia Award 2010 persembahan Forum Academia NTT (FAN) yang berlangsung di Taman Budaya NTT, Sabtu (18/12/2010) malam.

Ketiga pemenang pada masing-masing kategori yaitu kategori I bidang  Sains dan Inovasi Keteknikan diraih Geng Motor iMuT (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak) - Kupang. Karya: Inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas.

Pemenang Kategori II bidang Inovasi Pembangunan diraih Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Pendeta GMIT ini merupakan Motivator Pelestarian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air di Desa Apui, Kabupaten Alor.

Untuk Kategori III bidang Humaniora, Sastra dan Inovasi Sosial Budaya, pemenangnya adalah Pater Robert Ramone, CSsR dari Sumba Barat Daya. Pecinta fotografi ini merupakan pejuang yang gigih selama 16 tahun untuk melestarikan dan menduniakan kekayaan alam dan  budaya Sumba melalui foto- foto. Ketiga pemenang mendapatkan tropi, piagam penghargaan serta hadiah uang masing-masing Rp 5 juta dari FAN.

"Penghargaan ini melecut semangat kami untuk bekerja lebih baik. Masih banyak mimpi yang ingin kami wujudkan lewat inovasi baru di masa mendatang," kata Noverius Ngili yang mewaliki kawan-kawannya dari Geng Motor iMuT-Kupang. Komunitas anak muda ini ingin mengembalikan NTT sebagai ikon gudang ternak nasional.

Karya inovatif Geng Motor iMuT  di bidang teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas sudah dimanfaatkan warga di sejumlah kelurahan di Kota Kupang, antara lain Kelurahan Bakunase.

"Saya ajak seluruh masyarakat tidak hanya di Alor untuk selalu menanam pohon agar Flobamora tetap hijau dengan sumber air yang melimpah. Air adalah sumber kehidupan kita," kata Pdt. Sefnat Sailana yang mendapat penghargaan atas kontribusinya  di bidang lingkungan hidup terutama melestarikan sumber air dengan membuat sumur resapan dan jebakan air.


"Saya orang Sumba dan saya mencintai alam dan budaya Sumba yang demikian indah. Saya abadikan keindahan itu lewat fotografi agar dunia mengenal Sumba. Enambelas tahun saya menekuni pekerjaan ini," kata Pater Robert Romone.

Menurut Pater Robert, masyarakat NTT hendaknya mencintai budayanya sendiri yang sangat kaya. Dengan mencintai budaya sendiri niscaya kita akan mencintai budaya orang lain. "Ada yang bilang kenapa saya sebagai pastor suka menenteng kamera ke mana-mana. Saya katakan bahwa saya hanya merekam sedikit saja keindahan dan keagungan Tuhan lewat lensa kamera yang kecil," kata Pater Robert yang akan membangun Rumah Pusat Studi Budaya Sumba tahun 2011.

Dikemas Apik
Berbeda dengan tahun sebelumnya, penyerahan NTT Academia Award IV tahun 2010 berlangsung lebih meriah dan dikemas apik dalam alunan musik dan lagu yang menghibur sekitar 150 undangan yang memenuhi gedung  Taman Budaya NTT.

Mengusung tema Inovasi Bagi Dunia,  rangkaian acara yang dikreasi anggota FAN, Winston Rondo dkk, diawali dengan penampilan memukau Paduan Suara Angelorum dari Oesapa Kupang, tarian ja'i kreasi baru yang diperankan para pemuda dari Sanggar UPTD Taman Budaya Propinsi NTT, puisi berjudul Flobamora Bisa yang dibawakan Sischa Solokana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana dan lagu Bo Lelebo yang dikemas dalam alunan Rap yang dibawakan para raper dari Kota Kupang.


Malam penganugerahan NTT Academia Award juga menghadirkan dua orang ibu penenun dari Desa Oefafi, Kecamatan Kupang Timur. Mereka bersanding di sudut kanan panggung, suatu simbol sekaligus pesan inspiratif dari FAN tentang menenun masa depan Flobamora yang lebih baik. Ada banyak mutiara di daerah ini.  Sebagaimana para penenun, mereka menenun kehidupan dengan semangat dan kerja keras.

Hadir pada acara ini, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Jonas Salean, S.H, M.Si, Kepala UPTD Taman Budaya, Dra. Yohana Lingo Lango, Ketua Komisi B DPRD NTT, John Umbu Detta, Ketua Forum Parlemen NTT yang juga anggota DPRD NTT, Kristo Blasin, Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho, anggota FAN   Hyron Fernandez, Farry Francis, Sr. Dr. Susi Susilawati, Ermi Ndoen, Candra Dethan, Dion DB Putra, Herman Seran, Mario Viera, Pius Rengka, Isidorus Lilijawa, Jemris Fointuna, Tony Kleden, Silvya Fanggidae dan anggota FAN lainnya yang datang dari Jakarta dan kota lain di Indonesia. Hadir pula akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Kota Kupang, pegiat LSM dan mahasiswa.

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bidang Ekonomi, Jonas Salean, memberi apresiasi terhadap FAN atas konsitensinya memberi award bagi putra-putri terbaik NTT sejak tahun 2007. "Pemerintah berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Forum Academia NTT," kata gubernur.

Moderator FAN, Jonatan Lassa, mengucapkan selamat kepada ketiga pemenang. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada panitia NTT Academia Award 2010 yang dipimpin Rikardus Wawo dan Bintang Intan Oematan atas kerja keras mereka menyukseskan acara semalam. "Terima kasih juga buat teman- teman anggota FAN di seluruh dunia yang telah menyumbang dana demi suksesnya kegiatan malam ini," kata Jonatan.

Sementara Jemris Fointuna yang mewakili tim juri mengatakan, bukan hal gampang bagi mereka lima anggota tim juri saat memilih yang terbaik. Sebab 22 nominee tahun ini merupakan orang-orang terbaik di bidangnya masing-masing.

 "Para nominee bekerja dengan hati yang tulus.  Mereka merupakan intan dan berlian yang harus diangkat ke permukaan dan jangan terus disembunyikan di kampung-kampung," kata Jemris. (nia)

Pemenang NTT Academia Award 2010


Kategori I bidang  Sains dan Inovasi Keteknikan: Geng Motor iMuT (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak) - Kupang. Karya: Inovator teknologi terapan dengan memanfaatkan limbah ternak dan limbah industri rumah tangga menjadi biogas.

Kategori II bidang Inovasi Pembangunan:
Pdt. Sefnat Sailana, S.Th. Karya: Motivator Pelestarian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air di Desa Apui, Kabupaten Alor.

Kategori III bidang Humaniora, Sastra dan Inovasi Sosial Budaya:
P. Robert Ramone, CSsR. Karya:  Melestarikan dan Menduniakan Kekayaan Alam dan Budaya Sumba.


Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/56364/fan-serahkan-ntt-academia-award-2010

Sabtu, 18 Desember 2010

Oknum Polisi Catut Jaksa Minta Uang

TAMBOLAKA, Seorang oknum polisi anggota Polsek Loura, Sumba Barat Daya, diduga mencatut nama jaksa memeras warga yang berurusan dengan hukum. Modusnya, oknum polisi berinisial W itu mendatangi warga membawa pesan bahwa jaksa di Kejari Waikabubak meminta uang pulsa.

Dugaan pemerasan oleh oknum polisi ini dibeberkan Margareta Nani Bulu, warga Kampung Belakang, Kelurahan Weetabula, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (ABD),  di rumahnya Senin (29/11/2010) lalu.

Margaretha mengakui pada  hari Sabtu (27/11/2010), dia   didatangi oknum Polsek Loura berinisal W. Oknum polisi ini menyampaikan akan ke Kejari Waikabubak guna mengecek berita acara pemeriksaan (BAP) kasus perusakan pohon pisang miliknya oleh Yosep Tome yang terjadi bulan September 2010 yang sudah dilimpahkan penyidik Polsek Loura minggu sebelumnya.

Pada kesempatan itu oknum polisi ini juga menyampaikan pesan dari jaksa agar Margaretha memberikan uang pulsa guna mempermudah komunikasi terkait penanganan persoalannya. Mendengar itu, Margaretha minta oknum polisi itu memberikan nomor handphone dan menyebutkan nama jaksa  dimaksud agar mudah dihubungi. Namun polisi tidak memberikan nomor HP dan tidak menyebutkan nama jaksa, tapi berusaha mengalihkan pembicaraan lalu pamit ke kantor di Waikabubak, Ibu kota Kabupaten Sumba Barat.  Sementara uang pulsa pesanan jaksa belum diberikan.

"Saya bertanya-tanya apakah benar jaksa yang minta? Dan, kalau saya tidak kasih, apakah perkara saya tidak diproses sampai disidangkan di pengadilan? Kalau jaksa yang minta, kenapa ia tidak serahkan nomor HP? Bila benar pesanan jaksa, berapa yang saya harus serahkan? Karena itu, saya memutuskan menghubungi wartawan guna menyebarluaskan informasi ini agar masyarakat mengetahui sekaligus mengingatkan aparat penegak hukum agar tidak melakukan hal itu terhadap rakyat kecil," tutur Margaretha.

Kapolres Sumba Barat, AKBP Yayat Jatnika, yang hendak dikonfirmasi di kantornya, Selasa (30/11/2010), tidak berhasil karena sedang tugas ke Kupang. Kapolsek Loura, Iptu Martinus Netta, dikonfirmasi Pos Kupang ke handphone-nya, Rabu (1/12/2010), mengatakan, pihaknya akan mengecek kebenaran informasi itu kepada anggotanya.  "Informasi ini saya terima, dan nanti saya cek lagi," kata Netta.

Menurut Margareta, pembicaraan dengan oknum polisi itu berlangsung di halaman belakang rumahnya disaksikan kedua adiknya, Sabtu (27/11/2010) pukul 11.00 Wita. Dia mengaku pada hari Sabtu (27/11/2010) malam, oknum polisi itu datang dan menyampaikan jika BAP sudah dikembalikan untuk dilengkapi.  Hari Selasa (30/11/2010), penyidik polisi itu minta Margaretha ke polsek untuk melengkapi BAP-nya. Saat di ruang pemeriksaan, oknum polisi menanyakan mengapa Margaretha menyampaikan hal itu ke wartawan karena terkait  nama baik.
Margaretha menegaskan, keinginan mempublikasikan hal itu agar hal serupa tidak terjadi bagi warga pencari keadilan lain di masa mendatang.

"Biar citra penegak hukum baik di mata masyarakat. Saya juga ingin agar persoalan yang saya hadapi cepat selesai. Sebab persoalan tanah milik saya sudah terjadi ketiga kalinya. Dua kejadian sebelumnya sudah dilaporkan ke Polsek Loura, namun berakhir tanpa kejelasan," tegasnya.

Ia bertekad agar kejadian terakhir ini harus diproses tuntas sampai disidangkan di pengadilan agar aktivitas berkebun seperti menanam pisang, padi, jagung dan sebagainya berjalan aman dan damai tanpa gangguan pihak mana pun.

Tidak pesan
Kajari Waikabubak, Sopran Telaumbanua, S.H, membantah jika  anak buahnya (jaksa) menitip pesan melalui oknum polisi di Polsek Loura meminta pulsa kepada Margaretha Nani Bulu.

"Itu tidak benar, dan itu hanya pencatutan nama demi kepentingan pribadinya. Seandainya itu benar dan dilakukan  salah seorang oknum penegak hukum, maka perbuatan itu patut disesalkan dan perlu diganjar sesuai hukum yang berlaku," kata  Sopran Telaumbanua, S.H, ketika dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya, Selasa (30/11/2010).

Didampingi Kasie Pidsus, Ihsan Asri, S.H, jaksa Ririn, S.H, jaksa Salman, S.H dan jaksa yang menangani perkara Margaretha Nani Bulu, Afrizal Hamid, S.H,  Kajari membantah anak buahnya memesan pulsa pada korban Margaretha Bulu. 

"Apa yang terjadi merupakan perbuatan oknum yang mencatut nama jaksa demi kepentingan pribadinya. Penanganan perkara selama ini berjalan baik sesuai prosedur kerja lingkup kejaksaan," tegasnya.

Mengantisipasi itu,  Sopran telah menyurati Bupati Sumba Barat, Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah agar memberitahukan warga masing-masing agar tidak mengamini permintaan oknum tertentu yang mengaku dari kejaksaan. (pet)



Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/55966/regionalntt/waitabula/2010/12/8/oknum-polisi-catut-jaksa-minta-uang

Jumat, 17 Desember 2010

Stok BBM Menipis di Sumbar

WAIKABUBAK,  Persediaan bahan bakar minyak (BBM) seperti bensin dan solar di Sumba Barat menipis selama sebulan terakhir. Akibatnya, antrean sepeda motor dan mobil terus menumpuk di dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Km 2 dan Km 3, Kota Waikabubak.

Kondisi ini sulit diprediksi kapan akan berakhir. Warga mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap pengecer BBM yang membanjiri ruas jalan di wilayah Kota Waikabubak.

Pemerintah juga harus menertibkan truk milik pengusaha yang diduga ikut mengisi BBM subsidi itu. Sebab kendaraan milik pengusaha dilarang mengambil BBM di SPBU.

Hal ini disampaikan beberapa warga, di antaranya Sari dan Edi Lodja, suami istri warga Anakalang yang sering mengisi BBM di Waikabubak karena wilayah ini belum ada SPBU, serta empat warga Waikabubak, Mawu, Yance, Ngongo Lede dan Christina Yane, saat ditemui Pos Kupang di Waikabubak, Kamis (2/12/2010).

Mereka minta polisi pamong praja (Pol.PP) bertindak tegas menertibkan pembelian dengan jerigen serta kendaraan yang berkali-kali mengisi BBM serta truk milik pengusaha. Tanpa ketegasan petugas, maka kondisi seperti ini akan terus berlangsung tanpa akhir.

Menurut Edi dan Sari, tindakan tegas tidak hanya berlaku bagi masyarakat, tapi juga terhadap operator SPBU. Sebab, dikhawatirkan kondisi itu `diperankan'  petugas SPBU, mengakibatkan kelangkaan BBM sebagaimana terjadi belakangan ini.

"SPBU di Weetabula-Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, pekan lalu, nyaris terbakar. Salah seorang warga pemilik tangki berukuran 500 liter terbakar saat hendak mengisi BBM di SPBU. Pengisian BBM digunakan untuk kepentingan pribadi, seperti menjual eceran," kata Christina.

Menurut warga ini, para pelaku  sudah berkali-kali mengisi BBM di SPBU kerja sama dengan operator SPBU. Karena itu, warga mendesak polisi segera menangkap pemilik tangki dan operator SPBU yang diduga bermain menyebabkan kelangkaan BBM.
Lede dan Christina minta aparat bertindak lebih tegas lagi seperti menyita semua jerigen, tidak hanya di dalam SPBU, tapi juga di sepanjang jalan dekat SPBU. Juga  menangkap pengusaha yang membiarkan truk miliknya mengisi BBM dan menangkap warga yang menjual bensin eceran dengan harga tak wajar sampai Rp 10.000/botol.

Kepala Bagian Ekonomi Setda Sumba Barat, Jeffri Dapamerang,  dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (2/12/2010), mengatakan,  pihaknya terus beroperasi menertibkannya, namun kondisi itu hanya berlangsung sesaat saja.

"Begitu petugas kembali, maka antrean kembali terjadi. Dalam waktu dekat, kita akan undang pemilik SPBU, operator dan petugas keamanan SPBU untuk mengadakan pertemuan bersama membahas masalah ini. Dalam waktu dekat akan ada rahasia untuk menangkap oknum yang diduga menimbun BBM," tegasnya. (pet)

Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/55929/regionalntt/waikabubak/2010/12/7/stok-bbm-menipis-di-sumbar

Senin, 06 Desember 2010

SEMBILAN PEJABAT ESELON II DILANTIK

Bupati Sumba Barat Daya Dr Kornelis Kodi Mete, Senin, (06/12/2010)  secara resmi melantik dan mengangkat sumpah Sembilan pejabat eselon II di lingkup Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya.

Acara Pelantikan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut mengambil tempat di aula kantor Bupati Sumba Barat Daya, PUSPEM Kadula. 

Dalam pelantikan ini, beberapa pejabat menduduki posisi baru karna menggantikan pejabat lama yang telah pensiun, Ada juga pejabat yang masih dipercaya untuk menempati posisi lamanya.

Pelantikan sembilan pejabat eselon II ini di hadiri Kepala Dinas/Badan dan bagian, lingkup pemerintah daerah Sumba Barat Daya

Selengkapnya nama sembilan Pejabat eselon II yang dilantik,

1. Dr. Soleman D. Poety
Jabatan Lama : Kadis Kesehatan (Cuti karna menjadi calon bupati)
Jabatan Baru : Kadis Kesehatan

2. Imanuel Horo,SH
Jabatan Lama : Kepala Bappeda
Jabatan Baru : Asisten I

3. Drs. David Tamo Ama
Jabatan Lama : Sekretaris Dewan
Jabatan Baru : Kadis Pendukcapil

4. Yakobus Bulu
Jabatan Lama : Kaban Ketahanan Pangan
Jabatan Baru  : Kadis Pertanian

5. Drs. Dominggus Bula
Jabatan Lama : Kadis Sosialnakertrans
Jabatan Baru  : Kepala Bappeda

6. Drs. Bora Wunga
Jabatan Lama : Kadis Koperasi dan UKM
Jabatan Baru  : Staf Ahli Bidang Pembangunan

7. Paulus Dara Gallu, SH
Jabatan Lama : Camat Kodi
Jabatan Baru  : Sekretaris Dewan

8. Bernadus Bulu, SH
Jabatan Lama : Kabag Organisasi
Jabatan Baru  : Kadis Sosialnakertrans

9. Ir. Yohanes Lori Riti
Jabatan Lama : Kadis Pertanian
Jabatan Baru : Kepala Badan Pertahanan Pangan

Rabu, 01 Desember 2010

PLIK DI SBD JADI PILIHAN WARGA

Suasana di PLIK kecamatan Loura
Meskipun Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) belum diresmikan sejak diinstalasi juli lalu di NTT khususnya di Sumba Barat Daya (SBD) namun peminatnya sudah banyak.

Sejak Oktober lalu Lintas Artha sudah memberikan kebijakan dengan memberikan subsidi voucer kepada setiap PLIK khususnya di wilayah 7 yang masih menantikan rampungnya intalasi PLIK Papua dan Kalimantan untuk diresmikan serentak.

Hal Tersebut menjadi kabar baik bagi para pengelola PLIK khususnya di SBD dan sejak adanya kebijakan tersebut PLIK di SBD mulai beroperasi dan menerima pelanggan. Derry Laka pengelola PLIK di K ecamatan wewewa Barat mengatakan "ini kabar menggembirakan buat saya dan teman-teman pengelola PLIK di SBD karna kami sudah menunggu terlalu lama".

Menurut Derry sejak dioperasikan peminat PLIK di SBD semakin banyak apalagi harga yang ditawakan jauh lebih murah dibandingkan harga warnet di Waitabula maupun di Waikabubak - Sumba Barat.

Derry Menambahkan awalnya pelanggan sedikit kesulitan karna sistim operasi PLIK menggunakan LINUX namun kini pelanggan semakin terbiasa, bahkan PLIK di kecamatan Loura kehabisan Voucer karna banyaknya pelanggan.

Derry berharap antusiame warga ini bisa diikuti dengan pelayanan yang lebih baik dari Lintas artha khususnya bisa segera mengganti perangkat yang rusak dan menyediakan teknisi untuk regular maintenance.

PLIK di Sumba Barat daya hadir di 8 Kecamatan yaitu Kecamatan Wewewa Timur di PLIK kanelu tepatnya dekat jalan masuk SMP Manulangga, Kecamatan Wewewa Barat di PLIK waimangura depan pasar waimangura, Kecamatan Wewewa Utara di PLIK Palla dekat Puskesmas Palla, Kecamatan Loura di PLIK Tambolaka Depan gang masuk SVD, Kecamatan Kodi Utara di PLIK Mangganipi dekat Gereja Katolik Mangganipi, Kecamatan Wewewa Selatan di PLIK Tena Teke dekat Kantor Camat Tena Teke, Kecamatan Kodi & Kodi Bangedo di kantor PLIK berada di Kantor Camat. (snd)


Kamis, 18 November 2010

Pelabuhan Weekelo Dapat Disinggahi Kapal Pelni

Pelabuhan Weekelo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) sudah bisa disinggahi kapal pelni karena sudah ditingkatkan menjadi pelabuhan komersial. Sementara PT Fery Indonesia perlu membuka rute baru Weekelo, Flores, Kupang sehingga akses masyarakat SBD, Sumba Barat dan Sumba Tengah ke Kupang, Ibu kota Propinsi NTT menjadi lebih lancar dan mudah.

Hal ini dikatakan anggota DPRD NTT daerah pemilihan Sumba, Drs. Hugo Rehi Kalembu, dan Robert Li, S.H yang baru kembali melakukan kunjungan kerja di daerah itu. Dia mengatakan, saat ini pemerintah daerah dengan bantuan dana pusat sedang  melakukan pembenahan-pembenahan.

Kedua wakil rakyat mengharapkan PT Pelni mengalokasikan kapalnya menyinggahi Weekelo, baik ke arah barat Bima maupun arah timur Kupang. Dengan demikian, mobilisasi manusia dan barang dari dan ke Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan  Sumba Tengah menjadi lebih lancar. Jika demikian, keduanya yakin ada peningkatan ekonomi masyarakat.

Peningkatan pelabuhan baik untuk kapal penumpang, kapal barang maupun kapal fery, kata kedua wakil rakyat ini, juga mendukung rencana investasi bidang peternakan di Sumba Tengah. Investor peternakan bisa mendatangkan bibit dan lain-lain melalui pelabuhan tersebut.

Selama ini, kata Hugo, mobilitas manusia dan barang hanya ke arah barat, Bima, NTB. Sedangkan ke arah Kupang, warga Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Sumba Barat harus ke Waingapu. Setiap kapal pelni masuk di Waingapu, katanya, ratusan penumpangnya berasal dari tiga kabupaten itu.

Hugo dan Li mengharapkan Kepala Dinas Perhubungan Propinsi NTT, Drs. Bruno Kupok yang baru dilantik beberapa waktu lalu, dapat menata perhubungan laut di NTT sehingga setiap daerah yang memiliki pelabuhan yang memadai, dapat disinggahi kapal-kapal pelni, kapal fery dan kapal perintis yang layak. (gem)

Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/55216/humbalorata/pelabuhan-weekelo-dapat-disinggahi-kapal-pelni

Rabu, 17 November 2010

MANTAN KADIS SOSIAL JADI TERSANGKA KORUPSI

Jaksa penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumba Barat menetapkan mantan Kepala Dinas (Kadis) Sosial Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Drs. Buro Wungo sebagai tersangka. Wungo tersangkut kasus korupsi penyalahgunaan dana bimtek program bantuan dana kelompok usaha bersama (Kube), program pemberdayaan fakir miskin, komunitas adat terpencil dan dana kesejahteraan sosial tahun 2009 sebesar Rp 172 juta lebih. Sedangkan dana Kube Rp 3,4 miliar yang disalurkan kepada kelompok masyarakat berjalan lancar.

Jaksa sudah memeriksa pengelola program, ketua kelompok, anggota kelompok dan beberapa kepala desa dan ditemukan bukti awal yang cukup tentang keterlibatan Wungo dalam penyalahgunaan dana. Tidak menutup kemungkinan, jaksa akan menetapkan tersangka baru, selain Wungo. Sampai saat ini, jaksa masih memeriksa beberapa orang yang mengetahui pengelolaan dana itu. Demikian dikatakan Kajari Waikabubak, Sopran Telaumbanua, S.H melalui Kepala Seksi (Kasi) Pidsus, Ihsan Asri, S.H di ruang kerjanya.

Mantan Kadis Sosial SBD yang saat ini menjabat Kadis Koperasi SBD, Drs. Buro Wungo saat dikonfirmasi di kantornya, tidak berada di tempat. Informasi yang diperoleh, kadis koperasi sedang sakit.

Menurut Ihsan, tersangka Wungo dijerat dengan pasal 2, pasal 3, dan pasal 8 UU No. 21/2001 tentang Pemberantasan Korupsi. Jaksa akan segera merampungkan BAP tersangka agar dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan.

Dikatakannya, kejaksaan setempat menargetkan penyelesaian dua kasus korupsi dalam bulan ini. Dua kasus itu yakni pemalsuan dokumen administrasi proyek pembangunan gedung BPS Sumba Barat TA 2009 dengan tersangka Drs. David Koreh. Kasus kedua, dugaan korupsi yang melibatkan tersangka Wungo.

“Mudah-mudahan pertengahan Nopember ini berkas dua tersangka sudah dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan,” tegasnya.

Ihsan menambahkan, saat ini, pihaknya serius lidik beberapa kasus dugaan tipikor di Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Namun baru dua kasus ini yang ditargetkan segera dilimpahkan ke pengadilan

Sumber :  Pos Kupang

Selasa, 16 November 2010

Kapolda Diminta Bentuk Polres Sumba Tengah & Sumba Barat Daya

Wakil Ketua DPRD Sumba Barat, Dominggus Dinga Leba, minta Kapolda NTT segera membentuk Polres Sumba Tengah (ST) dan Polres Sumba Barat Daya (SBD) untuk memudahkan koordinasi pengamanan di wilayah masing-masing.

Sampai sekarang pengamanan kedua wilayah itu masih menjadi tanggung jawab Polres Sumba Barat. Akibatnya, bila terjadi kekacauan, terutama di wilayah perbatasan antar kabupaten sebagaimana terjadi belum lama ini, maka konsentrasi pengamanan terbagi.

Misalnya, bagaimana mengamankan warga SBD dan Sumba Barat dengan jumlah personel yang terbatas, sementara jumlah massa dari dua pihak cukup besar. Bila dua polres ini terbentuk tentu memudahkan pengendalian keamanan di lapangan karena hanya melalui sebuah koordinasi antarpimpinan polres masing-masing.

Disamping itu, kata dia, jumlah personel setiap polres akan jauh lebih banyak ketimbang masih dalam satu polres seperti sekarang ini. Dengan demikian, konsentrasi perhatian Kapolres Sumba Barat, AKBP Yayat Jatnika, tidak terpecah memikirkan pengamanan ke SBD dan ST, tapi cukup mencurahkan seluruh perhatiannya pada pengamanan wilayah Sumba Barat.

Wakil Ketua DPRD Sumba Barat, Dominggus Dinga Leba, menyatakan hal ini menanggapi proses penanganan peristiwa pembakaran rumah di Kampung Loko Duka, Desa Dilah Tanah, Kecamatan Loli, Kabupaten Sumbar oleh sekelompok warga tak dikenal tanggal 22 September Lalu.

Menurutnya, pemberian pengamanan Polres Sumba Barat terhadap setiap kejadian cukup baik. Namun akan jauh lebih baik, lebih efektif dan efisien bila di Kabupaten SBD dan Sumba Tengah berdiri polres sendiri. Dengan demikian perhatian pengamanan oleh setiap pimpinan polres jauh lebih baik dan efisien.

Dominggus juga minta agar bupati dan wakil bupati mengintensifkan pengendalian keamanan demi memberi rasa aman kepada masyarakat kota ini. Bupati dan wakil bupati segera mendata pihak yang berperan di setiap desa lalu diberi tugas menjaga keamanan, dengan catatan bila terjadi aksi kejahatan, maka yang bersangkutan harus ikut bertanggung jawab. Tentu pemerintah memberikan insentif kepada setiap warga yang telah diberi tugas menjaga keamanan.

Sumber :  Pos Kupang

Senin, 15 November 2010

SBD POTENSIAL TERJADI KONFLIK

Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) sebagai daerah otonom baru sangat potensial untuk terjadinya konflik sosial karena letaknya berbatasan dengan kabupaten lainnya.

Pernyataan ini disampaikan Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial Setda SBD di hadapan para peserta sosialisasi pemetaan daerah rawan bencana sosial di Aula Kantor Bupati SBD, Jumat (22/10/2010).

Sosialisasi ini digelar Pemkab SBD bekerja sama dengan Kementerial Sosial RI dan Dinas Sosial NTT. Para peserta sosialisasi adalah tokoh masyarakat, para camat, para kapolsek dan Babinsa lingkup Kabupaten SBD dan Kabupaten Sumba Barat.

Tujuannya untuk mengumpulkan data, mengolah dan membuat peta titik-titik rawan bencana soaial untuk selanjutnya dibukukan dan menjadi rujukan dalam proses penyusunan program penanggulangan bencana sosial. Selain itu, dalam rangka memaksimalkan upaya penanganan bencana sosial/konflik sosial yang terjadi di setiap wilayah.

Bupati Kodi Mete menyebut latarbelakang berbagai konflik dan kerusuhan sosial itu, antara lain perebutan batas wilayah dan kepentingan lain, termasuk kepentingan ekonomi.

Untuk meredamnya, katanya, selain melakukan sosialisasi dan pendekatan-pendekatan formal, juga dilakukan pendekatan persuasif pada kelompok-kelompok tertentu guna mencari solusi dan pemecahan terbaik.

"Satu hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah pengumpulan data, mengolah dan selanjutnya dilakukan pemetaan pada titik-titik rawan bencana sosial. Untuk hal ini, SBD sebagai sebuah daerah otonom baru masih dalam proses perencanaan karena sangat tergantung pada ketersediaan daya dan dana," tutur Kodi Mete. Bupati SBD meminta para peserta mengikuti sosialisasi dengan baik agar apa yang menjadi harapan kita untuk mewujudkan keamanan di wilayah Sumba dapat tercapai.

Kepala Dinas Sosial NTT, Emanuel Kara, S.H, mengatakan, berbagai langkah pencegahan terhadap munculnya segala konflik sosial telah dilaksanakan dengan mendapat dukungan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Dukungan itu, antara lain dalam bentuk memberikan sosialisasi, seminar, pelatihan-pelatihan dan pertemuan yang menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat dan budayawan dalam rangka merangsang dan mendorong pemikiran untuk membangun dan menata kehidupan masyarakat agar tidak terjadi konflik sosial.

Permasalahannya, menurut Emanuel Kara, selama ini program/kebijakan penanganan bencana/konflik sosial berjalan kurang sistematis, kurang terarah karena belum didukung data yang akurat.

"Dengan data akurat akan mendukung proses penyusunan program dan pelaksanaannya menjadi tepat sasaran dan hasil yang diharapkan akan lebih maksimal," harapnya. (humas pemkab sbd)

Sumber : http://spiritentete.blogspot.com/2010/11/sbd-potensial-terjadi-konflik.html

Sabtu, 13 November 2010

TANGKAP IKAN GUNAKAN CARA TRADISIONAL

Sedikitnya 50 kepala keluarga (KK) di Desa Kalena Rango, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), hingga kini masih minim sarana tangkap ikan. Nelayan di desa itu masih menggunakan cara tradisional dalam melaut terutama memancing ikan.

Tomas Pati Deta dan Siprianus Pati Waegeo, dua nelayan setempat kepada SPIRIT NTT, Rabu (13/10/2010), menuturkan, selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka sampai saat ini, mereka masih mencari ikan dengan sarana yang minim. Kondisi tersebut mempengaruhi hasil tangkapan mereka, sehingga sulit berkembang memperbaiki kondisi perekonomian keluarganya.

Menurut Tomas Pati Deta, penangkapan ikan yang mereka lakukan sampai saat ini hanya memancing dan juga menggunakan pukat. Selain minimnya sarana tangkap, mereka juga sulit menjangkau laut yang dalam, karena sarana (perahu) yang mereka mimliki tidak menjamin.

"Kami cari ikan hanya saat air laut surut, atau kalau cuaca baik sehingga kami bisa jangkau beberapa mil dari pantai. Tapi, kalau cuaca buruk, kami tidak berani melaut lagi, sebab perahu yang kami punya tidak menunjang kami untuk mencari ikan di laut dalam," kata Pati Deta.

Disinggung tentang hasil tangkapan, Pati Deta menjelaskan, ikan hasil tangkapan jual di sekitar kampung itu. Dan yang membeli ikan pada umumnya sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) seperti guru dan petugas kesehatan yang bertugas di desa itu.

Dijelaskannya, ikan yang diperoleh saat melaut adalah ikan-ikan pinggiran pantai yang mereka sebut ikan nimbi, ayam dan ikan kombong. "Selama ini hasil tangkapan ikan belum bisa kami jual ke kota atau pasar, karena masih dalam skala kecil. Karena usaha nelayan ini masih merupakan usaha sampingan, sedangkan pekerjaan utama kami di desa ini adalah petani penggarap lahan kering," katanya

Siprianus Pati Waegeo menambahkan, ikan yang dicari nelayan setempat dilakukan secara musiman dan disesuaikan dengan kondisi laut, karena laut di Kodi Utara sangat terbuka. "Nelayan di sini pernah dapat bantuan alat tangkap berupa pukat, namun itu hanya beberapa saja yang dapat. Kami harapkan bantuan itu bisa merata, atau kalau bisa diberikan kepada kelompok nelayan yang telah terbentuk," kata Siprianus

Sumber : http://spiritentete.blogspot.com/2010/10/tangkap-ikan-gunakan-cara-tradisional.html

Rabu, 10 November 2010

PEMERINTAH KOMIT BANGUN DESA TERPENCIL

Bupati Sumba Barat Daya (SBD), dr. Kornelius Kodi Mete, menegaskan pemerintahannya terus berkomitmen untuk secara konsisten membangun desa- desa terpencil, seperti Desa Kahale, Wailangira, Panego Ede, Totok, Weelima, Weemanada, Wanno Tala serta desa terpencil lainnya. "Ini menjadi perhatian pemerintah untuk disentuh dengan pembangunan di berbagai bidang sesuai kemampuan keuangan daerah," tegas Kodi Mete.

"SBD adalah sebuah daerah otonom baru yang baru berusia tiga tahun. Dalam usianya yang masih sangat muda ini, patut diakui bahwa ada begitu banyak keberhasilan yang sudah dicapai, di samping berbagai hambatan yang mengiringinya," ujar Bupati Kornelius belum lama ini.

Dalam hal pembangunan, katanya, ada beberapa kemajuan positif yang perlu di apresiasi. Dapat kita lihat seperti hasil perhitungan APBD Sumba Barat Daya tahun anggaran 2009 menunjukkan angka yang melampaui target. Dari target sebesar Rp 302.243.706.252 meningkat menjadi Rp 306.069.928.156 (101, 27 persen). 

Sedangkan PAD dari target Rp 8.186.122.000 meningkat menjadi Rp 9.516.217.604 (116, 25 persen). Penghasilan dari retribusi daerah mencapai 70, 14 persen. Atas keberhasilan ini, Bupati Kornelius Kodi Mete menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh masyarakat yang berkontribusi posotif mendukung pembangunan di Kabupaten Sumba Barat Daya. 

Bupati Kodi Mete juga mengingatkan hendaknya semangat para pejuang terdahulu menjadi landasan moral yang menginspirasi kita untuk mengisi kemerdekaan ini dengan semangat membangun dan memperkokoh jiwa nasionalisme dalam Bhinneka Tunggal Ika. Dan, berusaha melawan berbagai kekerasan sosial, provokasi agama, suku, kemelaratan, keterpurukan ekonomi, dan terorisme bila ada di Kabupaten SBD.Pidato bupati juga diwarnai dengan banyak ucapan terima kasih kepada seluruh warga SBD. Ketika menyinggung soal pelebaran jalan di mana banyak warga yang merelakan pekarangan rumah mereka untuk dijadikan jalan utama Kota Waitabula, Bupati Kodi Mete sempat tersendak suaranya dan mengeluarkan air mata karena terharu. (humas pemkab sbd) 

Sumber : http://spiritentete.blogspot.com/2010/09/pemerintah-komit-bangun-desa-terpencil.html

Selasa, 09 November 2010

SISWA MARSUDIRINI KBM DI GUDANG

TAMBOLAKA, Siswa di SDK Marsudirini sampai saat ini masih menggunakan sebuah gudang dan ruang kepala sekolah untuk kegiatan belajar mengajar (KBM), karena ruangan yang tersedia tidak mampu menampung seluruh siswa/i di sekolah itu yang berjumlah 557 orang.

Ruang kelas yang tersedia di sekolah itu ada 12 ruang. Selain itu, keterbatasan komputer ikut menghambat kelancaran pengerjaan administrasi sekolah.
Kepala SDK Marsudirini, Suster Teofilla, OSF menyampaikan hal itu saat menerima kunjungan anggota DPD RI, Ir. Emanuel Babu Eha di sekolah itu, Kamis (4/11/2010).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Forum Millennium Development Goals (MDGS), Rustam Amirudin, meminta perhatian Pemda Sumba Barat Daya (SBD) dan anggota DPD, Ir. Emanuel Babu Eha, agar siswa di sekolah ini memperoleh ruang kelas yang layak bagi kegiatan belajar mengajar. Pasalnya, kondisi gudang yang dipakai tak layak bagi KBM. Kondisi yang sama mengganggu kegiatan guru seperti rapat, mengingat ruang kepala sekolah digunakan untuk KBM. Pihaknya tidak meminta bantuan orang tua murid mengingat sebagian besar anak didik berasal dari keluarga kurang mampu.

Emanuel Babu Eha mengatakan, kedatangannya ke sekolah ini untuk melihat langsung kondisi KBM di sekolah ini, sekaligus ingin menyerahkan bantuan buku pelajaran sebagai wujud dukungannya terhadap pendidikan anak-anak.

Ia meminta anak-anak harus tetap sekolah karena kelak anak-anak ini yang akan menjadi pemimpin di daerah ini. Dalam kunjungan tersebut anggota DPD RI, Ir.Emanuel Babu Eha, langsung menyerahkan bantuan buku-buku pelajaran diterima kepala sekolah, Suster Teofilla, OSF. (pet)


Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/54879/regionalntt/waitabula/2010/11/8/siswa-marsudirini-kbm-di-gudang

Minggu, 07 November 2010

KEPALA BPS SUMBA BARAT JADI TERSANGKA

WAIKABUBAK, Penyidik Kejaksanaan Negeri (Kejari) Sumba Barat menetapkan Drs. DK, Kepala Badan Pusat Statistik  (BPS) Kabupaten Sumba Barat sebagai tersangka kasus korupsi dana pembangunan gedung kantor BPS tahun 2009 dengan nilai proyek Rp 1 miliar lebih.

DK dijerat  dengan ancaman pidana pasal 9 UU Pemberantasan Korupsi No. 20 Tahun 2001. DK diduga memalsukan dokumen administrasi proyek tersebut untuk mencairkan dana proyek 100 persen pada batas waktu pekerjaan 3 Desember 2009. Padahal sampai tanggal 3 Desember 2009, pekerjaan fisik proyek tersebut belum 100 persen.

Demikian penjelasan Kajari Waikabubak, Sopran Telaumbanua, S.H melalui Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus, Ihsan Asri, S.H, di ruang kerjanya, Rabu (3/11/2010).

Menurut Ihsan, meskipun secara fisik pembangunan kantor itu tidak merugikan keuangan negara tapi proses pencairan dana proyek menyalahi ketentuan aturan sehingga  patut dijerat dengan UU korupsi. Sebab, di saat fisik proyek belum 100 persen, dokumen proyek diduga dipalsukan agar dana bisa dicairkan 100 persen.
Seharusnya, kata dia, pembayaran keuangan pada saat jatuh tempo disesuaikan dengan capai pekerjaan fisik bangunan pada saat itu. Artinya pemilik proyek hanya boleh membayar sesuai pencapaian fisik pekerjaannya. Tapi yang terjadi fisik proyek belum 100 persen  tapi realisasi keuangan 100 persen. Proses ini tidak benar dan patut mempertanggungjawabkannya di depan hukum.

Ihsan mengaku tengah bekerja keras merampungkan BAP tersangka DK dan dalam waktu dekat dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan.

Tidak Rugikan Negara
Tersangka DK  yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (3/11/2010), mengatakan, pencairan dana proyek dilakukan per 3  Desember 2010 saat fisik proyek sudah mencapai 90 persen lebih, dimana dia ingin menyelamatkan proyek itu. Jika dananya dikembalikan atau dibayar sesuai pencapaian fisik pekerjaan maka gedung itu akan mubazir. Sebab anggaran dana pembangunan Kantor BPS berasal dari  BPS Pusat pada tahun 2009, dan tahun 2010 BPS secara nasional memprioritaskan agenda sensus penduduk. Bahkan kemungkin tahun anggaran 2011 juga belum tentu dianggarkan lagi dananya. Langkah penyelamatan dana proyek berangkat dari pengalaman pembangunan Kantor BPS Kabupaten Kupang yang dimulai tahun anggaran 2008 sampai sekarang belum selesai.

"Persoalannya sama dimana sampai batas waktu pekerjaan fisik proyek ternyata belum tuntas, dan dana kembali ke pusat. Dan sampai sekarang BPS Pusat belum menganggarkan kembali dana kelanjutan pekerjaan BPS Kabupaten Kupang," jelasnya.

Karena itu, dia siap mempertanggungjawabkan kebijakannya di meja hukum karena apa yang diperbuatnya tidak sepeser pun masuk ke kantongnya tapi murni demi menyelamatkan proyek pebangunan gedung Kantor BPS.

Ia mengaku sebelum mencairkan dana, telah konsultasi dengan pimpinan BPS NTT dimana ia disarankan melanjutkan pekerjaan pembangunan fisik kantor hingga tuntas. Karena itu, ia siap menghadapi proses hukum dan sebagai bagian dari resiko memegang jabatan publik


Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/54852/regionalntt/waikabubak/2010/11/6/kepala-bps-sumbar-jadi-tersangka

Sabtu, 06 November 2010

SENSUS PENDUDUK 2010 : PENDUDUK SUMBA BARAT DAYA 283.818 ORANG

Jumlah Penduduk Kabupaten Sumba Barat Daya Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 sebanyak 283.818 orang dengan laju pertumbuhan sebesar 2,77 persen pertahun.












Sumber : BPS Sumba Barat

Kamis, 04 November 2010

ANN McCUE RAIH PENGHARGAAN RATU INGGRIS KARENA MEMBANTU WARGA SUMBA

Bagi Warga Sumba Barat Daya (SBD) nama Ann  McCue bukanlah nama yang asing lagi. Ibu Ann Demikian warga di desa memanggilnya, Sosok perempuan paruh baya yang dibesarkan di Inggris ini sudah begitu dekat dengan warga SBD khususnya di desa.

Delapan tahun mengabdikan diri lewat Yayasan Harapan Sumba (YHS) yang dipimpinnya bukan waktu yang mudah bagi seorang ekspatriat (warga negara asing), walaupun demikian Ann tetap selalu berusaha memberikan pengabdian terbaiknya Untuk Sumba Barat daya lewat berbagai project yang dilakukannya di selama di YHS diantaranya membangun bak Air dari mata air, bak penampung air hujan (PAH), toilet kompos, air siap minum,membangun sekolah sektor pertanian dll, yang tentunya bekerja sama dengan berbagai Donor (Penyumbang) luar negeri hasil kerjasamanya.

Pengabdian Ann ternyata mendapat perhatian dari pemerintah inggris, karenanya 13 Oktober 2010 Ann menerima penghargaan Membership of the British Empire (MBE) yang diberikan langsung oleh Ratu Elizabeth di Buckingham Palace Inggris. pengharhargaan ini diberikan sebagai penghormatan kepada orang yang berprestasi atau untuk jasa, layanan dan keberanian, penghargaain ini menggambarkan bahwa penerima telah melakukan sesuatu yang layak pengakuan.

Ann yang berhasil diwawancarai Moripanet Online lewat layanan Skype,  merasa sangat terhormat untuk menerima penghargaan, tapi juga Ann merasa bahwa dirinya tidak sendirian dalam pengabidannya di Sumba selama ini oleh karena itu Ann ingin berbagi kerhormatan ini dengan semua orang yang telah begitu banyak membantu YHS  selama delapan tahun terakhir. "saya ingin berbagi penghargaan kehormatan ini dengan  staf, relawan VSO, seperti Ibu Ine, Bpk Val, dan semua yang lain yang telah bekerja keras untuk membuat YHS sukses" Ujar Ann

Ann yang saat ini telah kembali ke Inggris berjanji akan datang ke Sumba setiap tahun untuk meninjau keberlanjutan project YHS yang telah dirintisnya. (snd)


ANN McCUE "THE WOMAN OF HOPE"

Ann McCue dibesarkan di Inggris, tetapi selama masa dewasa ia telah tinggal di Eropa, Amerika Serikat dan terakhir Indonesia, Ann memutuskan kembali ke inggris Inggris  pada bulan Juli tahun 2010.

Setelah karir bekerja di perusahaan multi-nasional dirinya bertekad untuk melakukan sesuatu yang  layak dan memberikan sesuatu kembali, setelah kehidupan yang telah memberinya begitu banyak.

Pada kunjungannya tahun 2002 ke Sumba saat ingin menyaksikan PASOLA, Ann Melihat begitu banyak situasi dan kondisi anak-anak di Sumba yang membutuhkan bantuan, hal tersebut membuat dirinya bertekad untuk mencoba membantu.

Dari hasil komunikasinya dengan bebagai kalangan masyarakat di sumba, maka  Ann menyimpulkan  saat itu ada dua prioritas utamanya membantu anak-anak di sumba khususnya Sumba Barat Daya (SBD) yang saat itu masih bergabung dengan kabupaten induk Sumba Barat yaitu untuk memiliki akses terhadap air dan untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Demi mewujudkan keinginnya untuk membantu anak-anak di sumba Ann kemudian mendirikan Yayasan Harapan Sumba (Project Hope - Sumba dalam bahasa Inggris) dengan tujuan membantu masyarakat setempat untuk membantu diri mereka sendiri. Yayasan Harapan Sumba (YHS) perlahan-lahan berkembang dan saat ini telah memiliki 12 orang staff.

sejauh ini YHS sudah membantu orang untuk membangun tangki air dan toilet pedesaan sederhana, dan menyediakan mereka dengan filter air untuk memastikan air mereka aman. YHS juga sudah membangun 12 gedung sekolah baik untuk sekolah yang ada bangunan yang tidak layak huni, dan juga  cabang dari sekolah yang sudah ada namun aksesnya sangat jauh.

YHS menyediakan informasi kesehatan dasar dan gizi bagi para ibu, menyediakan terapi dan operasi untuk beberapa anak-anak penyandang cacat, YHS juga memiliki pertanian yang kuat dan tim peternakan bekerja sama dengan petani setempat.

Awalnya niatnya, Ann  berencana tinggal di Sumba hanya tiga tahun, tapi melihat manfaat dari gedung sekolah baru yang didirikan YHS, melihat bayi dan balita yang sebelumnya kekurangan gizi menjadi sehat dan masyarakat lokal, termasuk staf, menjadi lebih makmur dan mandiri, Ann memtuskan untuk memperpanjang masa tinggalnya di Sumba.

Memutuskan untuk tinggal di sumba, Bagi Ann bukan hal yang mudah di tahun-tahun pertamnya di Sumba Ann merasa penuh dengan tantangan karna harus belajar bahasa yang baru, mencoba untuk memahami budaya dan cara berpikir yang sama sekali berbeda. Namun Ann mengakui hal tersebutlah yang membuat hidupnya menarik dan bervariasi.

Ann mengakui bahwa banyak dari orang Sumba yang serius ingin meningkatkan taraf hidup mereka. Di Sumba ada tercipta sebuah komunitas yang indah, hubungan sosial, persahabatan, dan semua itu yang tidak dapat ditemukan lagi di Inggris. (snd)

Senin, 01 November 2010

52 IMIGRAN ILEGAL TERDAMPAR DI PANTAI WANOKAKA

Melarikan diri karena konflik perang  yang berkepanjangan dan ingin menyelamatkan hidup di negara lain yang memberikan rasa aman ternyata tidaklah mudah, hal itulah yang dialami 52 imigran asal Timur Tengah.

Setelah kurang lebih tiga hari di lautan, mereka akhirnya terdampar di perairan sumba tepatnya di pantai Wanokaka Kabupaten Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur tangal 28 Oktober 2010, para imigran ini terdampar karena tersapu ombak besar yang menghantam perahu mereka sehingga mereka terbawa kembali ke perairan Indonesia (Sumba).

Ke 52 imigran yang terdiri dari 41 warga negara Afghanista dan 11 warga negara Iraq (6 Pria, 3 wanita, dan 2 anak-anak). 41 warga Afghanistan ini adalah pelarian dari Makassar tanggal 10 Oktober lalu, sedangkan 11 11 warga negara iraq belum diperoleh kejelasan informasi seputar statusnya.

Menurut informasi dari sumber Moripanet Online,  para imingran tersebut sudah mendekati Ashmo Reef (pulau pasirnya Australia) tapi mendapat hantaman gelombang dan dibawa kembali ke Indonesia, tanggal 26 Oktober malam salah satu staff IOM (International Organization for Migration) Makasar mendapatkan laporan minta tolong lewat telepon ke ponselnya dari salah seorang migrant pelarian dari makassar, kemudian informasi tersebut diteruskan kepada pihak terkait dalam hal ini kepolisian agar mereka bisa diselamatkan.

Sejak 28 Oktober para imigran ini berada dalam pengawasan Polres Sumba Barat bekerja sama Dengan Polda dan Imigrasi, pihak IOM mensupport care dan maintenance mereka selama mereka berada disana seperti makan minum obat2an dll.

Rencananya dalam waktu dekat para imigran ini akan diterbangkan kembali ke Makasar dengan pesawat carteran khusus dari bandara Tambolaka Kabupaten Sumba Barat daya. Di Makassar mereka akan ditampung di rumah detensi imigrasi (Rudenim Makassar) sembari menunggu process lebih lanjut dari UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) tentang status mereka apakah sebagai refugee (pengungsi) atau tidak. Sehingga dari status itu bisa ditentukan apakah mereka layak untuk dicarikan negara ketiga yang mau menerima pengungsi /pencari suaka. (snd)

Kamis, 28 Oktober 2010

Menjadikan SBD sebagai pintu masuk pariwisata di Pulau Sumba

TAMBOLAKA, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu program ungulan di daerah itu setelah pertanian, pendidikan, dan kesehatan. Upaya itu dilakukan agar menjadikan SBD sebagai pintu masuk pariwisata di Pulau Sumba.


Hal ini ditegaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten SBD, Antonius Umbu Zaza, mewakili Bupati SBD Kornelis Kode Mete, ketika bertatap muka dengan tim fam trip dari Kupang di Hotel Sinar, Tambolaka, beberapa hari lalu. Tim itu terdiri dari 10 orang wartawan media cetak dan elektronik yang bertugas di Kupang, dipimpin Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) NTT, Yohanes Buang, bersama beberapa stafnya.


Umbu Zaza mengatakan, Kabupaten SBD baru berusia tiga tahun setelah dimekarkan dari induknya, Sumba Barat, pada bulan Mei 2007. Namun, dalam kurun tiga tahun itu, perkembangannya cukup pesat.
Dikatakannya, obsesi Pemerintah Kabupaten SBD saat ini adalah menjadikan daerah itu sebagai pintu masuk pariwisata di empat kabupaten di Pulau Sumba, yakni SBD, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.

Upaya yang dilakukan saat ini dan akan terus berlanjut adalah membangun berbagai sarana dan prasarana pendukung menuju seluruh objek wisata di SBD. Objek wisata yang pantas dijual di daerah itu adalah wisata budaya, wisata alam, dan wisata rohani.

Untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata, menurut Sekda, pemerintah pada empat kabupaten di Sumba, yakni SBD sendiri, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur, telah bersinergi membangun jalan lingkar luar. Selain itu juga keempat kabupaten tersebut menandatangani memorandum of understanding (MoU) di sektor pariwisata dan keamanan.

Dalam kaitannya dengan menjadikan SBD sebagai pintu masuk pariwisata di Sumba, Umbu Zaza mengatakan, pemda setempat tengah membenahi berbagai sarana dan prasarana untuk menggapai obsesi tersebut.

Pembenahan utama yang sedang dilakukan adalah mendukung sepenuhnya pembangunan Bandara Tambolaka yang dibangun oleh Kementerian Perhubungan RI dan juga pelabuhan laut di Waikelo. Pembenahan pelabuhan itu terus dilakukan karena Pemerintah Kabupaten SBD juga berobsesi membangun “segi tiga emas pariwisata”. Pemda berupaya mendorong pihak swasta untuk pengadaan kapal cepat guna mendukung obsesi segi tiga emas ini.

Wisatawan bisa menggunakan jasa kapal cepat menuju SBD melalui Pelabuhan Waikelo. Setelah berkunjung ke Pulau Sumba, mereka akan kembali melalui Waikelo menuju Bima, NTB, selanjutnya ke Mataran dan Bali. Demikian pula sebaliknya. Bersama tiga kabupaten lainnya di Pulau Sumba, menurut Umbu Zaza, mereka terus bersinergi membangun seluruh objek wisata di daerah masing-masing dengan harapan, memancing wisatawan berkunjung dan berada di Pulau Sumba minimum lima hari.

Dijelaskannya, potensi pariwisata di SBD antara lain wisata budaya berupa kampung-kampung adat, batu kubur berusia hingga ratusan tahun, dan atraksi budaya pasola. Wisata alamnya juga terbilang banyak dan ada wisata rohani.

“Untuk wisata rohani, kita sekarang sedang melacak titik-titik sentral gereja-gereja dan masjid-masjid tua. Kita inventarisasi dan gali awal mula pembangunannya dan kemudian kita kemas secara baik untuk bias dijadikan wisata rohani,” katanya.

sumber : suarakarya-online.com

Selasa, 12 Oktober 2010

KEDE, TEBA DAN MALAM PESTA KEMBANG API ON PICTURE



Romobongan Kede Dari kecamatan - Kecamatan









Gubernur NTT, Bupati SBD (samping Kiri Gubernur NTT), Wakil Bupati SBD (samping Kanan Gubernur NTT)
Gubernur NTT Menerima Romobongan Kede dari Kecamatan



TEBA KARAMBO

Bergoyang menikmati live music sambil menunggu pesta kembang api












Berita Yang Paling Banyak Dibaca

PESONA WISATA SUMBA

Visit Sumba Island, East Nusa Tenggara, Indonesia Slideshow: Go’s trip to Sumba was created with TripAdvisor TripWow!

Facebook MoripaNews Online

Tempat Wisata SBD